Internasional
Perang Iran Menguras AS, Kerugian Intelijen Capai Miliaran Dolar
WASHINGTON — Serangan rudal dan drone Iran telah menyebabkan kerusakan bernilai miliaran dolar terhadap fasilitas intelijen dan perangkat pengawasan Amerika Serikat di Timur Tengah, menurut laporan NBC News yang mengutip empat orang yang mengetahui dampak serangan tersebut.
Kerusakan itu disebut sebagai salah satu yang paling luas yang pernah dialami badan-badan intelijen Amerika dalam beberapa dekade, sekaligus menambah beban biaya yang harus ditanggung Washington dalam perang yang memasuki bulan ketujuh.
Menurut laporan NBC News, serangan Iran tidak hanya menghantam instalasi militer Amerika, tetapi juga bangunan dan perangkat yang digunakan badan-badan intelijen AS untuk mengumpulkan informasi dan melakukan pengawasan di kawasan.
Dampaknya cukup besar sehingga Kongres Amerika Serikat harus mencari pendanaan untuk memulihkan fasilitas yang terkena serangan. Pada saat yang sama, pejabat AS mulai mempertimbangkan kembali bagaimana personel intelijen dan peralatan penting ditempatkan di kawasan yang semakin rentan terhadap serangan rudal dan drone Iran.
Salah satu fasilitas yang dilaporkan terkena serangan adalah stasiun CIA di Riyadh, Arab Saudi, yang diserang drone Iran pada Maret. Lokasi tersebut merupakan bagian dari jaringan intelijen Amerika di kawasan Timur Tengah.
Kerusakan terhadap fasilitas intelijen memiliki arti strategis yang lebih besar dibandingkan sekadar kerusakan fisik pada sebuah bangunan. Fasilitas semacam itu menopang kemampuan Amerika untuk mengumpulkan informasi, mengawasi aktivitas militer dan mendeteksi ancaman di kawasan.
Karena itu, pemulihan tidak hanya berarti memperbaiki bangunan yang rusak. Amerika juga harus mengganti perangkat pengawasan, memulihkan jaringan komunikasi, memperkuat perlindungan fasilitas serta mempertimbangkan kembali penempatan personel dan aset intelijen.
Nilai kerusakan tersebut belum merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan Amerika akibat perang.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyebut Amerika telah menghabiskan sekitar 38 miliar dolar untuk perang, termasuk biaya operasi sehari-hari, pengerahan ribuan tentara dan penggunaan ribuan amunisi konvensional serta presisi. Namun, angka tersebut tidak mencakup seluruh biaya kerusakan terhadap fasilitas militer dan diplomatik Amerika di Timur Tengah.
Dalam laporan yang diterbitkan 25 Agustus, Forbes menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump sedang meminta hampir 90 miliar dolar tambahan melalui anggaran suplementer, dengan sekitar 67 miliar dolar ditujukan untuk biaya perang Iran.
Kerusakan pada jaringan intelijen kini menambah komponen lain dalam tagihan tersebut.
Selain biaya operasi dan pengadaan amunisi, Washington harus menghadapi biaya untuk memperbaiki fasilitas yang rusak, mengganti peralatan yang hancur dan meningkatkan sistem pertahanan di sekitar instalasi yang dianggap penting.
Perubahan postur keamanan itu berpotensi menambah pengeluaran Amerika selama perang masih berlangsung.
Serangan terhadap fasilitas intelijen juga memperlihatkan perubahan karakter ancaman yang dihadapi pasukan Amerika di Timur Tengah. Iran tidak harus menyamai Amerika dalam jumlah pesawat, kapal perang atau personel untuk memberikan tekanan terhadap Washington.
Penggunaan rudal dan drone memungkinkan Iran menyerang fasilitas bernilai tinggi yang menjadi bagian dari jaringan militer dan intelijen Amerika.
Bagi Washington, serangan semacam itu menciptakan persoalan ganda. Amerika harus mempertahankan kemampuan untuk mengumpulkan informasi mengenai Iran, sekaligus melindungi fasilitas yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut.
Jika fasilitas intelijen dipindahkan atau diperkuat, Amerika harus mengeluarkan biaya tambahan. Jika operasi dipindahkan ke lokasi yang lebih jauh dari pusat ancaman, kemampuan pengawasan dan respons juga harus disesuaikan.
Dalam kondisi perang yang berkepanjangan, biaya tersebut dapat terus bertambah.
Laporan Forbes juga menunjukkan bahwa biaya perang tidak berhenti pada anggaran pertahanan. Gangguan terhadap arus energi melalui Selat Hormuz telah mendorong harga bensin dan diesel di Amerika sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang. Forbes memperkirakan kenaikan tersebut telah menambah sekitar 500 dolar pengeluaran bagi setiap rumah tangga Amerika sejak perang dimulai pada Februari.
Dampak ekonomi tersebut kemudian merembet ke inflasi dan biaya pinjaman, sementara gangguan terhadap perdagangan melalui Selat Hormuz meningkatkan risiko terhadap perekonomian global. Forbes, mengutip proyeksi Bank Dunia, melaporkan pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan turun dari 2,9 persen menjadi 2,5 persen, dengan skenario guncangan energi yang lebih parah berpotensi menekan pertumbuhan hingga 1,3 persen.
Namun, bagi komunitas intelijen Amerika, kerusakan fasilitas memiliki persoalan tambahan: kehilangan kemampuan untuk melihat dan memantau perkembangan di lapangan.
Sistem intelijen dan surveillance merupakan bagian penting dalam operasi militer. Informasi yang dikumpulkan dari fasilitas tersebut membantu pemerintah menentukan perkembangan ancaman, menilai kemampuan lawan dan mendukung keputusan mengenai operasi militer.
Karena itu, kerusakan terhadap infrastruktur intelijen dapat memengaruhi kemampuan Amerika bukan hanya pada hari terjadinya serangan, tetapi juga dalam operasi berikutnya.
NBC News melaporkan bahwa skala kerusakan telah mendorong pejabat Amerika mengevaluasi kembali cara personel intelijen dan aset penting ditempatkan di kawasan. Persoalannya adalah bagaimana mempertahankan jaringan pengumpulan informasi tanpa membuat aset-aset tersebut terlalu rentan terhadap serangan Iran.
Perubahan tersebut terjadi ketika Amerika masih menghadapi ancaman terhadap berbagai fasilitasnya di Timur Tengah.
Forbes melaporkan bahwa hampir dua lusin fasilitas militer Amerika di kawasan telah mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan drone Iran. Sejumlah peralatan militer, termasuk pesawat yang ditempatkan di hanggar dan landasan yang rentan, juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Dengan demikian, biaya perang Amerika berkembang dalam beberapa lapisan sekaligus.
Ada biaya untuk menjalankan operasi militer. Ada biaya untuk mempertahankan pasukan. Ada biaya untuk amunisi. Ada biaya untuk mengganti peralatan yang rusak. Ada pula biaya untuk memperbaiki fasilitas dan membangun kembali kemampuan intelijen.
Di luar itu terdapat biaya ekonomi yang ditanggung masyarakat Amerika melalui kenaikan harga energi dan inflasi.
Washington juga menghadapi persoalan strategis yang lebih luas. Menurut Forbes, perang telah meningkatkan tekanan terhadap hubungan Amerika dengan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi berbagai fasilitas militer dan keamanan AS. Sejumlah negara di kawasan tersebut mulai memperkuat sistem pertahanan mereka sendiri setelah fasilitas energi dan infrastruktur sipil ikut terdampak konflik.
Bagi Iran, kemampuan menyerang fasilitas Amerika memberikan instrumen untuk meningkatkan biaya perang tanpa harus mengalahkan Amerika dalam perang konvensional secara keseluruhan.
Bagi Amerika, tantangannya adalah memastikan bahwa keunggulan militernya tetap dapat digunakan meskipun jaringan pangkalan, fasilitas intelijen dan infrastruktur pendukungnya terus menjadi sasaran.
Besarnya kerusakan yang dilaporkan NBC News juga belum memberikan gambaran akhir mengenai total biaya pemulihan. Nilai kerusakan dapat berubah setelah pemeriksaan fasilitas dan peralatan selesai, sementara kebutuhan untuk memperkuat perlindungan serta mengubah penempatan aset dapat menciptakan biaya tambahan.
Yang sudah jelas, perang dengan Iran telah menciptakan tagihan yang jauh lebih luas daripada biaya rudal dan operasi tempur.
Kerusakan terhadap fasilitas intelijen menunjukkan bahwa salah satu biaya perang yang paling penting justru terletak pada kemampuan Amerika untuk tetap melihat, memantau dan mempertahankan kehadirannya di kawasan.
Dan ketika Washington mulai mengeluarkan miliaran dolar bukan hanya untuk berperang, tetapi juga untuk memulihkan jaringan intelijen yang rusak akibat perang, biaya konflik tersebut terus bergerak naik.
Sumber utama: NBC News, laporan 25 Agustus 2026, “Iran inflicted billions in damage to U.S. intelligence sites, sources say.” NBC News — laporan sumber utama
Sumber pendukung: Forbes, Michael P. Dempsey, 25 Agustus 2026, “Buckle In America — Iran War Costs Are Steep And Growing.” Forbes — analisis biaya perang AS-Iran


