Connect with us

Internasional

Dampak Perang Iran, Ekspor Minyak Saudi Anjlok ke Level Terendah dalam 9 Tahun

Published

on

Kapal tanker minyak Saudi menghadapi gangguan jalur ekspor akibat perang Iran di Selat Hormuz dan Laut Merah.

RIYADH — Perang Iran mulai memberikan dampak serius terhadap kemampuan Arab Saudi mengirim minyak ke pasar internasional. Ekspor minyak mentah kerajaan itu pada Agustus 2026 anjlok ke sekitar 3 juta barel per hari (bpd), level terendah dalam setidaknya sembilan tahun.

Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg, Kpler, dan Vortexa menunjukkan volume tersebut merupakan yang terendah dalam catatan sejak awal 2017. Angka itu juga kurang dari separuh ekspor Saudi pada Februari, yang mencapai sekitar 7,3 juta bpd, sebelum perang Iran pecah.

Penurunan tersebut terjadi ketika dua jalur utama ekspor Saudi—Selat Hormuz dan Laut Merah—sama-sama menghadapi ancaman keamanan.

Situasi ini membuat Riyadh semakin kesulitan mempertahankan arus ekspor, bahkan ketika kerajaan telah berusaha mengalihkan pengiriman melalui jalur alternatif.

Hormuz terganggu, Laut Merah ikut terancam

Sejak perang pecah pada akhir Februari, Selat Hormuz mengalami gangguan besar. Jalur strategis tersebut merupakan pintu keluar bagi terminal-terminal minyak Saudi di pesisir Teluk Persia.

Saudi kemudian memanfaatkan jaringan pipa East-West Pipeline untuk mengalihkan minyak menuju pelabuhan Yanbu di pantai Laut Merah.

Strategi tersebut sempat berhasil.

Ekspor melalui Yanbu meningkat drastis, dari sekitar 770.000 bpd pada Januari menjadi 4,3 juta bpd pada Juni. Pengalihan ini membantu Saudi tetap mengirim minyak ke pasar internasional meskipun lalu lintas melalui Hormuz sangat terganggu.

Namun, jalur alternatif itu kemudian menghadapi masalah baru.

Kelompok Houthi di Yaman meningkatkan ancaman terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah dan mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan kerajaan.

Akibatnya, ekspor melalui Yanbu mulai turun menjadi sekitar 3,7 juta bpd pada Juli, sebelum kembali merosot menjadi hanya sekitar 2,25 juta bpd pada Agustus.

Dengan kata lain, Saudi kini menghadapi tekanan dari dua arah.

Jalur timur melalui Hormuz terganggu, sementara jalur barat melalui Laut Merah juga semakin berisiko.

Dua tanker Saudi kembali diserang

Tekanan terhadap ekspor Saudi semakin terlihat pada 31 Agustus.

Dua supertanker yang masing-masing membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Saudi terkena proyektil ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz.

Kapal pertama, Sidr, berbendera Saudi dan dioperasikan Bahri, perusahaan pelayaran nasional Saudi. Kapal kedua, Senegal Prosperity, berbendera Liberia dan terkait dengan perusahaan pelayaran Korea Selatan Sinokor.

Menurut perusahaan intelijen maritim Marisks, kedua insiden terjadi hanya dalam hitungan menit di sekitar Khasab, Oman.

Saudi Arabia kemudian mengatakan dua awak asal Filipina di kapal Sidr tewas dan menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan tersebut. Iran belum secara terbuka mengakui bertanggung jawab atas serangan terhadap kedua kapal itu.

Serangan tersebut penting karena menunjukkan bahwa kapal tanker Saudi bukan hanya menghadapi ancaman ketika berada di wilayah pelabuhan atau dekat pantai.

Bahkan setelah berhasil keluar dari terminal minyak, perjalanan mereka tetap berisiko.

Pembeli minyak Saudi mulai berhati-hati

Ancaman terhadap kapal tanker kemudian menimbulkan persoalan baru bagi Riyadh: keamanan tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan, tetapi juga kesediaan pembeli dan operator kapal untuk mengambil risiko.

Sejumlah pelanggan Saudi disebut mulai enggan menggunakan pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah karena khawatir kapal mereka menjadi sasaran.

Akibatnya, Riyadh mulai mempertimbangkan rute yang lebih panjang dengan memutar kapal mengelilingi Afrika.

Pilihan tersebut memang dapat menghindari sejumlah kawasan berisiko, tetapi konsekuensinya besar: perjalanan menjadi ribuan mil lebih panjang, membutuhkan lebih banyak bahan bakar, waktu dan biaya asuransi, serta memperpanjang waktu sebelum minyak tiba di pasar.

Ini berarti perang tidak harus menghentikan produksi minyak Saudi untuk mengganggu pasokan global.

Cukup dengan membuat pengangkutannya semakin sulit dan mahal.

Ekspor Teluk Persia juga kembali turun

Sementara jalur Yanbu mengalami tekanan, ekspor Saudi melalui pesisir Teluk Persia juga belum mampu pulih.

Pengiriman melalui jalur tersebut sempat meningkat menjadi sekitar 800.000 bpd pada Juli, tetapi kembali turun pada Agustus.

Sempat muncul tanda-tanda pemulihan ketika citra satelit menunjukkan sejumlah tanker memuat minyak di terminal raksasa Ras Tanura.

Namun eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan risiko pelayaran di kawasan.

Pada saat yang sama, negara-negara seperti Irak, Kuwait dan Uni Emirat Arab masih berupaya mempertahankan sebagian aliran minyak mereka melalui jalur yang tersedia.

Dampaknya mulai terasa di pasar minyak

Penurunan ekspor Saudi datang ketika pasar energi global sudah berada di bawah tekanan akibat gangguan selama berbulan-bulan.

Ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak mentah Brent kembali menembus US$95 per barel, level tertinggi sejak akhir Juli. Investor juga mulai memperhitungkan dampak konflik terhadap inflasi dan kemungkinan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Saudi Arabia sendiri merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Karena itu, gangguan terhadap kemampuan ekspornya memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan perdagangan bilateral.

Jika minyak Saudi tidak dapat dikirim dengan lancar, pembeli harus mencari pasokan dari sumber lain.

Persoalannya, perang Iran juga telah mengganggu sebagian produksi dan ekspor negara-negara lain di kawasan.

Semakin banyak jalur yang terganggu, semakin sulit pasar menggantikan pasokan yang hilang.

Saudi sebenarnya masih memiliki pilihan

Penurunan ekspor tidak berarti Saudi Arabia kehabisan minyak.

Persoalannya adalah infrastruktur dan jalur pengiriman.

Kerajaan masih memiliki jaringan pipa, terminal di Laut Merah, fasilitas penyimpanan, serta kemampuan untuk mengubah tujuan pengiriman. Namun setiap alternatif memiliki keterbatasan.

Pengalihan melalui Yanbu dapat mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz, tetapi membuat Saudi semakin bergantung pada keamanan Laut Merah.

Pengiriman melalui Mesir dan jalur Mediterania dapat menjadi alternatif lain, tetapi kapasitasnya terbatas dan membutuhkan pengaturan logistik tambahan.

Sementara itu, memutar kapal mengelilingi Afrika dapat menghindari kawasan konflik, tetapi membuat perjalanan jauh lebih panjang.

Karena itu, perang telah mengubah persoalan Saudi dari “berapa banyak minyak yang bisa diproduksi?” menjadi “berapa banyak minyak yang bisa dikirim dengan aman?”

Persoalan yang lebih besar bagi Riyadh

Data ekspor Agustus tersebut masih bersifat sementara dan dapat direvisi ketika lebih banyak pelayaran yang sebelumnya tidak teridentifikasi atau transfer antarkapal berhasil ditemukan. Karena itu, angka 3 juta bpd belum dapat dianggap sebagai angka final.

Namun arah perubahannya sudah cukup jelas.

Jalur ekspor yang sebelumnya dapat digunakan sebagai cadangan kini sama-sama menghadapi tekanan.

Dan ini menjadi salah satu konsekuensi paling signifikan dari perang Iran terhadap ekonomi Saudi Arabia.

Selat Hormuz terganggu.

Laut Merah menghadapi ancaman.

Kapal tanker diserang.

Pembeli menjadi lebih berhati-hati.

Dan rute alternatif membutuhkan waktu serta biaya yang jauh lebih besar.

Jika kondisi tersebut berlanjut, tekanan terhadap Saudi tidak hanya akan muncul dari sisi keamanan, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan arus pendapatan minyak yang menjadi sumber utama ekonomi kerajaan.

Pada akhirnya, perang Iran mungkin tidak perlu menghentikan produksi minyak Saudi untuk mengguncang pasar.

Cukup dengan membuat minyak Saudi semakin sulit keluar dari kawasan.

Dan jika dua jalur ekspor utama kerajaan terus berada dalam tekanan, dampaknya tidak berhenti di Riyadh.

Pasar minyak global juga akan ikut merasakan akibatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer