Connect with us

Opini

Retaknya Teluk Saat Solidaritas Arab Dijual

Published

on

Peta Timur Tengah dengan simbol retaknya hubungan negara Teluk

Lampu-lampu Dubai masih menyala terang seperti biasa. Gedung pencakar langit tetap memantulkan kemewahan yang nyaris terasa seperti hologram di tengah gurun. Turis berdatangan, investor bersulang, dan layar-layar raksasa terus menjual mimpi tentang masa depan Arab yang modern, stabil, dan kosmopolitan. Tetapi di balik cahaya itu, ada sesuatu yang mulai retak perlahan. Sunyi. Dingin. Dan justru karena retaknya berlangsung tanpa ledakan, banyak orang gagal menyadari bahwa dunia Arab sedang menyaksikan pembusukan solidaritasnya sendiri.

Keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OAPEC bukan sekadar urusan minyak. Saya rasa justru di situlah masalahnya: dunia terlalu sering menganggap politik energi Timur Tengah cuma soal barel, kuota produksi, dan harga pasar. Padahal minyak di kawasan Arab selalu lebih dari komoditas. Ia pernah menjadi simbol harga diri, alat tekanan geopolitik, bahkan semacam bahasa persatuan yang mampu membuat Barat gemetar pada era embargo minyak 1973. Hari ini, bahasa itu seperti kehilangan lidahnya sendiri.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan yang menyebut UEA meninggalkan Organization of Arab Petroleum Exporting Countries memperlihatkan satu hal yang telanjang: solidaritas Arab kini kalah oleh ambisi nasional masing-masing negara. Dan ironi itu terasa pahit sekali. Dulu negara-negara Arab membangun organisasi energi untuk melawan dominasi Barat. Sekarang sebagian elite Arab justru berlomba menjadi mitra paling loyal bagi sistem global yang dulu mereka lawan.

Inilah paradoks Timur Tengah modern. Mereka kaya raya, tetapi gelisah. Mereka tampak berdaulat, tetapi keamanan mereka disewa dari Washington. Mereka berbicara tentang masa depan Arab, tetapi arah kompas geopolitiknya semakin condong ke Tel Aviv dan pusat-pusat kekuatan Barat. Kadang saya merasa kawasan ini seperti mal mewah yang dibangun di atas pasir yang terus bergerak. Indah. Canggih. Tapi rapuh.

Keluarnya UEA dari OAPEC juga memperlihatkan retaknya hubungan negara-negara Teluk secara lebih dalam. Bukan retak yang terlihat di televisi seperti perang terbuka atau pidato marah antarpemimpin, melainkan retak yang lebih modern: kompetisi ekonomi, perebutan pengaruh, dan perang diam-diam memperebutkan masa depan pasca-minyak. Ini jauh lebih berbahaya karena dibungkus dengan senyum diplomatik dan konferensi investasi.

Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya Gulf Cooperation Council atau GCC adalah simbol kesatuan Teluk. Tetapi kita semua tahu, bahkan di meja makan keluarga pun, senyum belum tentu berarti akur. Qatar pernah diblokade. Oman sering memilih netral. Bahrain sangat bergantung pada Saudi. Dan kini UEA bergerak semakin independen, bahkan dalam isu energi yang dulu dianggap jantung solidaritas Arab.

Di titik ini, persaingan antara Arab Saudi dan UEA mulai terlihat semakin terang. Dua negara ini dulunya tampak seperti sekutu strategis yang berjalan seirama menghadapi Iran, mengintervensi Yaman, dan menjaga stabilitas kawasan. Namun sekarang keduanya seperti dua saudara kaya yang tinggal serumah tetapi diam-diam saling berebut warisan.

Saudi ingin menjadi pusat gravitasi Timur Tengah lewat Vision 2030 dan proyek raksasa seperti NEOM. UEA, terutama Dubai dan Abu Dhabi, sudah lebih dulu menikmati posisi sebagai pusat perdagangan, investasi, dan logistik kawasan. Maka benturan itu nyaris tak terhindarkan. Riyadh ingin perusahaan global pindah ke Saudi. Dubai tak ingin kehilangan mahkota. Saudi ingin mengendalikan harga minyak lewat disiplin OPEC. UEA ingin memproduksi lebih banyak sebelum dunia benar-benar meninggalkan energi fosil.

Dan di balik semua itu, ada bayangan Amerika Serikat dan Israel yang tak bisa diabaikan.

Saya rasa terlalu naif jika melihat keputusan geopolitik UEA sebagai murni langkah ekonomi independen. Negara itu sangat bergantung pada payung keamanan Amerika. Infrastruktur mewahnya, pelabuhannya, pusat keuangannya, bahkan stabilitas investasinya berdiri di atas jaminan keamanan Washington. Serangan drone Houthi beberapa tahun lalu sudah cukup menunjukkan betapa rapuh “surga bisnis” Teluk ketika perang benar-benar mengetuk pintu.

Karena itu, kedekatan UEA dengan Israel bukan kebetulan kecil. Abraham Accords bukan sekadar normalisasi diplomatik. Ia adalah tanda perubahan arah sejarah Timur Tengah. Dulu solidaritas Arab dibangun di atas isu Palestina. Sekarang sebagian elite Arab justru membangun aliansi keamanan dan teknologi bersama Israel sambil tetap berbicara tentang “dukungan bagi rakyat Palestina” dalam konferensi pers yang terdengar makin formal dan hampa.

Ironis sekali. Negara-negara Arab dulu menggunakan minyak sebagai alat menekan Barat demi Palestina. Kini sebagian dari mereka justru berlomba menjadi mitra strategis Barat dan Tel Aviv. Sejarah seperti dipelintir pelan-pelan sampai kehilangan bentuk aslinya.

Kata kunci “retaknya hubungan negara Teluk” menjadi semakin relevan ketika kita melihat bagaimana kawasan ini berubah dari blok solidaritas menjadi arena kompetisi. Ini bukan lagi soal Arab versus Israel seperti dekade 1970-an atau 1980-an. Ini tentang siapa yang akan menjadi pusat kekuasaan baru di Timur Tengah. Saudi atau UEA. Riyadh atau Abu Dhabi. Bahkan mungkin nanti akan muncul poros-poros informal baru yang tidak diumumkan secara resmi tetapi terasa nyata dalam praktik geopolitik sehari-hari.

UEA tampaknya sedang membangun blok pragmatis berbasis teknologi, investasi, dan kedekatan dengan Barat serta Israel. Saudi mencoba mempertahankan posisi tradisionalnya sebagai pemimpin dunia Arab dan pusat ekonomi baru kawasan. Qatar bermain lewat diplomasi dan media. Oman tetap hati-hati. Kawasan Teluk perlahan berubah menjadi papan catur yang setiap bidaknya bergerak untuk kepentingannya sendiri.

Dan yang paling menyedihkan, rakyat biasa mungkin tak pernah benar-benar menjadi prioritas.

Seperti biasa, elite berbicara tentang transformasi ekonomi, diversifikasi, dan masa depan. Tetapi di banyak negeri Arab, anak muda masih menghadapi pengangguran, harga hidup naik, dan kecemasan tentang masa depan. Kita di Indonesia mungkin akrab dengan situasi seperti ini. Gedung-gedung tinggi berdiri megah, tetapi rakyat kecil tetap sibuk menghitung harga beras dan cicilan motor. Modernitas sering kali hanya menjadi dekorasi yang menutupi ketimpangan.

Begitu pula di Timur Tengah. Ada absurditas yang terasa mengganggu ketika negara-negara Teluk berbicara tentang kecerdasan buatan, kota futuristik, dan wisata luar angkasa, sementara kawasan mereka sendiri belum selesai dengan perang, pengungsi, dan ketegangan sektarian. Seolah-olah masa depan ingin dibangun tanpa menyelesaikan luka masa lalu.

Retaknya hubungan negara Teluk juga menunjukkan bahwa Pan-Arabisme kini hampir tinggal nostalgia. Dulu identitas Arab dianggap cukup kuat untuk menyatukan kepentingan politik dan ekonomi. Sekarang nasionalisme ekonomi jauh lebih dominan. Masing-masing negara sibuk menyelamatkan dirinya sendiri sebelum era minyak benar-benar berakhir.

Dan memang, ketakutan terbesar mereka sebenarnya sederhana: dunia mungkin tak lagi membutuhkan minyak seperti dulu.

Karena itu mereka berlomba secepat mungkin. Saudi membangun kota futuristik. UEA memperkuat sektor finansial dan teknologi. Qatar menguasai gas alam. Semua ingin menjadi pemain penting dalam ekonomi global baru. Solidaritas? Itu terdengar bagus dalam pidato, tetapi kurang berguna dalam kompetisi investasi triliunan dolar.

Saya rasa inilah inti tragedinya. Dunia Arab perlahan kehilangan proyek kolektifnya. Tidak ada lagi visi besar bersama selain mempertahankan stabilitas rezim dan menarik modal asing. Bahkan isu Palestina yang dulu menjadi perekat emosional kini sering terdengar seperti formalitas diplomatik yang dibacakan setengah hati.

Keluarnya UEA dari OAPEC hanyalah gejala kecil dari perubahan yang lebih besar. Ia menandai era baru Timur Tengah: era ketika negara-negara Teluk lebih sibuk bersaing satu sama lain daripada membangun kekuatan bersama. Dan mungkin, di mata Washington maupun Tel Aviv, situasi seperti ini justru jauh lebih nyaman. Dunia Arab yang terfragmentasi tentu lebih mudah dikelola daripada dunia Arab yang bersatu.

Tetapi sejarah punya cara aneh untuk mempermalukan kesombongan zaman. Kawasan yang tampak stabil bisa tiba-tiba berguncang. Aliansi yang terlihat kokoh bisa runtuh dalam semalam. Kita pernah melihat itu berkali-kali di Timur Tengah. Karena di kawasan ini, kemewahan sering berjalan berdampingan dengan kecemasan, dan gedung tertinggi kadang hanya menjadi monumen paling mahal bagi rasa takut yang tak pernah selesai.

Pada akhirnya, retaknya hubungan negara Teluk bukan sekadar cerita tentang minyak atau organisasi regional. Ini adalah cerita tentang dunia Arab yang sedang kehilangan makna persatuannya sendiri. Dan ketika solidaritas berubah menjadi transaksi, ketika prinsip diganti kalkulasi bisnis, dan ketika keamanan nasional bergantung pada kekuatan asing, maka mungkin yang tersisa hanyalah kemewahan tanpa kedaulatan.

Terlihat megah dari jauh. Tetapi kosong di dalam.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer