Connect with us

Opini

Uranium, Kudeta, dan Iran dalam Bidikan Trump

Published

on

Donald Trump dan isu uranium Venezuela serta Iran

Malam-malam geopolitik sekarang terasa seperti film yang ditulis orang mabuk kuasa. Kepala negara bisa diculik. Uranium bisa dipindahkan lintas benua. Lalu semua itu diumumkan dengan bahasa steril khas birokrasi internasional: “demi keamanan dunia”. Kita diminta mengangguk, seolah dunia masih bekerja dengan kepolosan pasca-Perang Dunia II, padahal yang sedang berlangsung justru semacam pasar gelap kekuasaan global dengan jas diplomatik dan logo lembaga internasional di meja konferensinya.

Kasus Venezuela seharusnya membuat banyak negara gemetar. Bukan karena 13,5 kilogram uranium yang dipindahkan ke Amerika Serikat itu cukup untuk mengubah peta nuklir dunia, tetapi karena ia memperlihatkan pola baru yang sangat berbahaya: tekanan politik, operasi militer, perubahan struktur kekuasaan, lalu pengalihan aset strategis. Dan saya rasa, di situlah letak kegelisahan sebenarnya. Uranium Venezuela hanyalah pembuka percakapan. Iran tampaknya sedang dibaca sebagai bab berikutnya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan The Guardian dan Al Mayadeen memperlihatkan sesuatu yang ironis sekaligus telanjang. Donald Trump akhirnya berhasil “mengamankan” uranium yang diperkaya. Tetapi bukan dari Iran—melainkan dari Venezuela. Kalimat itu sendiri sudah terasa seperti satire politik. Selama ini Iran dijual sebagai ancaman nuklir global, dipenuhi ancaman armada militer, embargo, ultimatum, dan retorika kiamat diplomatik. Namun ketika uranium benar-benar berhasil dipindahkan ke Amerika, ternyata yang diangkut justru uranium dari Caracas.

Absurd? Tentu. Tapi justru di situlah geopolitik modern bekerja.

Publik biasanya sibuk memperhatikan pidato resmi. Saya tidak terlalu percaya pidato resmi. Sebab sejarah terlalu sering memperlihatkan bahwa alasan resmi hanyalah bungkus. Dulu Irak dihancurkan atas nama senjata pemusnah massal. Setelah negara itu remuk, minyak dan rekonstruksi menjadi menu utama. Venezuela juga demikian. Awalnya Trump bicara kartel, narkotika, keamanan regional, migrasi, dan ancaman rezim Maduro. Uranium bahkan nyaris tak terdengar dalam percakapan publik. Tapi lihat apa yang terjadi setelah struktur kekuasaan Venezuela terguncang: hubungan diplomatik dibuka kembali, perusahaan energi Amerika masuk, dan uranium dipindahkan ke Amerika Serikat. Kita semua tahu, dalam politik global, yang penting bukan slogan awal, melainkan hasil akhirnya.

Karena itu saya merasa dunia sedang memasuki fase baru imperialisme yang lebih rapi. Tidak lagi selalu berbentuk invasi brutal dengan tank memenuhi ibu kota seperti era lama. Kini bentuknya lebih elegan, lebih legalistik, lebih “multilateral”. Ada bahasa teknokratis. Ada lembaga internasional. Ada istilah non-proliferasi. Ada frasa “keselamatan dunia”. Tapi ujungnya tetap sama: kontrol atas aset strategis.

Dan uranium adalah simbol sempurna untuk itu.

Ia bukan sekadar batu tambang radioaktif. Ia adalah energi, senjata, daya tawar, sekaligus simbol kedaulatan teknologi. Negara yang mampu menguasai siklus uranium memiliki posisi tawar politik yang berbeda. Karena itu, ketika Amerika Serikat memindahkan uranium Venezuela setelah perubahan besar dalam struktur politik negara tersebut, dunia membaca pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar operasi teknis pengamanan material nuklir.

Pesannya sederhana: jika sebuah negara melemah, aset strategisnya ikut menjadi rentan.

Di sinilah Iran masuk sebagai pertanyaan yang menghantui.

Selama beberapa bulan terakhir, tekanan terhadap Iran meningkat dengan pola yang mencurigakan mirip Venezuela. Armada militer digerakkan. Ancaman perang terus diulang. Trump berbicara tentang “tremendous force”, bahkan membandingkan Iran dengan operasi Venezuela. (ایران اینترنشنال | Iran International) Laporan lain menyebut adanya dorongan agar stok uranium Iran dipindahkan ke luar negeri. Ada pula wacana operasi militer untuk mengamankan uranium Iran dari fasilitas bawah tanah. Semua ini belum menjadi fakta final. Tapi pola itu ada. Sangat terlihat. Dan negara-negara biasanya belajar bukan dari kata-kata, melainkan dari preseden.

Itulah mengapa Venezuela penting. Ia bukan hanya kasus regional Amerika Latin. Ia sedang dibaca dunia sebagai model operasi baru. Tekanan ekonomi. Delegitimasi pemerintahan. Intervensi keamanan. Lalu reposisi aset strategis. Saya rasa banyak negara sekarang mulai bertanya dengan suara lirih: setelah Venezuela, siapa lagi?

Iran tentu bukan Venezuela. Itu jelas. Iran lebih besar, lebih kuat, lebih ideologis, dan jauh lebih siap menghadapi perang panjang. Uranium Iran juga bukan uranium dari reaktor riset tua dekat Caracas. Iran memiliki ratusan kilogram uranium yang diperkaya, fasilitas bawah tanah, dan jaringan pertahanan yang rumit. Mengambil uranium Iran bukan seperti mengangkut koper dari gudang penelitian. Itu bisa menyeret kawasan Timur Tengah ke perang regional besar.

Tetapi justru karena Iran lebih sulit, maka tekanan terhadapnya semakin brutal.

Ada ironi lain yang jarang dibicarakan. Amerika Serikat selalu mengatakan langkah-langkah ini dilakukan demi mencegah proliferasi nuklir. Namun dalam praktiknya, dunia melihat standar yang sangat tidak seimbang. Negara tertentu ditekan habis-habisan soal uranium, sementara negara lain yang memiliki senjata nuklir justru dilindungi dan dipersenjatai. Akibatnya, narasi moral tentang keamanan global mulai terdengar seperti ceramah yang kehilangan legitimasi.

Bagi banyak negara Global South, ini bukan lagi soal hukum internasional. Ini soal siapa yang kuat dan siapa yang bisa dipaksa.

Bayangkan seperti pedagang kecil di pasar tradisional yang “secara sukarela” menyerahkan lapaknya setelah didatangi aparat, debt collector, dan preman sekaligus. Di atas kertas, ia menandatangani surat persetujuan. Tapi semua orang tahu ada ketimpangan kekuatan yang membuat kata “sukarela” terasa pahit. Begitulah kira-kira cara banyak negara membaca operasi semacam ini.

Dan yang paling berbahaya adalah dampak psikologisnya.

Ketika negara-negara melihat bahwa aset strategis bisa berpindah setelah tekanan geopolitik dan perubahan rezim, mereka akan makin paranoid. Mereka akan makin defensif. Mereka akan makin tertutup. Bahkan mungkin makin terdorong memperkuat kemampuan militer dan nuklir mereka sendiri. Jadi ironi terbesar dari kebijakan non-proliferasi modern adalah: ia kadang justru mendorong rasa takut yang mempercepat perlombaan kekuatan.

Saya rasa kita sedang menyaksikan erosi besar terhadap kepercayaan internasional. Dunia tidak lagi percaya penuh pada bahasa diplomasi. Orang melihat hasil di lapangan. Dan di lapangan, yang terlihat adalah negara kuat tetap mampu membentuk aturan sesuai kepentingannya sendiri. Legalitas menjadi lentur. Moralitas menjadi relatif. Sementara lembaga internasional perlahan tampak seperti notaris yang mencatat transaksi kekuasaan.

Apakah Iran benar-benar akan mengalami nasib seperti Venezuela? Belum tentu. Bahkan mungkin tidak. Biaya politik dan militernya terlalu besar. Tetapi yang penting bukan kepastian hasilnya. Yang penting adalah dunia sekarang sudah bisa membayangkan kemungkinan itu. Dan begitu sebuah kemungkinan mulai terasa masuk akal dalam geopolitik, ia akan memengaruhi keputusan banyak negara.

Mungkin inilah sebabnya Iran terus bersikeras mempertahankan kendali atas uranium mereka. Sebab bagi Teheran, uranium bukan cuma material nuklir. Ia adalah garis pertahanan terakhir terhadap dunia yang mereka anggap semakin predatoris. Dan setelah Venezuela, ketakutan itu tampaknya tidak lagi terasa paranoid.

Kita hidup di zaman ketika perang tidak selalu dimulai dengan deklarasi resmi. Kadang ia dimulai dengan embargo. Dengan ancaman armada laut. Dengan operasi keamanan. Dengan pemindahan aset strategis yang dibungkus jargon teknis. Lalu dunia diminta percaya bahwa semuanya demi perdamaian.

Lucu juga. Perdamaian hari ini tampaknya selalu datang bersama kapal perang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer