Connect with us

Opini

Dunia Membayar ‘Dosa’ Perang Amerika Serikat

Published

on

Ilustrasi krisis minyak dunia akibat konflik AS dan Iran

Langit dunia hari ini terasa seperti dapur yang lupa mematikan api. Panasnya menjalar pelan, mula-mula hanya terasa di kawasan Teluk, lalu merembet ke harga minyak, ongkos logistik, tiket pesawat, harga pangan, sampai dompet rakyat biasa yang bahkan tak tahu di mana letak Selat Hormuz di peta. Ironis memang. Keputusan perang dibuat di ruang-ruang elit penuh pendingin udara, tetapi yang kepanasan justru masyarakat dunia. Kita semua tahu pola lama ini. Negara besar menekan tombol perang, lalu negara kecil diminta bersabar menghadapi inflasi. Dan kali ini, dunia kembali dipaksa menanggung akibat dari agresi Amerika Serikat terhadap Iran.

Laporan terbaru yang memuat peringatan CEO Chevron soal ancaman kelangkaan minyak global semestinya dibaca bukan sebagai berita ekonomi biasa. Ini alarm. Bukan alarm kecil pula. Ketika perusahaan energi raksasa mulai bicara tentang “physical shortages” atau kelangkaan fisik minyak, itu artinya dunia sedang bergerak menuju fase yang lebih serius daripada sekadar harga BBM naik beberapa ribu rupiah. Kita sedang bicara tentang sistem global yang mulai limbung karena perang. Dan lucunya, perang itu selalu dibungkus dengan nama-nama mulia: keamanan, stabilitas, pertahanan, demokrasi. Kata-kata yang terdengar elegan di podium, tetapi sering berujung antrean panjang dan harga sembako yang tak lagi masuk akal.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa masyarakat dunia sebenarnya tidak butuh analisis terlalu rumit untuk memahami akar masalahnya. Sebab logikanya sederhana. Jika Amerika Serikat dan sekutunya tidak menyerang Iran lebih dulu, eskalasi sebesar ini mungkin tidak terjadi. Selat Hormuz mungkin tidak terganggu. Pasokan energi global mungkin tetap aman. Dunia mungkin tidak sedang ketakutan menghadapi krisis minyak baru. Kadang kebenaran memang sesederhana itu. Tetapi anehnya, begitu masuk ke ruang diplomasi internasional, bahasa tiba-tiba berubah jadi kabur. Penyerang dan yang diserang diposisikan setara lewat istilah netral seperti “konflik AS–Iran” atau “ketegangan kawasan”. Padahal masyarakat umum masih punya akal sehat untuk bertanya: siapa yang mulai duluan?

Di sinilah absurditas global modern terlihat begitu telanjang. Negara-negara di dunia diminta ikut menanggung dampak agresi Amerika Serikat terhadap Iran, tetapi pada saat yang sama harus berbicara hati-hati agar tidak dianggap anti-Barat. Energi mahal? Itu disebut volatilitas pasar. Jalur perdagangan terganggu? Itu disebut konsekuensi geopolitik. Inflasi pangan? Itu disebut tantangan global. Bahasa memang hebat. Ia bisa menyulap luka menjadi istilah teknokratis agar terdengar lebih sopan. Tetapi bagi rakyat biasa, semua itu tetap berarti satu hal: hidup makin berat.

Kita bisa melihat bagaimana pasar global mulai panik. Harga minyak bergerak liar. Biaya pengiriman meningkat. Negara-negara importir energi mulai cemas. Bahkan perusahaan energi terbesar dunia pun kini mengakui ancaman kelangkaan pasokan. Ini bukan film dystopia. Ini kenyataan yang sedang berjalan di depan mata. Dan seperti biasa, negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan. Indonesia misalnya. Kita mungkin jauh dari Iran, tetapi kita tidak jauh dari dampaknya. Sebab ekonomi global bekerja seperti rantai panjang. Ketika satu simpul vital diguncang perang, seluruh rantai ikut bergetar.

Saya kadang merasa lucu melihat bagaimana dunia modern selalu membanggakan globalisasi sebagai simbol kemajuan. Barang bisa bergerak lintas benua dalam hitungan hari. Informasi berpindah dalam detik. Ekonomi saling terhubung. Tetapi ternyata sistem sehebat itu bisa panik hanya karena satu jalur minyak terganggu. Betapa rapuh sebenarnya peradaban yang kita banggakan ini. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah, teknologi kecerdasan buatan berkembang pesat, manusia bicara tentang kolonisasi Mars, tetapi dunia tetap gemetar ketika kapal tanker minyak terhambat di Selat Hormuz.

Dan di tengah semua kepanikan itu, Amerika Serikat tetap tampil sebagai polisi dunia yang selalu merasa punya hak menentukan siapa ancaman dan siapa yang harus ditekan. Ini pola lama yang terus berulang. Irak pernah dihancurkan atas nama senjata pemusnah massal yang bahkan tak pernah ditemukan. Libya diacak-acak atas nama demokrasi lalu dibiarkan tenggelam dalam kekacauan. Afghanistan diduduki dua dekade sebelum akhirnya ditinggalkan begitu saja. Sekarang Iran menjadi bab berikutnya dalam serial panjang intervensi geopolitik yang katanya demi stabilitas, tetapi justru melahirkan ketidakstabilan global.

Yang paling ironis, negara-negara lain seolah dipaksa menerima semua ini sebagai sesuatu yang normal. Seakan dunia memang harus terbiasa hidup di bawah ancaman perang yang dipicu kepentingan negara besar. Ketika minyak melonjak, rakyat diminta berhemat. Ketika inflasi naik, masyarakat diminta bersabar. Ketika ekonomi melambat, pemerintah diminta mencari solusi. Tetapi hampir tak pernah ada pertanyaan moral yang lebih besar: mengapa dunia harus membayar harga dari keputusan perang Washington?

Saya tahu sebagian orang mungkin menganggap istilah “dosa Amerika Serikat” terlalu keras. Tetapi mari jujur saja. Dosa yang dimaksud di sini bukan soal agama. Ini metafora politik. Dosa dalam arti keputusan yang menimbulkan penderitaan luas bagi banyak manusia. Dan bukankah itu yang sedang terjadi sekarang? Negara-negara yang bahkan tidak ikut perang ikut merasakan dampaknya. Harga energi naik. Harga pangan terdorong. Ongkos hidup meningkat. Dunia dipaksa menanggung konsekuensi dari agresi yang bukan mereka pilih.

Sementara itu, para elite global tetap sibuk memainkan diplomasi penuh jargon. Mereka bicara tentang deeskalasi sambil terus mengirim kapal perang. Mereka menyerukan perdamaian sambil mempertahankan blokade. Mereka mengaku ingin stabilitas sambil terus memperluas tekanan militer. Kadang saya bertanya-tanya, apakah kata “stabilitas” dalam kamus geopolitik memang berarti dunia harus terus hidup dalam ketegangan permanen agar industri senjata tetap sibuk dan pasar energi tetap bisa dimainkan?

Lebih menyedihkan lagi, masyarakat dunia perlahan mulai terbiasa dengan absurditas ini. Kita membaca berita perang sambil menyeruput kopi pagi. Kita melihat harga minyak naik lalu mengeluh sebentar sebelum kembali bekerja. Seolah semua ini hanya rutinitas biasa. Padahal di balik grafik ekonomi dan angka inflasi itu ada kecemasan nyata. Ada keluarga yang pengeluarannya makin berat. Ada usaha kecil yang tertekan biaya distribusi. Ada negara miskin yang makin sulit membeli energi. Perang modern memang unik. Ledakannya mungkin jauh dari rumah kita, tetapi tagihannya datang langsung ke meja makan.

Dan laporan tentang ancaman kelangkaan minyak global itu seharusnya menjadi tamparan keras bagi dunia. Bahwa satu keputusan militer bisa mengguncang sistem internasional secara luas. Bahwa globalisasi ternyata bukan hanya soal keterhubungan ekonomi, tetapi juga keterhubungan penderitaan. Ketika negara besar bermain api, asapnya masuk ke rumah semua orang.

Saya rasa dunia sedang berada di persimpangan yang berbahaya. Jika eskalasi terus berlanjut, krisis energi bukan lagi kemungkinan, melainkan tinggal menunggu waktu. Dan jika itu terjadi, masyarakat dunia akan kembali dipaksa membayar harga mahal dari perang yang mereka tidak mulai. Tragisnya, banyak negara bahkan tak punya keberanian politik untuk benar-benar menekan Washington agar berhenti. Sebagian terlalu bergantung secara ekonomi. Sebagian takut kehilangan perlindungan keamanan. Sebagian lagi memilih diam demi kepentingan dagang. Akhirnya dunia berjalan seperti penumpang bus yang tahu sopirnya ugal-ugalan, tetapi tak ada yang berani merebut setir.

Pada akhirnya, mungkin inilah wajah paling pahit dari tatanan global hari ini. Dunia tidak benar-benar dipimpin oleh moralitas, melainkan oleh kekuatan. Dan ketika kekuatan memilih jalan perang, masyarakat dunia hanya diberi dua pilihan: ikut menanggung akibatnya atau diam sambil berharap badai segera lewat. Tetapi sejarah menunjukkan satu hal. Badai yang dibiarkan terus tumbuh biasanya tidak berhenti menjadi angin. Ia berubah menjadi krisis.

Dan kali ini, aroma krisis itu sudah mulai terasa dari harga minyak dunia hingga dapur rakyat biasa.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer