Connect with us

Opini

Mengapa Delegasi Indonesia Dibacakan Surah Al-Isra Ayat 80 di Teheran?

Published

on

Delegasi Indonesia dan Afghanistan saat pembacaan Surah Al-Isra ayat 80 di Teheran.

Teheran hari itu menjadi tempat bertemunya para tamu dari berbagai penjuru dunia. Mereka datang bukan untuk menghadiri sebuah konferensi, bukan pula menandatangani sebuah perjanjian politik, melainkan memberikan penghormatan terakhir kepada Syahid Sayyid Ali Khamenei. Satu per satu delegasi memasuki ruangan dengan langkah pelan. Tidak banyak kata yang terdengar. Yang lebih dominan justru keheningan, seolah semua orang memahami bahwa ada saat ketika diam jauh lebih bermakna daripada pidato yang panjang.

Saya mengikuti prosesi itu dari berbagai rekaman yang beredar. Awalnya, perhatian saya sama seperti kebanyakan orang: siapa saja yang hadir, bagaimana suasana di dalam ruangan, dan siapa yang berdiri di barisan depan. Sampai akhirnya, sehari setelah prosesi tersebut berlangsung, saya menemukan sebuah unggahan di X yang membuat saya berhenti menggulir layar.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Unggahan itu sederhana. Penulisnya mengklaim bahwa setiap delegasi yang datang memberikan penghormatan ternyata diperdengarkan ayat Al-Qur’an yang berbeda-beda. Kalimatnya singkat, tetapi cukup membuat saya penasaran. Saya tidak langsung mempercayainya. Terlalu banyak informasi di media sosial yang tampak meyakinkan, tetapi ternyata hanya potongan cerita yang kehilangan konteks.

Karena itu saya memutuskan untuk memeriksanya sendiri.

Daftar ayat yang beredar di X saya jadikan sebagai petunjuk awal, bukan sebagai kesimpulan. Saya mulai mencari rekaman prosesi dari berbagai sumber. Satu video saya buka. Lalu video lain. Saya memutar ulang beberapa bagian. Kali ini perhatian saya bukan lagi pada wajah-wajah para tamu negara, melainkan pada suara qari yang terdengar beberapa detik sebelum setiap delegasi memberikan penghormatan terakhir.

Pelan-pelan pola itu mulai terlihat.

Setidaknya dari rekaman-rekaman yang berhasil saya telusuri, pembacaan ayat memang tidak tampak seragam. Hamas memperoleh bacaan yang berbeda. Delegasi Palestina berbeda. Turki juga berbeda. Hashd al-Shaabi Irak memperoleh ayat yang berbeda lagi. Saya tentu tidak dapat memastikan apa pertimbangan panitia memilih ayat-ayat tersebut. Namun satu hal yang tampak jelas dari rekaman yang saya cocokkan adalah bahwa qari tidak membacakan ayat yang sama kepada setiap rombongan. Di situlah rasa penasaran saya justru dimulai, bukan berakhir.

Saya kemudian mencari bagian ketika rombongan Indonesia memasuki ruang penghormatan.

Di sinilah saya menemukan satu fakta yang menurut saya penting untuk dijelaskan sejak awal. Delegasi Indonesia saat itu tidak memasuki ruangan sendirian. Mereka berada dalam satu rombongan bersama para ulama dan cendekiawan Muslim dari Afghanistan. Karena itu, tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengklaim bahwa Surah Al-Isra ayat 80 dibacakan secara khusus kepada Indonesia. Saya tidak memiliki dasar untuk mengatakan sejauh itu.

Lalu mengapa tulisan ini tetap berfokus pada Indonesia?

Jawabannya sederhana. Saya menulis sebagai orang Indonesia untuk pembaca Indonesia. Yang ingin saya renungkan bukan apa yang mungkin dimaksudkan oleh panitia di Teheran, melainkan apa yang dapat kita baca dari ayat tersebut ketika diperdengarkan pada momen itu, terutama karena di dalam rombongan tersebut terdapat para ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia.

Di situlah menurut saya ruang perenungannya menjadi menarik.

Sebab yang hadir saat itu bukan Presiden Republik Indonesia. Bukan pula pejabat tinggi pemerintahan. Delegasi Indonesia diwakili oleh para ulama, akademisi, dan cendekiawan Muslim. Orang-orang yang sehari-hari berbicara tentang agama, membimbing umat, mengajar di ruang-ruang pendidikan, memimpin organisasi, dan menjadi rujukan banyak orang dalam memahami nilai-nilai Islam. Mereka datang bukan membawa mandat politik, melainkan membawa identitas sebagai pembimbing moral masyarakat.

Ketika rombongan itu berdiri di hadapan peti jenazah, qari mulai membaca ayat Al-Qur’an.

Saya menghentikan video.

Lalu memutarnya sekali lagi.

Bukan karena saya belum mendengar dengan jelas.

Tetapi karena saya ingin memastikan ayat yang dibaca.

Ternyata benar.

Surah Al-Isra ayat 80.

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.'” (QS. Al-Isra: 80)

Saya membaca ayat itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Dan justru setelah beberapa kali membacanya, muncul rasa heran yang sulit saya abaikan.

Bukankah saat itu yang sedang berlangsung adalah prosesi penghormatan kepada seorang syahid?

Mengapa yang terdengar justru bukan ayat tentang syahid?

Bukan ayat tentang peperangan.

Bukan pula ayat tentang kemenangan.

Yang dibacakan justru sebuah doa.

Doa yang begitu tenang.

Doa tentang memasuki sesuatu dengan benar.

Menjalankannya dengan benar.

Lalu mengakhirinya dengan benar.

Saya tidak sedang mencari pesan tersembunyi dari siapa pun. Saya juga tidak sedang mencoba membaca isi hati penyelenggara prosesi. Hal-hal seperti itu mungkin hanya diketahui oleh mereka sendiri. Tetapi ketika sebuah ayat diperdengarkan dalam sebuah momen yang sangat khusus, rasanya tidak berlebihan jika kita mencoba merenungkannya. Bukan untuk memaksakan sebuah kesimpulan, melainkan untuk membuka ruang tafsir yang mungkin bisa memperkaya cara kita memandang peristiwa itu.

Semakin lama saya memikirkan Surah Al-Isra ayat 80, semakin terasa bahwa ayat ini tidak sedang berbicara tentang kemenangan di medan perang. Ia juga tidak sedang berbicara tentang kematian seorang syahid. Ayat ini justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Tentang amanah.

Dan di titik itulah, pikiran saya perlahan meninggalkan Teheran.

Ia pulang ke Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer