Connect with us

Opini

Jerman Mulai Gelisah Saat Amerika Perlahan Pergi

Published

on

Tentara Jerman di tengah bayang-bayang penarikan pasukan AS

Malam-malam di Eropa kini tidak lagi setenang brosur wisata yang menjual romantisme jalan batu dan lampu kota tua. Ada kegelisahan yang merayap diam-diam di balik gedung parlemen, markas NATO, dan ruang rapat para menteri pertahanan. Jerman, negara yang selama puluhan tahun menikmati kemewahan menjadi raksasa ekonomi tanpa harus terlalu serius memikirkan perang, tiba-tiba dipaksa menatap cermin sejarahnya sendiri. Dan pantulan yang muncul di sana tampaknya membuat mereka gugup.

Laporan tentang rencana United States menarik sekitar 5.000 pasukan dari Jerman bukan sekadar kabar militer biasa. Itu semacam alarm psikologis bagi Eropa. Selama ini Berlin hidup nyaman di bawah payung keamanan Washington. Mereka bisa fokus bicara soal transisi hijau, mobil listrik, kesejahteraan sosial, dan demokrasi liberal sambil membiarkan tentara Amerika menjaga langit mereka. Praktis. Murah. Nyaman. Tetapi sejarah selalu punya cara kasar untuk membangunkan orang yang terlalu lama tidur nyaman.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Kini, ketika Amerika mulai memberi sinyal bahwa perlindungan itu tidak lagi mutlak, Jerman terlihat seperti penghuni rumah besar yang baru sadar satpam kompleksnya mau pindah kerja. Panik mulai terasa, meski dibungkus bahasa diplomatik yang sopan dan teknokratik.

Karena itulah narasi “ancaman Rusia” terus dihembuskan.

Saya rasa publik Jerman tidak sepenuhnya bodoh untuk menelan semua itu mentah-mentah. Mereka tahu geopolitik memang sedang panas. Mereka tahu perang Ukraina mengubah peta keamanan Eropa. Tetapi mereka juga tahu bahwa pemerintah membutuhkan legitimasi agar proyek remiliterisasi bisa diterima masyarakat. Ancaman harus terlihat nyata. Ketakutan harus dipelihara. Kalau tidak, siapa yang mau mendukung kenaikan anggaran militer ketika ekonomi sedang lesu?

Di sinilah ironi besar itu muncul.

Selama bertahun-tahun Eropa mengajarkan dunia tentang perdamaian, hak asasi manusia, dan pentingnya diplomasi. Mereka tampil sebagai simbol peradaban modern yang konon telah melampaui mentalitas perang abad ke-20. Namun sekarang mereka kembali sibuk menghitung jumlah tank, personel militer, dan kapasitas cadangan perang. Seolah sejarah sedang mengejek mereka pelan-pelan.

Dan Jerman berada di pusat kegelisahan itu.

Kita semua tahu sejarah membuat militerisme Jerman selalu menjadi isu sensitif. Bayangan Perang Dunia belum benar-benar hilang dari memori kolektif Eropa. Karena itu Berlin bergerak sangat hati-hati. Mereka tidak bisa tiba-tiba berkata, “kami harus memperkuat militer besar-besaran.” Kalimat seperti itu akan terdengar mengerikan di telinga sebagian orang Eropa. Maka dipilihlah jalur bertahap: perekrutan sukarela, kampanye pertahanan nasional, dan pembentukan opini publik bahwa ancaman Rusia nyata dan mendesak.

Masalahnya, masyarakat Jerman modern sudah terlalu nyaman hidup tanpa budaya militer.

Generasi muda mereka tumbuh dengan kopi artisan, festival musik, startup digital, dan liburan murah antarnegara Eropa. Militer bukan lagi simbol kehormatan nasional, melainkan profesi penuh risiko yang kurang menarik. Maka ketika pemerintah mulai mengirim sinyal soal perekrutan anak muda dan kemungkinan wajib militer, respons publik cenderung dingin. Bahkan skeptis.

Dan skeptisisme itu masuk akal.

Rusia sendiri berkali-kali membantah tuduhan bahwa mereka ingin menyerang NATO atau menginvasi Eropa Barat. Moscow justru mengatakan ekspansi NATO dan peningkatan kekuatan militer Eropa sebagai ancaman terhadap keamanan Rusia. Jadi publik Jerman melihat dua narasi besar saling bertabrakan di depan mata mereka. Satu pihak bicara soal ancaman Kremlin. Pihak lain menyebut Barat sedang membangun paranoia perang.

Akibatnya, pemerintah Jerman berada dalam posisi yang tidak mudah. Mereka ingin memperkuat militer, tetapi harus meyakinkan masyarakat terlebih dahulu bahwa ancaman itu nyata. Dan di negara demokrasi, rasa takut tidak bisa dipaksakan sepenuhnya lewat pidato politik.

Saya rasa ini yang membuat situasi Jerman jauh lebih kompleks dibanding sekadar urusan pertahanan.

Karena yang sedang dipertaruhkan sebenarnya adalah perubahan identitas nasional. Selama puluhan tahun Jerman dikenal sebagai mesin ekonomi Eropa, bukan kekuatan militer utama. Mereka nyaman dengan posisi itu. Bahkan mungkin bangga. Tetapi sekarang realitas geopolitik memaksa mereka berubah. Ketika Amerika perlahan mengurangi keterlibatan langsung, Eropa mau tak mau membutuhkan pemimpin baru dalam urusan keamanan. Dan secara ekonomi, hanya Jerman yang benar-benar punya kapasitas untuk itu.

Namun sejarah membuat langkah tersebut terasa seperti berjalan di ladang ranjau.

Ironis sekali. Negara yang terlalu kuat militernya dulu ditakuti dunia, kini justru kesulitan membangun militernya sendiri karena trauma sejarah yang belum selesai. Seolah masa lalu terus menarik kaki mereka setiap kali mencoba melangkah lebih jauh.

Di sisi lain, ekonomi Jerman juga sedang tidak baik-baik saja. Harga energi naik sejak hubungan dengan Rusia memburuk. Industri manufaktur melemah. Daya saing turun. Banyak perusahaan mulai gelisah menghadapi biaya produksi tinggi. Dalam situasi seperti itu, proyek penguatan militer jelas bukan keputusan murah.

Dan publik pasti mulai bertanya dengan nada sinis: uang untuk senjata selalu tersedia, tetapi subsidi energi dan biaya hidup selalu diperdebatkan panjang?

Pertanyaan itu wajar.

Karena rakyat biasa selalu merasakan perang dengan cara berbeda dibanding elit politik. Politisi melihatnya sebagai strategi keamanan. Industri pertahanan melihatnya sebagai peluang bisnis. Tetapi warga biasa melihat tagihan listrik, harga pangan, dan ketidakpastian pekerjaan.

Mungkin karena itu banyak masyarakat Jerman belum benar-benar antusias mendukung proyek remiliterisasi ini. Ancaman perang terasa abstrak. Sementara tekanan ekonomi terasa nyata setiap hari.

Saya jadi teringat suasana di banyak negara, termasuk di Indonesia. Kadang pemerintah terlalu sibuk menjual narasi besar tentang ancaman eksternal, sementara rakyat lebih pusing memikirkan cicilan motor dan harga sembako. Geopolitik memang penting, tetapi perut kosong sering kali lebih meyakinkan daripada pidato tentang keamanan global.

Dan mungkin inilah yang membuat proyek militer Jerman berjalan lambat. Mereka sedang mencoba mengubah budaya masyarakat yang selama puluhan tahun hidup dalam rasa aman. Itu tidak mudah. Sangat tidak mudah.

Apalagi generasi muda Eropa sekarang tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mereka lebih akrab dengan TikTok dibanding latihan militer. Mereka bicara soal kesehatan mental, work-life balance, dan kebebasan individu. Pemerintah boleh saja bicara soal patriotisme, tetapi patriotisme modern tidak lagi otomatis berarti siap mengangkat senjata.

Karena itu perekrutan tentara muda di Jerman terasa seperti simbol zaman yang berubah. Dunia yang dulu dijanjikan akan semakin damai justru bergerak ke arah sebaliknya. Negara-negara kembali bicara soal deterrence, cadangan perang, dan industri persenjataan. Bahkan kata “wajib militer” yang dulu terdengar kuno mulai muncul lagi dalam diskusi publik Eropa.

Dan semua itu terjadi ketika ekonomi global sedang rapuh.

Lucu juga melihat bagaimana negara-negara Barat selama ini mengkritik negara lain soal militerisme, tetapi kini mereka sendiri sibuk memperbesar anggaran pertahanan. Rupanya idealisme memang sering tunduk ketika rasa takut mulai datang.

Saya tidak mengatakan Jerman salah memperkuat militer. Dalam dunia yang semakin tidak stabil, setiap negara tentu ingin menjaga keamanannya. Itu wajar. Tetapi yang menarik adalah bagaimana ketakutan kini diproduksi dan dipasarkan secara politik agar masyarakat menerima perubahan besar tersebut.

Karena tanpa rasa takut, proyek militer sulit dijual.

Dan mungkin di situlah bahaya terbesar sebenarnya. Ketika masyarakat terus-menerus dicekoki narasi ancaman, perlahan mereka bisa menerima hal-hal yang dulu dianggap berlebihan: pengawasan lebih ketat, anggaran militer besar, hingga normalisasi budaya perang.

Sejarah menunjukkan, perang besar sering kali tidak dimulai oleh ledakan pertama, melainkan oleh akumulasi rasa takut yang dipelihara terlalu lama.

Kini Jerman sedang berdiri di persimpangan aneh. Mereka ingin mandiri dari Amerika, tetapi belum siap sepenuhnya. Mereka ingin memperkuat militer, tetapi masyarakatnya belum tentu percaya ancamannya nyata. Mereka ingin memimpin Eropa, tetapi masih dihantui sejarah sendiri.

Dan di tengah semua itu, Amerika perlahan mundur sambil berkata: “urus keamanan kalian sendiri.”

Barangkali inilah akhir dari era nyaman Eropa. Era ketika mereka bisa hidup makmur tanpa terlalu memikirkan perang. Sekarang dunia berubah. Cepat. Kadang absurd. Kadang sinis.

Dan Jerman tampaknya baru mulai sadar bahwa payung keamanan yang selama ini mereka anggap permanen ternyata hanyalah kontrak politik yang bisa berubah kapan saja.

Sementara itu rakyat biasa hanya bisa melihat semuanya dengan senyum getir. Karena pada akhirnya, setiap kali negara-negara besar mulai bicara soal ancaman dan persenjataan, yang paling sering diminta berkorban tetaplah masyarakat biasa. Bukan para elit yang berpidato di balik podium hangat dan ruang konferensi berpendingin udara.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer