Internasional
Harga Minyak Naik di Tengah Memanasnya Konflik Iran-AS
JAKARTA — Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen pada Senin (31/8/2026) setelah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas di sekitar Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS melancarkan serangan terhadap peluncur roket Iran di sebuah pulau kecil di Selat Hormuz. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan menyerang sejumlah sasaran militer AS di Yordania.
Perkembangan itu menghidupkan kembali kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia, dengan sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas global melewati kawasan tersebut.
Menurut laporan Euronews, harga kedua kontrak minyak mentah utama naik lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat turun sepanjang sebagian besar pekan sebelumnya karena kekhawatiran terhadap konflik mulai mereda.
Namun, serangan terbaru AS dan respons Iran membuat premi risiko geopolitik kembali masuk ke pasar minyak.
“Selat Hormuz sekali lagi mengancam menjadi penopang harga minyak, sementara Warsh membatasi seberapa besar kesabaran pasar terhadap inflasi dari Federal Reserve,” kata Stephen Innes dari Quintex Intel, seperti dikutip Euronews.
Innes menilai perkembangan terbaru menjadi pengingat bagi pelaku pasar minyak bahwa premi risiko geopolitik dapat kembali dengan cepat ketika situasi keamanan di kawasan memburuk.
Sebelumnya, kondisi arus fisik minyak melalui Selat Hormuz disebut telah membaik dibandingkan titik terburuk selama konflik. Perbaikan tersebut membuat harga minyak mulai kehilangan sebagian premi risiko yang sebelumnya terbentuk akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
Akan tetapi, eskalasi terbaru menunjukkan bahwa pemulihan arus perdagangan melalui jalur tersebut masih sangat rentan.
Situasi ini menjadi semakin penting bagi pasar karena Amerika Serikat sebelumnya berupaya menekan Iran secara ekonomi agar membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, konflik Iran-AS yang telah berlangsung selama enam bulan belum menunjukkan tanda penyelesaian yang jelas, sementara upaya perdamaian disebut belum menghasilkan kemajuan berarti.
Kenaikan harga minyak juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga AS.
Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam pidatonya pada simposium Jackson Hole mengatakan inflasi AS masih menjadi perhatian utama. Inflasi saat ini berada di level 3,7 persen, hampir dua kali lipat dari target The Fed sebesar 2 persen.
Warsh juga menilai kondisi keuangan saat ini belum dapat disebut cukup ketat untuk menekan inflasi. Pernyataan tersebut meningkatkan spekulasi bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga dalam pertemuan mendatang.
Meski demikian, Warsh tidak secara langsung mengatakan bahwa dirinya akan mendukung kenaikan suku bunga. Ia menegaskan bahwa dirinya berpegang pada disiplin kebijakan, bukan keputusan yang telah ditetapkan.
Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar keuangan. Tiga indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan Jumat. Imbal hasil obligasi Treasury AS jangka pendek meningkat, sementara dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Harga emas yang biasanya mendapat keuntungan dari suku bunga lebih rendah juga turun.
Tekanan kemudian menjalar ke pasar saham Asia. Bursa Tokyo, Seoul, Hong Kong, Shanghai, Taipei, dan Jakarta tercatat melemah pada Senin. Saham-saham teknologi menjadi salah satu kelompok yang paling tertekan karena perusahaan teknologi sangat bergantung pada pembiayaan untuk mendukung investasi, termasuk investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI).
Pelaku pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat dalam dua pekan ke depan untuk memperkirakan langkah The Fed berikutnya.
Data ketenagakerjaan AS akan menjadi perhatian pada pekan ini, disusul data indeks harga konsumen (CPI) pada pekan depan. Data inflasi tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS.
Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi dua tekanan sekaligus. Dari sisi geopolitik, eskalasi Iran-AS meningkatkan risiko gangguan pasokan dan pelayaran melalui Selat Hormuz. Sementara dari sisi moneter, potensi kenaikan suku bunga AS dapat menekan permintaan dan aktivitas ekonomi global.
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat pergerakan harga minyak dan pasar keuangan global diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah serta data ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa pekan mendatang.
-
Opini1 minggu agoUnit 4000 dan Tanjung Priok: Membaca Kritis Laporan Iran International
-
Opini1 minggu agoMenelusuri Jejak Pandu Yudhawinata dalam Laporan Iran International
-
Internasional4 minggu agoPerang Iran Menguras AS, Kerugian Intelijen Capai Miliaran Dolar
-
Internasional3 hari agoAnsarullah Bantah Targetkan Mekah, Abdul-Malik al-Houthi Ancam Balasan


