Internasional
Perang Iran Kuras Patriot AS, Pertahanan NATO di Eropa Mulai Terancam
WASHINGTON — Perang Amerika Serikat dengan Iran mulai menimbulkan dampak strategis yang jauh melampaui Timur Tengah. Persediaan rudal pencegat Patriot milik Amerika Serikat di Eropa dilaporkan berada pada tingkat yang disebut seorang pejabat pertahanan AS sebagai “beyond critical”, atau lebih dari sekadar kritis.
Laporan eksklusif The Associated Press (AP) pada 27 Agustus 2026 mengungkap bahwa menipisnya persediaan Patriot terutama disebabkan oleh tingginya penggunaan rudal pencegat dalam perang Iran. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan NATO menghadapi kemungkinan serangan rudal balistik Rusia.
Menurut AP, seorang pejabat pertahanan AS di Eropa dan seorang pejabat NATO yang berbicara secara anonim mengonfirmasi rendahnya persediaan Patriot di antara pasukan Amerika dan NATO di Eropa.
Persoalannya bukan sekadar jumlah rudal yang berkurang. Patriot merupakan salah satu sistem pertahanan utama yang mampu menghadapi rudal balistik berkecepatan tinggi seperti yang digunakan Rusia.
Seorang pejabat pertahanan AS bahkan memperingatkan bahwa jika terjadi serangan rudal balistik Rusia terhadap markas militer atau fasilitas vital NATO, negara-negara aliansi dapat berada dalam posisi seperti Ukraina yang kekurangan Patriot.
Dalam gambaran yang sangat keras, pejabat tersebut mengatakan NATO bisa dipaksa “to take punch after punch in the mouth”—menerima hantaman demi hantaman—jika menghadapi serangan rudal balistik berkelanjutan.
Iran Mengubah Perhitungan Pertahanan Eropa
Menurut laporan AP, militer AS di Eropa saat ini tidak memiliki cukup Patriot untuk menghadapi serangan rudal balistik berkelanjutan.
Bahkan untuk menghadapi satu serangan rudal balistik atau rudal Rusia yang menyimpang dari jalurnya, kemampuan pertahanan AS di Eropa disebut sangat terbatas.
Situasi tersebut merupakan konsekuensi dari kebutuhan mendadak di Timur Tengah.
Selama perang Iran berlangsung, sejumlah stok rudal Amerika yang sebelumnya berada di Eropa dipindahkan ke Timur Tengah. Di sana, Amerika Serikat bersama negara-negara Teluk menggunakan sejumlah besar rudal pencegat untuk menghadapi serangan rudal dan drone Iran.
Dengan kata lain, setiap kali sistem pertahanan udara AS digunakan untuk menghadapi serangan Iran, persediaan yang tersedia untuk menghadapi ancaman lain ikut berkurang.
Dan masalahnya menjadi semakin serius karena produksi rudal Patriot tidak dapat mengejar kecepatan penggunaannya.
65 Persen Stok Patriot AS Telah Terpakai
Data yang dikutip AP dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan skala persoalannya.
Selama konflik Iran, sekitar 65 persen persediaan Patriot Amerika Serikat telah digunakan. Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 1.500 rudal dari total 2.330 interceptor yang dimiliki AS.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan penggunaan untuk membantu Ukraina.
Menurut Mark Cancian dari CSIS, Amerika Serikat sebelumnya telah mengirim sekitar 600 rudal Patriot kepada Ukraina selama pemerintahan Joe Biden. Namun, penggunaan dalam perang Iran menjadi faktor yang jauh lebih besar dalam menguras persediaan.
Ed Arnold dari Royal United Services Institute (RUSI) menjelaskan bahwa pengiriman Patriot ke Ukraina sebelumnya relatif terencana dan terukur.
Sebaliknya, kebutuhan di Timur Tengah muncul dengan cepat dan menguras stok jauh lebih besar dari perkiraan, sekaligus memperlihatkan keterbatasan rantai pasok industri pertahanan Barat.
Ukraina Kembali Meminta Patriot
Ironisnya, ketika stok Amerika menipis, Ukraina justru kembali membutuhkan lebih banyak Patriot untuk menghadapi serangan rudal Rusia.
Menurut AP, Kyiv menyatakan bahwa Patriot buatan Amerika merupakan salah satu sistem yang mampu menghadapi rudal balistik Rusia yang paling maju. Serangan Rusia terhadap Ukraina juga semakin menguji kemampuan pertahanan udara negara tersebut.
Artinya, Amerika Serikat menghadapi dilema strategis.
Washington harus menentukan prioritas antara mempertahankan pertahanan udara di Eropa, membantu Ukraina, dan pada saat yang sama mempertahankan kemampuan menghadapi perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
Masalah ini semakin kompleks karena militer AS di Eropa juga dilaporkan menghadapi kekurangan Army Tactical Missile System (ATACMS), meskipun kondisi keseluruhan persenjataan ofensif Eropa dinilai tidak separah sektor pertahanan udara.
Eropa Belum Memiliki Pengganti yang Setara
Salah satu persoalan terbesar adalah terbatasnya alternatif.
AP melaporkan bahwa rudal balistik Rusia dapat dikombinasikan dengan serangan drone dalam jumlah besar untuk membanjiri sistem pertahanan udara. Rudal balistik juga jauh lebih sulit dicegat karena dapat melaju lebih dari lima kali kecepatan suara ketika menuju sasaran.
Sistem SAMP/T NG milik Prancis dan Italia dapat menjadi salah satu alternatif. Namun, versi terbaru sistem tersebut belum teruji dalam pertempuran, sementara versi SAMP/T yang ada memiliki jangkauan lebih pendek dibandingkan Patriot.
Eropa juga memiliki kapal perang dengan kemampuan pertahanan udara. Tetapi kapal-kapal tersebut tidak selalu berada cukup dekat dengan sasaran yang harus dilindungi dan dalam situasi perang dapat menghadapi risiko serangan balik.
Dengan demikian, berkurangnya Patriot bukan persoalan yang mudah diselesaikan hanya dengan memindahkan sistem pertahanan lain.
Produksi Baru Belum Bisa Menjawab Krisis Sekarang
Amerika Serikat sebenarnya sedang berusaha meningkatkan produksi.
Sekitar 600 rudal Patriot, termasuk yang dialokasikan untuk Eropa, diperkirakan akan diproduksi pada 2026. Target produksi kemudian akan dinaikkan hingga sekitar 2.000 rudal per tahun pada 2030.
NATO juga menyebut fasilitas produksi rudal Patriot pertama di Eropa diperkirakan mulai beroperasi di Jerman pada September, dengan pengiriman pertama kemungkinan baru dimulai awal 2027.
Namun, produksi tersebut membutuhkan waktu.
Sementara itu, kebutuhan pertahanan udara terjadi sekarang.
Bahkan AP mengutip Ed Arnold yang menggambarkan situasi sejumlah negara Eropa sebagai posisi yang “ridiculous”: mereka telah membeli sistem Patriot yang mahal, tetapi menghadapi persoalan ketersediaan amunisi untuk mengoperasikannya.
Apakah Rusia Bisa Memanfaatkan Situasi?
Inilah pertanyaan strategis terbesar yang muncul dari laporan tersebut.
Kekurangan Patriot tidak berarti Rusia akan segera menyerang NATO. AP sendiri menekankan bahwa serangan rudal balistik Rusia terhadap negara NATO tidak diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat. Presiden Donald Trump juga mengatakan Rusia tidak akan menyerang NATO.
Namun, kondisi ini tetap menciptakan kerentanan.
Pejabat Eropa dan NATO memperkirakan Rusia dapat berada dalam posisi yang lebih mampu menyerang negara anggota aliansi sekitar 2030, sementara persediaan Patriot diproyeksikan pulih pada periode tersebut.
Di sisi lain, Rusia sendiri masih menghadapi keterbatasan.
Menurut AP, Moskow kemungkinan kesulitan melancarkan serangan udara berkelanjutan terhadap NATO ketika masih harus melakukan serangan hampir setiap malam terhadap Ukraina. Serangan Ukraina ke wilayah Rusia juga disebut telah memperlihatkan kelemahan dalam pertahanan udara Rusia.
Karena itu, ancaman tersebut bukan berarti perang Rusia-NATO sudah di depan mata.
Namun, keseimbangan pertahanan udara Eropa sedang mengalami tekanan.
Perang Iran Menjadi Masalah Global
Laporan AP memperlihatkan satu konsekuensi penting dari perang modern: persediaan rudal pencegat dapat menjadi sama strategisnya dengan jumlah pesawat tempur atau kapal perang.
Amerika Serikat memiliki kemampuan militer yang sangat besar, tetapi persediaan senjata tertentu tidak tidak terbatas.
Ketika perang Iran memasuki bulan keenam, kebutuhan untuk mencegat rudal dan drone dalam jumlah besar telah menguras salah satu sistem pertahanan udara paling penting milik AS.
Dampaknya kemudian merambat ke Ukraina dan Eropa.
Pentagon membantah bahwa Amerika Serikat mengalami kekurangan amunisi. Juru bicara Pentagon Sean Parnell menyebut klaim mengenai kekurangan tersebut “false” dan mengatakan AS memiliki persenjataan yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi militer dan mempertahankan kepentingannya. NATO juga membantah bahwa stok Patriot di Eropa berada pada tingkat “beyond critical”.
Tetapi perbedaan pernyataan tersebut justru memperlihatkan adanya persoalan yang lebih besar: seberapa lama industri pertahanan Barat mampu mengganti rudal yang digunakan dalam beberapa konflik sekaligus?
Untuk saat ini, Rusia mungkin belum memiliki kemampuan atau alasan untuk membuka front baru melawan NATO.
Namun, jika perang Iran terus berlangsung dan penggunaan rudal pencegat tetap tinggi, maka tekanan terhadap pertahanan udara Eropa akan semakin besar.
Dan inilah paradoksnya: perang yang berlangsung ribuan kilometer dari Eropa kini mulai mengubah perhitungan keamanan Eropa.
Satu perang di Timur Tengah telah menguras amunisi yang dibutuhkan untuk perang di Eropa—sementara perang Rusia-Ukraina sendiri belum berakhir.


