Opini
Wajah Asli Rezim Arab: Sekutu Zionis Hadapi Iran
Ada pemandangan yang semakin sulit ditelan logika, namun begitu sering kita lihat hingga terasa biasa. Di layar televisi, para pemimpin Arab berteriak lantang mengutuk “genosida Israel di Gaza,” meneteskan air mata diplomatik sambil menyebut kata “saudara seiman.” Tapi di ruang tertutup berpendingin udara, tangan-tangan yang sama itu justru menandatangani koordinasi militer dengan Zionis dan Amerika Serikat—bukan untuk membela Palestina, melainkan untuk menghadapi Iran. Ironi ini bukan sekadar kebocoran dokumen. Ia adalah kebocoran nurani
Menurut laporan The Washington Post yang dibocorkan pada 11 Oktober, selama tiga tahun terakhir pejabat dari enam negara Arab rutin duduk semeja dengan pejabat Israel dan Amerika di Bahrain, Mesir, Yordania, dan Qatar. Mereka bukan membahas rekonstruksi Gaza atau nasib pengungsi Palestina, tetapi mengatur sistem pertahanan udara bersama—dengan satu tujuan: melindungi Israel dari serangan Iran. Mereka menyebutnya Regional Security Construct, sebuah nama manis untuk sesuatu yang pahit: aliansi militer rahasia antara rezim Arab dan Zionis.
Saya rasa kita semua tahu, dunia Arab punya tradisi panjang dalam berkata satu hal dan melakukan hal lain. Tapi ini lebih dari sekadar kemunafikan politik; ini semacam pertunjukan teatrikal di mana pemerannya tahu penonton sudah muak, tapi tetap melanjutkan sandiwara. Sebab, seperti kata seorang pejabat Amerika dalam laporan itu: “Mereka semua berpikir Israel bisa melakukan apa pun tanpa terdeteksi.” Betul sekali. Bahkan dosa sebesar genosida pun bisa diabaikan jika diselimuti dengan jubah kepentingan.
Lihat saja Arab Saudi dan Yordania. Ketika rudal dan drone Iran melintasi langit mereka menuju Israel dalam operasi True Promise, kedua negara itu membantu Amerika dan Israel menembaknya jatuh. Mereka menjadi perisai bagi negara yang setiap hari membunuh warga Gaza. Tapi di mimbar internasional, mereka tetap bicara soal kemanusiaan. Apakah ini yang disebut solidaritas Arab? Solidaritas untuk memastikan Israel tetap aman sementara Gaza hancur lebur?
Lebih lucu lagi, Qatar—yang selama ini dipuji sebagai mediator konflik dan tempat perlindungan politik Hamas—ternyata ikut serta dalam koordinasi ini. Bahkan setelah ibu kota Doha diserang oleh Israel pada September lalu, mereka tetap melanjutkan kerja sama. Barangkali begitulah watak dunia diplomasi Arab modern: diserang pun tetap tersenyum, asal kontrak pertahanan dan pangkalan AS tidak terganggu. Dalam kamus para penguasa Teluk, martabat tidak lebih mahal daripada stabilitas kurs mata uang.
Sementara itu, CENTCOM—komando militer AS di Timur Tengah—tak hanya mengatur radar dan sistem pertahanan. Mereka juga memimpin information operations untuk “mengimbangi narasi Iran sebagai pelindung Palestina.” Artinya, perang ini tak lagi sekadar soal misil dan drone, tapi juga soal siapa yang pantas disebut pembela Palestina. Amerika dan sekutunya ingin merebut peran itu dari Iran dengan membangun citra bahwa dunia Arab-lah yang kelak akan “menstabilkan Gaza.” Kita tahu apa artinya stabilisasi dalam versi Washington: pengendalian, bukan kemerdekaan.
Lebih jauh, bocoran dokumen itu juga menyebut pelatihan rahasia di Fort Campbell, Kentucky, di mana militer AS melatih pasukan dari enam negara untuk menghadapi perang terowongan—seperti yang digunakan Hamas dan Jihad Islam. Dengan kata lain, rezim Arab sedang diajari cara menghancurkan teknik bertahan para pejuang Palestina. Jadi, ketika nanti mereka mengirim pasukan dalam nama “International Stabilization Force”, jangan kaget jika yang mereka stabilkan adalah kekuasaan Israel, bukan kehidupan warga Gaza.
Ini semua memperlihatkan satu hal: rezim-rezim Arab telah lama bergeser dari orientasi ideologis ke orientasi keamanan. Mereka tak lagi berpikir soal “umat Islam” atau “persaudaraan Arab.” Yang mereka pikirkan hanya bagaimana mempertahankan kekuasaan domestik dari “ancaman Iran.” Iran telah menjadi cermin yang paling mereka benci, karena bayangan di dalamnya menunjukkan apa yang mereka tidak punya: keberanian untuk menantang hegemoni.
Dan di sinilah absurditas itu terasa paling menyengat. Negara-negara yang menuduh Iran sebagai “pengacau kawasan” justru bersekutu dengan kekuatan yang paling banyak menumpahkan darah warga sipil Timur Tengah selama setengah abad terakhir. Mereka takut pada bayangan Iran lebih dari pada kenyataan Israel. Mereka gemetar pada nama Hizbullah, tapi berpelukan dengan tangan yang berlumuran darah di Gaza. Betapa anehnya dunia Arab hari ini—berdoa untuk Palestina di pagi hari, lalu menandatangani kontrak radar pertahanan Israel di sore hari.
Kita di Indonesia tentu akrab dengan model kemunafikan semacam ini. Di sini pun banyak yang bersuara lantang soal “solidaritas umat,” tapi diam ketika kepentingan ekonomi menuntut kompromi moral. Namun di dunia Arab, skala kemunafikan itu telah naik level: bukan lagi sekadar diam, tapi aktif membantu penjajah. Jika politik Arab diibaratkan panggung sandiwara, maka naskahnya ditulis di Washington, disutradarai di Tel Aviv, dan dimainkan oleh aktor-aktor yang berserban emas.
Saya tak tahu apakah kata “pengkhianatan” masih cukup menggambarkan situasi ini. Sebab yang dikhianati bukan hanya rakyat Palestina, tapi juga sejarah panjang perjuangan dunia Islam melawan kolonialisme. Rezim-rezim itu telah menjadikan isu Palestina sebagai komoditas moral—dijual saat perlu menaikkan citra, disembunyikan saat bernegosiasi dengan AS. Mereka menukar darah Gaza dengan sistem pertahanan udara buatan Lockheed Martin, dan menyebutnya “kerja sama strategis.”
Namun kita juga perlu jujur: semua ini tidak terjadi tiba-tiba. Normalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords hanyalah pintu masuk resmi dari hubungan yang sudah lama berlangsung di bawah meja. Bedanya, kini kebocoran dokumen itu membuat semua orang bisa melihat dengan jelas wajah aslinya. Tak ada lagi tabir diplomatik untuk menutupi kenyataan bahwa sebagian besar rezim Arab bukan lagi musuh Israel—mereka adalah sekutunya yang taat, bahkan sebelum genosida di Gaza berakhir.
Mungkin di masa depan, generasi muda Arab akan membaca kisah ini dengan getir. Mereka akan tahu bahwa ketika rakyat Gaza berjuang mempertahankan hidup, para pemimpin mereka sedang belajar cara menghancurkan terowongan Hamas di Kentucky. Mereka akan tahu bahwa ketika dunia menuntut keadilan, para penguasa mereka sedang berbagi data radar dengan militer AS. Dan mungkin, mereka akan bertanya seperti kita bertanya hari ini: di manakah letak harga diri bangsa Arab yang dulu dielu-elukan sebagai simbol perlawanan?
Pada akhirnya, laporan ini bukan sekadar bocoran rahasia. Ia adalah cermin retak yang memantulkan kenyataan pahit tentang dunia Arab modern: penuh simbol, minim substansi; banyak pidato, tapi kosong dari keberanian. Dunia Arab yang dulu menjerit “Bebaskan Palestina!” kini sibuk menyiapkan sistem pertahanan untuk melindungi Zionis. Dunia Arab yang dulu menuduh Barat sebagai penjajah kini menjadi tangan kanan imperialisme baru.
Dan sementara para pemimpin Arab menatap langit untuk menghalau drone Iran, rakyat Palestina tetap menatap tanah—tempat mereka dikubur hidup-hidup di bawah reruntuhan. Begitulah wajah asli rezim Arab hari ini: sekutu Zionis dalam perang melawan Iran, sekaligus pengkhianat paling sunyi terhadap Palestina.
