Internasional
AS Kehabisan Dana? Perang Iran Mulai Menguras Anggaran Angkatan Laut
Washington – Perang yang dilancarkan pemerintahan Donald Trump terhadap Iran mulai menimbulkan persoalan serius di dalam tubuh militer Amerika Serikat. Bukan hanya persediaan amunisi yang terkuras, anggaran Angkatan Laut AS kini dilaporkan mengalami tekanan hingga dana untuk kebutuhan gaji harus dialihkan demi membiayai operasi tempur.
Laporan eksklusif The Guardian berdasarkan dokumen Pentagon serta wawancara dengan pejabat Angkatan Laut, kontraktor pertahanan dan analis militer mengungkap bahwa perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 telah menciptakan krisis finansial di tubuh militer AS.
Salah satu memo Pentagon yang diperoleh The Guardian memperingatkan adanya kekurangan dana pada rekening penggajian akibat pengalihan anggaran untuk membiayai operasi tempur di luar negeri.
Seorang pejabat Angkatan Laut yang mengetahui kondisi tersebut mengatakan dana untuk pembayaran gaji sempat “dirampok” untuk membiayai kebutuhan operasi di luar negeri, sebelum kemudian ditutup menggunakan anggaran lain yang belum terpakai.
Kondisi tersebut menunjukkan betapa mahalnya perang Iran bagi Washington.
Anggaran Hampir US$300 Miliar Tak Cukup
Angkatan Laut AS memiliki anggaran sekitar US$300 miliar untuk tahun fiskal 2026. Namun, anggaran tersebut sebelumnya disusun untuk berbagai kebutuhan yang telah ditentukan Kongres, mulai dari gaji personel, pembangunan kapal perang, pembelian sistem senjata hingga operasi dan pemeliharaan armada.
Masalahnya, perang Iran tidak sepenuhnya diperhitungkan ketika anggaran tersebut disusun.
Ketika perang pecah pada akhir Februari, Angkatan Laut AS menjadi salah satu kekuatan utama dalam serangan awal terhadap Iran. Setelah itu, perannya semakin besar karena Washington menjalankan blokade laut terhadap Iran.
Operasi yang berlangsung berbulan-bulan tersebut membuat kebutuhan amunisi, operasi kapal perang, pemeliharaan dan logistik meningkat jauh melampaui perencanaan awal.
Pada pertengahan Mei, Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, bahkan telah memperingatkan Kongres bahwa tekanan anggaran akan mulai terasa pada musim panas.
Kekhawatirannya adalah Angkatan Laut harus membuat pilihan sulit antara melanjutkan operasi perang dan mempertahankan kesiapan militer untuk kegiatan rutin lainnya.
Kini kekhawatiran tersebut mulai terlihat.
“Celengan Sudah Rusak”
Harlan Ullman, pensiunan perwira Angkatan Laut AS yang juga merupakan anggota National Commission for the Future of the Navy, menggambarkan kondisi tersebut dengan kalimat yang tajam.
“The piggy bank is broken” — celengannya sudah rusak.
Pernyataan itu menggambarkan persoalan yang lebih besar: Washington sedang menjalankan perang dengan biaya yang terus meningkat, tetapi tanpa kejelasan mengenai kapan konflik tersebut akan berakhir.
Seorang mantan perwira militer yang kini bekerja untuk perusahaan kontraktor Angkatan Laut bahkan memberikan gambaran lebih ekstrem. Menurutnya, militer AS telah menggunakan begitu banyak persenjataan, mengalami kerusakan pada sejumlah kapal, dan kini menghadapi persoalan pendanaan.
Di saat yang sama, pemeliharaan fasilitas militer yang dianggap tidak mendesak dilaporkan mulai ditunda akibat tekanan kas.
Gedung Putih Minta US$67 Miliar
Pemerintahan Trump sebenarnya telah meminta tambahan dana darurat kepada Kongres untuk membiayai perang.
Nilainya mencapai sekitar US$67 miliar untuk Departemen Pertahanan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya juga memperingatkan Kongres bahwa tanpa tambahan pendanaan, militer akan menghadapi “critical shortfalls”.
Namun, persoalannya bukan sekadar meminta tambahan uang.
Perang Iran tidak memiliki otorisasi penggunaan kekuatan militer dari Kongres sebagaimana konflik besar AS sebelumnya seperti perang Irak dan Afghanistan. Karena itu, muncul pertanyaan politik dan hukum mengenai sejauh mana Kongres bersedia terus membiayai perang tersebut.
Prospek pendanaan tambahan juga menjadi semakin rumit karena perang tersebut semakin tidak populer di dalam negeri.
Perang Panjang Mulai Menjadi Beban Strategis
Persoalan anggaran ini muncul ketika perang Iran sendiri memasuki fase yang semakin sulit.
Setelah enam bulan konflik, Iran memang menghadapi tekanan ekonomi berat akibat sanksi dan blokade laut AS. Namun, Tehran belum menyerah dan belum ada penyelesaian diplomatik yang jelas. Reuters menggambarkan situasi terbaru sebagai kebuntuan mahal, dengan AS berusaha menekan Iran melalui blokade dan perang ekonomi sementara Iran masih mampu mempertahankan pemerintahannya.
Artinya, Washington menghadapi dilema.
Jika perang diteruskan, kebutuhan dana dan persenjataan akan terus meningkat. Tetapi jika perang dihentikan tanpa hasil yang dianggap sebagai kemenangan, pemerintahan Trump juga menghadapi persoalan politik karena selama berbulan-bulan perang tersebut diklaim sebagai bagian dari strategi untuk menundukkan Iran.
Bagi Angkatan Laut AS, persoalannya bahkan lebih mendasar.
Semakin lama perang berlangsung, semakin besar risiko anggaran untuk mempertahankan kesiapan militer justru terkuras untuk membiayai perang yang sedang berjalan.
Dan jika laporan mengenai pengalihan dana penggajian serta penundaan pemeliharaan benar-benar mencerminkan kondisi yang lebih luas, maka persoalannya bukan lagi sekadar berapa mahal perang Iran bagi Amerika.
Pertanyaan yang lebih besar adalah:
Berapa lama Amerika Serikat mampu membiayai perang tersebut tanpa mengorbankan kesiapan militernya untuk menghadapi konflik lain?


