Connect with us

Opini

Trump Datang, Putin Menutup Panggung Beijing

Published

on

Xi Jinping bertemu Trump dan Putin dalam dinamika geopolitik global

Ada sesuatu yang aneh dalam politik global hari-hari ini. Dunia seperti sedang menonton pertunjukan sulap raksasa: mata publik diarahkan ke tangan kanan, sementara tangan kiri diam-diam memindahkan seluruh isi meja. Kamera menyorot kedatangan Donald Trump ke Beijing. Headline meledak. Analisis berhamburan. Studio televisi sibuk mengundang pakar yang berbicara dengan nada seolah sejarah baru saja berbelok tajam. Trump datang ke China. Trump bertemu Xi Jinping. Trump bicara Iran. Trump bicara stabilitas. Trump bicara masa depan. Begitulah kira-kira bunyinya. Lalu dunia menunggu. Menunggu dengan penuh harapan, seperti warga kampung yang menunggu janji calon kepala daerah sebelum pemilu: mungkin kali ini ada kejutan. Mungkin kali ini benar-benar ada perubahan.

Tetapi geopolitik bukan sinetron sore yang alurnya selesai dalam satu episode. Saya rasa kesalahan banyak orang adalah membaca diplomasi seperti membaca potongan video pendek: sepuluh detik, lalu langsung menyimpulkan semuanya. Padahal dalam politik internasional, yang menentukan sering kali bukan apa yang terjadi ketika kamera menyala, melainkan apa yang muncul sesudah para tamu pulang ke rumah masing-masing. Bukan konferensi persnya. Bukan jabat tangannya. Bukan senyumnya. Tapi langkah berikutnya. Saat kamera mati.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Dan kini, beberapa hari setelah Donald Trump meninggalkan Beijing, Vladimir Putin datang.

Di situlah panggung berubah.

Mendadak perhatian dunia bergeser. Orang mulai membandingkan. Penyambutan Trump dibandingkan dengan penyambutan Putin. Bahasa Xi kepada Trump dibandingkan dengan bahasa Xi kepada Putin. Gestur, ekspresi, urutan acara, hingga isi pernyataan bersama dibedah seperti warganet Indonesia membandingkan menu restoran yang foto promonya tampak mewah tetapi saat datang isinya tak lebih besar dari kerupuk.

Karena memang ada sesuatu yang terasa janggal jika dua pertemuan itu dibaca berdampingan.

Saat Trump bertemu Xi, isu yang mengemuka adalah Iran, stabilitas kawasan, Selat Hormuz, dan ancaman nuklir. Trump dan Xi bahkan sama-sama menyinggung perlunya mengelola situasi Iran. Terdengar diplomatis. Terdengar konstruktif. Tetapi kemudian muncul satu kalimat yang menurut saya lebih penting dari seluruh daftar agenda resmi: Xi memperingatkan bahwa jika persoalan Taiwan salah dikelola, konsekuensinya bisa sangat serius bagi hubungan Amerika Serikat dan China.

Kalimat itu menarik.

Karena Xi tidak berkata Taiwan adalah garis merah secara slogan murahan yang cocok dijadikan stiker media sosial. Tidak. Xi jauh lebih rapi. Jauh lebih dingin. Bahasa diplomasi China memang seperti itu; ancamannya dibungkus kain sutra. Tetapi substansinya tetap keras. Jika Taiwan salah dikelola, akibatnya serius.

Artinya sederhana: kita boleh bicara banyak hal, tetapi jangan menyentuh wilayah yang menurut Beijing tidak bisa dinegosiasikan.

Sekarang mari lihat sisi lainnya.

Putin datang ke Beijing.

Apakah Xi mengeluarkan peringatan serupa? Apakah Xi berkata soal gas Rusia? Soal harga energi? Soal minyak? Soal proyek yang bermasalah? Soal ketidakseimbangan hubungan ekonomi? Tidak terdengar. Tidak terlihat. Yang muncul justru kata-kata yang lebih hangat: hubungan strategis, koordinasi global, kerja sama jangka panjang, dunia multipolar, dan kritik bersama terhadap langkah-langkah Amerika Serikat.

Di sini mulai terlihat bahwa diplomasi bukan sekadar soal isi pembicaraan. Diplomasi juga soal nada bicara.

Trump mendapat peringatan.

Putin mendapat pelukan strategis.

Dan publik tentu tidak bodoh.

Mereka membaca.

Bahkan mungkin jauh lebih cepat dibanding para analis profesional yang kadang terlalu sibuk menghitung jumlah penandatanganan dokumen kerja sama.

Di sinilah saya rasa Beijing bermain sangat cantik. Sangat halus. Hampir seperti pemain catur yang memindahkan pion tanpa suara, tetapi ketika lawan sadar, bentengnya ternyata sudah terkepung.

Karena mari jujur saja. Setelah Trump datang ke Beijing, sempat muncul spekulasi besar. Apakah China sedang membuka jalan baru ke Washington? Apakah Xi mulai melunak? Apakah Trump berhasil? Pertanyaan-pertanyaan itu beredar di mana-mana.

Lalu Putin datang.

Selesai.

Narasi berubah total.

Mendadak dunia tidak lagi bertanya apa yang Trump dapat dari Beijing. Dunia justru mulai bertanya: mengapa Putin datang setelah Trump? Mengapa pernyataannya berbeda? Mengapa Xi terdengar lebih cair? Mengapa Putin dan Xi bersama-sama mengkritik Amerika Serikat?

Dan saya rasa inilah jawaban paling menarik yang muncul setelah kamera mati.

Kita terlalu sering diajarkan melihat dunia dalam kotak hitam-putih. Seolah jika Trump datang maka Beijing otomatis mendekat ke Washington. Seolah hubungan internasional seperti pertandingan sepak bola: kalau satu tim mencetak gol berarti tim lain kalah.

Padahal China tampaknya bermain jauh lebih rumit.

China tidak ingin Rusia runtuh.

China juga tidak ingin Iran jatuh.

Bukan semata karena cinta geopolitik atau persaudaraan lintas peradaban. Politik internasional terlalu dingin untuk romantisme seperti itu.

Alasannya jauh lebih sederhana.

Jika Rusia runtuh, perhatian Amerika akan berkurang di Eropa.

Jika Iran runtuh, perhatian Amerika akan berkurang di Timur Tengah.

Dan jika dua-duanya runtuh, target berikutnya tinggal satu.

China.

Sesederhana itu.

Karena itu Beijing melakukan balancing. Menjaga agar papan catur tetap ramai. Menjaga agar tidak ada satu pemain yang terlalu bebas bergerak. Dan dalam konteks itu, istilah poros Iran–Rusia–China mungkin memang tidak memiliki perjanjian resmi seperti NATO. Tidak ada tanda tangan besar. Tidak ada pasal pertahanan kolektif. Tetapi kadang yang menyatukan negara bukan dokumen. Yang menyatukan adalah masalah bersama.

Dan masalah bersama mereka punya nama yang sangat jelas: dominasi Amerika Serikat.

Bukan berarti China ingin Amerika runtuh besok pagi. Saya rasa itu justru salah baca yang sering muncul. Beijing tidak membutuhkan kehancuran Amerika dalam satu malam. Dunia terlalu saling terhubung untuk skenario seperti itu. Pasar keuangan akan terguncang. Perdagangan akan kacau. Stabilitas global akan limbung.

China tidak ingin Amerika hilang.

China hanya ingin Amerika tidak lagi sendirian menentukan arah dunia.

Ada perbedaan besar di sana.

Dan mungkin itu yang sedang kita lihat sekarang. Bukan lahirnya blok anti-Amerika secara formal, melainkan lahirnya keseimbangan baru yang pelan-pelan mengikis dominasi lama.

Karena itu saya rasa kita memang tidak boleh membaca pertemuan Trump–Xi dan Putin–Xi secara terpisah. Dua pertemuan itu seperti dua bab dalam satu buku. Dipisahkan, mungkin terasa biasa. Disatukan, gambarnya jauh lebih utuh.

Trump datang dan bicara Iran.

Putin datang dan bicara dunia.

Trump diperingatkan soal Taiwan.

Putin diajak mengkritik Amerika.

Lalu orang-orang mulai membandingkan.

Dan saat publik mulai membandingkan, pertanyaan sebenarnya bukan lagi siapa menang dan siapa kalah.

Pertanyaannya jauh lebih sederhana.

Siapa yang paling diuntungkan dari semua ini?

Saya rasa jawabannya pelan-pelan mulai terlihat.

Bukan Trump.

Bukan Putin.

Melainkan Xi Jinping yang berhasil membuat dua kekuatan besar dunia datang ke Beijing, lalu membiarkan dunia sendiri menyusun kesimpulannya.

Permainan yang sunyi.

Tetapi efeknya berisik.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer