Connect with us

Opini

Kritik terhadap Tia Mariatul: Ketika Premis Membentuk Cara Membaca Yaman

Published

on

Oleh: Redaksi Vichara.id

Dalam analisis politik, terutama ketika membicarakan konflik yang kompleks seperti Yaman, persoalan terbesar tidak selalu terletak pada kesimpulan. Kesalahan yang lebih mendasar sering kali terjadi jauh sebelumnya: pada saat seorang analis menentukan aktor, membaca sejarah, menyusun hubungan sebab-akibat, dan memilih fakta mana yang dijadikan pijakan.

Sebuah kesimpulan dapat terdengar masuk akal, bahkan meyakinkan, tetapi tetap bermasalah apabila dibangun dari premis yang tidak tepat.

Persoalan semacam ini terlihat dalam wawancara pengamat Timur Tengah, Tia Mariatul, dalam program AKIS tvOne bertajuk “Houthi Rebel! Bantu Iran Usir AS Dari Timur Tengah”. Dalam wawancara tersebut, Tia menjelaskan motif Houthi menyerang Arab Saudi, posisi pemerintah Yaman, hubungan Houthi dengan Iran, persoalan sektarian, hingga arti strategis Bab el-Mandeb.

Tidak semua yang disampaikannya keliru. Houthi memang merupakan kekuatan politik dan militer utama di Yaman. Mereka memiliki hubungan erat dengan Iran dan telah berkembang menjadi aktor yang mampu memengaruhi keamanan kawasan, termasuk melalui kemampuan rudal dan drone. Reuters dalam laporan terbarunya juga menggambarkan evolusi Houthi dari gerakan Zaydi lokal menjadi kekuatan regional dengan hubungan yang semakin erat dengan Iran dan Hezbollah.

Karena itu, kritik terhadap wawancara tersebut tidak seharusnya dibangun dengan cara menyangkal seluruh premisnya.

Yang lebih penting adalah memeriksa bagaimana premis-premis yang sebagian benar itu kemudian dirangkai menjadi sebuah penjelasan mengenai Yaman.

Di titik inilah sejumlah persoalan muncul.

Ketika aktor politik tidak lagi ditempatkan pada zamannya

Salah satu pernyataan paling mendasar dalam wawancara tersebut adalah ketika Tia mengatakan bahwa pemerintahan Yaman yang sah “saat ini” berada di bawah kendali Mansur Hadi. Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar untuk menjelaskan konflik antara Houthi dan Arab Saudi.

Di sinilah persoalan pertama muncul.

Mansur Hadi memang pernah menjadi presiden Yaman yang diakui secara internasional. Setelah Houthi mengambil alih Sana’a pada 2014, Hadi mengalami krisis politik, mengundurkan diri pada Januari 2015, kemudian menuju Aden dan menarik kembali pengunduran dirinya. Ketika konflik meluas ke Aden, Hadi kemudian berada di Arab Saudi dan pemerintahan yang dipimpinnya beroperasi dalam pengasingan dengan dukungan Riyadh.

Semua itu merupakan bagian penting dari sejarah konflik Yaman.

Tetapi sejarah tersebut memiliki titik perubahan yang sangat jelas: April 2022.

Pada 7 April 2022, Hadi menyerahkan seluruh kewenangan eksekutifnya kepada Presidential Leadership Council (PLC). Sekretariat PBB secara eksplisit mencatat bahwa Hadi mendelegasikan seluruh kekuasaannya kepada dewan tersebut. Dewan Keamanan PBB kemudian menyambut transfer kekuasaan dan pembentukan PLC sebagai pemerintahan Yaman yang lebih luas representasinya.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar bahwa nama Mansur Hadi disebut secara keliru.

Yang lebih serius adalah bahwa sebuah konfigurasi politik yang telah berubah pada 2022 digunakan untuk menjelaskan situasi pada 2026.

Reuters saat ini juga menempatkan PLC sebagai representasi pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, dengan basis di Aden, sementara Houthi menguasai Sana’a dan sebagian besar wilayah utara.

Ini penting karena kesalahan dalam mengidentifikasi aktor bukan kesalahan nomenklatur belaka. Ia dapat mengubah seluruh hubungan sebab-akibat yang dibangun sesudahnya.

Jika Hadi masih ditempatkan sebagai pusat pemerintahan Yaman, maka alur penjelasannya menjadi:

Hadi adalah pemerintah sah → Saudi melindungi Hadi → Houthi memberontak terhadap Hadi → Houthi ingin mengganti rezim → Saudi melawan Houthi.

Padahal sejak 2022, struktur politik anti-Houthi telah berubah.

Maka pertanyaan yang semestinya diajukan terlebih dahulu bukan hanya mengapa Houthi menyerang Saudi, tetapi juga:

Siapa sebenarnya aktor politik yang berhadapan dengan Houthi dalam konfigurasi Yaman saat ini?

Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi menentukan kualitas seluruh analisis berikutnya.

Dari kompleksitas politik menjadi persoalan sektarian

Persoalan berikutnya terletak pada cara konflik Yaman dijelaskan melalui kategori Sunni dan Syiah.

Tia menggambarkan masyarakat Yaman sebagai mayoritas Syiah, sementara pemerintahan Yaman disebut Sunni. Dari sana muncul penjelasan bahwa Houthi relatif mudah memperoleh dukungan karena memiliki kesamaan identitas dengan masyarakat tersebut.

Di sinilah konflik politik yang kompleks berisiko mengalami reduksi.

Houthi memang memiliki akar dalam tradisi Zaydi di Yaman utara. Tetapi dari fakta tersebut tidak otomatis dapat ditarik kesimpulan bahwa konflik Yaman pada dasarnya merupakan pertarungan antara masyarakat Syiah dan pemerintah Sunni.

Sejarah politik Yaman jauh lebih panjang daripada pembelahan tersebut.

Houthi tumbuh dari gerakan lokal yang mengalami konflik dengan pemerintah pusat sebelum berkembang menjadi kekuatan nasional. Perebutan kekuasaan setelah pergolakan 2011, kegagalan transisi politik, lemahnya institusi negara, serta fragmentasi kekuatan politik dan militer merupakan bagian penting dari konteks yang memungkinkan Houthi mengambil alih Sana’a pada 2014.

Reuters juga menggambarkan konflik Yaman sebagai konflik dengan banyak aktor, bukan semata-mata pertarungan dua kelompok berdasarkan identitas sektarian. Selain Houthi dan pemerintahan yang diakui secara internasional, terdapat berbagai kelompok politik dan militer lain dengan agenda yang berbeda.

Karena itu, identitas mazhab dapat menjadi salah satu variabel dalam membaca konflik, tetapi tidak cukup untuk menjadi teori penjelasnya.

Tidak semua warga Zaydi adalah Houthi.

Tidak semua warga Sunni adalah pendukung pemerintah yang didukung Saudi.

Dan tidak semua keputusan politik di Yaman dapat diterangkan melalui afiliasi keagamaan.

Ketika konflik politik direduksi menjadi konflik sektarian, kita kehilangan pertanyaan yang lebih penting: siapa menguasai sumber daya, siapa menguasai institusi, siapa memiliki kekuatan militer, siapa membangun koalisi dengan siapa, dan bagaimana kepentingan lokal berinteraksi dengan kepentingan regional.

Antara dukungan Iran dan kendali atas Houthi

Tia kemudian menempatkan Houthi sebagai bagian dari jaringan proxy Iran di Timur Tengah.

Pernyataan mengenai hubungan Iran dan Houthi memiliki dasar. Iran memang memiliki hubungan erat dengan Houthi dan memberikan dukungan dalam berbagai bentuk. Laporan Reuters terbaru juga menggambarkan bantuan Iran dalam pengembangan kemampuan militer Houthi, termasuk teknologi dan keahlian yang memungkinkan kelompok tersebut meningkatkan kapasitas rudal dan drone.

Namun dalam analisis politik, hubungan patronase tidak serta-merta identik dengan hubungan komando.

Di sinilah diperlukan pembedaan antara:

dukungan, pengaruh, koordinasi, ketergantungan, dan kendali.

Kelima istilah tersebut memiliki konsekuensi analitis yang berbeda.

Menyebut Houthi sebagai kelompok yang didukung atau bersekutu dengan Iran merupakan satu hal. Menjelaskan setiap keputusan Houthi sebagai produk instruksi Iran merupakan hal lain.

Pertanyaannya bukan apakah Iran mempunyai pengaruh.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

Seberapa besar pengaruh tersebut?

Dan lebih penting lagi:

Di mana batas antara kepentingan Iran dan kepentingan Houthi sendiri?

Sebab Houthi bukan organisasi yang baru muncul setelah Iran membutuhkannya sebagai instrumen regional. Gerakan tersebut memiliki sejarah politik dan basis sosial sendiri di Yaman.

Karena itu, istilah proxy seharusnya menjadi titik awal penyelidikan, bukan titik akhir analisis.

Jika semua tindakan Houthi cukup dijelaskan dengan kalimat “karena Iran”, maka kita sebenarnya belum menjelaskan Houthi. Kita hanya memindahkan pusat penjelasan dari Sana’a ke Teheran.

Padahal analisis yang lebih memadai justru harus menjawab bagaimana kepentingan keduanya bertemu, kapan kepentingan tersebut beririsan, dan apakah selalu identik.

Ketika dugaan mengenai tujuan berubah menjadi kepastian

Tia kemudian menyebut beberapa tujuan Houthi: mengubah rezim, menguasai Yaman secara keseluruhan, membantu Iran menekan Amerika Serikat, dan memaksa Saudi menghentikan dukungan terhadap pemerintahan yang diakui secara internasional.

Di sini muncul persoalan mengenai tingkat kepastian sebuah inferensi.

Dalam menganalisis perilaku politik sebuah aktor, ada perbedaan antara apa yang dapat diamati, apa yang dinyatakan aktor tersebut, dan apa yang disimpulkan oleh pengamat.

Houthi memang telah menguasai wilayah luas dan mempertahankan kekuatan politik-militernya.

Namun klaim bahwa tujuan mereka adalah menguasai seluruh Yaman memerlukan pembuktian tersendiri. Demikian pula klaim bahwa serangan terhadap Saudi terutama dimaksudkan sebagai instrumen Iran untuk memaksa Amerika Serikat keluar dari Timur Tengah.

Keduanya mungkin merupakan bagian dari pembacaan strategis.

Tetapi kemungkinan bukanlah bukti.

Yaman sendiri bukan arena yang hanya memiliki dua aktor. PLC menghadapi persoalan internalnya sendiri; Southern Transitional Council memiliki agenda politik yang berbeda; berbagai kelompok militer dan lokal memiliki kepentingan masing-masing. Reuters bahkan menggambarkan struktur anti-Houthi sebagai terfragmentasi dan tidak sepenuhnya memiliki kepentingan yang sama.

Dalam konteks seperti itu, setiap pembicaraan mengenai “tujuan Houthi” seharusnya membedakan antara tujuan yang dinyatakan, kepentingan yang dapat diamati, dan motif yang diinferensikan oleh pengamat.

Perbedaan tersebut mungkin tampak akademis.

Sesungguhnya justru di sanalah ketelitian analisis ditentukan.

Bab el-Mandeb dan godaan untuk membesar-besarkan efek strategis

Bab el-Mandeb memang merupakan salah satu titik geografis paling penting dalam konflik Yaman.

Tia benar ketika menempatkan selat tersebut dalam konteks keamanan energi dan perdagangan internasional. Houthi memiliki posisi geografis yang memungkinkan mereka memberikan tekanan terhadap lalu lintas pelayaran di Laut Merah. Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan bagaimana kontrol dan tekanan terhadap kawasan pesisir Laut Merah menjadi bagian penting dari kalkulasi strategis Houthi.

Tetapi dari sini muncul lompatan berikutnya ketika gangguan terhadap Bab el-Mandeb seolah berarti Saudi tidak lagi dapat menyalurkan energinya ke pasar internasional.

Hubungan kausal semacam itu terlalu linear.

Saudi memang memiliki East-West Pipeline atau Petroline, jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang menghubungkan kawasan produksi minyak di timur dengan Yanbu di pesisir Laut Merah. Selama ini infrastruktur tersebut menjadi salah satu instrumen penting Saudi untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur ekspor yang melewati Selat Hormuz.

Namun, posisi strategis itu kini justru sedang diuji. Pada 11 September 2026, Saudi menghentikan sementara operasi pipeline tersebut setelah sejumlah fasilitasnya diserang drone. Laporan Reuters pada 17 September menyebut sedikitnya tiga stasiun pompa mengalami kerusakan, sementara waktu pemulihan penuh belum dapat dipastikan. Pada 18 September, terdapat laporan bahwa Saudi berupaya memulihkan sekitar separuh kapasitasnya sambil mengalihkan sebagian pengiriman melalui rute lain.

Dengan demikian, gangguan Bab el-Mandeb memang memiliki konsekuensi strategis—tetapi konsekuensi tersebut harus dihitung dalam kerangka kapasitas alternatif, perubahan rute, biaya pengangkutan, waktu perjalanan, kapasitas pelabuhan, serta jenis komoditas yang hendak dikirim.

Dengan kata lain:

Bab el-Mandeb terganggu tidak sama dengan ekspor Saudi berhenti.

Analisis geopolitik yang baik tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah lokasi “strategis”.

Pertanyaan berikutnya adalah:

Apa yang benar-benar dapat diputus oleh penguasaan lokasi tersebut?

Dan:

Apa saja alternatif yang tersedia bagi pihak yang terdampak?

Tanpa dua pertanyaan itu, istilah “chokepoint strategis” mudah berubah menjadi dramatisasi yang tidak proporsional.

Makkah dan batas antara keyakinan dengan verifikasi

Bagian mengenai Makkah membawa persoalan analitis ke wilayah yang lebih sensitif.

Ketika membahas narasi bahwa Houthi menyerang Makkah, Tia berpendapat bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena Houthi juga Muslim dan memiliki hubungan keagamaan dengan kota suci tersebut.

Argumen tersebut dapat dipahami sebagai pembacaan mengenai kemungkinan motif.

Namun motif keagamaan tidak dapat digunakan untuk menggantikan verifikasi atas sebuah peristiwa militer.

Pertanyaan yang semestinya diajukan dalam kasus seperti itu adalah: apa jenis senjata yang digunakan, dari mana ia diluncurkan, ke mana lintasannya, di mana ia jatuh, apa yang dikatakan pihak Saudi, apa bantahan Houthi, dan adakah bukti independen yang dapat memverifikasi salah satu versi?

Seorang analis boleh memperkirakan bahwa suatu tindakan tidak sesuai dengan kepentingan atau ideologi sebuah kelompok.

Tetapi “tidak sesuai dengan identitas kelompok” tidak sama dengan “tidak mungkin terjadi”.

Dalam studi konflik, perilaku aktor tidak selalu mengikuti asumsi normatif mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan.

Karena itu, persoalan Makkah seharusnya dikembalikan kepada bukti, bukan diselesaikan melalui asumsi tentang identitas keagamaan.

Dari mana sesungguhnya persoalan analisis itu berasal?

Jika berbagai bagian wawancara tersebut diletakkan secara berdampingan, terlihat sebuah pola.

Persoalannya bukan bahwa setiap fakta yang digunakan Tia keliru.

Sebaliknya, beberapa fakta dasarnya memang benar:

Houthi adalah kekuatan utama di Yaman.

Iran memiliki hubungan erat dengan Houthi.

Saudi memiliki kepentingan keamanan yang besar terhadap Yaman.

Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis.

Houthi memiliki kemampuan militer yang mampu memberikan dampak regional.

Masalah muncul ketika fakta-fakta tersebut disusun dalam hubungan sebab-akibat yang terlalu sederhana.

Mansur Hadi ditempatkan sebagai pemerintah Yaman saat ini, padahal kewenangan eksekutifnya telah dialihkan kepada PLC pada 2022.

Konflik politik kemudian direduksi menjadi konflik Sunni–Syiah.

Hubungan Iran–Houthi diterjemahkan terlalu cepat menjadi hubungan instruksional.

Dugaan mengenai tujuan strategis Houthi disampaikan dengan tingkat kepastian yang lebih tinggi daripada bukti yang ditunjukkan.

Dan arti strategis Bab el-Mandeb diperluas sedemikian rupa sehingga alternatif Saudi nyaris tidak terlihat.

Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul.

Sebuah analisis dapat mengandung banyak fakta yang benar sekaligus menghasilkan gambaran yang keliru apabila hubungan antara fakta-fakta tersebut dibangun secara tidak tepat.

Itulah sebabnya kritik terhadap analisis tidak cukup dilakukan dengan memeriksa apakah setiap kalimat mengandung fakta.

Yang harus diperiksa adalah arsitektur argumentasinya.

Akademisi dan tanggung jawab terhadap kompleksitas

Tuntutan terhadap seorang akademisi yang berbicara di ruang publik bukanlah agar setiap penjelasannya sepanjang buku.

Televisi memang membutuhkan bahasa yang ringkas.

Tetapi ringkas tidak harus berarti menyederhanakan sampai mengubah struktur persoalan.

Justru karena seorang akademisi hadir sebagai rujukan bagi publik, ada tanggung jawab untuk membedakan antara fakta, interpretasi dan dugaan.

Ketika sebuah pemerintahan yang sudah berubah masih ditempatkan sebagai pemerintahan yang berlaku, ketika konflik multidimensional dipersempit menjadi persoalan mazhab, atau ketika hubungan dukungan dianggap sama dengan hubungan kendali, publik bukan hanya mendapatkan informasi yang disederhanakan.

Publik mendapatkan kerangka untuk memahami konflik yang sudah terlebih dahulu disederhanakan.

Dan kerangka semacam itu kemudian akan memengaruhi bagaimana setiap peristiwa berikutnya dibaca.

Houthi menyerang Saudi? Karena Iran.

Saudi menyerang Houthi? Karena mempertahankan pemerintah sah.

Houthi memiliki senjata canggih? Karena Iran.

Bab el-Mandeb terganggu? Saudi terancam kehilangan jalur ekspor.

Makkah disebut menjadi sasaran? Tidak mungkin karena Houthi Muslim.

Semua jawaban tersebut mungkin terdengar konsisten.

Tetapi konsistensi sebuah narasi tidak otomatis membuktikan kebenarannya.

Penutup: yang dipersoalkan bukan pendapatnya, melainkan cara sampai pada pendapat itu

Perbedaan pandangan mengenai Yaman adalah sesuatu yang wajar. Bahkan dalam studi konflik, perbedaan interpretasi merupakan bagian yang tidak terhindarkan.

Karena itu, kritik terhadap Tia Mariatul bukanlah tuntutan agar ia memiliki kesimpulan yang sama dengan penulis.

Yang patut dipersoalkan adalah cara kesimpulan tersebut dibangun.

Sebuah analisis akan menjadi lebih kuat ketika ia mampu membedakan antara fakta dan interpretasi, antara dukungan dan kendali, antara identitas dan kepentingan politik, antara kemungkinan dan kepastian, serta antara peristiwa historis dan konfigurasi politik yang sedang berlaku.

Yaman terlalu kompleks untuk dibaca hanya melalui satu lensa.

Ia bukan sekadar pertarungan Houthi melawan Saudi. Bukan pula sekadar pertarungan Sunni melawan Syiah. Dan tidak seluruh perilaku Houthi dapat dijelaskan hanya dengan menunjuk ke Teheran.

Di dalamnya terdapat sejarah politik domestik, perebutan kekuasaan, fragmentasi sosial dan militer, kepentingan Saudi, Iran, UAE dan Amerika Serikat, persoalan selatan Yaman, jalur perdagangan, energi, serta kepentingan aktor-aktor lokal yang tidak selalu identik dengan kepentingan sponsor regional mereka.

Karena itu, persoalan paling mendasar dalam membaca Yaman bukan hanya apa kesimpulan kita, melainkan dari mana kita memulai.

Sebab sebuah analisis yang dibangun di atas peta lama mungkin tetap terlihat rapi.

Ia mungkin bahkan terdengar sangat meyakinkan.

Tetapi ketika peta awalnya sudah tidak sesuai dengan medan yang hendak dijelaskan, seberapa jauh pun kita berjalan, kita tetap berisiko tiba di tempat yang keliru.

Dalam membaca Yaman, memperbarui peta bukan pekerjaan tambahan. Ia adalah syarat pertama agar analisis tidak kehilangan arah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer