Connect with us

Opini

Hormuz 1980 Terulang, Amerika Kini Gugup

Published

on

Drone Iran dan kapal perang AS di Selat Hormuz

Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika dunia menyaksikan Selat Hormuz kembali memanas. Jalur laut itu masih sama seperti empat dekade lalu: sempit, panas, penuh tanker minyak, dan menjadi urat nadi ekonomi global. Tetapi suasana politik yang mengelilinginya sudah berubah drastis. Jika dulu kapal perang Amerika datang dengan keyakinan penuh seperti sheriff yang memasuki kota kecil di film koboi, hari ini bahkan armada paling kuat di dunia terlihat lebih berhitung, lebih hati-hati, dan kadang seperti ragu terhadap efektivitas kekuatannya sendiri. Saya rasa di situlah inti kegelisahan zaman ini bermula.

Laporan The Wall Street Journal tentang Iran yang kembali memakai “playbook” era 1980-an sebenarnya menarik bukan karena menunjukkan sejarah berulang, tetapi karena memperlihatkan bagaimana sejarah dipelajari dengan serius oleh kedua pihak. Iran belajar dari kekalahannya. Amerika juga belajar dari keberhasilannya. Namun hasil pembelajaran keduanya ternyata tidak menghasilkan posisi yang seimbang. Iran tampak lebih berhasil memperbarui strategi gangguannya dibanding kemampuan Barat memperbarui strategi pengamanannya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Dan itulah inti persoalannya.

Banyak orang terlalu sibuk membandingkan siapa lebih kuat. Padahal kekuatan bukan lagi soal jumlah kapal perang atau besarnya anggaran militer. Dunia modern bergerak ke arah yang jauh lebih licin. Yang menentukan hari ini adalah siapa yang lebih mampu beradaptasi dengan perubahan medan konflik. Dalam hal ini, Iran tampaknya membaca perubahan zaman lebih cepat dibanding lawannya.

Pada 1980-an, pola perang di Selat Hormuz masih relatif sederhana. Iran menggunakan speedboat, rudal pantai, dan ranjau laut untuk mengganggu tanker minyak selama Perang Tanker melawan Irak dan sekutu-sekutunya. Amerika menjawab dengan operasi pengawalan besar-besaran. Kapal perang dikerahkan. Konvoi dibentuk. Jalur pelayaran diamankan dengan demonstrasi kekuatan terbuka. Ketika Iran dianggap melampaui batas, Amerika menghancurkan sebagian besar kekuatan laut Iran lewat Operasi Praying Mantis. Permainan selesai. Pesannya jelas: siapa menguasai laut, dia menguasai situasi.

Tetapi Iran tidak melupakan kekalahan itu.

Di situlah mungkin letak kecerdasan strategis Tehran yang sering diremehkan Barat. Mereka menyadari bahwa menghadapi Amerika secara konvensional sama saja bunuh diri. Maka strategi lama tidak dibuang, melainkan dimodifikasi. Logikanya tetap sama: mengganggu jalur perdagangan global demi menciptakan tekanan geopolitik. Tetapi alat dan caranya diperbarui total agar cocok dengan era baru.

Drone menjadi simbol paling nyata dari transformasi itu.

Murah. Sulit dilacak. Fleksibel. Bisa diproduksi massal. Tidak membutuhkan kapal induk. Tidak membutuhkan pilot mahal. Tidak perlu armada raksasa. Satu drone murah bisa memaksa kapal perang modern mengaktifkan sistem pertahanan bernilai jutaan dolar. Di titik ini, perang modern terasa seperti satire brutal terhadap logika militer lama. Negara adidaya dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia dipaksa bereaksi mahal terhadap ancaman yang biaya produksinya jauh lebih rendah.

Absurd? Memang. Tetapi justru itulah efektivitas strategi Iran.

Mereka tidak mencoba menghancurkan Amerika. Mereka hanya membuat biaya mempertahankan dominasi menjadi semakin mahal dan melelahkan. Ini bukan perang kemenangan total. Ini perang attrisi psikologis dan ekonomi. Dan saya rasa banyak negara besar belum sepenuhnya siap menghadapi model konflik seperti itu.

Amerika tentu tidak diam. Mereka juga memperbarui strategi. Pengawasan satelit diperkuat. Intelijen maritim ditingkatkan. Operasi koalisi dibentuk. Sistem pertahanan anti-drone dikembangkan. Pengawalan kapal dagang tetap dilakukan. Namun masalahnya, pembaruan strategi Barat terasa seperti memperkuat benteng lama menghadapi ancaman yang sudah berubah bentuk.

Ibarat seseorang yang terus meninggikan pagar rumah, sementara pencurinya sudah masuk lewat jaringan digital.

Di sinilah letak ketimpangannya. Iran memperbarui cara mengganggu dengan pendekatan fleksibel dan murah. Barat memperbarui cara bertahan dengan sistem mahal dan birokratis. Akibatnya, ritme permainan lebih sering ditentukan pihak pengganggu daripada pihak penjaga.

Dan ini terlihat jelas dalam respons internasional hari ini.

Pada era 1980-an, Amerika relatif mudah membangun legitimasi global untuk mengamankan Hormuz. Dunia melihat jalur minyak harus dilindungi demi stabilitas bersama. Sekutu ikut bergerak. Koalisi terbentuk dengan cepat. Tetapi sekarang situasinya berbeda. Ketika Washington mengajak negara-negara lain ikut menjaga jalur perdagangan, responsnya tidak seantusias dulu. Banyak negara memilih berhitung. Sebagian takut perang melebar. Sebagian tidak ingin terseret konflik Amerika-Iran. Sebagian lagi mulai melihat dunia tidak lagi sepenuhnya berpusat pada Washington.

Panggungnya masih sama, tapi eranya sudah beda.

Dan Iran tampaknya sangat memahami perubahan psikologi global itu. Mereka sadar dunia modern jauh lebih sensitif terhadap gangguan ekonomi. Harga minyak bisa melonjak hanya karena ancaman kecil. Pasar finansial mudah panik. Inflasi global bisa dipicu oleh satu jalur laut yang terganggu. Dalam situasi seperti ini, Iran tidak perlu memenangkan perang besar. Mereka hanya perlu menjaga ketidakpastian tetap hidup.

Karena ketidakpastian hari ini lebih mahal daripada perang terbuka.

Bayangkan saja: kapal-kapal dagang mulai mengubah rute, premi asuransi melonjak, biaya logistik naik, lalu efeknya merembet ke harga kebutuhan sehari-hari di berbagai negara, termasuk Indonesia. Mungkin masyarakat di pasar tradisional tak pernah memikirkan Selat Hormuz setiap pagi, tetapi ketika harga bahan bakar naik dan ongkos distribusi membengkak, mereka sebenarnya ikut membayar dampak konflik itu.

Inilah bentuk perang modern yang paling ironis. Tidak selalu ada ledakan besar di televisi, tetapi efek ekonominya merayap diam-diam ke kehidupan sehari-hari.

Dan saya kira inilah yang gagal dipahami banyak orang ketika masih melihat konflik hanya lewat ukuran militer klasik. Dunia hari ini bukan sekadar arena tank dan kapal perang. Ini arena psikologi pasar, rantai pasok, teknologi murah, dan kemampuan menciptakan ketidakstabilan berbiaya rendah.

Karena itu saya tidak terlalu tertarik pada debat apakah Amerika masih kuat atau tidak. Secara militer, tentu Amerika masih sangat dominan. Tetapi dominasi bukan lagi soal mampu menghancurkan lawan. Dominasi hari ini diuji oleh kemampuan menjaga stabilitas tanpa terjebak dalam biaya tak berujung.

Nah, di situlah problemnya.

Iran tampaknya berhasil membuat biaya menjaga stabilitas menjadi terlalu mahal bagi lawannya. Dan selama kondisi itu bertahan, strategi mereka bisa dianggap berhasil, bahkan tanpa kemenangan militer formal.

Tentu strategi seperti ini juga punya risiko besar. Dunia bisa semakin terfragmentasi. Negara-negara Teluk hidup dalam ketakutan permanen. Jalur perdagangan global menjadi rapuh. Bahkan Iran sendiri tetap hidup di bawah tekanan ekonomi berkepanjangan. Tetapi dalam perspektif strategis, Tehran tampaknya percaya bahwa dunia modern lebih takut pada kekacauan ekonomi dibanding perang terbuka.

Dan sejauh ini, asumsi itu belum sepenuhnya salah.

Akhirnya, Selat Hormuz hari ini bukan sekadar cerita tentang Iran melawan Amerika. Ini cerita tentang bagaimana sejarah dipelajari lalu diperbarui. Iran belajar bahwa mereka tak bisa menang lewat perang konvensional. Amerika belajar bahwa keamanan maritim harus dijaga lebih kompleks. Tetapi hasil pembelajaran keduanya tidak menghasilkan keseimbangan baru. Justru menciptakan situasi aneh di mana pihak pengganggu terlihat lebih adaptif dibanding pihak penjaga.

Dan mungkin itu kenyataan paling mengganggu dari dunia modern: teknologi, globalisasi, dan keterhubungan ternyata tidak otomatis membuat dunia lebih aman. Kadang justru membuat gangguan kecil menjadi ancaman global yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer