Connect with us

Analisis

Paradoks Sanksi AS Terhadap Iran Menjadi Bumerang

Published

on

Trump dan pemimpin Iran di tengah tekanan sanksi AS, minyak, dolar, China, dan perdagangan global

Bayangkan sebuah negara berdiri di depan pintu sebuah bank, menggenggam kunci brankas yang masih dipercaya seluruh dunia. Ia lalu berkata kepada negara-negara lain, “Jangan bertransaksi dengan orang yang saya larang. Kalau tetap melakukannya, kalian juga akan saya hukum.” Di atas kertas, itu tampak seperti kekuasaan. Tetapi semakin banyak orang yang dipaksa mengikuti larangan tersebut, semakin banyak pula yang mulai bertanya: bagaimana kalau suatu hari kunci itu diarahkan kepada kami?

Itulah kegelisahan yang muncul dari babak baru tekanan Amerika Serikat terhadap Iran. Washington menyebutnya sebagai Economic D-Day, kemudian mengoperasionalkannya melalui kampanye sanksi baru yang menargetkan hampir 60 individu, entitas, dan kapal yang berkaitan dengan Iran. Sasaran diperluas ke sektor pelayaran, penerbangan, teknologi, emas, aset digital, serta jaringan yang membantu penjualan minyak Iran. Yang lebih penting, Amerika juga memperingatkan negara-negara lain: tetap berdagang dengan Iran dan Anda berisiko kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar.

Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar pertanyaan apakah Iran akan semakin miskin. Paradoks Sanksi AS Terhadap Iran justru terletak pada kebutuhan Amerika untuk melibatkan dunia dalam perang ekonominya. Kalau Amerika benar-benar dapat mengisolasi Iran sendirian, Washington tidak perlu meminta siapa pun ikut. Tidak perlu ultimatum kepada negara lain. Tidak perlu mengancam perusahaan asing. Tidak perlu terus-menerus mengingatkan dunia bahwa hubungan dagang dengan Tehran dapat membawa konsekuensi.

Tetapi kenyataannya berbeda. Iran tidak berdagang hanya dengan Amerika. Bahkan Iran tidak membutuhkan Amerika untuk tetap menjual seluruh minyaknya. China masih menjadi pembeli utama minyak Iran, sementara jaringan perdagangan Iran menjangkau berbagai negara dan menggunakan perusahaan perantara, kapal, lembaga keuangan, serta mekanisme pembayaran yang berada di luar kendali langsung Washington. Karena itulah sanksi Amerika harus diperluas dari Iran kepada orang-orang yang membantu Iran. Musuhnya bukan lagi satu negara, melainkan jaringan.

Analogi sederhananya begini. Bayangkan seseorang ingin menghentikan tetangganya menerima makanan. Ia sudah melarang semua anggota keluarganya mengirim makanan. Tetapi ternyata tetangga itu punya teman di sebelah rumah. Maka larangan berikutnya bukan lagi, “Jangan kirim makanan.” Melainkan, “Kalau kamu mengirim makanan, kamu juga akan saya hukum.” Setelah itu teman yang lain ikut mendapat peringatan. Pada titik tertentu, pertanyaannya bukan lagi apakah orang pertama itu mampu membuat tetangganya kelaparan. Pertanyaannya adalah berapa banyak tetangga lain yang bersedia ikut dalam perang tersebut.

Inilah yang sedang terjadi pada Paradoks Sanksi AS Terhadap Iran. Washington memiliki senjata yang sangat kuat, tetapi efektivitas senjata itu bergantung pada kesediaan pihak lain untuk ikut menarik pelatuk. Dan semakin luas daftar pihak yang harus dipaksa, semakin terlihat batas dari kekuatan tersebut.

Amerika tentu masih memiliki alasan kuat untuk percaya diri. Dolar masih menjadi mata uang dominan dalam sistem keuangan global. Pasar Amerika masih sangat besar. Sistem perbankan dan finansial AS tetap memiliki daya paksa luar biasa. Ancaman kehilangan akses terhadap sistem tersebut bukan gertakan kosong. Bagi banyak perusahaan dan negara, konsekuensinya bisa sangat mahal.

Namun kekuatan itu memiliki paradoks. Dolar menjadi sangat efektif sebagai senjata justru karena dunia bergantung padanya. Dan ketika ketergantungan tersebut dipakai berkali-kali sebagai alat pemaksaan, negara-negara lain memperoleh alasan baru untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Ini bukan berarti dunia akan meninggalkan dolar besok pagi. Jauh dari itu. Data IMF masih menunjukkan dolar mendominasi cadangan devisa global, sementara yuan berada jauh di belakang. Jadi narasi bahwa dolar akan segera runtuh atau yuan akan menggantikannya adalah penyederhanaan yang tidak perlu. Yang lebih realistis adalah sesuatu yang jauh lebih perlahan: diversifikasi. Negara-negara mulai memastikan bahwa mereka tidak hanya mempunyai satu pintu untuk masuk ke ekonomi global.

Dan jika tren itu menguat, yuan adalah salah satu pilihan yang paling masuk akal untuk memperoleh ruang lebih besar. Bukan satu-satunya, tentu saja. Ada euro, mata uang nasional, currency swap, sistem pembayaran alternatif, bahkan berbagai bentuk perdagangan bilateral. Tetapi China memiliki keunggulan yang sulit diabaikan: skala ekonomi, perdagangan, industri, pasar, serta kebutuhan energi yang sangat besar.

Iran sendiri sudah menjadi contoh bagaimana tekanan dapat mendorong penggunaan mekanisme non-dolar. Departemen Keuangan AS menyebut bahwa penjualan minyak Iran kepada China terutama diselesaikan dalam yuan. Ini penting bukan karena transaksi tersebut akan menghancurkan dolar, tetapi karena menunjukkan bahwa ketika akses terhadap dolar menjadi sumber risiko, pelaku ekonomi memiliki insentif untuk mencari cara lain.

Maka Paradoks Sanksi AS Terhadap Iran bukanlah bahwa sanksi Amerika tidak berguna. Justru sebaliknya. Sanksi itu berguna. Sangat berguna. Masalahnya muncul ketika senjata yang sangat efektif digunakan terlalu luas dan terlalu sering. Negara yang hari ini belum menjadi sasaran dapat mulai berpikir, “Bagaimana kalau besok giliran kami?”

Pikiran semacam itu mungkin jauh lebih berbahaya bagi dominasi finansial Amerika daripada satu negara yang secara resmi mengumumkan, “Kami meninggalkan dolar.” Dedolarisasi tidak harus datang seperti revolusi. Ia bisa datang seperti air yang merembes melalui celah-celah kecil. Sedikit transaksi dalam yuan. Sedikit perdagangan dalam mata uang lokal. Sedikit currency swap. Sedikit cadangan dalam mata uang lain. Sedikit sistem pembayaran yang dibangun di luar jaringan Amerika.

Tidak spektakuler. Tidak ada upacara. Tetapi akumulatif.

Dan di sinilah China memperoleh keuntungan strategis yang menarik. Beijing tidak perlu membuat dunia berjanji untuk meninggalkan dolar. China hanya perlu memastikan bahwa ketika negara lain mencari alternatif, yuan tersedia sebagai salah satu pilihan.

Itu sudah cukup.

Sementara itu, Iran juga bukan pihak yang hanya duduk menunggu pukulan berikutnya. Inilah bagian yang sering hilang dalam pembicaraan tentang sanksi. Negara yang disanksi tidak otomatis menjadi objek pasif. Ia akan mencari celah, membangun jaringan, mengubah jalur perdagangan, menggunakan mata uang lain, dan—jika memiliki leverage tertentu—menggunakannya.

Iran memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara: posisi geografis.

Selat Hormuz bukan milik Iran secara eksklusif, dan Iran tidak bisa memperlakukan jalur tersebut seolah-olah sebuah keran yang bisa dibuka dan ditutup sesuka hati tanpa konsekuensi. Tetapi kemampuan Iran untuk memengaruhi keamanan dan kelancaran jalur tersebut memberikan Tehran kartu yang sangat berbeda dari kartu yang dimiliki Washington. Amerika memiliki dolar. Iran memiliki geografi dan posisi strategis di salah satu jalur energi terpenting dunia.

Itulah sebabnya Iran juga tidak harus membalas sanksi dengan “sanksi” dalam pengertian yang sama. Washington dapat memblokir rekening. Iran dapat meningkatkan biaya perdagangan. Washington dapat mengejar kapal. Iran dapat membuat pelayaran menjadi lebih berisiko. Washington dapat menekan perusahaan. Iran dapat membuat negara ketiga menghitung ulang risiko jika terlalu terang-terangan membantu Amerika.

Ini bukan permainan yang seimbang. Amerika memiliki kekuatan ekonomi jauh lebih besar. Tetapi perang tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata paling besar. Kadang-kadang yang menentukan adalah siapa yang memiliki kemampuan membuat lawan membayar mahal untuk menggunakan senjatanya.

Iran pun memiliki dilema. Jika Tehran terlalu agresif mengganggu perdagangan, negara-negara yang masih bersedia berdagang dengannya bisa merasa dirugikan. China bisa terganggu. India bisa terkena dampak. Negara-negara Teluk bisa semakin dekat dengan Washington. Bahkan negara yang tidak menyukai kebijakan Amerika bisa mengatakan, “Kami ingin berdagang dengan Iran, tetapi kami tidak ingin perdagangan kami dihancurkan oleh konflik.”

Namun di sini terdapat perbedaan mendasar antara Iran dan banyak negara lain. Iran bukan pendatang baru dalam dunia sanksi.

Iran telah hidup di bawah tekanan ekonomi Amerika selama puluhan tahun. Sistem ekonominya sudah dipaksa beradaptasi. Jaringan perdagangan alternatif sudah dibangun. Perusahaan dan pelaku ekonomi sudah belajar bagaimana bekerja di lingkungan yang penuh pembatasan. Tentu saja semua itu memiliki biaya besar. Iran bukan kebal. Tetapi rasa sakit yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi tidak selalu menghasilkan efek politik yang sama dengan ancaman terhadap negara yang baru pertama kali kehilangan akses.

Karena itu saya rasa kita perlu membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan: tekanan ekonomi dan keberhasilan politik.

Economic D-Day bisa membuat ekonomi Iran semakin tertekan. Ekspor bisa terganggu. Biaya perdagangan bisa meningkat. Pendapatan negara bisa berkurang. Perusahaan bisa kesulitan. Semua itu nyata dan tidak boleh diremehkan.

Tetapi apakah itu berarti Washington menang?

Belum tentu.

Ukuran akhirnya bukan seberapa miskin Iran. Ukuran akhirnya adalah apakah Iran melakukan perubahan politik yang diinginkan Amerika.

Inilah pelajaran yang seharusnya dibawa dari era Maximum Pressure. Sanksi dapat memberikan tekanan luar biasa tanpa otomatis menghasilkan tujuan politik. Amerika dapat membuat lawannya membayar mahal tanpa berhasil membuat lawannya melakukan apa yang diinginkan.

Dengan kata lain, sanksi bisa berhasil secara ekonomi tetapi gagal secara politik.

Dan jika setelah seluruh tekanan tersebut Iran tetap mempertahankan posisi politiknya, maka kita harus berani mengatakan sesuatu yang lebih tegas: Economic D-Day gagal mencapai tujuan politiknya di Iran.

Bukan berarti Iran menang dalam segala hal. Bukan berarti ekonomi Iran tidak rusak. Bukan berarti rakyat Iran tidak menanggung penderitaan. Itu semua adalah persoalan yang berbeda. Yang sedang diuji adalah apakah instrumen ekonomi tersebut berhasil menghasilkan tujuan politik Washington.

Menariknya, perkembangan ini terjadi ketika Amerika sendiri sedang menghadapi persoalan fiskal yang tidak kecil. Pada 19 Agustus, utang nasional Amerika menembus US$40,047 triliun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan ketika Trump pertama kali memasuki Gedung Putih pada 2017. Sekitar US$32,266 triliun merupakan utang yang dipegang publik dan US$7,782 triliun merupakan utang antarpemerintah. Reuters juga mencatat bahwa pembayaran bunga telah menjadi salah satu beban terbesar anggaran federal.

Apakah itu berarti Amerika bangkrut? Tidak. Klaim seperti itu terlalu malas secara analitis. Amerika masih memiliki ekonomi terbesar, dolar masih dominan, dan pasar Treasury masih menjadi pusat keuangan dunia. Tetapi ironi waktunya sulit diabaikan. Amerika sedang menggunakan kekuatan finansialnya untuk mendisiplinkan negara lain ketika biaya mempertahankan kekuatan itu di dalam negeri sendiri juga semakin berat.

Lima hari setelah utang Amerika menembus US$40 triliun, Washington mengumumkan babak baru tekanan ekonomi terhadap Iran. Saya tidak akan mengatakan bahwa satu peristiwa menyebabkan yang lain. Tidak ada bukti untuk klaim sesederhana itu. Tetapi secara politik dan simbolik, gambarnya memang mengandung ironi: negara yang sedang menghadapi gunung utang tetap memiliki kemampuan luar biasa untuk menjadikan sistem finansialnya sebagai senjata geopolitik.

Justru karena itulah kita harus melihat persoalannya secara lebih dewasa. Amerika belum runtuh. Iran belum menang. Yuan belum menggantikan dolar. Dan Economic D-Day belum dapat dinyatakan gagal hanya karena beberapa negara belum tunduk.

Tetapi ada sesuatu yang sedang berubah.

Dunia semakin tidak nyaman dengan gagasan bahwa satu negara dapat menentukan siapa yang boleh berdagang dengan siapa, bank mana yang boleh bertransaksi, kapal mana yang boleh berlayar, dan mata uang apa yang sebaiknya digunakan. Tidak semua negara akan melawan Amerika. Sebagian justru akan tetap memilih Washington karena kepentingan mereka. Namun semakin banyak negara memiliki alternatif, semakin kecil kemungkinan mereka menyerahkan seluruh nasib ekonominya kepada satu pusat kekuasaan.

Itulah mengapa Paradoks Sanksi AS Terhadap Iran pada akhirnya bukan hanya cerita tentang Iran.

Ini adalah cerita tentang kekuasaan.

Amerika masih memiliki kekuasaan yang sangat besar. Tetapi kekuasaan bukan hanya kemampuan menghukum. Kekuasaan juga adalah kemampuan membuat pihak lain rela mengikuti. Dan ketika sebuah negara harus semakin sering mengancam, memberi ultimatum, memberikan tenggat, menawarkan insentif, dan mengejar pihak ketiga agar kebijakannya efektif, kita patut bertanya apakah kekuasaan tersebut masih bekerja dengan cara yang sama seperti dahulu.

Sebab ada perbedaan besar antara membuat dunia takut kepada Anda dan membuat dunia membutuhkan Anda.

Yang pertama bisa dipaksakan.

Yang kedua harus dipertahankan.

Dan mungkin justru di situlah bumerang itu mulai berputar. Amerika menggunakan dolar karena dolar adalah pusat sistem. Tetapi semakin sering pusat itu dijadikan senjata, semakin banyak orang mulai membangun pintu keluar. Tidak berarti mereka akan langsung meninggalkan rumah lama. Mereka hanya ingin memiliki kunci cadangan.

Dan dalam geopolitik, kunci cadangan kadang-kadang merupakan awal dari perubahan besar.

Paradoks Sanksi AS Terhadap Iran pada akhirnya bukan bahwa Washington tidak mampu membuat Iran menderita. Washington mampu, dan sangat mungkin akan terus mampu melakukannya. Paradoksnya adalah bahwa semakin Amerika berusaha memaksa dunia ikut menekan Iran, semakin dunia dipaksa memikirkan pertanyaan yang lebih besar: berapa lama mereka ingin bergantung pada sebuah sistem yang dapat sewaktu-waktu digunakan untuk menghukum mereka?

Jika Iran akhirnya mengubah kebijakan politiknya, Washington akan punya alasan menyebut Economic D-Day berhasil. Tetapi jika tekanan ekonomi semakin besar sementara tujuan politik Amerika tetap tidak tercapai, maka sejarah mungkin mencatat babak ini secara berbeda.

Bukan sebagai hari ketika Iran runtuh.

Melainkan sebagai salah satu episode ketika Amerika menggunakan kekuatan ekonominya dengan sangat keras—dan dunia mulai belajar bagaimana mengurangi ketergantungannya terhadap kekuatan itu.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer