Internasional
Irak Tegaskan AS Harus Angkat Kaki Sepenuhnya pada September
BAGHDAD — Pemerintah Irak menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan penarikan seluruh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) dari wilayahnya pada akhir September 2026.
Penegasan tersebut disampaikan di tengah munculnya laporan bahwa Washington mungkin tidak melakukan penarikan sepenuhnya, melainkan hanya mengurangi misi militernya dan mempertahankan sebagian personel melalui kerangka kerja sama keamanan bilateral dengan Baghdad.
Menurut laporan RT, yang mengutip surat kabar Saudi Asharq Al-Awsat, seorang pejabat Irak mengatakan rencana mempertahankan pasukan AS maupun pasukan asing lainnya setelah September bertentangan dengan kesepakatan yang sebelumnya dicapai pemerintah Irak dan Amerika Serikat.
“Laporan mengenai keberadaan pasukan AS dan asing setelah September bertentangan dengan apa yang telah disepakati antara pemerintah Irak sebelumnya dan pemerintahan AS,” kata pejabat Irak tersebut, seperti dikutip Asharq Al-Awsat.
Pernyataan itu muncul setelah sejumlah laporan media menyebut Washington hanya berencana melakukan pengurangan atau drawdown pasukan pada 30 September, bukan mengakhiri seluruh keberadaan militernya di Irak.
Seorang pejabat AS yang dikutip media Irak sebelumnya menyebut langkah tersebut sebagai transisi dari misi militer koalisi menjadi bentuk kemitraan keamanan bilateral yang lebih permanen antara Washington dan Baghdad.
Namun, Baghdad kembali menegaskan bahwa tanggal 30 September 2026 merupakan batas akhir penarikan pasukan koalisi internasional.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi sebelumnya menyebut tanggal tersebut sebagai batas yang “tetap dan final” untuk mengakhiri misi militer koalisi dan menyelesaikan penarikan pasukannya dari Irak.
Juru bicara militer Irak Sabah al-Numan juga mengatakan proses penarikan pasukan asing sedang berlangsung dan diperkirakan selesai pada 30 September. Penarikan tersebut dilakukan berdasarkan jadwal yang telah disepakati antara pemerintah Irak dan negara-negara anggota koalisi.
Kesepakatan penarikan tersebut merupakan bagian dari perubahan hubungan keamanan Irak-AS setelah operasi utama koalisi internasional melawan kelompok Negara Islam (ISIS) berakhir.
Pada 2024, Baghdad dan Washington sepakat mengakhiri misi militer koalisi pimpinan AS di Irak secara bertahap. Tahap pertama berakhir pada September 2025, sedangkan tahap terakhir dijadwalkan selesai pada September 2026.
Pasukan AS sebelumnya telah meninggalkan sejumlah pangkalan di berbagai wilayah Irak. Namun, sebagian personel masih berada di wilayah Kurdistan Irak untuk mendukung operasi kontra-ISIS dan memberikan bantuan kepada pasukan keamanan setempat.
Proses penarikan dari Kurdistan juga mulai terlihat. Sejumlah pasukan dan peralatan militer AS dilaporkan telah meninggalkan kawasan Erbil, sementara pasukan Jerman yang tergabung dalam koalisi juga telah menyelesaikan penarikannya dari wilayah tersebut.
Penarikan ini menjadi semakin sensitif karena keberadaan militer AS di Irak selama beberapa tahun terakhir kerap menjadi alasan serangan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran.
Dalam perang Iran-AS yang berlangsung sejak 28 Februari 2026, sejumlah fasilitas militer AS di kawasan juga menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata pro-Iran di Irak. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap Washington untuk meninjau kembali jejak militernya di Timur Tengah.
AS sendiri telah lama mengurangi jumlah pasukannya di Irak. Kehadiran militer Amerika pernah mencapai lebih dari 170.000 personel pada 2007, ketika Washington menjalankan operasi besar setelah invasi Irak pada 2003. Pasukan tempur AS kemudian ditarik pada 2011.
Namun, kebangkitan ISIS pada 2014 membuat pasukan AS kembali ke Irak atas undangan pemerintah Baghdad. Setelah ISIS kehilangan sebagian besar wilayah yang dikuasainya, operasi tempur koalisi berakhir pada 2021, meskipun pasukan AS tetap berada di Irak untuk misi pelatihan, penasihat, dan kontra-terorisme.
Kini, Baghdad ingin hubungan dengan Washington memasuki fase baru tanpa kehadiran militer asing di wilayah Irak.
Bagi Irak, berakhirnya misi koalisi bukan berarti hubungan dengan Amerika Serikat juga berakhir. Kedua negara masih dapat mempertahankan kerja sama di bidang keamanan, ekonomi, dan kontra-terorisme melalui hubungan bilateral.
Namun, pemerintah Irak tampaknya ingin memastikan bahwa kerja sama tersebut tidak menjadi alasan bagi pasukan asing untuk tetap ditempatkan di wilayahnya setelah tenggat 30 September.
Dengan demikian, beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu apakah Washington benar-benar menyelesaikan penarikan militernya sesuai jadwal atau mempertahankan sebagian personel dalam format baru. Baghdad sejauh ini menegaskan bahwa pilihan yang disepakati adalah penarikan penuh pasukan koalisi pada akhir September.
-
Internasional6 hari agoPerang Iran Menguras AS, Kerugian Intelijen Capai Miliaran Dolar
-
Opini6 hari agoKeuntungan Trump dari Perang Iran: Apa yang Didapat?
-
Internasional5 hari agoPerang AS-Iran Mengubah Peta Gas, Eropa Jadi Korban
-
Analisis6 hari agoParadoks Sanksi AS Terhadap Iran Menjadi Bumerang


