Opini
Payung Amerika Robek, Teluk Mulai Saling Menjauh
Ada sesuatu yang ganjil dalam politik Timur Tengah hari-hari ini. Ganjil, tapi juga ironis. Bayangkan sekelompok orang berteduh di bawah satu payung besar saat hujan deras. Selama bertahun-tahun mereka berdiri rapat. Kadang saling sikut, kadang saling curiga, kadang diam-diam kesal satu sama lain, tetapi mereka tetap berdiri bersama karena hujannya lebih menakutkan daripada pertengkaran mereka sendiri. Lalu perlahan payung itu robek. Tidak langsung sobek besar. Mula-mula hanya celah kecil. Lalu tetesan air mulai jatuh. Satu orang bergeser. Yang lain ikut mundur. Hingga akhirnya semua mulai mencari posisi aman sendiri-sendiri. Saya rasa itulah yang sedang terjadi di Teluk hari ini.
Laporan terbaru yang menyebut bahwa UEA mengusulkan serangan bersama terhadap Iran tetapi ditolak negara-negara Teluk lain membuka ironi yang jauh lebih besar dibanding isu perang itu sendiri. Selama ini dunia terbiasa melihat kawasan Teluk dalam peta sederhana: ada Iran di satu sisi, ada blok Arab di sisi lain. Selesai. Seolah kawasan ini adalah pertandingan sepak bola dengan dua kubu jelas dan papan skor yang mudah dibaca. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Bahkan mungkin sejak dulu kita membaca peta yang salah.
Yang menarik, bukan sekadar negara-negara Teluk menolak. Yang lebih menarik justru siapa yang mengajak. UEA. Di titik inilah satir geopolitik mulai bekerja dengan tenang. Sebab beberapa waktu sebelumnya UEA mengambil langkah yang dianggap memperlebar jarak dengan Saudi melalui kebijakan energi dan arah kepentingan yang makin berbeda. Dengan kata lain, baru saja meninggalkan rombongan, lalu mendadak mengajak rombongan itu berperang bersama. Lucu juga. Sedikit seperti teman yang keluar dari grup keluarga karena merasa sudah tak cocok, lalu seminggu kemudian mengirim pesan: “Teman-teman, saya lagi ada masalah besar. Tolong kompak ya.”
Kita semua tahu kehidupan sehari-hari punya logikanya sendiri. Kalau seseorang meninggalkan kita saat urusan nyaman, lalu datang saat urusan susah, respons pertama biasanya bukan empati. Respons pertama biasanya curiga. Dan politik internasional tidak lebih romantis dari kehidupan biasa. Bahkan sering lebih sinis.
Saudi secara teoritis bisa saja menjawab: kalau saat kepentingan ekonomi Anda memilih jalan sendiri, mengapa saat ancaman datang solidaritas mendadak menjadi penting? Ini pertanyaan yang terdengar emosional, tetapi sesungguhnya sangat strategis. Sebab dalam geopolitik, negara juga punya ingatan. Negara menyimpan catatan. Mereka tidak lupa siapa yang pergi lebih dulu.
Namun di titik ini saya rasa persoalannya bukan semata UEA dan Saudi. Persoalan yang lebih besar sedang muncul di depan mata: negara-negara Teluk kini tampak memiliki kebijakan masing-masing menghadapi Iran. Dan itu penting. Sangat penting.
Dulu ancaman Iran adalah lem perekat. Hari ini ancaman Iran justru seperti lampu sorot yang memperlihatkan retakan yang selama ini tersembunyi. Qatar punya pendekatannya sendiri. Oman punya jalur diplomatiknya sendiri. Saudi mulai berhitung dengan cara berbeda. UEA bergerak dengan ritmenya sendiri. Iran tetap dipandang sebagai ancaman oleh banyak pihak, tetapi resep menghadapi ancaman itu tidak lagi sama.
Dan di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih besar sedang runtuh. Bukan GCC. Bukan semata hubungan negara-negara Teluk. Yang sedang goyah adalah arsitektur keamanan Teluk itu sendiri.
Selama puluhan tahun rumus kawasan ini cukup sederhana. Amerika memberi perlindungan. Negara-negara Teluk memberi akses strategis. Iran menjadi ancaman bersama. Semua orang memahami perannya masing-masing. Amerika berdiri sebagai dirigen besar. Negara Teluk memainkan alat musiknya masing-masing, tetapi masih mengikuti nada yang sama.
Sekarang nada itu terdengar kacau.
Bukan berarti Amerika pergi. Ini yang sering disalahpahami. Pangkalan militer masih ada. Armada masih ada. Kehadiran keamanan masih besar. Tetapi kekuatan politik tidak selalu soal jumlah kapal perang. Politik juga soal persepsi. Soal keyakinan. Dan saya rasa keyakinan itulah yang mulai terkikis.
Sebab negara-negara Teluk mulai bertanya satu pertanyaan sederhana: jika konflik besar pecah besok pagi, apakah Amerika masih akan bertindak seperti dulu?
Pertanyaan itu terdengar sepele. Padahal tidak. Sebab seluruh bangunan keamanan kawasan dibangun di atas jawaban atas pertanyaan tersebut.
Jika jawabannya mulai kabur, negara akan mulai membawa payung sendiri.
Dan itulah yang tampaknya sedang terjadi. Masing-masing negara Teluk mulai membuat jalur pengamannya sendiri. Seperti warga kompleks yang dulu mengandalkan satu satpam, lalu karena mulai tidak yakin, mereka memasang pagar sendiri, kamera sendiri, alarm sendiri. Akibatnya lucu. Kompleks terlihat lebih ramai oleh alat keamanan, tetapi rasa aman kolektif justru mengecil.
Maka ketika UEA menawarkan serangan bersama terhadap Iran, saya rasa itu bukan semata ajakan perang. Itu bisa dibaca sebagai sinyal kecemasan. Kalimat tersembunyinya mungkin sederhana: “Kalau ancaman ini mengenai saya, mengapa saya harus menanggungnya sendiri?”
Kalimat itu menarik. Tetapi Saudi mungkin bisa menjawab dengan dingin: “Kalau Anda saja meninggalkan kami, mengapa saat Anda kesulitan kami harus membantu?”
Di sinilah ironi bekerja dengan sempurna.
Sebab UEA tampaknya mengajak bersatu justru saat gagasan tentang kebersamaan Teluk sedang kehilangan maknanya. Solidaritas kawasan menjadi penting justru ketika solidaritas itu sendiri mulai menipis.
Lalu muncul pertanyaan lain yang jauh lebih mengganggu. Mengapa UEA melakukan itu? Dan saya rasa ada kemungkinan yang layak dipikirkan: mungkin UEA sedang mencoba menjadi kepanjangan tangan Amerika.
Atau lebih tepatnya, mengisi ruang kosong yang mulai ditinggalkan Amerika.
Ini berbeda. Sangat berbeda.
Kepanjangan tangan berarti menjalankan kehendak pihak lain. Tetapi mengisi ruang kosong berarti melihat ada kursi yang mulai ditinggalkan, lalu mencoba duduk di sana. Dan saya rasa UEA beberapa tahun terakhir memang bergerak seperti negara yang ukurannya lebih besar daripada geografisnya. Aktif secara militer. Aktif secara diplomatik. Bergerak cepat. Kadang terlalu cepat.
Masalahnya, menjadi pemain besar bukan sekadar soal keberanian. Menjadi pemain besar juga soal legitimasi. Soal apakah negara lain bersedia mengikuti.
Dan di titik ini saya rasa masalah mulai muncul.
Sebab UEA mungkin merasa dirinya mengangkat tongkat konduktor. Tetapi negara lain menoleh dan bertanya pelan: sejak kapan Anda memimpin?
Saya kira kita sering salah membaca Timur Tengah. Kita membayangkan negara bergerak berdasarkan persahabatan. Berdasarkan solidaritas agama. Berdasarkan kedekatan sejarah. Padahal politik kawasan sering bekerja seperti pasar tradisional. Orang bisa minum kopi bersama pagi hari, tertawa bersama siang hari, lalu bersaing keras sore hari. Tidak ada permusuhan permanen. Tidak ada persahabatan abadi. Yang ada kepentingan.
Dan kepentingan negara Teluk kini semakin berbeda.
Di Indonesia, kita mungkin mengenal fenomena serupa dalam skala kecil. Ketika ada acara kampung, semua orang terlihat kompak saat foto bersama. Tetapi begitu urusan iuran muncul, urusan keamanan muncul, urusan siapa menanggung biaya muncul, tiba-tiba pendapat mulai pecah. Semua sepakat selama belum menyentuh kepentingan masing-masing.
Timur Tengah mungkin sedang mengalami versi geopolitiknya.
Maka saya rasa laporan ini bukan terutama tentang Iran. Bukan pula soal UEA. Bahkan bukan soal Saudi.
Ini tentang satu kenyataan yang mulai sulit disembunyikan: payung besar yang selama ini menyatukan Teluk mulai robek.
Dan ketika payung robek, orang tidak lagi sibuk melihat hujan. Mereka mulai saling melihat satu sama lain.
Di situlah masalah sesungguhnya dimulai.
