Internasional
AS Berencana Hentikan Bantuan Militer untuk Peshmerga, Kurdi Irak Terancam Hadapi Iran Tanpa Dukungan Washington
WASHINGTON — Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana menghentikan bantuan militer Amerika Serikat kepada pasukan Peshmerga di Kurdistan Irak, meski wilayah tersebut tengah menghadapi peningkatan serangan rudal dan drone dari Iran serta kelompok-kelompok yang didukung Teheran.
Rencana tersebut terungkap dalam pertemuan antara pejabat Departemen Pertahanan AS dengan para pemimpin Irak dan Pemerintah Regional Kurdistan (KRG). Menurut empat sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Pentagon memberi sinyal bahwa Washington tidak berencana memperpanjang kesepakatan keamanan dengan KRG yang akan berakhir pada 30 September 2026.
Laporan ini pertama kali diungkap BBC berdasarkan keterangan dua pejabat yang mengikuti pembicaraan serta dua sumber lain yang mengetahui langsung persoalan tersebut. Seluruh sumber meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas pembicaraan internal pemerintah.
Kesepakatan tersebut selama ini menjadi salah satu dasar dukungan militer AS kepada Peshmerga, pasukan keamanan Kurdi yang menjadi mitra penting Washington dalam perang melawan kelompok Islamic State atau ISIS.
Bantuan Berakhir di Tengah Ancaman Iran
Rencana penghentian bantuan tersebut menjadi perhatian serius karena muncul ketika Kurdistan Irak justru menghadapi tekanan militer yang semakin besar dari Iran.
Data yang dikutip BBC dari Foundation for Defense of Democracies mencatat Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya telah melakukan sedikitnya 158 serangan rudal dan drone di wilayah Kurdistan Irak hingga akhir Mei 2026.
Serangan tersebut berlangsung ketika perang antara AS dan Iran memasuki bulan keenam. Kurdistan Irak menjadi salah satu wilayah yang ikut terkena dampak konflik karena keberadaan fasilitas militer AS serta posisi strategisnya di perbatasan Iran.
Bagi pemerintah Kurdi, penghentian dukungan Washington dikhawatirkan menciptakan kekosongan keamanan yang dapat dimanfaatkan Iran.
Yerevan Saeed, direktur Global Kurdish Initiative for Peace di American University, menilai keputusan tersebut berpotensi mengirimkan sinyal buruk kepada sekutu-sekutu Amerika lainnya di kawasan.
Menurutnya, meninggalkan pasukan Kurdi dalam kondisi rentan dapat menjadi keuntungan strategis bagi Iran, China, dan Rusia.
Peshmerga Pernah Menjadi Garda Depan Melawan ISIS
Peshmerga bukan sekadar mitra militer biasa bagi Washington.
Pasukan Kurdi memainkan peran penting dalam kampanye internasional melawan ISIS setelah kelompok tersebut menguasai wilayah luas di Irak dan Suriah pada 2014.
Pasukan Peshmerga bertempur bersama koalisi internasional yang dipimpin AS dalam merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai ISIS.
Saat ini Peshmerga memiliki sekitar 180.000 personel di Kurdistan Irak. Pada tahun fiskal 2026, pasukan tersebut menerima sekitar US$61 juta melalui program Pentagon untuk memerangi ISIS. Dana itu digunakan antara lain untuk persenjataan, pelatihan militer dan pembayaran tunjangan.
Namun, Pentagon telah mengusulkan penghentian seluruh bantuan keamanan bagi Peshmerga dalam rancangan anggaran tahun fiskal 2027.
Alasan yang dikemukakan adalah bahwa ISIS telah dikalahkan sehingga dana untuk program tersebut dapat dialihkan ke kebutuhan lain.
Persoalannya, rencana tersebut muncul bersamaan dengan keputusan Washington untuk menarik pasukan yang masih berada di Irak.
AS Juga Menarik Pasukan dari Irak
Kesepakatan bantuan militer kepada Peshmerga akan berakhir pada 30 September, tanggal yang sama dengan rencana penarikan pasukan AS dan negara-negara koalisi lainnya dari Irak.
Penarikan tersebut secara resmi akan mengakhiri misi militer internasional melawan ISIS di Irak.
Pangkalan militer AS yang tersisa di Irak, yang berada di Erbil, ibu kota Kurdistan Irak, juga dijadwalkan ditutup setelah pasukan koalisi meninggalkan negara tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari perubahan besar kebijakan Washington terhadap Irak.
Amerika Serikat sebelumnya telah menarik pasukan tempurnya dari Irak pada 2011. Namun, Washington kembali mengerahkan pasukan pada 2014 setelah munculnya ISIS dan jatuhnya sejumlah wilayah Irak ke tangan kelompok tersebut.
Kini pemerintahan Trump kembali berusaha mengurangi keterlibatan militer Amerika di Timur Tengah.
Trump sejak awal masa jabatan keduanya telah berjanji mengurangi keterlibatan Amerika dalam berbagai konflik dan komitmen keamanan di luar negeri.
Keputusan Belum Final
Meski demikian, penghentian bantuan tersebut belum menjadi keputusan final.
Salah satu sumber yang mengetahui pemikiran Pentagon mengatakan kebijakan mengenai keterlibatan keamanan AS di Kurdistan masih dalam proses peninjauan.
Washington juga disebut tengah mempertimbangkan cara untuk tetap memberikan dukungan keamanan tertentu kepada Irak dan Kurdistan Irak setelah penarikan pasukan.
KRG dan Departemen Luar Negeri AS menolak memberikan komentar mengenai pembicaraan tersebut.
Sementara itu, Pentagon merujuk pada pernyataan mengenai pertemuan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dengan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi pada Juli lalu.
Dalam pernyataan itu, AS menyebut Irak, bersama pasukan keamanan nasionalnya termasuk Peshmerga, kini akan memimpin perang melawan kelompok teroris setelah koalisi internasional berhasil mengalahkan ISIS.
Risiko Baru bagi Kurdistan Irak
Persoalannya bukan hanya mengenai dana militer.
Bagi Kurdistan Irak, berkurangnya dukungan Amerika dapat berarti hilangnya sebagian dari payung keamanan dan deterrence yang selama bertahun-tahun membantu menjaga wilayah tersebut dari tekanan eksternal.
Jason Campbell, mantan pejabat pertahanan AS, mengatakan Peshmerga selama ini berada di garis depan perang AS dan internasional melawan ISIS.
Jika Washington benar-benar menghentikan dukungannya, pasukan Kurdi dan wilayah yang mereka lindungi berpotensi menjadi semakin rentan terhadap serangan Iran.
Kekhawatiran tersebut menjadi semakin relevan karena Iran dan kelompok-kelompok sekutunya di Irak telah meningkatkan serangan terhadap wilayah Kurdistan sejak perang AS-Iran pecah.
Analisis lain juga menunjukkan bahwa pengurangan kehadiran militer AS di Kurdistan telah berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran mengenai kemampuan wilayah tersebut mempertahankan diri dari serangan rudal dan drone.
Sinyal Perubahan Strategi Washington
Jika rencana tersebut benar-benar diterapkan, keputusan Washington akan menandai perubahan penting dalam hubungan AS dengan Kurdi Irak.
Selama lebih dari satu dekade, Peshmerga menjadi salah satu mitra utama Amerika dalam menghadapi ancaman ISIS. Kini, ketika ancaman ISIS telah jauh berkurang tetapi ancaman dari Iran meningkat, Washington justru bersiap mengurangi dukungan militernya.
Situasi itu menempatkan Kurdistan Irak di persimpangan strategis.
Di satu sisi, pemerintah Trump ingin mengurangi jejak militer Amerika di Timur Tengah dan menyerahkan lebih banyak tanggung jawab keamanan kepada pemerintah Irak.
Di sisi lain, penarikan dukungan tersebut berpotensi menciptakan kekosongan keamanan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Iran.
Bagi Teheran, perkembangan ini dapat membuka ruang lebih besar untuk memperluas pengaruhnya di Irak.
Bagi Washington, keputusan tersebut menjadi ujian atas pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh Amerika masih bersedia mempertahankan sekutu-sekutunya di Timur Tengah ketika pemerintahan Trump berusaha menarik diri dari keterlibatan militer berkepanjangan di kawasan tersebut.
Untuk saat ini, belum ada keputusan final mengenai bentuk dukungan keamanan AS setelah September. Namun, jika bantuan kepada Peshmerga benar-benar dihentikan bersamaan dengan penarikan pasukan Amerika, Kurdistan Irak akan memasuki fase keamanan baru—dengan lebih sedikit perlindungan Amerika dan menghadapi Iran yang semakin agresif di kawasan.


