Connect with us

Opini

Standar Ganda Barat di Bayang Nuklir Israel

Published

on

Editorial illustration showing Western hypocrisy over nuclear power with Iran seeking peaceful energy and Israel hiding a warhead

Di ruang diplomasi yang sering terasa dingin, kata “keamanan” bergema seperti mantra yang konon demi perdamaian dunia. Tapi kita tahu, tak semua mantra suci. Di balik tembok perundingan yang berlapis jargon, ada bayangan panjang: Israel dengan senjata nuklir yang tak diakui tapi juga tak disangkal, dan Iran yang setiap gerakannya diawasi, dipelototi, dikerangkeng. Saya rasa kita sedang menyaksikan teater lama, di mana Barat memegang naskah, dan dunia dipaksa menonton tanpa boleh mengoreksi alur.

Iran melalui Kazem Gharibabadi menegaskan kesabaran punya batas. Jika sanksi diaktifkan kembali, kesepakatan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan dibatalkan. Ancaman? Bagi sebagian, iya. Tapi lebih dari itu, sinyal kelelahan. Selama berminggu-minggu mereka meniti jalur diplomasi, bahkan menyambut gagasan Rusia dan Tiongkok untuk memperpanjang tenggat “trigger mechanism”—upaya terakhir agar kawasan tak meledak. Namun Eropa, yang awalnya menenangkan, tiba-tiba menolak. Janji yang retak bukan hanya memalukan; ia menelanjangi watak sesungguhnya dari tatanan yang katanya adil.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ali Larijani menambahkan ironi baru. Eropa dulu berkata, “kami tak akan aktifkan mekanisme pemicu jika Iran berkompromi.” Iran setuju, bahkan membuka peluang dialog dengan Amerika Serikat demi menutup celah alasan. Namun, seperti janji yang ditiup angin, kata-kata itu menguap. Lalu Barat dengan wajah datar menuduh Teheran bermain ganda. Bukankah ini seperti meminta seseorang menari di lantai licin, lalu menertawakan ketika dia jatuh?

Kita semua tahu, dunia ini bukan ruang kelas moral. Tapi tetap saja, sulit menelan logika yang disajikan. Mengapa Israel, dengan reaktor Dimona yang sejak lama dikabarkan menyimpan puluhan hulu ledak, tak pernah dihadapkan pada ancaman sanksi? Tak ada inspektur IAEA yang mengetuk pintu fasilitasnya, tak ada pertemuan darurat Dewan Keamanan. Diam. Sunyi. Barat memilih pura-pura tak tahu, seolah senjata yang tak diakui itu tak pernah ada.

Barat selalu berkata ini soal “keamanan internasional.” Tapi keamanan menurut siapa? Menurut peta yang mereka gambar sendiri. Di Jakarta atau Yogyakarta kita juga tahu rasanya—aturan yang hanya berlaku untuk sebagian orang. Persis seperti lalu lintas yang ditutup sepihak untuk pejabat, sementara warga menunggu berjam-jam. Dunia pun demikian: negara yang “anak emas” boleh mengebom tetangga, sementara yang lain disuruh menahan diri bahkan untuk penelitian nuklir medis.

Sebagian orang mungkin akan berkata, “Tapi jika semua punya nuklir, dunia akan kacau.” Benarkah? Kacau bagi siapa? Nyatanya, justru negara-negara yang sudah punya bom paling rajin menguji coba dan memamerkan kekuatan. Mereka bicara pencegahan, padahal sejarah penuh catatan kesalahan perhitungan. Sementara negara yang berupaya menapaki jalur sipil malah disudutkan seolah ancaman laten. Standar ganda yang bahkan anak sekolah bisa membaca ironi di dalamnya.

Saya teringat ungkapan teman di warung kopi: “Kalau cuma satu orang boleh main gitar, itu bukan karena takut bising, tapi takut tersaingi.” Analogi sederhana, tapi tepat. Barat tak sekadar menjaga keamanan; mereka menjaga panggung, memastikan musik hanya mengalun dari pemain yang mereka pilih. Iran dilarang memainkan nada tinggi, karena bisa menyaingi orkestra yang sudah mapan.

Dalam permainan catur ini, Rusia dan Tiongkok mencoba jadi bidak penyeimbang. Usulan perpanjangan enam bulan adalah ajakan bernapas sejenak, menahan gejolak. Iran mengangguk, berharap jeda. Tapi troika Eropa menepis. Mengapa? Karena dalam benak mereka, jeda justru memberi Iran ruang menata langkah. Dan itu menakutkan—bukan karena ancaman bom, tapi karena ancaman kemandirian. Dunia yang setara adalah kabar buruk bagi kekuasaan yang mapan.

Kita di Indonesia tentu punya perspektif sendiri. Kita bukan kekuatan nuklir, tapi kita pernah merasakan intervensi asing, tahu betul rasa didikte. Kita tahu bagaimana rasanya menandatangani perjanjian yang di satu sisi disebut “kemitraan,” tapi di sisi lain menjerat kebebasan. Maka mudah bagi kita memahami frustrasi Teheran. Ini bukan soal suka atau tidak pada pemerintah Iran. Ini soal menolak ketidakadilan yang telanjang.

Bila menengok sejarah, pola ini bukan hal baru. Pada 1950-an, ketika Indonesia mulai bicara nasionalisasi sumber daya alam, tekanan asing segera datang. Cerita serupa dialami banyak negara Amerika Latin yang berani mengusik kepentingan korporasi Barat. Selalu ada narasi “stabilitas regional” atau “perlindungan keamanan,” tetapi di ujungnya, kepentingan ekonomi dan geopolitiklah yang menang. Kini skenarionya hanya berubah lokasi: dari minyak ke nuklir, dari Sumatra ke Teheran.

Bahkan di dalam negeri kita, konsep “keamanan” kerap dipakai sebagai alasan membungkam. Kita mengenal kata “demi ketertiban umum,” yang sering berujung pada pembatasan kebebasan. Ketika kata itu diucapkan berulang, kita belajar bahwa keamanan bisa berarti apa saja, selama yang berkuasa mau menafsirkannya. Jadi wajar jika Iran, atau siapa pun, menatap sinis setiap kali Barat menuntut demi “keamanan global.”

Ironisnya, ancaman justru datang dari ketidakadilan itu sendiri. Semakin jelas standar ganda, semakin besar dorongan negara lain untuk menantang aturan. Jika semua merasa diperlakukan adil, mungkin keinginan untuk menempuh jalur rahasia berkurang. Tapi ketika yang satu diistimewakan dan yang lain dicekik, godaan melawan jadi lebih besar. Bukankah kita semua, ketika merasa diperlakukan tidak adil, diam-diam menyimpan api?

Kita bisa saja berdebat soal ideologi, soal siapa yang “benar” secara moral. Namun kenyataan di lapangan berbicara lantang: Israel tak pernah menandatangani Traktat Non-Proliferasi (NPT) tetapi tetap diterima di banyak forum internasional; Iran, yang masih menjadi anggota, justru dikepung sanksi. Bukankah itu parodi hukum? Seperti wasit yang membiarkan satu tim bermain kasar, lalu meniup peluit ketika tim lawan sekadar mengangkat kaki.

Dan mari kita jujur, ancaman nuklir terbesar dalam sejarah tidak datang dari Teheran atau Pyongyang, melainkan dari negara-negara yang mengklaim diri paling “bertanggung jawab.” Hiroshima dan Nagasaki adalah luka yang ditinggalkan mereka yang kini memegang bendera moralitas. Itu fakta yang tak bisa dihapus dengan pidato konferensi pers.

Pada akhirnya, Iran mungkin akan benar-benar menghentikan kesepakatan IAEA jika sanksi kembali digulirkan. Dunia Barat akan menuding, “Lihat, mereka tak bisa dipercaya.” Padahal, yang pertama kali mengoyak kesepakatan adalah pihak yang kini berteriak paling keras. Ini pola lama: provokasi, lalu pembenaran. Sebuah siklus yang sudah begitu akrab, sampai kita hampir bosan menyebutnya.

Standar ganda Barat di bayang nuklir Israel bukan sekadar isu Timur Tengah. Ia cermin dunia yang kita huni: tatanan di mana kekuatan lama menentukan siapa boleh maju, siapa harus diam, siapa berhak disebut ancaman. Kita bisa pura-pura tak melihat, seperti banyak pemimpin dunia yang sibuk menimbang untung-rugi dagang. Atau kita bisa menatap lurus dan berkata: ini bukan keamanan global, ini dominasi. Dan dominasi, seperti sejarah ajarkan, tak pernah abadi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer