Opini
Perang Jadi Bisnis Saat Dunia Terbakar
Malam di Teluk tidak lagi sekadar gelap; ia berkilat oleh jejak rudal yang dipotong di langit, oleh kilatan intersepsi yang terdengar seperti hujan besi. Di bawahnya, kota-kota tetap menyala, kilang minyak tetap bekerja, dan kontrak-kontrak bernilai miliaran dolar diam-diam berpindah tangan. Kita menyebutnya stabilitas. Padahal, yang kita saksikan adalah ironi: keamanan dijual ketika rasa aman itu sendiri sedang runtuh. Saya rasa, inilah wajah paling telanjang dari perang yang menguntungkan.
Laporan yang Anda bawa menyodorkan angka-angka yang, jika dibaca pelan, terasa seperti bunyi mesin kasir raksasa. Penjualan sekitar 4.250 interceptor Patriot ke Kuwait, UEA, dan Bahrain, ditambah sekitar 1.000 untuk Qatar, mendorong nilai total mendekati $25,7 miliar—jauh di atas angka yang diumumkan ke publik. Sementara itu, stok menyusut. Sejak perang dimulai, hampir 1.900 interceptor telah ditembakkan. Kita semua tahu, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah denyut sebuah industri yang hidup dari ketegangan.
Di sinilah absurditas itu mengeras: ketika gudang mulai kosong, kontrak justru membengkak. Ketika produksi hanya sekitar 600 unit per tahun, rencana peningkatan ke 2.000 unit butuh waktu hingga tujuh tahun. Ada jeda. Ada kekosongan. Dan di antara celah itulah, perang yang menguntungkan menemukan momentumnya. Kekurangan bukan penghalang; ia justru alasan untuk memperluas pasar. Seolah-olah kelangkaan adalah strategi, bukan masalah.
Tentu, akan ada yang berkata: ini kebutuhan pertahanan. Benar. Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: kebutuhan siapa, dan siapa yang menanggungnya? Negara-negara Teluk membeli sistem seperti Patriot missile system dan THAAD untuk melindungi wilayahnya—dan, tidak jarang, pangkalan militer AS yang berada di tanah mereka sendiri. Di titik ini, garis antara “melindungi diri” dan “membiayai kehadiran orang lain” menjadi kabur. Sangat kabur.
Mari kita jujur sejenak. Jika sebuah pangkalan menjadi target, siapa yang paling berisiko? Warga lokal. Infrastruktur lokal. Ekonomi lokal. Namun ketika sistem pertahanan harus diperkuat, siapa yang membayar? Negara tuan rumah. Ini bukan kebetulan. Ini desain. Dan desain ini punya nama yang sudah lama kita kenal: military-industrial complex—sebuah ekosistem di mana kebijakan, industri, dan keamanan berkelindan hingga sulit dipisahkan.
Saya tidak mengatakan semua ini adalah konspirasi. Tidak. Justru sebaliknya: ia terlalu terang untuk disebut konspirasi. Ia bekerja di siang hari, melalui prosedur resmi, dengan bahasa yang rapi: “peningkatan keamanan”, “stabilisasi kawasan”, “kemitraan strategis”. Kata-kata yang halus. Nyaris menenangkan. Namun di baliknya, ada aritmetika sederhana: semakin tinggi ancaman, semakin besar permintaan; semakin besar permintaan, semakin luas pasar. Perang yang menguntungkan tidak perlu disembunyikan. Ia hanya perlu dinormalisasi.
Lalu kita sampai pada pertanyaan yang sering dihindari: jika sistem pertahanan itu mahal dan canggih, mengapa serangan masih bisa menembus? Jawabannya tidak sesederhana “gagal” atau “berhasil”. Dalam perang modern, tidak ada perisai yang absolut. Serangan saturasi—gabungan drone dan rudal—dirancang untuk memaksa sistem kewalahan. Jadi ya, banyak yang berhasil dicegat. Tapi cukup satu atau dua yang lolos untuk menimbulkan kerusakan yang berarti. Di titik ini, pertahanan berubah dari “perlindungan total” menjadi “pengurangan kerusakan”. Mahal, tetapi tidak mutlak.
Di sinilah ironi itu kembali menggigit. Negara-negara membeli rasa aman, tetapi yang didapat sering kali adalah pengurangan risiko, bukan penghapusan risiko. Bayangkan Anda membeli payung paling mahal di dunia, lalu hujan datang dengan angin kencang dari segala arah. Anda tidak sepenuhnya basah, benar. Tapi Anda tetap basah. Dan payung itu—tetap harus Anda bayar. Dalam skala geopolitik, analogi ini terasa getir.
Kita bisa mencoba melihatnya dari sisi lain. Tanpa sistem tersebut, risiko tentu lebih besar. Betul. Namun itu tidak menghapus pertanyaan mendasar: mengapa risiko itu ada, dan mengapa ia meningkat? Keberadaan pangkalan asing di wilayah yang sensitif secara geopolitik jelas menambah daftar target. Ini bukan penilaian moral; ini realitas militer. Maka muncul dilema: mengurangi kehadiran bisa menurunkan risiko, tetapi juga mengurangi payung keamanan. Menjaga kehadiran meningkatkan pencegahan, tetapi sekaligus menarik perhatian musuh. Lingkaran ini sulit diputus.
Di tengah lingkaran itulah, perang yang menguntungkan menemukan kestabilannya. Stabil—bukan dalam arti damai, tetapi dalam arti berkelanjutan. Ada ancaman yang cukup tinggi untuk memicu pembelian, tetapi tidak cukup besar untuk memicu kehancuran total yang menghentikan pasar. Ini mungkin terdengar sinis. Tapi bukankah kita melihatnya berulang kali? Ketegangan yang cukup untuk menjual, namun tidak cukup untuk menghentikan perdagangan.
Kita juga tidak boleh melupakan dimensi psikologis. Ketika masyarakat melihat pangkalan asing diserang, lalu pemerintah mereka membeli lebih banyak sistem pertahanan, apa yang mereka rasakan? Aman? Atau justru cemas karena merasa menjadi bagian dari konflik yang bukan mereka mulai? Di sinilah opini publik mulai bergerak. Pelan, tapi pasti. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu tabu kini muncul ke permukaan. Apakah aliansi ini masih seimbang? Apakah biaya yang dibayar sebanding dengan perlindungan yang diterima?
Saya rasa, ini bukan sekadar soal Timur Tengah. Ini cermin bagi banyak negara, termasuk kita. Indonesia mungkin tidak berada di garis depan konflik itu, tetapi kita hidup di dunia yang sama. Dunia di mana keamanan bisa menjadi komoditas. Dunia di mana kontrak bisa lebih cepat bergerak daripada refleksi moral. Dunia di mana istilah “jaminan keamanan” terdengar meyakinkan—sampai kita bertanya: jaminan untuk siapa?
Dan di titik ini, kita kembali ke awal: malam yang berkilat oleh intersepsi. Kilatan itu bukan hanya cahaya; ia adalah tanda bahwa sesuatu sedang bekerja di balik layar—sebuah sistem yang mengubah ancaman menjadi transaksi, kecemasan menjadi permintaan, dan konflik menjadi peluang. Saya tidak mengatakan semua aktor di dalamnya berniat buruk. Tetapi sistem ini, pada dirinya sendiri, memiliki logika yang sulit dihindari: ketegangan adalah bahan bakar.
Akhirnya, kita harus berani menyebutnya dengan nama yang tepat. Bukan untuk mengutuk, tetapi untuk memahami. Ini adalah perang yang menguntungkan—sebuah kondisi di mana krisis tidak hanya dikelola, tetapi juga diproduksi ulang melalui mekanisme pasar keamanan. Dan selama mekanisme itu tetap berjalan tanpa koreksi yang berarti, selama itu pula kita akan terus melihat pola yang sama: stok menipis, kontrak membesar, ancaman meningkat, dan lingkaran itu berputar lagi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita setuju atau tidak. Pertanyaannya adalah: sampai kapan kita menerima logika ini sebagai sesuatu yang normal?
