Connect with us

Opini

Amerika dan Suriah: Persetubuhan Baru di Bayang Teror

Published

on

Ilustrasi editorial memperlihatkan diplomat AS dan pemimpin Suriah berjabat tangan, dengan bayangan mereka menyerupai dua militan bersenjata.

Ada kalimat yang tampaknya biasa, tapi menyimpan absurditas besar di baliknya: “Syria is back to our side.” Kalimat itu keluar dari mulut utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, dan sekilas terdengar seperti pengumuman diplomatik yang penuh kemenangan. Namun jika kita tahu siapa yang kini memimpin Suriah—mantan komandan ISIS bernama Ahmad al-Sharaa—maka kalimat itu berubah menjadi ironi paling getir dalam politik global hari ini. Amerika, sang kampiun perang melawan teror, kini merangkul tangan yang dulu berlumur darah dari kelompok yang mereka sendiri cap sebagai “musuh peradaban.” Dunia, tampaknya, sedang bercermin di cermin retak moralnya sendiri.

Kita pernah mendengar jargon itu berkali-kali: the war on terror. Tapi kini, di bawah sinar mentari yang semakin sinis, jargon itu berubah jadi parodi. Amerika dan Suriah disebut melakukan operasi gabungan melawan ISIS di pinggiran Damaskus. Targetnya? Seorang anggota ISIS bernama Ahmed Abdullah al-Badri. Tapi belakangan terungkap, Badri bukanlah “buronan teroris” seperti narasi resmi, melainkan tokoh yang akrab dengan pejabat pemerintahan Sharaa, bahkan pernah menjamu gubernur Damaskus di rumahnya. Jika ini bukan sandiwara politik, lalu apa? Dunia menyaksikan pertunjukan lama dengan pemeran baru—bedanya kini, sang dalang tak lagi repot bersembunyi di balik tirai moralitas.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa kita semua sudah lelah dengan drama semacam ini. Dari Afghanistan hingga Libya, dari Irak hingga Suriah, Amerika selalu datang membawa bendera demokrasi, lalu pergi meninggalkan reruntuhan, dan kini kembali dengan bahasa yang sama tapi wajah yang berbeda. Di Damaskus, wajah itu bernama Ahmad al-Sharaa, mantan pemimpin Nusra Front, cabang Al-Qaeda yang dulu mereka bom tanpa ampun. Dan kini, rezimnya disebut “sekutu strategis.” Ironi ini begitu sempurna hingga tampak seperti karya seni yang jahat—lukisan geopolitik yang digambar dengan tinta kemunafikan.

Mari kita runut sedikit. Laporan The Cradle menyebut bahwa sejak Desember tahun lalu, pemerintahan baru Suriah telah melakukan beberapa operasi palsu melawan ISIS—sebuah pola klasik untuk membangun legitimasi. Bahkan ada kasus pengeboman gereja Mar Elias yang menewaskan 25 jemaat, di mana pelaku sejatinya adalah anggota dinas keamanan rezim Sharaa sendiri. Namun propaganda tetap menyebut ISIS sebagai dalang. Tujuannya sederhana: menciptakan musuh imajiner agar dunia kembali memeluk “pemerintah baru” itu sebagai mitra dalam perang melawan teror. Sebuah strategi lama yang diulang dengan kemasan baru.

Kita tidak sedang bicara tentang sekadar manipulasi berita. Ini adalah proyek sistematis untuk menulis ulang narasi sejarah. Ketika eks pendiri Al-Qaeda di Suriah, Saleh al-Hamwi, mengaku bahwa serangan itu sengaja direkayasa untuk memancing simpati internasional, maka tirai sandiwara pun robek. Pemerintah yang katanya “membasmi teror” justru menciptakan teror itu sendiri untuk mendapatkan pengakuan. Di sinilah absurditas mencapai puncaknya: terorisme berubah dari musuh menjadi komoditas politik yang bisa diperdagangkan di meja diplomasi.

Amerika tentu bukan pemain baru dalam bisnis kegelapan ini. Sejak operasi CIA “Timber Sycamore” diluncurkan pada 2011, Washington bersama Israel dan sekutu Arabnya menyalurkan senjata dan dana kepada kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Tujuannya jelas: menggulingkan Bashar al-Assad karena ia dianggap terlalu dekat dengan Iran dan Hizbullah. Kini, setelah Assad tumbang dan digantikan oleh mantan musuh mereka sendiri, Amerika berlagak seperti pahlawan yang berhasil menegakkan “stabilitas.” Betapa licin istilah itu. Stabilitas, bagi mereka, berarti tunduk pada kepentingan Washington.

Dan Israel, tentu saja, berdiri di balik layar dengan senyum lebar. Netanyahu bahkan mengaku bahwa naiknya Sharaa adalah “hasil langsung dari pukulan terhadap Iran dan Hizbullah.” Artinya, semua ini bukan tentang Suriah, bukan tentang rakyat, bukan tentang perdamaian. Ini tentang memastikan bahwa tidak ada lagi negara di sekitar Palestina yang berani menantang hegemoni Tel Aviv. Bagi mereka, mengganti Assad dengan mantan jihadis jauh lebih menguntungkan daripada berurusan dengan pemimpin yang punya pendirian anti-zionis. Dunia pun kembali membiarkan racun geopolitik itu mengalir tanpa perlawanan berarti.

Ada sesuatu yang getir dalam semua ini. Seolah kita sedang menyaksikan pentas teater yang penontonnya sudah tahu akhir cerita, tapi tetap duduk diam karena tak punya pilihan. Dunia Barat berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan, tapi di belakang panggung mereka merangkul para algojo. Mereka mengutuk ekstremisme, tapi menandatangani kontrak dengan eks-komandan ISIS. Mereka menyebut diri pelindung peradaban, tapi membiarkan gereja dibom hanya demi permainan opini publik. Inilah paradoks yang membuat kata “moral” kehilangan makna.

Bagi kita di Indonesia, absurditas ini tak sepenuhnya jauh. Bukankah kita juga sering melihat bagaimana istilah “teroris” bisa berubah makna tergantung siapa yang mengucapkannya? Di negeri ini pun, politik sering kali lebih lincah dari moral. Maka pelajaran dari Suriah seharusnya menjadi peringatan: ketika kekuasaan dibiarkan menulis ulang kebenaran, rakyat akan selalu menjadi korban bab berikutnya.

Yang paling menyakitkan dari laporan itu bukan sekadar pengkhianatan terhadap logika perang melawan teror, tapi pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Amerika tahu siapa yang mereka ajak bekerja sama. Mereka tahu bahwa Ahmad al-Sharaa bukan tokoh reformis, tapi mantan pemimpin kelompok yang memenggal kepala orang dengan kamera berputar. Namun karena kepentingan lebih kuat dari nurani, mereka menutup mata. Dunia pun kembali mengulang kesalahan: menukar darah dengan stabilitas, menukar kebenaran dengan kekuasaan.

Saya tak tahu apakah sejarah masih punya ruang untuk ironi yang lebih besar dari ini. Amerika memerangi ISIS selama satu dekade, menghabiskan miliaran dolar, menewaskan ribuan warga sipil, dan kini justru bersekutu dengan eks-pemimpinnya. Barangkali inilah babak baru dari teater yang tak pernah benar-benar berakhir—teater yang menegaskan bahwa dalam politik global, musuh sejati bukan terorisme, tapi kehilangan rasa malu.

Dan mungkin, di situlah letak tragedinya. Karena ketika dunia mulai terbiasa dengan kemunafikan, maka kita semua menjadi bagian dari kebisuan yang memberi izin pada kejahatan untuk berganti kostum dan naik lagi ke panggung.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer