Opini
AS Terjebak di Iran, Dunia Drastis Berubah Total
Ada kegelisahan yang aneh dalam setiap perang besar. Bukan suara rudal. Bukan ledakan. Bukan gambar asap hitam yang memenuhi layar televisi. Yang paling mengganggu justru sesuatu yang lebih sunyi: ketika kenyataan di lapangan berubah, tetapi cara berpikir para pengambil keputusan tetap membeku seperti patung tua yang dibiarkan berdiri di tengah kota. Dunia bergerak. Medan berubah. Lawan belajar. Namun peta yang dipakai tetap peta lama. Dan saya rasa, absurditas itulah yang kini sedang terjadi dalam konflik Amerika Serikat dan Iran.
Laporan terbaru yang menjadi dasar perdebatan ini menunjukkan sesuatu yang nyaris ironis. Setelah perang panjang, eskalasi militer, serangan besar, ancaman beruntun, hingga gejolak Selat Hormuz yang mengguncang energi dunia, tuntutan Amerika terhadap Iran ternyata nyaris tidak berubah dari daftar lama yang pernah muncul dalam negosiasi sebelumnya. Di situ keganjilan mulai muncul. Sebab jika setelah perang, rudal, krisis global, dan biaya ekonomi yang sangat besar posisi tuntutan tetap sama, lalu apa sebenarnya fungsi perang itu? Apa yang berubah? Atau jangan-jangan, tak ada yang berubah selain jumlah puing dan panjang daftar korban.
Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih besar daripada sekadar kebuntuan diplomatik. Persoalannya bukan lagi apakah tuntutan AS terhadap Iran realistis atau tidak. Persoalannya adalah apakah Washington masih mampu membedakan antara harapan dan fakta. Karena dua hal itu sering kali terlihat mirip dari jauh, tetapi sangat berbeda ketika diuji oleh kenyataan.
Saya rasa kita perlu jujur. Selama puluhan tahun, Amerika memiliki pengalaman panjang sebagai negara adidaya. Mereka terbiasa hidup dalam keyakinan bahwa kombinasi tekanan ekonomi, superioritas militer, isolasi diplomatik, dan ancaman keamanan pada akhirnya akan menghasilkan perubahan perilaku. Rumusnya sederhana. Tekan. Tunggu. Lawan melemah. Lawan menyerah. Selesai.
Di atas kertas, rumus itu terdengar rapi. Sangat rapi. Seperti resep mie instan geopolitik: rebus tekanan lima menit, tambahkan sanksi secukupnya, lalu tunggu perubahan rezim matang sempurna. Masalahnya, dunia bukan dapur instan. Dan Iran bukan mie cup.
Iran tahun 2026 bukan Iran yang sama seperti dekade-dekade sebelumnya. Bahkan dunia juga bukan dunia yang sama. Selama bertahun-tahun Iran hidup di bawah sanksi, tekanan, ancaman, sabotase, dan isolasi ekonomi. Yang sering dilupakan banyak orang adalah satu hal sederhana: manusia, negara, dan masyarakat memiliki kemampuan beradaptasi. Bahkan kadang kemampuan beradaptasi jauh lebih kuat daripada tekanan itu sendiri.
Di sinilah ironi besar muncul. Amerika tampaknya masih memakai pola lama untuk menghadapi Iran yang sudah berubah total. Dan yang lebih aneh lagi, pola itu digunakan dengan keyakinan yang nyaris religius. Seolah jika tekanan belum berhasil, berarti tekanannya kurang keras. Jika lawan belum berubah, berarti biaya yang diberikan belum cukup besar. Tambah tekanan. Tambah ancaman. Tambah rudal.
Begitulah.
Masalahnya, selama hampir setengah abad Iran justru mempelajari cara kerja tekanan itu. Mereka mengamati Irak. Mereka melihat Afghanistan. Mereka menyaksikan bagaimana negara-negara lain dihancurkan melalui kombinasi embargo, operasi militer, dan intervensi langsung. Mereka belajar. Mereka menyesuaikan diri. Mereka membangun ketahanan baru.
Saya kira di sinilah titik yang gagal dibaca Washington.
Karena yang dihadapi Amerika saat ini bukan Iran lama. Yang dihadapi adalah Iran yang sudah mempelajari “buku permainan” Amerika selama puluhan tahun. Ibarat pemain sepak bola kampung yang puluhan tahun menonton rekaman pertandingan lawannya. Pada awalnya trik lawan mungkin mengejutkan. Lama-lama hafal. Lama-lama tahu pola. Lama-lama tahu ke mana bola akan diarahkan.
Lalu perang datang.
Rudal diluncurkan. Serangan besar dilakukan. Tekanan meningkat. Namun hasil akhirnya justru menciptakan pertanyaan yang sangat tidak nyaman: mengapa tuntutan AS terhadap Iran masih sama? Jika perang dimaksudkan untuk meningkatkan posisi tawar, mengapa daftar tuntutannya nyaris tak berubah? Bukankah itu seperti guru yang memberi hukuman berkali-kali tetapi tetap memakai kalimat ancaman yang sama, meski muridnya sudah tak lagi takut?
Dan di titik itu saya mulai merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada kebuntuan militer.
Mungkin Amerika mulai terjebak dalam nostalgia kekuatan. Sebuah kondisi ketika memori kemenangan masa lalu terlalu lama dipakai sebagai kompas menghadapi dunia baru. Ini bukan soal senjata. Bukan soal jumlah kapal induk. Bukan soal siapa paling kuat. Ini soal cara berpikir.
Kita semua tahu ada orang yang setelah sukses besar puluhan tahun lalu terus memakai resep lama untuk menghadapi masalah baru. Ada pedagang yang tetap memakai cara jualan era pasar tradisional ketika dunia sudah pindah ke aplikasi digital. Ada pejabat yang merasa pidato panjang otomatis menyelesaikan persoalan. Ada juga negara yang merasa rumus geopolitik tahun 1990 masih berlaku penuh tahun 2026.
Masalahnya, dunia bergerak.
Saya tinggal di Indonesia. Kita paham sekali perubahan seperti ini. Dulu warung kecil cukup menunggu pembeli lewat. Sekarang kalau tak masuk platform digital, bisa mati pelan-pelan. Bukan karena produknya jelek. Tapi lingkungan berubah. Cara hidup berubah. Cara orang bereaksi berubah.
Begitu pula geopolitik.
Iran bukan Venezuela. Iran bukan Afghanistan. Iran bukan Irak 2003. Iran adalah negara yang selama puluhan tahun hidup dalam tekanan permanen dan membangun identitas politik dari kemampuan bertahan terhadap tekanan itu sendiri.
Karena itu saya rasa banyak orang di Washington sedang menghadapi situasi yang sangat tidak nyaman. Mereka memiliki kekuatan besar, tetapi semakin sulit mengubah kekuatan itu menjadi hasil politik yang diinginkan. Dan dua hal itu sangat berbeda.
Selama ini para pejabat Amerika terus mengklaim keberhasilan. Iran dilemahkan. Iran dipukul. Iran dihancurkan. Kalimat-kalimat seperti itu terdengar gagah di depan kamera. Sangat cocok untuk konferensi pers. Sangat cocok menjadi potongan video pendek berdurasi tiga puluh detik.
Tetapi masalahnya dunia nyata kadang keras kepala.
Jika tuntutan AS terhadap Iran belum diterima, jika tujuan strategis belum tercapai, jika tekanan tambahan tak mengubah posisi dasar Tehran, maka pertanyaannya bukan apakah rudal berhasil menghancurkan fasilitas tertentu.
Pertanyaannya lebih sederhana dan lebih kejam: lalu sebenarnya siapa yang berubah?
Karena jika setelah perang panjang posisi Iran tetap sama, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya Iran. Bisa jadi kerangka berpikir Washington sendiri yang harus diperiksa.
Dan mungkin di sinilah ironi terbesar berdiri seperti cermin besar di tengah ruang sidang geopolitik.
Amerika selama ini menganggap Iran ancaman yang harus diubah.
Tetapi semakin lama, pertanyaannya mungkin berbalik:
apakah Iran yang gagal menyesuaikan diri dengan dunia, atau justru sebagian elite Amerika yang masih mengira dunia belum berubah?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi kadang sejarah bergerak bukan karena rudal. Sejarah bergerak ketika sebuah kekuatan besar terlambat menyadari bahwa lawannya sudah membaca halaman berikutnya, sementara ia masih sibuk menghafal bab lama.
Dan ketika itu terjadi, yang runtuh pertama kali bukan pangkalan militer.
Biasanya cara berpikir.
