Connect with us

Opini

Uang Amerika, Senjata LAF, dan Bayang Hizbullah

Published

on

Ilustrasi editorial satir tentara Lebanon menerima dana dari tangan Amerika, bayangan Hizbullah di belakangnya, dan bendera Israel di kejauhan.

Di Beirut, uang sering lebih berisik daripada bom. Setidaknya begitu bunyinya ketika Amerika Serikat kembali mengucurkan dana untuk Tentara Lebanon (LAF) sebesar $230 juta. Jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan belanja militer Tel Aviv yang didukung Pentagon, tapi cukup untuk menyalakan spekulasi: ini investasi untuk stabilitas, atau modal untuk melucuti Hizbullah? Pertanyaan ini menggantung seperti asap rokok di kafe Hamra, tebal, menyengat, dan sulit diabaikan.

Saya rasa kita semua tahu jawabannya. Amerika bukanlah dermawan yang tiba-tiba jatuh cinta pada kedaulatan Lebanon. Ia tidak memberi tanpa kalkulasi. Apalagi dalam lanskap geopolitik Timur Tengah, setiap dolar yang digelontorkan Washington selalu membawa agenda tersembunyi. Bukan bantuan, melainkan instrumen kendali. Dan kali ini, kendali itu diarahkan pada LAF, institusi militer resmi Lebanon yang kerap didorong untuk berdiri sebagai tandingan Hizbullah—organisasi yang selama puluhan tahun menjadi duri paling tajam dalam tubuh Israel.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Ironinya jelas: Hizbullah yang lahir dari invasi Israel, justru menjadi benteng yang paling efektif mencegah agresi baru. Tapi dalam narasi Washington, Hizbullah dilabeli teroris, ancaman regional, bahkan batu penghalang perdamaian. Maka, skenarionya sederhana—dan sinis. Jika tidak bisa menghancurkan Hizbullah lewat perang langsung, maka lakukan dari dalam, lewat jalur politik dan militer resmi. LAF menjadi pion dalam papan catur ini.

Dana segar yang digelontorkan AS kerap dibungkus dengan alasan klise: memperkuat keamanan nasional Lebanon, menjaga stabilitas perbatasan, dan mencegah infiltrasi kelompok bersenjata. Namun siapa yang bisa menyangkal bahwa “kelompok bersenjata” yang dimaksud sesungguhnya adalah Hizbullah? Frasa itu berfungsi sebagai eufemisme manis untuk sebuah tujuan getir: melucuti senjata perlawanan. Padahal kita tahu, tanpa senjata, Hizbullah ibarat singa yang dipaksa menjadi kucing rumahan. Hilang wibawa, mudah digilas.

Di sini absurditasnya semakin terang. LAF memang tentara resmi negara, tetapi dalam realitas politik Lebanon yang rapuh, siapa pun tahu bahwa LAF tidak punya legitimasi dan keberanian untuk benar-benar menghadapi Hizbullah. Kekuatan sosial, jaringan akar rumput, dan legitimasi resistensi Hizbullah jauh melampaui aura seragam hijau tentara. Jika dipaksa untuk bentrok, LAF berpotensi hancur dari dalam, karena sebagian besar prajuritnya berasal dari komunitas yang justru mendukung Hizbullah. Artinya, uang AS bukan hanya bom waktu untuk Hizbullah, tapi juga untuk Lebanon sendiri.

Saya teringat analogi sederhana. Bayangkan sebuah keluarga besar yang rumahnya hampir roboh. Atap bocor, lantai retak, tiang goyah. Lalu datang orang asing yang menawarkan uang, tapi dengan syarat: adikmu yang paling keras kepala harus disingkirkan dulu. Apakah ini bantuan atau manipulasi? Begitu pula dengan dana AS: ia menuntut pengorbanan, dan pengorbanan itu bukan sekadar politik, melainkan jantung pertahanan Lebanon terhadap agresi Israel.

Di balik ini, ada logika investasi geopolitik yang tak kalah sinis. Amerika butuh Israel tetap aman, bahkan jika harus mengorbankan stabilitas negara lain. Maka, LAF dipoles untuk tampil sebagai “alternatif” keamanan yang lebih ramah terhadap Washington dan Tel Aviv. Narasinya: Lebanon tidak butuh Hizbullah, karena ada tentara nasional yang kini lebih kuat berkat bantuan luar negeri. Tapi kita semua tahu, itu sekadar ilusi. LAF bisa mendapat pelatihan, senjata ringan, dan kendaraan tempur. Namun tanpa legitimasi rakyat dan sejarah perlawanan, mereka hanyalah bayangan yang rapuh.

Pertanyaan yang layak diajukan: apakah LAF benar-benar mau atau mampu menantang Hizbullah? Saya rasa tidak. Bahkan, sebagian elit politik Lebanon hanya memainkan isu ini sebagai kartu tawar untuk mendapatkan lebih banyak dana internasional. Jadi yang terjadi bukanlah konfrontasi nyata, melainkan tarian panjang penuh sandiwara, di mana Washington tetap mengucurkan dana, Tel Aviv merasa lebih aman, dan elit Beirut tetap menegosiasikan posisinya. Korbannya? Rakyat Lebanon yang terus hidup dalam krisis ekonomi, tanpa listrik, tanpa bahan bakar, sementara “keamanan” mereka dijadikan alasan dagang.

Saya ingin menekankan ironi ini. Ketika AS menyebut bantuan untuk LAF sebagai investasi stabilitas, sesungguhnya ia sedang membeli kesempatan untuk melemahkan Hizbullah. Tetapi melemahkan Hizbullah bukanlah proyek teknis; ia adalah upaya membongkar keseimbangan politik yang sudah terbentuk selama puluhan tahun. Dan setiap upaya membongkar keseimbangan itu, justru berisiko menciptakan kekacauan baru. Apakah Washington peduli? Sejarah Irak, Suriah, bahkan Afghanistan menjawab pertanyaan itu.

Kita, yang menyaksikan dari jauh, tentu bisa melihat benang merahnya. Semua ini adalah tentang Israel. Tentang obsesinya menyingkirkan satu-satunya kekuatan yang bisa benar-benar melawan di perbatasan utara. Tentang kegelisahan yang tak kunjung reda, meski punya teknologi militer mutakhir dan dukungan superpower. Dan tentang bagaimana Lebanon, dengan segala rapuhnya, dijadikan papan catur tempat strategi besar dimainkan.

Saya kira, membaca kucuran dana AS untuk LAF tidak bisa dilepaskan dari logika ini. Itu bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Itu adalah bahasa lain dari dominasi, instrumen untuk mengubah peta politik, sekaligus perang dingin dalam skala mikro. Membaca dana itu berarti membaca niat di baliknya: melucuti senjata Hizbullah, melemahkan daya tawar rakyat Lebanon, dan memberi Israel ruang bernapas lebih lega.

Apakah akan berhasil? Sejarah berkata lain. Hizbullah bukan sekadar kelompok bersenjata. Ia adalah ide, simbol resistensi, dan jaringan sosial yang melekat dalam denyut nadi sebagian rakyat Lebanon. Senjata bisa disita, tapi ingatan kolektif tidak bisa dibunuh. Dan di sinilah letak kontradiksi terbesar strategi Washington. Ia ingin menghancurkan sesuatu yang tak bisa dihancurkan dengan uang atau senjata.

Pada akhirnya, kita diingatkan pada sebuah pelajaran sederhana: tidak semua yang terlihat seperti bantuan, benar-benar tulus membantu. Ada kalanya uang datang dengan racun. Dan dana untuk LAF adalah contoh paling mutakhir dari racun yang dibungkus dengan kata “stabilitas.” Saya rasa, rakyat Lebanon sudah cukup kenyang dengan racun semacam itu.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Surat Terbuka Hizbullah dan Pelanggaran Israel

  2. Pingback: Perlakuan Dunia Internasional atas Hizbullah Lebanon

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer