Opini
Trump Datang, Xi Menghitung Harga Sebuah Dunia
Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika pesawat kepresidenan mendarat di Beijing dan kamera-kamera dunia menyorot pertemuan Donald Trump dengan Xi Jinping. Di layar televisi, semua tampak rapi: karpet merah, jabat tangan, senyum diplomatik, kalimat-kalimat sopan yang dipoles sedemikian rupa agar terdengar seperti musik penenang bagi pasar global. Tetapi kita semua tahu, diplomasi tingkat tinggi kadang seperti foto keluarga saat Lebaran: semua tersenyum di depan kamera, lalu setelah tamu pulang, grup keluarga kembali ribut. Ada ketegangan yang disembunyikan. Ada kecemasan yang disetrika hingga tampak licin.
Saya rasa justru di situ ironi terbesar dari Trump Xi Jinping kali ini. Dunia terlalu terbiasa membaca pertemuan besar sebagai tontonan cepat: datang, duduk, sepakat, lalu pulang. Padahal urusan negara adidaya bukan transaksi beli gorengan di pinggir jalan. Ini bukan perlombaan lari seratus meter. Ini maraton. Kadang bahkan lebih mirip permainan catur yang langkah pertamanya baru terasa dampaknya beberapa tahun kemudian. Dan mungkin justru karena itu, publik terlalu cepat bertanya: apa hasilnya? Apa yang disepakati? Padahal pertanyaan yang lebih penting mungkin jauh lebih sederhana sekaligus lebih mengganggu: siapa sebenarnya yang lebih membutuhkan siapa?
Pertanyaan itu terasa tidak nyaman karena selama bertahun-tahun publik global dijejali narasi yang nyaris seragam. China adalah ancaman. China harus dibendung. China harus ditekan. Tarif dinaikkan. Sanksi diberikan. Teknologi dibatasi. Industri dipagari. Dalam imajinasi politik Barat, China kerap diposisikan seperti murid yang harus diberi hukuman agar kembali tertib. Tetapi sejarah kadang punya selera humor yang kejam. Kini dunia menyaksikan sesuatu yang hampir satir: setelah bertahun-tahun tekanan diberikan, Washington justru datang ke Beijing membawa koper diplomatik. Dan seperti tamu yang datang ke rumah orang yang dulu sering ia omeli, pertanyaannya jadi canggung: isi koper itu apa?
Masalahnya sederhana. Trump Xi Jinping hari ini bukan pertemuan Trump dengan China sepuluh tahun lalu. China hari ini bukan China yang dulu mati-matian mengejar legitimasi ekonomi global. China bukan lagi negara yang hanya menunggu akses pasar Barat. Mereka membangun teknologi sendiri, memperluas pengaruh ekonomi, memperkuat jaringan dagang, memperluas pasar, dan yang paling penting: memperbesar pilihan. Kata kuncinya ada di situ. Pilihan.
Negara yang punya banyak pilihan biasanya punya kemewahan yang jarang dimiliki pihak lain: kemampuan untuk menunggu. Tidak tergesa-gesa. Tidak panik. Tidak buru-buru menerima tawaran pertama. Xi tampak memahami itu. Sangat memahami. Dan saya kira ketenangan Beijing bukan sekadar soal kepercayaan diri. Itu matematika geopolitik.
Banyak orang menganggap fokus utama pertemuan Trump Xi Jinping adalah Taiwan. Masuk akal. Taiwan memang garis merah China. Laut China Selatan juga. Integritas wilayah bagi Beijing bukan barang diskon yang bisa dinegosiasikan sambil minum teh. Tetapi saya rasa ada sesuatu yang terlalu cepat diambil kesimpulannya. Sebab realitas lapangan saat ini menunjukkan bahwa yang sedang terbakar bukan Taiwan. Yang panas justru Iran dan kawasan Timur Tengah. Dan di situlah teka-teki mulai muncul.
Menteri luar negeri Iran lebih dulu datang ke China. Beberapa waktu sebelumnya, AS juga menjatuhkan sanksi kepada sejumlah entitas China. Lalu Trump datang. Agak lucu juga. Sedikit absurd. Seperti seseorang melempar batu ke rumah tetangga, lalu beberapa hari kemudian datang membawa kue sambil berkata mari kita bicara baik-baik. Tentu dunia diplomasi lebih rumit daripada itu. Tapi ironi tetap ironi.
Karena jika benar isu Iran masuk dalam pembahasan, maka pertanyaan besarnya bukan: apa yang diminta Trump? Melainkan: apa untungnya bagi China? Saya kira Beijing tidak bekerja dengan logika simpati. Mereka juga tidak bekerja dengan logika ideologi sempit. China terlihat lebih dingin dari itu. Mereka bertanya: apa manfaatnya? Apa risikonya? Apakah sepadan? Selesai.
Dan di situlah saya melihat perubahan besar yang mungkin belum sepenuhnya disadari Washington. Selama ini tekanan sering menjadi bahasa utama. Ancaman tarif. Pembatasan teknologi. Sanksi. Tetapi setelah bertahun-tahun, China tidak runtuh. Tidak menyerah. Tidak tiba-tiba berkata baiklah, kami ikut aturan Anda. Yang terjadi justru sebaliknya: China mempercepat adaptasi. Kadang tekanan yang dimaksudkan untuk melemahkan lawan justru membuat lawan berlatih lebih keras.
Ini seperti orang tua yang mengancam anaknya agar berhenti bermain bola. Lalu anak itu diam-diam terus latihan di lapangan lain, tumbuh lebih besar, dan beberapa tahun kemudian justru direkrut klub besar. Ancamannya tetap ada. Dampaknya juga ada. Tetapi hasil akhirnya tidak seperti yang dibayangkan.
Karena itu saya rasa tantangan Trump kali ini jauh lebih rumit daripada sekadar diplomasi biasa. Jika ancaman tidak cukup, pujian juga tidak cukup. Mendekat sambil tersenyum belum tentu cukup. Sebab China bukan mencari teman. Mereka mencari keuntungan strategis. Dan jangan salah paham, keuntungan bukan selalu soal uang. Keuntungan bisa berarti waktu, ruang gerak, pengakuan posisi, stabilitas, atau peluang jangka panjang.
China tampaknya memahami satu hal penting: terlalu dekat ke satu pihak berarti terlalu jauh dari pihak lain. Jika terlalu tertarik ke Rusia, ruang geraknya menyempit. Jika terlalu tertarik ke Iran, ruang geraknya juga menyempit. Jika terlalu tertarik ke AS, hasilnya sama. Maka strategi paling menguntungkan adalah tetap menjadi China. Tidak masuk sepenuhnya ke blok mana pun. Tidak menjadi perpanjangan siapa pun.
Dan mungkin di situlah keuntungan Beijing saat ini. Mereka tidak sedang berperang langsung dengan siapa pun. Mereka masih bisa menerima Trump. Menerima Putin. Menerima pejabat Iran. Menerima Eropa. Bisa duduk dengan siapa saja. Sebab mereka tidak menutup pintu. Mereka hanya bertanya: apa tawaran Anda?
Lalu kita sampai pada pertanyaan yang menurut saya paling menarik. Bagaimana jika Trump pulang tanpa membawa kesepakatan besar? Banyak orang akan menyebutnya gagal. Saya tidak terlalu yakin. Sebab dalam negosiasi besar, kadang hasil terpenting bukan kesepakatan. Informasi juga hasil. Trump mungkin pulang dengan daftar baru: apa yang China inginkan, apa yang tidak menarik bagi China, mana garis merah, mana wilayah kompromi. Xi juga mungkin pulang membawa daftar yang sama tentang Washington.
Dan kita semua tahu, hasil kesepakatan tidak selalu diumumkan. Justru sering yang paling penting tidak pernah masuk konferensi pers. Yang harus diperhatikan bukan kata-kata. Lihat langkahnya. Apakah ada perubahan? Apakah sanksi berubah? Apakah retorika mereda? Apakah tekanan menurun? Atau semuanya tetap sama?
Sesederhana itu.
Karena dunia kadang terlalu sibuk mendengar pidato, padahal sejarah lebih sering bergerak diam-diam. Dan mungkin setelah semua lampu kamera mati, setelah semua jabat tangan selesai, setelah semua senyum diplomatik menghilang, dua negara besar itu pulang bukan membawa kemenangan. Mereka pulang membawa kalkulator.
Dan saya rasa, justru di situlah cerita sebenarnya baru dimulai.
