Opini
BRICS Besar Dalam Slogan, Kecil Dalam Realita
Ada sesuatu yang aneh dalam politik global zaman ini. Dunia seperti pasar malam yang penuh pengeras suara: semua berbicara tentang perubahan besar, semua menjual harapan baru, semua menawarkan masa depan yang katanya lebih adil. Tetapi semakin keras suara itu diperdengarkan, semakin kita patut curiga. Sebab sejarah sering mengajarkan satu hal sederhana: yang paling nyaring belum tentu yang paling bekerja. Dan belakangan saya merasakan kegelisahan yang sama ketika membaca perjalanan BRICS. Dulu ia tampak seperti kereta besar menuju dunia baru. Sekarang, semakin dekat dilihat, semakin terlihat seperti rombongan penumpang yang bahkan belum sepakat hendak turun di stasiun mana.
Kita semua tahu bagaimana BRICS dipasarkan ke publik global selama bertahun-tahun. Kata-kata besar bertebaran: de-dolarisasi, dunia multipolar, reformasi tata dunia, kebangkitan Global South, alternatif terhadap dominasi Barat. Kalimat-kalimat itu terdengar seperti bunyi lonceng sejarah. Seolah dunia yang selama puluhan tahun hidup di bawah orbit tunggal sedang mendekati ujung jalannya. Seolah akan lahir tatanan baru. Seolah sebuah revolusi geopolitik sedang mengetuk pintu. Dan jujur saja, saya termasuk orang yang pernah melihat BRICS sebagai harapan baru. Sulit untuk tidak tergoda. Slogannya memang menggiurkan.
Masalahnya, slogan sering bekerja seperti iklan perumahan di pinggir kota. Di brosur terlihat danau biru, taman hijau, langit cerah, dan keluarga tersenyum sambil bersepeda. Lalu ketika datang ke lokasi, yang ada masih tanah merah, debu beterbangan, dan alat berat belum selesai bekerja. Bukan berarti rumahnya bohong. Tetapi jarak antara gambar dan kenyataan kadang cukup membuat orang tertawa pahit.
Di titik itulah pembacaan terhadap BRICS mulai berubah. Dan menurut saya perubahan cara membaca itu penting. Sebab selama ini banyak orang, termasuk saya, membaca BRICS bukan hanya sebagai forum kerja sama negara berkembang, tetapi sebagai embrio dunia baru. Ada imajinasi besar bahwa BRICS adalah kendaraan percepatan menuju dunia multipolar; sebuah penyeimbang terhadap dominasi Amerika Serikat dan Barat. Tetapi semakin dibaca lebih dekat, semakin terlihat bahwa di balik bendera besar itu berdiri negara-negara dengan kepentingan yang sangat berbeda, bahkan kadang bertolak belakang.
Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di India tahun 2026 menurut saya menjadi momen yang membuka tirai panggung. Agenda tentang Timur Tengah memperlihatkan sesuatu yang selama ini tertutup slogan. Ketika persoalan mulai menyentuh kepentingan paling sensitif Amerika Serikat, perbedaan itu muncul ke permukaan. Tidak lagi rapi. Tidak lagi romantis. Ada yang ingin posisi lebih keras. Ada yang menahan diri. Ada yang berhitung. Ada yang tampak sangat hati-hati. Dan tiba-tiba publik dipaksa melihat kenyataan yang sederhana namun menyakitkan: negara-negara dalam BRICS ternyata tidak berbagi tingkat risiko yang sama.
Ini menarik. Dan ironis.
Karena selama ini BRICS sering dipersepsikan seperti kubu tandingan Barat. Seolah ada dua poros yang sedang bersiap bertarung. Tetapi realitasnya jauh lebih rumit. Di dalam BRICS ada negara-negara yang memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat. Ada yang menjadi mitra keamanan. Ada yang sangat bergantung pada pasar Barat. Ada yang menjaga hubungan strategis dengan Washington. Lalu muncul pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana: jika sebuah agenda BRICS benar-benar mengganggu dominasi Amerika Serikat, apakah mereka siap ikut menanggung risikonya?
Saya rasa di sinilah pertanyaan besar yang selama ini jarang dibicarakan.
Sebab membangun dunia multipolar bukan hanya soal pidato panjang dan deklarasi bersama. Ia membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mahal: kesediaan menanggung biaya politik. Sejarah menunjukkan perubahan tatanan global tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari risiko. Dari pengorbanan. Dari keberanian membayar harga.
Dan di sinilah saya mulai melihat masalahnya.
Ketika berbicara de-dolarisasi, misalnya, publik sering mendengar slogan dramatis: BRICS akan mengganti dolar. Kalimat itu terdengar seperti trailer film besar. Tetapi saat dibaca lebih dalam, realitasnya jauh lebih teknis: memperluas transaksi mata uang lokal, mengurangi ketergantungan tertentu, membangun alternatif perlahan. Ternyata bukan revolusi. Lebih mirip renovasi bertahap.
Tricky. Sangat tricky.
Karena masyarakat dunia membaca de-dolarisasi dalam versi slogan, sementara praktik kebijakan berjalan dalam versi administratif. Publik membayangkan pergantian sistem global. Yang terjadi lebih sering penambahan jalur alternatif. Ada jurang besar di antara keduanya.
Dan saya rasa inilah yang membuat sebagian orang mulai kecewa terhadap BRICS. Bukan karena BRICS tak punya agenda. Justru karena agendanya terlalu besar. Terlalu megah. Terlalu menjanjikan. Tetapi ketika implementasi mulai menyentuh wilayah sensitif, terutama yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat, negara-negara anggota kembali menjadi negara. Bukan lagi anggota BRICS. Mereka kembali pada kepentingan nasionalnya masing-masing.
Agak lucu kalau dipikir-pikir.
Kita hidup di zaman ketika semua orang berbicara tentang solidaritas global, tetapi keputusan akhirnya sering kembali pada kalkulator nasional. Dunia terasa seperti grup WhatsApp keluarga besar. Saat membahas rencana liburan bersama semua antusias. Semua setuju. Semua mengirim emoji semangat. Tetapi ketika tiba saat transfer uang, mendadak grup sepi.
Dan mungkin itu gambaran paling sederhana tentang situasi BRICS saat ini.
Bukan berarti BRICS tidak penting. Bukan berarti BRICS gagal total. Saya kira terlalu berlebihan jika sampai pada kesimpulan seperti itu. BRICS masih bisa mendorong perubahan kecil. Masih bisa memperluas ruang gerak negara berkembang. Masih bisa membuka alternatif. Tetapi untuk perubahan besar yang menyentuh inti kekuasaan global, saya rasa situasinya masih jauh.
Karena masalahnya bukan kekurangan anggota. Bukan kekurangan slogan. Bukan kekurangan pidato. Yang kurang mungkin justru sesuatu yang lebih mendasar: kesamaan visi, kesediaan menanggung risiko, dan jaminan solidaritas ketika biaya mulai datang.
Dan di situlah paradoks terbesar BRICS hari ini.
Ia besar dalam ukuran. Besar dalam kata-kata. Besar dalam narasi. Tetapi ketika diuji dalam persoalan yang paling sensitif, ia masih tampak seperti kumpulan negara dengan kepentingan, pragmatisme, dan kalkulasi masing-masing yang dibungkus slogan indah tentang masa depan.
Tetapi saya juga harus mengakui satu hal: ini adalah bacaan BRICS hari ini. Semua bisa berubah. Sejarah sering mengejek orang yang terlalu cepat membuat kesimpulan final. Mungkin suatu hari akan muncul ancaman bersama yang memaksa anggota BRICS lebih kompak. Mungkin akan lahir kepentingan baru yang membuat mereka rela menanggung risiko bersama.
Tetapi sampai hari itu datang, saya rasa ada satu pelajaran yang cukup pahit: kadang yang paling menggoda bukan realitasnya, melainkan janji tentang realitas itu sendiri. Dan BRICS, setidaknya untuk saat ini, tampaknya masih lebih kuat menjual imajinasi daripada menunjukkan transformasi.
