Connect with us

Opini

Saudi Mulai Kewalahan, Suriah Bergejolak — Apakah Krisis Timur Tengah Baru Dimulai?

Published

on

Ada sesuatu yang mulai berubah di Timur Tengah.

Selama beberapa bulan terakhir, perang dan eskalasi di kawasan lebih banyak terlihat sebagai persoalan militer: serangan rudal, drone, kapal yang diserang, pangkalan militer yang menjadi sasaran, serta terganggunya pelayaran di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab.

Namun kini dampaknya mulai bergerak ke daratan.

Saudi Arabia mulai menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Di Suriah, kenaikan harga bahan bakar memicu demonstrasi di sejumlah wilayah. Harga minyak dunia kembali berada di atas 100 dolar per barel. Jalur alternatif energi Saudi ikut terganggu.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar:

Apakah kita sedang melihat awal dari krisis Timur Tengah yang baru?

Bukan karena perang baru saja dimulai.

Perangnya sudah berlangsung.

Yang mungkin baru dimulai adalah fase ketika konsekuensi perang mulai memasuki kehidupan ekonomi, sosial dan politik negara-negara kawasan.

Dari Hormuz ke Bab al-Mandab

Selama ini Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling penting dalam sistem energi dunia. Ketika perang Iran dan Amerika Serikat membuat pelayaran melalui kawasan tersebut semakin sulit dan berisiko, dampaknya segera terasa pada arus energi global.

Tetapi kemudian muncul persoalan kedua.

Di selatan, perang antara Saudi Arabia dan Ansarullah di Yaman semakin berkembang. Ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah dan kawasan Bab al-Mandab kembali meningkat.

Dengan demikian, dua chokepoint strategis mulai mengalami tekanan pada waktu yang hampir bersamaan.

Hormuz di sebelah timur.

Bab al-Mandab di sebelah selatan.

Keduanya bukan sekadar titik di peta. Keduanya merupakan bagian penting dari jalur perdagangan dan energi dunia.

Dan ketika kedua jalur itu terganggu, persoalannya tidak lagi hanya menjadi persoalan Iran, Amerika Serikat, Saudi Arabia atau Yaman.

Dampaknya mulai menjadi persoalan regional dan global.

Saudi dan masalah jalur alternatif

Saudi sebenarnya memiliki salah satu instrumen penting untuk menghadapi gangguan Hormuz.

East-West Pipeline memungkinkan minyak dari wilayah timur Saudi dialihkan menuju Yanbu di Laut Merah. Dengan jalur ini, sebagian minyak dapat menuju pasar tanpa harus melewati Hormuz.

Secara strategis, inilah salah satu kartu penting Saudi ketika Hormuz terganggu.

Tetapi kemudian jalur tersebut ikut menjadi sasaran.

Serangan terhadap East-West Pipeline membuat Saudi menghadapi situasi yang sangat tidak nyaman: jalur utama terganggu, sementara salah satu jalur alternatif yang seharusnya menjadi jalan keluar juga berada dalam tekanan.

Inilah yang membuat perkembangan terbaru di Saudi jauh lebih penting daripada sekadar sebuah serangan terhadap infrastruktur minyak.

Ruang manuver Saudi mulai menyempit.

Saudi masih memiliki cadangan, kemampuan militer, infrastruktur energi dan kapasitas ekonomi yang besar. Karena itu tidak ada alasan untuk mengatakan Saudi akan runtuh atau kolaps.

Tetapi persoalannya bukan apakah Saudi masih mampu bertahan.

Pertanyaannya adalah:

berapa besar tekanan yang dapat ditanggung jika berbagai ancaman terjadi secara bersamaan dan berlangsung lama?

Saudi mulai membutuhkan bantuan

Perkembangan lainnya juga patut diperhatikan.

Reuters melaporkan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman meminta bantuan Presiden Donald Trump untuk menghadapi Ansarullah. Washington tidak mengambil langkah militer langsung, tetapi menawarkan dukungan intelijen dan targeting.

Ini merupakan perkembangan penting.

Bukan karena Saudi tidak memiliki kemampuan militernya sendiri.

Justru sebaliknya.

Saudi adalah salah satu kekuatan militer dan ekonomi terbesar di kawasan.

Tetapi ketika Riyadh mulai membutuhkan tambahan dukungan eksternal untuk menghadapi ancaman di Yaman dan Laut Merah, hal itu menunjukkan bahwa situasinya telah menjadi semakin kompleks.

Ada pula laporan mengenai upaya Saudi memperoleh dukungan intelijen melalui jalur regional dan CENTCOM, termasuk keterlibatan Israel secara tidak langsung.

Bagian ini harus dibaca dengan hati-hati karena berasal dari laporan media dan belum menjadi konfirmasi resmi yang berdiri sendiri.

Namun bahkan jika bagian tersebut kita kesampingkan, perkembangan yang sudah terkonfirmasi mengenai permintaan bantuan kepada Amerika Serikat saja sudah cukup menunjukkan bahwa tekanan terhadap Saudi semakin besar.

Dan tekanan tersebut datang bersamaan dengan persoalan energi.

Militer harus menghadapi ancaman.

Infrastruktur energi harus dilindungi.

Jalur ekspor harus dipertahankan.

Sementara Hormuz dan Bab al-Mandab sama-sama bermasalah.

Inilah yang membuat posisi Saudi semakin sulit.

Lalu krisis masuk ke Suriah

Jika Saudi menunjukkan bagaimana krisis mulai menekan negara, Suriah menunjukkan bagaimana krisis mulai dirasakan masyarakat.

Pada September, pemerintah Suriah menaikkan harga bahan bakar secara signifikan. Diesel mengalami kenaikan yang sangat besar, sementara harga bensin juga meningkat.

Tidak lama kemudian, demonstrasi muncul di sejumlah wilayah.

Laporan dari lapangan menyebut adanya aksi di Deir ez-Zor, Raqqa, Idlib, Aleppo dan Hasakah. Jalan diblokir, ban dibakar dan aktivitas transportasi terganggu.

Ini penting.

Karena persoalannya tidak lagi hanya:

“Harga BBM naik.”

Ketika kenaikan harga BBM mulai menyebabkan protes dan pemblokiran jalan, persoalan energi telah berubah menjadi persoalan sosial.

Dan di negara seperti Suriah, dampaknya bisa jauh lebih sensitif.

BBM bukan hanya bahan bakar kendaraan.

BBM menentukan biaya transportasi.

Transportasi menentukan biaya distribusi.

Distribusi menentukan harga makanan dan barang.

Dan ketika harga energi meningkat dalam masyarakat yang sudah mengalami tekanan ekonomi, kenaikan tersebut dapat menjadi pemicu ketidakpuasan yang lebih luas.

Krisis yang berasal dari laut mulai terlihat di jalan

Di sinilah hubungan antara Saudi dan Suriah menjadi menarik.

Kedua negara tidak menghadapi masalah yang sama.

Saudi menghadapi tekanan militer, keamanan dan energi.

Suriah menghadapi tekanan energi, ekonomi dan sosial.

Namun keduanya memperlihatkan gejala dari persoalan yang lebih besar.

Krisis yang awalnya terjadi di laut mulai masuk ke daratan.

Hormuz terganggu.

Bab al-Mandab semakin tidak aman.

Jalur alternatif energi Saudi ikut terkena serangan.

Harga energi meningkat.

Kemudian tekanan tersebut diterjemahkan menjadi persoalan domestik.

Di Saudi, negara harus meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman.

Di Suriah, masyarakat mulai merasakan langsung kenaikan biaya energi.

Inilah yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa kapal yang melewati sebuah selat.

Karena pada akhirnya, perang tidak berhenti pada kapal dan pelabuhan.

Perang masuk ke harga.

Harga masuk ke ekonomi.

Ekonomi masuk ke masyarakat.

Dan dari masyarakat, tekanan dapat masuk ke politik.

Jangan terlalu cepat mengatakan “krisis besar”

Namun kita juga perlu berhati-hati.

Saudi belum kolaps.

Suriah juga belum kolaps.

Demonstrasi di Suriah belum otomatis berarti pemerintah akan kehilangan kendali. Begitu pula permintaan bantuan Saudi tidak berarti kemampuan negara tersebut telah runtuh.

Menyimpulkan sejauh itu justru akan membuat analisis kehilangan ketepatan.

Yang lebih masuk akal adalah mengatakan bahwa tekanan sedang meningkat.

Dan masalah terbesar bukan tekanan yang terjadi hari ini.

Masalahnya adalah jika tekanan tersebut berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Jika Hormuz tetap sulit dilalui, pasokan energi akan terus menghadapi tekanan.

Jika Bab al-Mandab tetap tidak aman, jalur alternatif juga semakin terbatas.

Jika harga minyak terus tinggi, biaya transportasi dan produksi akan meningkat.

Jika biaya hidup meningkat, negara-negara yang ekonominya rapuh akan menghadapi tekanan sosial yang lebih besar.

Dan jika negara-negara tersebut harus sekaligus meningkatkan pengeluaran untuk keamanan, subsidi dan stabilisasi ekonomi, persoalannya menjadi semakin berat.

Saudi dan Suriah mungkin baru contoh awal

Karena itu saya tidak melihat Saudi dan Suriah sebagai dua cerita yang berdiri sendiri.

Keduanya justru dapat dibaca sebagai indikator awal.

Saudi menunjukkan tekanan pada level negara.

Suriah menunjukkan tekanan pada level masyarakat.

Dan dua negara tersebut mungkin baru merupakan contoh pertama dari dampak yang lebih luas.

Jika persoalan Hormuz dan Bab al-Mandab tidak segera diselesaikan, pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah harga minyak akan naik.

Pertanyaannya adalah:

negara mana yang berikutnya akan merasakan dampaknya?

Negara-negara Teluk memiliki kepentingan energi yang sangat besar. Mereka juga menjadi bagian dari lingkungan keamanan konflik karena keberadaan pangkalan dan fasilitas militer asing di wilayah mereka.

Eropa menghadapi persoalan pasokan dan harga energi.

Asia menghadapi risiko terhadap biaya impor minyak.

Amerika Serikat menghadapi tekanan terhadap inflasi dan kebijakan ekonominya.

Dengan kata lain, semakin lama gangguan berlangsung, semakin sulit untuk mengatakan bahwa ini hanya sebuah konflik Timur Tengah.

Dari krisis energi menjadi krisis regional

Inilah alasan saya melihat perkembangan terbaru sebagai sesuatu yang lebih serius.

Bukan karena Timur Tengah akan segera runtuh.

Bukan pula karena Saudi atau Suriah akan segera kolaps.

Tetapi karena kita mulai melihat rantai dampak yang sebelumnya belum terlihat sejelas sekarang.

Perang menghasilkan gangguan pelayaran.

Gangguan pelayaran menghasilkan tekanan energi.

Tekanan energi menghasilkan kenaikan harga.

Kenaikan harga menghasilkan tekanan ekonomi.

Tekanan ekonomi kemudian mulai menghasilkan demonstrasi dan persoalan sosial.

Jika rantai ini terus berjalan, maka krisis dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Dan pada titik tertentu, persoalannya tidak lagi hanya tentang bagaimana menghentikan perang.

Tetapi bagaimana mengembalikan sistem energi, perdagangan dan ekonomi kawasan ke kondisi normal.

Mungkin ini baru awal

Ada satu hal yang menurut saya perlu diperhatikan.

Selama ini kita sering melihat perang Timur Tengah melalui peta serangan militer.

Iran menyerang.

Amerika Serikat merespons.

Ansarullah menyerang.

Saudi membalas.

Kapal diserang.

Pangkalan menjadi sasaran.

Tetapi sekarang kita mulai melihat konsekuensi yang berbeda.

Saudi mulai mencari bantuan.

Jalur energi Saudi terganggu.

Suriah menaikkan harga BBM.

Masyarakat Suriah turun ke jalan.

Dan harga minyak dunia kembali berada di atas 100 dolar per barel.

Ini bukan berarti semuanya akan berubah menjadi krisis regional besar.

Tetapi tanda-tandanya sudah cukup untuk membuat kita bertanya:

Bagaimana jika gangguan ini berlangsung lebih lama?

Karena mungkin yang sedang kita saksikan bukan puncak krisis Timur Tengah.

Mungkin justru awal dari fase baru.

Fase ketika perang tidak lagi hanya menentukan siapa yang menguasai wilayah atau siapa yang memenangkan pertempuran.

Tetapi menentukan apakah negara-negara di kawasan mampu mempertahankan energi, ekonomi, stabilitas sosial dan keamanan mereka secara bersamaan.

Saudi dan Suriah mungkin hanya dua contoh awal.

Dan jika Hormuz serta Bab al-Mandab tetap terganggu, pertanyaannya bukan lagi apakah krisis akan berdampak ke kawasan.

Pertanyaannya adalah: seberapa jauh krisis tersebut akan menyebar?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer