Connect with us

Opini

Ketika Dunia Maya Berubah Menjadi Ekosistem Kekerasan

Published

on

Ekosistem kekerasan di dunia maya dan fenomena True Crime Community

Bayangkan seorang anak duduk di kamar, pintu tertutup, lampu layar menerangi wajahnya. Di luar sana, orang tua mungkin mengira ia sedang bermain, menonton video, bercanda dengan teman, atau sekadar membunuh waktu. Tidak ada suara ledakan. Tidak ada kerumunan. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang berbahaya sedang berlangsung. Hanya layar kecil di tangan. Tetapi di balik layar itu, kekerasan bisa sedang dipelajari, dipertontonkan, dipuja, bahkan dijadikan identitas. Di sinilah absurditas zaman digital mulai terasa: kita membangun internet sebagai ruang hiburan dan komunikasi, lalu terkejut ketika sebagian ruang itu berubah menjadi ekosistem kekerasan.

Laporan GNET Beyond Extremism: Platform Responses to Online Subcultures of Nihilistic Violence seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Bukan karena laporan itu menemukan sebuah organisasi raksasa yang mengendalikan semua kekerasan dari balik layar. Justru sebaliknya. Yang ditemukan adalah sesuatu yang jauh lebih sulit ditangani: jaringan komunitas, individu, fandom, forum, dan percakapan yang tersebar, cair, berpindah-pindah platform, dan tidak selalu memiliki ideologi politik yang jelas. TCC atau True Crime Community, misalnya, digambarkan sebagai fandom daring yang memuliakan kekerasan dan pelakunya, sementara ekosistem yang lebih luas mencakup berbagai bentuk glorifikasi kekerasan, kejahatan siber, eksploitasi, hingga kekerasan nyata.

Ini penting. Sebab selama ini kita terlalu nyaman dengan cara berpikir lama: kalau tidak ada organisasi, berarti tidak ada ancaman; kalau tidak ada komando, berarti tidak ada jaringan; kalau tidak ada manifesto, berarti tidak ada ideologi yang perlu diperhatikan. Dunia maya justru menunjukkan sebaliknya. Kekerasan tidak selalu membutuhkan kantor pusat. Tidak membutuhkan ketua. Tidak membutuhkan rapat bulanan dengan notulen. Kadang ia hanya membutuhkan sekelompok manusia yang saling menemukan, saling menguatkan, saling memberi pengakuan, lalu perlahan menganggap sesuatu yang sebelumnya mengerikan sebagai sesuatu yang biasa.

Di sinilah TCC perlu dipahami secara hati-hati. TCC bukan satu organisasi tunggal dan tidak semua orang yang tertarik pada kisah kriminal otomatis menjadi pelaku kekerasan. GNET sendiri membedakan subkultur kekerasan nihilistik dari ekstremisme yang bermotif ideologi. Motivasi yang muncul lebih banyak berkaitan dengan misantropi, fiksasi terhadap kekerasan, estetika, ketenaran, status, atau keinginan memperoleh perhatian. Karena itu, menyamakan TCC dengan terorisme adalah analisis yang malas. Tetapi menganggap TCC hanya sekumpulan penggemar true crime yang tidak berbahaya juga sama bermasalahnya.

Masalahnya bukan sekadar apa yang mereka tonton. Masalahnya adalah apa yang terjadi ketika kekerasan berubah menjadi bahasa pergaulan. Pelaku pembunuhan menjadi figur yang dibicarakan. Penembakan massal menjadi referensi budaya. Foto pelaku menjadi simbol. Aksi brutal menjadi bahan pembentukan identitas. Dalam kondisi seperti itu, batas antara “menonton” dan “mengagumi” bisa menjadi kabur. Dan ketika sebuah komunitas memberikan status sosial kepada orang yang semakin ekstrem, maka kekerasan tidak lagi hanya menjadi tontonan. Ia menjadi mata uang.

Laporan GNET bahkan mencatat bahwa TCC aktif di sejumlah platform seperti Tumblr, TikTok, Discord, dan Telegram. Ini bukan detail teknis yang bisa dilewati begitu saja. Justru di sinilah persoalannya. Kita sering membayangkan internet sebagai kumpulan aplikasi yang berdiri sendiri: TikTok ya TikTok, Discord ya Discord, Telegram ya Telegram. Padahal pengguna tidak hidup di dalam satu aplikasi. Mereka berpindah. Mereka membawa identitas, bahasa, simbol, kebiasaan, dan relasi dari satu ruang ke ruang lain. Ekosistem kekerasan tidak membutuhkan satu rumah permanen. Ia cukup memiliki banyak pintu.

GNET menunjukkan bagaimana mekanisme ban evasion membuat persoalan semakin rumit. Sebuah akun ditutup, pengguna membuat akun baru. Sebuah ruang dibersihkan, komunitas berpindah. Penanda, kode, dan cara berkomunikasi dapat digunakan kembali untuk menemukan anggota lama. Karena itu, menghapus satu akun tidak otomatis berarti menghapus komunitasnya. Ibarat membersihkan satu warung dari sebuah pasar yang memiliki puluhan pintu belakang: pintunya ditutup, tetapi orang-orangnya sudah tahu harus berjalan ke mana. Laporan itu secara tegas mengkritik pendekatan moderasi yang terfragmentasi dan mendorong pemetaan serta koordinasi lintas platform.

Kita seharusnya mulai melihat persoalan ini dengan cara yang sama. Bukan bertanya, “Ada TCC di platform apa?” Pertanyaannya harus dinaikkan satu tingkat: bagaimana ekosistem TCC bekerja? Di mana orang pertama kali menemukan kontennya? Di mana mereka mendapatkan pengakuan? Di mana mereka membentuk pertemanan? Di mana percakapan berpindah ketika ruang publik terlalu diawasi? Di mana mereka belajar membuat sesuatu? Dan kapan sesuatu yang awalnya hanya berupa simbol atau fantasi mulai masuk ke dunia nyata?

Kasus di Indonesia membuat pertanyaan itu tidak lagi terasa seperti teori di atas kertas. Pada September 2026, Kepolisian menyebut seorang pria berusia 25 tahun berinisial MSA di Jawa Barat sebagai anggota grup WhatsApp yang disebut True Crime Community. Polisi mengatakan ia menggunakan nama samaran “Pseudo Vampire”, berbagi topik dan tips pembuatan bahan peledak, serta melakukan puluhan uji ledakan. Polisi juga menyebut aktivitas tersebut diduga dilakukan antara lain untuk memperoleh pengakuan dari anggota komunitas.

Perhatikan bagian terakhir itu: pengakuan. Ini mungkin justru salah satu kata paling penting dalam memahami masalah tersebut. Kita sering membayangkan kekerasan lahir dari kebencian besar terhadap sesuatu. Padahal dalam sebagian ekosistem kekerasan, yang dicari bisa jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih mengkhawatirkan: perhatian, status, pengakuan, reputasi. Seseorang ingin dianggap paling berani. Paling ekstrem. Paling “jago”. Di dunia nyata, orang mungkin tidak mendapatkan tepuk tangan untuk eksperimen berbahaya. Di ruang digital, ia bisa mendapat respons dalam hitungan detik.

Filipina memberikan gambaran lain yang membuat persoalan ini semakin dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja. Pada 18 September 2026, seorang siswa berusia 16 tahun melakukan penembakan di sebuah sekolah di Banga, South Cotabato, menewaskan dua siswa dan melukai delapan lainnya sebelum meninggal karena bunuh diri. Reuters melaporkan bahwa penyelidikan juga menyoroti keterlibatan tersangka dalam komunitas “true crime” daring dan kemungkinan pengaruh konten kekerasan. Itu masih merupakan bagian dari penyelidikan, bukan bukti bahwa komunitas tersebut secara otomatis menyebabkan serangan. Tetapi justru karena belum selesai, pertanyaan itu harus diselidiki serius, bukan ditertawakan atau disapu ke bawah karpet.

Dan di sinilah kita harus menolak dua ekstrem sekaligus. Jangan mengatakan, “TCC menyebabkan semua kekerasan.” Itu tidak terbukti. Tetapi jangan pula berkata, “Itu cuma internet.” Kalimat kedua terdengar sederhana, tetapi sangat berbahaya. Internet adalah tempat manusia membentuk pertemanan, mencari identitas, belajar keterampilan, mencari pengakuan, dan membangun komunitas. Kalau proses-proses sosial itu dapat menghasilkan hal positif, mengapa kita menganggap mustahil ia juga dapat menghasilkan sesuatu yang mengerikan?

Yang lebih mengkhawatirkan adalah usia penggunanya. Dunia digital sekarang bukan ruang orang dewasa semata. Anak-anak berada di TikTok, Discord, YouTube, game, forum, dan berbagai ruang yang terus bermunculan. Bahkan platform yang tampak seperti taman bermain pun tidak otomatis steril dari manipulasi. Laporan GNET lain yang membahas Roblox menunjukkan bagaimana materi ekstremis dapat dikemas melalui permainan, avatar, simbol, audio, dan konten buatan pengguna, serta bagaimana Discord dan TikTok dapat digunakan sebagai bagian dari perpindahan pengguna antarruang.

Ini pelajaran penting: bentuknya bisa berubah, tetapi mekanismenya tetap manusiawi. Seorang anak tertarik karena rasa ingin tahu. Kemudian menemukan komunitas. Komunitas memberi bahasa. Bahasa memberi identitas. Identitas memberi rasa memiliki. Setelah itu, batas yang sebelumnya dianggap aneh mulai terasa normal. Tidak selalu berakhir dengan kekerasan. Bahkan mungkin sebagian besar tidak pernah sampai ke sana. Namun sebuah ekosistem kekerasan tidak perlu mengubah semua penggunanya menjadi pelaku. Ia cukup menyediakan lingkungan yang membuat kekerasan semakin mudah ditemukan, dinormalisasi, ditiru, atau digunakan untuk memperoleh status.

Karena itu, saya rasa kita perlu berhenti terobsesi mencari “siapa dalangnya”. Pertanyaan itu memang penting dalam kasus tertentu, tetapi tidak selalu menjadi pintu pertama untuk memahami fenomena ini. GNET justru menekankan bahwa subkultur kekerasan nihilistik berbeda dari jaringan ekstremis ideologis dan membutuhkan pendekatan berbasis perilaku, bukan semata-mata pendekatan yang mencari organisasi atau ideologi tertentu. Kekerasan dapat dipahami melalui pola perilaku, estetika, glorifikasi, migrasi platform, dan bentuk-bentuk interaksi yang berkembang di antara pengguna.

Di titik inilah kemungkinan singgungan dengan ekstremisme menjadi relevan, tetapi harus dibicarakan secara jujur. TCC bukan otomatis terorisme. Tidak ada dasar untuk mengatakan setiap anggota TCC sedang menuju organisasi teroris. Namun ruang digital yang sudah memiliki pengguna rentan, budaya kekerasan, komunikasi lintas platform, dan perpindahan menuju ruang yang lebih tertutup dapat menjadi lingkungan yang menarik bagi aktor lain yang ingin mencari, memengaruhi, atau mengeksploitasi manusia. Itu bukan kesimpulan bahwa keduanya adalah satu jaringan. Itu adalah alasan mengapa ekosistem tersebut layak dipahami sebelum terlambat.

Ironinya, teknologi kita semakin canggih sementara cara kita memahaminya sering masih seperti tahun 2000-an. Kita sibuk menghapus konten satu per satu, sementara komunitas sudah berpindah ke tempat lain. Kita memblokir akun, sementara identitas baru muncul. Kita melihat aplikasi, tetapi lupa melihat hubungan antaraplikasi. Kita memikirkan konten, tetapi lupa memperhatikan komunitas. Kita sibuk bertanya apakah sesuatu “melanggar aturan”, padahal persoalan yang lebih besar adalah bagaimana ribuan interaksi kecil dapat membentuk sebuah budaya.

GNET menyebut pendekatan semacam ini sebagai kebutuhan untuk bergerak melampaui model whack-a-mole: memukul satu akun di sini, muncul lagi akun lain di sana. Mereka mendorong strategi lintas platform, pemetaan ekosistem, intervensi dini, perlindungan anak, serta kerja sama antara platform, peneliti, masyarakat sipil, dan penegak hukum. Bagi saya, pesan ini jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui berapa banyak akun yang telah ditutup.

Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan layar. Layar hanya jendela. Persoalannya adalah manusia di balik layar dan lingkungan sosial yang sedang dibangun di sana. Jika seorang remaja menemukan komunitas yang menjadikan kekerasan sebagai lelucon, simbol, status, atau identitas, maka kita tidak bisa terus berpura-pura bahwa yang terjadi hanyalah “konten internet”. Kita semua tahu bagaimana budaya bekerja di dunia nyata: sesuatu yang awalnya dianggap aneh, jika terus dilihat setiap hari, lama-lama terasa biasa. Internet hanya mempercepat proses itu sampai kecepatan yang belum pernah kita hadapi sebelumnya.

Maka ekosistem kekerasan harus dibaca sebagai persoalan sosial, bukan semata persoalan teknologi. Ia menyentuh keluarga, sekolah, platform digital, budaya populer, kesehatan mental masyarakat, penegakan hukum, bahkan cara kita mendidik anak tentang kekerasan. Dan jangan salah, persoalannya bukan membuat anak-anak takut menggunakan internet. Justru sebaliknya. Mereka perlu cukup cerdas untuk memahami bahwa internet bukan hanya tempat mencari hiburan. Ia juga tempat orang lain mencari mereka.

Mungkin inilah ironi terbesar zaman kita: pintu kamar anak bisa tertutup rapat, tetapi dunia di dalamnya terbuka tanpa batas. Orang tua bisa tahu siapa teman sekolah anaknya, tetapi belum tentu tahu siapa yang memberinya pengakuan di ruang digital. Guru bisa melihat muridnya duduk diam di kelas, tetapi tidak melihat komunitas yang sedang membentuk pikirannya pada malam hari. Dan platform bisa menghapus sebuah video, tetapi belum tentu memahami jaringan sosial yang membuat video itu terus hidup.

Karena itu, jangan tunggu sampai kekerasan terdengar dari balik pintu. Jangan tunggu sampai layar berubah menjadi barang bukti. Yang harus kita pahami sekarang adalah ekosistemnya: bagaimana kekerasan ditemukan, bagaimana ia menjadi hiburan, bagaimana hiburan berubah menjadi identitas, bagaimana identitas mencari pengakuan, dan bagaimana komunitas digital dapat berpindah dari satu platform ke platform lain tanpa pernah benar-benar hilang.

Sebab ketika dunia maya telah berubah menjadi ekosistem kekerasan, masalahnya bukan lagi apakah anak-anak kita sedang berada di internet. Mereka memang sudah berada di sana. Pertanyaannya jauh lebih mengganggu: siapa yang sedang membentuk dunia yang mereka temukan ketika kita tidak melihat?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer