Connect with us

Opini

Keuntungan Trump dari Perang Iran: Apa yang Didapat?

Published

on

Donald Trump, perang Iran, minyak, dan investasi saham

Perang selalu punya dua wajah. Di layar televisi, kita melihat rudal, asap, bunker, kapal perang, dan wajah-wajah pemimpin yang berbicara tentang keamanan nasional. Tetapi di balik ledakan itu ada sesuatu yang jauh lebih sunyi: angka-angka di layar bursa. Harga minyak bergerak. Saham perusahaan energi melonjak. Emas diburu. Saham pertahanan ikut terangkat. Perang, dengan segala kehancurannya, ternyata juga bisa menjadi pasar.

Dan di tengah pasar itu ada Donald Trump.

Inilah bagian yang membuat perang Iran terasa semakin ganjil. Trump bukan hanya presiden Amerika Serikat yang memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan terhadap Iran. Ia juga memiliki portofolio investasi yang sangat besar dan aktif. Disclosure keuangan menunjukkan lebih dari 21.000 transaksi sekuritas dilakukan atas namanya sepanjang 2025, dengan nilai transaksi yang diperkirakan berada di antara US$600 juta dan US$1,86 miliar. Pada tiga bulan pertama 2026 saja, tercatat 3.642 transaksi dengan nilai sekitar US$220 juta hingga US$750 juta.

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia memberi kita konteks untuk memahami mengapa keuntungan Trump dari perang Iran layak dipertanyakan. Kita tidak sedang membicarakan seorang presiden yang kebetulan memiliki beberapa saham untuk tabungan masa depan. Kita sedang membicarakan seorang presiden dengan portofolio investasi yang sangat besar, sementara keputusan politik dan militernya sendiri dapat mengguncang harga aset di seluruh dunia.

Di sinilah absurditasnya mulai terlihat.

Seorang presiden memutuskan perang. Pasar bereaksi. Harga minyak berubah. Saham perusahaan energi bergerak. Investor menyesuaikan posisi. Kemudian, pada saat yang sama, kekayaan pribadi presiden tersebut berada di dalam pasar yang sedang bergerak akibat keputusan-keputusan itu.

Tentu, pihak Trump memiliki jawaban. Investasi tersebut diklaim dikelola secara independen. Gedung Putih mengatakan tidak ada konflik kepentingan karena keputusan investasi tidak berada di tangan Trump secara langsung. Itu adalah pembelaan yang relevan dan memang harus dicatat. Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan seseorang tidak mengendalikan setiap transaksi dan mengatakan bahwa tidak ada persoalan kepentingan sama sekali.

Karena uang tidak perlu menekan tombol “buy” sendiri untuk mendapatkan keuntungan.

Lihat saja sektor energi.

Perang Iran membuat pasar minyak terguncang karena ancaman terhadap pasokan dan jalur perdagangan energi. Harga minyak Brent yang sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran berada di sekitar US$70 per barel sempat melonjak hingga sekitar US$126. Perusahaan minyak besar kemudian menikmati lonjakan keuntungan. ExxonMobil dan Chevron bersama-sama mencatat laba lebih dari US$26 miliar pada kuartal kedua 2026. Chevron membukukan sekitar US$12,2 miliar, sementara ExxonMobil sekitar US$14,5 miliar.

Kemudian muncul fakta yang sulit diabaikan: Trump sendiri memiliki investasi di kedua perusahaan tersebut. Menurut laporan yang merujuk pada disclosure keuangan 2025, Trump memiliki antara US$3 juta dan US$12 juta dalam saham ExxonMobil serta antara US$1,25 juta dan US$6 juta dalam saham Chevron. The Guardian secara langsung mengaitkan kepemilikan tersebut dengan kemungkinan Trump memperoleh manfaat dari keuntungan besar perusahaan minyak selama perang Iran.

Di titik ini kita tidak perlu berputar-putar dengan istilah rumit. Logikanya sederhana.

Perang mengganggu pasokan minyak. Harga minyak naik. Perusahaan energi memperoleh keuntungan. Trump memiliki investasi di perusahaan energi tersebut.

Apakah setiap dolar keuntungan ExxonMobil otomatis masuk ke kantong Trump? Tentu tidak. Begitu pula, kenaikan harga saham tidak berarti keuntungan tersebut sudah direalisasikan menjadi uang tunai. Tetapi nilai kepentingan finansialnya dapat terdorong oleh kondisi yang sama yang membuat perusahaan-perusahaan itu memperoleh windfall.

Dan justru di situlah keuntungan Trump dari perang Iran menjadi pertanyaan yang tidak bisa disapu begitu saja dengan kalimat “dikelola secara independen”.

Ada ironi lain yang bahkan lebih tajam.

Trump sendiri kemudian mengkritik perusahaan minyak karena dianggap menghasilkan terlalu banyak uang akibat perang. Ia menyebut ExxonMobil dan Chevron “making too much money” dan meminta perusahaan-perusahaan tersebut mengembalikan sebagian keuntungan kepada publik serta menurunkan harga bagi konsumen.

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan terhadap rakyat. Tetapi ada satu detail kecil yang membuatnya terasa getir: orang yang mengecam perusahaan minyak karena menikmati keuntungan dari lonjakan harga minyak juga memiliki investasi di perusahaan-perusahaan tersebut.

Seolah-olah seseorang berdiri di depan toko, memarahi pemilik toko karena menaikkan harga barang, sambil diam-diam masih memiliki saham di toko itu.

Tentu analoginya tidak sempurna. Tetapi justru karena itulah pertanyaan ini menarik.

Kalau keuntungan perusahaan minyak dianggap terlalu besar ketika harga energi melonjak akibat perang, mengapa kita tidak membicarakan dengan serius kepentingan finansial orang yang memiliki saham perusahaan tersebut sekaligus memiliki kekuasaan politik atas perang yang menyebabkan lonjakan harga itu?

Di sinilah keuntungan Trump dari perang Iran tidak lagi sekadar persoalan saham ExxonMobil dan Chevron.

Disclosure investasi Trump pada awal 2026 menunjukkan aktivitas yang lebih luas. Fortune mencatat 3.642 transaksi dalam tiga bulan pertama tahun itu, dengan sekitar 60 transaksi setiap hari perdagangan. Laporan tersebut juga menyoroti transaksi pada aset seperti minyak, saham pertahanan, dan emas, yaitu jenis aset yang sangat sensitif terhadap perang, ketidakpastian, dan perubahan geopolitik.

Minyak masuk akal. Perang mengancam pasokan.

Saham pertahanan juga mudah dipahami. Ketika perang membesar, kebutuhan senjata, amunisi, sistem pertahanan, dan belanja militer ikut menjadi perhatian pasar.

Emas? Sama. Ketika ketidakpastian meningkat, investor mencari tempat berlindung.

Jadi, ketika perang Iran mengguncang pasar, uang tidak berhenti bergerak. Ia mencari tempat. Dan sebagian portofolio Trump berada di ruang yang sangat sensitif terhadap gejolak tersebut.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar.

Saya tidak mengatakan Trump menciptakan perang Iran agar sahamnya naik. Itu klaim yang jauh lebih besar dan tidak didukung oleh fakta yang kita miliki. Saya juga tidak mengatakan seluruh transaksi Trump berkaitan dengan perang Iran. Jelas tidak. Portofolionya terlalu besar dan transaksinya terlalu beragam untuk dibuat sesederhana itu.

Tetapi justru karena kita tidak perlu membuat tuduhan sebesar itu, persoalannya menjadi lebih menarik.

Kita hanya perlu melihat apa yang terjadi di depan mata.

Trump memiliki portofolio investasi yang sangat besar. Perang Iran menciptakan gejolak luar biasa di pasar. Beberapa sektor memperoleh keuntungan besar. Trump memiliki investasi pada sebagian perusahaan dan aset yang berada di tengah gejolak tersebut. Dan aktivitas perdagangan dalam akun investasinya berlangsung dalam skala yang tidak biasa bagi seorang presiden modern. Fortune bahkan menyebut situasi tersebut sebagai posisi yang sangat tidak lazim bagi seorang presiden.

Lebih jauh lagi, laporan terbaru mengenai disclosure Juni menunjukkan bahwa Trump melakukan lebih dari 1.000 transaksi sekuritas pada bulan tersebut, dengan nilai antara US$78,1 juta dan US$263,1 juta. Transaksi itu mencakup pembelian Berkshire Hathaway, Visa, Mastercard, dan Cintas, serta berbagai penjualan dan pembelian lainnya. Secara keseluruhan, laporan tersebut kembali menggarisbawahi betapa aktifnya portofolio Trump.

Bayangkan seorang presiden yang setiap kali mengeluarkan pernyataan dapat membuat pasar minyak bergerak, membuat investor mengubah posisi, membuat perusahaan tertentu naik atau turun, lalu pada saat yang sama memiliki kekayaan pribadi yang terus berada di dalam pasar tersebut.

Secara hukum mungkin ada struktur yang menjelaskan bagaimana semuanya bisa berjalan. Secara administratif mungkin ada manajer investasi. Secara teknis mungkin transaksi dilakukan oleh sistem otomatis. Tetapi secara moral dan politik, pertanyaannya tidak otomatis hilang.

Karena demokrasi bukan hanya soal apakah sesuatu diperbolehkan oleh aturan.

Demokrasi juga soal apakah publik dapat percaya bahwa kekuasaan negara tidak sedang bercampur terlalu dekat dengan kepentingan pribadi penguasanya.

Kita semua tahu bagaimana rasanya ketika harga bensin naik. Di Indonesia, kita bahkan tidak perlu menjadi analis Wall Street untuk memahami hubungan antara harga minyak dunia dan kehidupan sehari-hari. Harga energi merembet ke ongkos transportasi, biaya logistik, harga makanan, dan berbagai kebutuhan lain. Di Amerika, dampaknya juga nyata. Ketika harga minyak melonjak akibat perang, konsumen membayar lebih mahal di pompa bensin.

Sementara itu, perusahaan energi dapat menghitung windfall mereka dalam miliaran dolar.

Dan seorang presiden Amerika memiliki investasi di perusahaan energi tersebut.

Di situlah perang berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar urusan militer. Ia menjadi sebuah mesin ekonomi yang menghasilkan pemenang dan pecundang.

Yang membuatnya mengganggu bukan karena setiap orang yang memiliki saham energi otomatis bersalah. Tentu saja tidak. Yang mengganggu adalah ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk memengaruhi kondisi yang menentukan harga aset, sementara dirinya sendiri memiliki kepentingan finansial di pasar tersebut.

Ini bukan persoalan hitam-putih.

Justru abu-abu itulah masalahnya.

Sebab ketika seorang presiden berkata bahwa perusahaan minyak “terlalu banyak menghasilkan uang”, publik berhak bertanya: apakah ia sedang berbicara sebagai kepala negara, sebagai politisi yang menghadapi pemilih, atau sebagai seseorang yang juga memiliki kepentingan finansial di sektor tersebut?

Pertanyaan itu tidak hilang hanya karena sebuah akun disebut dikelola secara independen.

Dan semakin banyak transaksi yang muncul dalam disclosure, semakin sulit pula publik menganggap hubungan antara kekuasaan dan uang sebagai persoalan kecil. Lebih dari 21.000 transaksi pada 2025 bukan angka yang bisa dilewati begitu saja. Itu adalah gambaran tentang betapa dekatnya kekayaan pribadi Trump dengan mesin pasar yang juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintahannya.

Pada akhirnya, mungkin inilah ironi terbesar dari perang Iran.

Perang selalu dijelaskan dengan bahasa yang luhur: keamanan nasional, ancaman, stabilitas kawasan, kepentingan Amerika, dan perlindungan rakyat. Tetapi di pasar, bahasa yang digunakan jauh lebih sederhana.

Naik.

Turun.

Untung.

Rugi.

Dan ketika rudal terbang, pasar bergerak.

Ketika minyak terganggu, perusahaan energi menghitung keuntungan.

Ketika ketidakpastian meningkat, emas naik.

Ketika belanja militer membesar, saham pertahanan mendapat perhatian.

Dan di tengah semua itu, portofolio investasi Trump terus bergerak.

Mungkin itulah sebabnya kita tidak perlu terburu-buru menuduh. Data yang ada sudah cukup untuk mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: apa sebenarnya keuntungan Trump dari perang Iran?

Karena jika perang menghasilkan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan tempat Trump memiliki investasi, jika portofolionya aktif bertransaksi ketika pasar diguncang perang, dan jika kekayaan pribadi seorang presiden berada begitu dekat dengan pasar yang dapat dipengaruhi oleh keputusan pemerintahannya, maka publik berhak melihat lebih jauh.

Bukan untuk membuktikan bahwa Trump pasti bersalah.

Tetapi untuk memastikan bahwa perang tidak pernah menjadi ladang keuntungan pribadi yang tersembunyi di balik bahasa kepentingan nasional.

Dan pada akhirnya, kita kembali pada pertanyaan paling sederhana.

Dari perang Iran, Trump mendapat banyak keuntungan.

Lalu, bagaimana dengan rakyat Amerika?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer