Internasional
Perang Iran Mulai Menguras Mesin Perang AS: Kapal Induk Harus Disuplai dari Ribuan Mil Jauhnya
WASHINGTON — Perang berkepanjangan dengan Iran mulai menghadirkan persoalan yang tidak selalu terlihat dari medan tempur: bagaimana menjaga kapal-kapal perang Amerika Serikat tetap beroperasi ketika jalur pasoknya sendiri ikut menjadi sasaran perang.
Menurut laporan The New York Times, serangan Iran telah mengacaukan jaringan logistik Angkatan Laut AS di Timur Tengah. Akibatnya, kapal induk, kapal perusak, dan kapal amfibi yang dikerahkan untuk operasi terhadap Iran harus menjalani pola pasokan yang jauh lebih rumit dan berisiko dibandingkan kondisi normal.
Masalah tersebut menjadi semakin penting karena armada AS di kawasan bukanlah kekuatan kecil.
Saat ini terdapat sekitar 20 kapal perang AS di Timur Tengah dengan sekitar 20.000 pelaut dan Marinir. Di dalamnya terdapat dua kapal induk dan 12 kapal perusak yang terlibat dalam operasi untuk memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Dan seluruh kekuatan itu harus terus diberi makan, bahan bakar, suku cadang, amunisi, serta kebutuhan operasional lainnya.
Satu kapal induk membutuhkan logistik dalam jumlah luar biasa
Sebuah kapal induk Amerika biasanya membawa sekitar 5.000 personel.
Kapalnya memang menggunakan tenaga nuklir, tetapi pesawat dan helikopter yang beroperasi dari dek penerbangan tetap membutuhkan bahan bakar dalam jumlah sangat besar.
Menurut NYT, pesawat-pesawat yang beroperasi dari satu kapal induk dapat membutuhkan sekitar dua juta galon bahan bakar per minggu.
Ketika seluruh armada diperhitungkan, kebutuhan logistiknya menjadi sangat besar.
Sekitar 20.000 personel di atas kapal-kapal AS di kawasan tersebut membutuhkan lebih dari 420.000 porsi makanan setiap minggu, sementara armada membutuhkan sekitar 8 juta galon bahan bakar dalam periode yang sama.
Inilah alasan mengapa perang modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah rudal dan pesawat.
Perang juga ditentukan oleh kemampuan mengirim makanan, bahan bakar, dan suku cadang ke kapal yang sedang bertempur.
Iran memukul titik yang sangat penting
Persoalan tersebut bermula sejak hari pertama perang.
Pada 28 Februari, Iran menyerang fasilitas logistik Angkatan Laut AS di Bahrain. Serangan tersebut menghancurkan sebagian besar fasilitas yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pusat penting untuk mendukung operasi armada Amerika di kawasan.
Masalahnya tidak berhenti di Bahrain.
Pelabuhan-pelabuhan lain yang dapat digunakan untuk kapal induk atau kapal pasokan juga berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran.
Akibatnya, beberapa lokasi yang sebelumnya menjadi bagian dari jaringan logistik rutin AS tidak lagi dapat digunakan dengan aman.
Washington kemudian harus mencari jalur alternatif.
Dan di sinilah jarak mulai menjadi masalah.
Dari Bahrain ke Diego Garcia
Salah satu alternatif utama adalah Diego Garcia, sebuah pangkalan militer di sebuah pulau kecil di Samudra Hindia.
Jaraknya sekitar 2.200 mil dari wilayah operasi kapal-kapal AS di Teluk Oman dan Laut Arab.
Jika opsi tersebut tidak mencukupi, kapal pasokan dapat bergerak lebih jauh menuju Singapura, sekitar 3.700 mil dari kawasan operasi.
Artinya, sesuatu yang sebelumnya dapat dilakukan melalui jaringan pangkalan dan pelabuhan yang relatif dekat kini berubah menjadi perjalanan ribuan mil.
Dan semakin jauh jalur pasokan, semakin besar pula waktu, bahan bakar, kapal pendukung, serta risiko yang diperlukan untuk mempertahankannya.
Pasokan kini harus dilakukan di tengah laut
Karena akses ke sejumlah pelabuhan regional terganggu, kapal-kapal perang AS kini harus menerima pasokan langsung di laut setiap beberapa hari.
Ini bukan sekadar memindahkan barang dari satu kapal ke kapal lain.
Kapal pasokan dan kapal perang harus bergerak dengan arah dan kecepatan yang hampir sama, sementara gelombang, angin dan arus laut terus bergerak.
Keduanya harus berada dalam jarak sekitar 150 kaki selama proses pemindahan berlangsung.
Bahan bakar dialirkan melalui saluran khusus.
Barang dan palet dapat dipindahkan menggunakan kabel.
Helikopter juga digunakan untuk membawa makanan, suku cadang dan surat menuju kapal perang.
Semua itu harus dilakukan ketika armada berada di lingkungan perang.
Dengan kata lain, jalur logistik yang sebelumnya berada di belakang garis depan kini ikut menjadi bagian dari medan perang.
USS Abraham Lincoln menjadi contoh paling jelas
Tekanan tersebut terlihat pada kapal induk USS Abraham Lincoln.
Kapal dengan sekitar 5.000 personel itu menjalani pengerahan yang sangat panjang dan menghabiskan sekitar 286 hari berturut-turut di laut sebelum akhirnya tiba di Thailand pada 2 September untuk istirahat dan pemulihan awak.
Dalam kondisi normal, kapal induk Angkatan Laut AS biasanya melakukan kunjungan pelabuhan secara berkala agar awak dapat beristirahat dan kapal menjalani pemeliharaan.
Namun perang dengan Iran mengubah situasi tersebut.
Dengan sejumlah pelabuhan tidak lagi aman untuk digunakan, Lincoln harus tetap berada di laut jauh lebih lama.
Laporan mengenai kapal tersebut bahkan memunculkan kekhawatiran tentang persediaan kebutuhan dasar, masalah air dan perpipaan, serta kondisi mental para awak.
Masalah ini jauh lebih besar daripada satu kapal
Yang menarik, persoalan Lincoln bukan sekadar cerita mengenai buruknya kondisi sebuah kapal induk.
Ia memperlihatkan kerentanan struktural dalam operasi militer AS ketika perang berlangsung lebih lama dari perkiraan dan musuh mampu menyerang jaringan pendukungnya.
Angkatan Laut AS hanya memiliki 11 kapal induk.
Empat di antaranya telah dikirim ke Timur Tengah untuk perang dengan Iran, sementara sejumlah kapal lainnya sedang menjalani perbaikan panjang dan tidak dapat segera digunakan kembali.
Ini membuat persoalan rotasi kapal menjadi semakin rumit.
Satu kapal yang terlalu lama berada di laut bukan hanya menghadapi persoalan kelelahan awak.
Ia juga berarti kapal tersebut membutuhkan lebih banyak pemeliharaan, lebih banyak pasokan dan akhirnya membutuhkan kapal lain untuk menggantikannya.
Perang mulai menguji daya tahan Amerika
Persoalan logistik ini muncul bersamaan dengan laporan lain mengenai tekanan terhadap persediaan senjata Amerika.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa militer AS telah menggunakan hampir seluruh persediaan sejumlah rudal presisi jarak jauh selama perang dengan Iran. Kekurangan tersebut berpotensi membatasi pilihan Washington jika Trump kembali memerintahkan operasi militer besar-besaran.
Dengan demikian, tekanan terhadap Amerika bukan hanya terjadi di medan tempur.
Ada tekanan pada amunisi. Ada tekanan pada kapal. Ada tekanan pada awak. Dan kini ada tekanan pada rantai pasokan.
Semuanya saling berhubungan.
Semakin lama perang berlangsung, semakin besar kebutuhan untuk mempertahankan armada di laut.
Namun semakin lama armada berada di laut, semakin besar pula kebutuhan pemeliharaan dan pasokan.
Dan ketika pangkalan-pangkalan terdekat tidak lagi aman, seluruh sistem tersebut menjadi semakin mahal, lambat dan berisiko.
Iran tidak harus menenggelamkan kapal induk
Di sinilah persoalan tersebut menjadi strategis.
Iran tidak harus menghancurkan kapal induk Amerika untuk memberikan tekanan terhadap Angkatan Laut AS.
Cukup dengan membuat jaringan yang menopang kapal induk itu menjadi tidak aman, Iran dapat memaksa Amerika mengeluarkan lebih banyak sumber daya hanya untuk mempertahankan operasi yang sama.
Serangan terhadap pangkalan logistik dapat menghasilkan efek berantai: pelabuhan ditinggalkan, jalur pasokan diperpanjang, kapal pasokan harus menempuh jarak lebih jauh, dan kapal perang harus bertahan lebih lama di laut.
Pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi apakah Amerika masih memiliki kapal induk.
Pertanyaannya adalah:
Berapa lama Amerika mampu mempertahankan seluruh sistem yang membuat kapal induk itu tetap berfungsi di tengah perang yang tidak kunjung selesai?
Dan itu mungkin menjadi salah satu persoalan paling serius yang kini dihadapi Washington dalam perang Iran.
-
Internasional1 minggu agoPerang Iran Menguras AS, Kerugian Intelijen Capai Miliaran Dolar
-
Opini1 minggu agoKeuntungan Trump dari Perang Iran: Apa yang Didapat?
-
Internasional4 hari agoIran Serang Pangkalan Militer AS di Yordania, Balasan atas Serangan ke Pulau Larak
-
Internasional1 minggu agoPerang AS-Iran Mengubah Peta Gas, Eropa Jadi Korban


