Analisis
Media Gagal Memahami Gerakan Ansarullah di Yaman
Ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali berita tentang Yaman muncul di layar televisi, portal berita, atau linimasa media sosial. Nama yang sama terus berputar: “Houthi”. Houthi menyerang. Houthi menguasai. Houthi menembakkan rudal. Houthi mengancam. Houthi membalas. Seolah-olah seluruh persoalan Yaman dapat diringkas dalam satu nama keluarga. Seolah sejarah berhenti pada seseorang bernama Hussein al-Houthi, lalu dunia tidak perlu membaca apa yang terjadi sesudahnya.
Di sinilah keganjilan itu berubah menjadi persoalan serius. Banyak media tampaknya terlalu malas membaca sejarah dan perkembangan gerakan yang kini dikenal secara resmi sebagai Ansarullah. Mereka memilih jalan pintas: mengambil nama keluarga, menjadikannya label untuk seluruh gerakan, lalu mengulanginya terus-menerus sampai penyederhanaan itu terlihat seperti kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Padahal, bahkan sumber-sumber yang tetap menggunakan istilah “Houthi” mengakui bahwa gerakan tersebut secara resmi menyebut dirinya Ansar Allah atau Ansarullah.
Ini bukan soal memperdebatkan satu kata demi satu kata. Bukan pula lomba mencari istilah yang terdengar paling keren. Nama adalah pintu pertama untuk memahami sebuah organisasi. Kalau pintunya saja salah dibaca, bagaimana mungkin kita berharap pembaca memahami rumah yang ada di belakangnya?
Kita semua tahu bagaimana bahasa bekerja. Ketika seseorang mengatakan “keluarga Smith”, kita tidak otomatis menganggap seluruh organisasi tempat keluarga itu bekerja bernama Smith. Ketika sebuah perusahaan didirikan oleh seseorang bernama Ahmad, tidak berarti setiap pegawai perusahaan tersebut adalah keluarga Ahmad. Tetapi dalam pemberitaan tentang Yaman, logika sesederhana itu sering kali hilang entah ke mana.
“Houthi” berasal dari nama keluarga al-Houthi dan terutama melekat pada Hussein Badr al-Din al-Houthi, tokoh penting pada fase awal gerakan. Hussein memang memainkan peran sentral dalam perkembangan gerakan tersebut dan tewas dalam konflik dengan pemerintah Yaman pada 2004. Setelah kematiannya, kepemimpinan beralih kepada saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi.
Karena itulah istilah “Houthi” punya sejarah. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa istilah itu muncul dari ruang kosong. Istilah tersebut memang digunakan luas untuk menyebut gerakan yang berkembang dari jaringan sosial, keagamaan dan politik yang berpusat di Yaman utara. Bahkan laporan International Crisis Group menjelaskan bahwa istilah “Huthi” merupakan nama keluarga pendiri yang digunakan secara generik oleh banyak warga Yaman dan media Barat, sementara gerakan tersebut menyebut dirinya Ansar Allah, atau “Partisans of God”.
Tetapi justru di sinilah masalahnya.
Sebuah label yang awalnya mungkin berguna untuk mengenali gerakan pada fase tertentu kemudian diperlakukan seolah-olah merupakan nama resmi yang tidak pernah berubah. Padahal gerakan itu sendiri mengalami evolusi. Pada 2011, ketika Yaman memasuki pergolakan besar setelah Arab Spring, gerakan tersebut mengadopsi nama formal Ansar Allah. Combating Terrorism Center di West Point mencatat perubahan tersebut secara eksplisit: pada 2011 gerakan itu mengadopsi nama formal Ansar Allah untuk pertama kalinya.
Sana’a Center juga mencatat bahwa pada 2011 gerakan yang sebelumnya dikenal luas sebagai Houthi mulai menggunakan nama Ansar Allah untuk menjangkau audiens Yaman yang lebih luas. Bahkan ketika mengikuti proses politik nasional, termasuk Konferensi Dialog Nasional, nama Ansar Allah semakin menjadi identitas organisasional yang digunakan gerakan tersebut.
Lalu mengapa sebagian besar media masih begitu rajin menggunakan “Houthi”?
Di sinilah saya rasa kita perlu berbicara lebih keras: karena sebagian media malas memperbarui kerangka berpikirnya.
Bukan malas mengetik. Bukan malas mencari berita. Mereka sangat rajin mengejar breaking news. Yang malas adalah pekerjaan yang lebih sunyi: membaca sejarah, memahami perubahan organisasi, memeriksa istilah, dan menyadari bahwa aktor politik tidak selalu tinggal dalam bentuk yang sama selama puluhan tahun.
Breaking news memang cepat. Sejarah tidak.
Satu kantor berita menulis “Houthi”. Media lain mengutipnya. Media ketiga mengutip media kedua. Pengamat televisi mengambil istilah yang sama. Portal lokal menerjemahkannya. YouTuber mengulangnya. Lalu algoritma bekerja seperti mesin fotokopi yang kehabisan tinta: semakin sering sebuah istilah diulang, semakin tampak sahih istilah tersebut. Pada akhirnya, publik tidak lagi bertanya dari mana nama itu berasal.
Begitulah sebuah istilah bisa berubah menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan, kalau terlalu lama dipelihara, bisa menyamar sebagai pengetahuan.
Yang lebih ironis, tidak sulit menemukan sumber yang menjelaskan persoalan ini. Al Jazeera, misalnya, pernah menulis secara eksplisit bahwa kelompok tersebut secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah. CTC West Point juga menyebut bahwa kelompok yang lazim disebut Huthis itu secara resmi merujuk dirinya sebagai Ansar Allah. Bahkan penelitian akademik yang membahas gerakan tersebut menggunakan formulasi “Houthi movement” sekaligus “Ansar Allah”, menunjukkan bahwa dua istilah tersebut memang tidak berada dalam hubungan yang sesederhana yang sering dibayangkan pembaca.
Jadi, persoalannya bukan bahwa dunia sama sekali tidak tahu nama Ansarullah.
Dunia tahu.
Yang menjadi masalah adalah apakah dunia mau menggunakan pengetahuan itu dengan konsisten.
Di sinilah Ansarullah seharusnya ditempatkan secara lebih tepat dalam pemberitaan. Kalau sebuah organisasi memiliki nama resmi, mengapa nama resmi tersebut tidak menjadi istilah utama? Kalau media ingin membantu pembaca memahami konteks, mengapa tidak menulis: “Ansarullah, yang sering disebut Houthi oleh media internasional”? Selesai. Dua istilah dikenalkan. Pembaca mendapat konteks. Tidak ada yang hilang.
Justru sebaliknya, publik menjadi lebih cerdas.
Sayangnya, sebagian pemberitaan memilih formula yang jauh lebih mudah: “Houthi”. Titik.
Padahal formula itu memiliki konsekuensi. Ketika sebuah gerakan disebut semata-mata berdasarkan nama keluarga, perhatian publik dengan mudah diarahkan kepada aspek familialnya. Abdul-Malik al-Houthi muncul sebagai pusat perhatian. Nama keluarga muncul berulang kali. Struktur organisasi, sejarah politik, basis sosial, dinamika suku, perkembangan institusional, dan perubahan identitas gerakan menjadi latar belakang yang kabur.
Memang benar, keluarga al-Houthi memiliki peran besar dalam kepemimpinan gerakan. Sana’a Center bahkan mencatat bahwa sejumlah anggota keluarga tersebut menempati posisi penting dalam struktur politik dan keamanan. Jadi kritik terhadap penyederhanaan istilah tidak berarti menghapus peran keluarga al-Houthi dari sejarah gerakan. Justru sebaliknya: fakta tentang kuatnya peran keluarga harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.
Itulah bedanya antara memahami dan sekadar menamai.
Menamai itu mudah.
Memahami membutuhkan kerja.
Dan mungkin di sinilah kelemahan terbesar sebagian pemberitaan tentang Yaman. Konflik yang sangat kompleks diperas menjadi nama kelompok, lalu nama kelompok itu diperas lagi menjadi stereotip. Yaman akhirnya tampil seperti papan permainan sederhana: ada “Houthi” di satu sisi, ada lawannya di sisi lain, lalu pembaca diminta memahami seluruh konflik dari dua kotak tersebut.
Padahal Yaman bukan papan catur anak-anak.
Ia adalah negeri dengan sejarah politik yang panjang, jaringan suku, perubahan kekuasaan, warisan Zaydi, pergolakan sosial, konflik regional, campur tangan kekuatan asing, dan transformasi organisasi politik yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu nama keluarga. Penelitian akademik tentang gerakan tersebut bahkan menekankan dimensi sejarah, agama, tribal, dan politik yang membentuk perkembangannya.
Karena itu, penggunaan Ansarullah bukan sekadar persoalan kosmetik.
Ini soal presisi.
Dalam dunia jurnalistik, presisi seharusnya bukan kemewahan. Ia kebutuhan dasar. Kita menuntut angka yang benar, tanggal yang benar, lokasi yang benar, nama pejabat yang benar. Lalu mengapa ketika sampai pada nama sebuah gerakan, ketelitian tiba-tiba dianggap tidak penting?
Bayangkan seorang wartawan menulis tentang perusahaan besar tetapi sepanjang artikelnya menggunakan nama pendirinya sebagai nama perusahaan. Pembaca mungkin masih memahami maksudnya. Tetapi editor yang serius tentu akan bertanya: “Bukankah nama resminya berbeda?”
Pertanyaan yang sama semestinya muncul ketika media memberitakan Yaman.
Bukan berarti kata “Houthi” harus dihapus dari seluruh kamus. Tidak realistis. Istilah tersebut sudah sangat luas digunakan dan memiliki fungsi historis sebagai label. Bahkan laporan-laporan kontemporer tetap menggunakan “Houthi” sambil mengakui bahwa nama resmi gerakannya adalah Ansar Allah.
Namun justru karena istilah itu sudah begitu populer, media mempunyai tanggung jawab lebih besar untuk memberikan konteks.
Kalimat sederhana seperti “Ansarullah, yang umum disebut Houthi” sudah jauh lebih informatif daripada sekadar “kelompok Houthi”. Perbedaannya hanya beberapa kata. Tetapi beberapa kata itu memberi tahu pembaca bahwa mereka sedang berhadapan dengan sebuah persoalan nomenklatur, bukan sekadar nama kelompok.
Dan dari sana, pembaca bisa mulai bertanya.
Siapa Hussein al-Houthi?
Bagaimana gerakan awal itu terbentuk?
Mengapa nama Ansar Allah digunakan?
Apa yang berubah setelah 2011?
Bagaimana struktur politiknya berkembang?
Bagaimana jaringan sosial dan suku berperan?
Mengapa istilah Houthi tetap dominan dalam media internasional?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya muncul dari pemberitaan. Bukan hanya siapa menembakkan rudal hari ini.
Sebab ketika media terus menyebut Ansarullah hanya sebagai “Houthi”, yang hilang bukan sekadar satu nama. Yang hilang adalah kesempatan pembaca untuk memahami transformasi sebuah gerakan.
Saya rasa ini juga pelajaran penting bagi media Indonesia. Kita sering mengambil istilah dari kantor berita internasional lalu menerjemahkannya mentah-mentah. Seolah-olah kalau Reuters, AP, AFP, atau media besar menggunakan sebuah istilah, maka pekerjaan kita selesai. Padahal jurnalisme bukan kegiatan meneruskan istilah. Jurnalisme adalah kegiatan memeriksa.
Kalau sumber internasional menyebut “Houthi”, bukan berarti kita dilarang bertanya: apakah itu nama resmi? Dari mana istilah tersebut berasal? Apakah aktor yang bersangkutan menggunakan nama lain? Apakah perubahan nama memiliki konteks politik dan sejarah?
Itu bukan pekerjaan tambahan.
Itulah pekerjaan jurnalistik.
Maka saya kira sudah waktunya kita berhenti memperlakukan “Houthi” sebagai satu-satunya cara untuk menyebut gerakan tersebut. Jika yang kita maksud adalah organisasi politik-militer yang secara resmi menggunakan nama Ansar Allah, maka sebutlah Ansarullah. Jika perlu, jelaskan bahwa istilah “Houthi” adalah nama populer yang berasal dari keluarga al-Houthi dan telah menjadi label yang lazim digunakan media.
Dengan begitu, kita tidak sedang menghapus sejarah.
Kita justru sedang memperbaikinya.
Sebab sejarah bukan milik algoritma pencarian. Sejarah tidak berubah hanya karena sebuah istilah diulang jutaan kali. Dan sebuah penyederhanaan tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena tampil di layar televisi, dicetak di koran, atau dikutip seorang pengamat dengan nada penuh keyakinan.
Pada akhirnya, masalahnya sederhana tetapi menyakitkan: media terlalu malas membaca sejarah Ansarullah secara utuh, lalu menggunakan “Houthi” sebagai jalan pintas.
Jalan pintas memang menghemat waktu.
Tetapi dalam membaca sejarah, jalan pintas sering membawa kita ke alamat yang salah.
Dan selama media terus menyebut sebuah gerakan hanya dengan nama keluarga pendirinya tanpa menjelaskan nama resmi, sejarah perubahan, dan struktur yang berkembang di belakangnya, kita bukan sedang menyederhanakan bahasa.
Kita sedang menyederhanakan realitas.
Yaman terlalu rumit untuk diperlakukan seperti itu.
Dan Ansarullah terlalu penting untuk terus dijelaskan hanya dengan satu nama keluarga.
-
Opini2 minggu agoUnit 4000 dan Tanjung Priok: Membaca Kritis Laporan Iran International
-
Opini1 minggu agoMenelusuri Jejak Pandu Yudhawinata dalam Laporan Iran International
-
Internasional4 minggu agoPerang Iran Menguras AS, Kerugian Intelijen Capai Miliaran Dolar
-
Internasional2 minggu agoIran Tembakkan Rudal Balistik ke Kapal Perang AS di Hormuz


