Connect with us

Opini

Proyek Zionis: Anak Kandung Amerika di Timur Tengah

Published

on

Untuk mempertahankan operasi militernya yang terus berlangsung di kawasan Asia Barat, Israel telah menyetujui penambahan anggaran militer sebesar 42 miliar shekel (sekitar $12,5 miliar) untuk tahun 2025–2026. Begitulah Bloomberg membuka laporannya—datar, dingin, seperti biasa. Angka-angka dipajang tanpa rasa, seolah yang mereka bicarakan hanyalah urusan spreadsheet dan bukan kisah darah, reruntuhan, dan nyawa yang berhamburan. Tapi di balik angka-angka itu, tersembunyi sebuah absurditas global yang terlalu besar untuk dicerna akal sehat yang waras: bahwa ada satu entitas negara yang bisa terus melanjutkan pembantaian regionalnya, dengan cek kosong dari kekuatan adidaya yang konon menjunjung demokrasi.

$12.5 miliar hanya tambahan. Total anggaran militernya sudah mencapai $32.7 miliar untuk tahun 2025 saja, atau kira-kira 8,8% dari Produk Domestik Bruto. Sebagai perbandingan: Indonesia, dengan jumlah penduduk 9 kali lipat lebih banyak, hanya mengalokasikan sekitar 0,8% dari PDB untuk sektor pertahanan. Tapi siapa kita dibandingkan dengan negara kecil yang bisa menembak seenaknya, memblokade sesuka hati, dan ketika dunia marah, tinggal bersembunyi di balik ketiak Paman Sam?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Sejak Oktober 2023, Israel mengubah dirinya menjadi ekonomi perang. Militer bukan lagi alat pertahanan, tapi poros utama roda ekonomi. Tahun 2024 saja, belanja militernya melonjak 65%, menembus angka $46.5 miliar—kenaikan tertinggi sejak Perang Enam Hari 1967. Kalau ini bukan pertanda bahwa negeri itu hidup dari perang, maka entah apa lagi namanya. Gaza dibombardir, Lebanon dibombardir, Suriah dijadikan halaman belakang latihan militer, bahkan Iran sempat dijajal. Tiap rudal yang diluncurkan, tiap rumah yang diratakan, bisa dilihat sebagai “investasi strategis”—dan semuanya dibiayai sebagian besar oleh pajak warga negara Amerika.

Di negeri Paman Sam, para tunawisma bertambah, harga rumah melambung, dan utang mahasiswa menjerat generasi muda. Tapi, seperti ada ritual suci tak tertulis, Kongres tetap menyetujui tambahan $17,9 miliar bantuan militer sejak Oktober 2023 untuk negeri kecil yang selalu merasa terancam, meskipun punya senjata nuklir dan dukungan veto di PBB. Ketika rakyat Amerika butuh sekolah gratis, pemerintahnya membiayai peluru. Ketika rakyatnya butuh jaminan kesehatan, negaranya justru menjamin kemenangan pasukan Zionis.

Ada yang bilang, Israel hanyalah pion Amerika di Timur Tengah. Tapi pion macam apa yang bisa menampar tuannya tanpa dibalas? Mungkin lebih tepat disebut: anak kandung. Dibesarkan dengan penuh kasih, dilindungi dengan segenap tenaga, dan dibiarkan nakal selama tetap menjalankan misi keluarga: menjaga dominasi, menekan perlawanan, dan memastikan minyak serta pengaruh tetap mengalir ke arah yang benar. Timur Tengah, bagi Amerika, bukan rumah orang. Ia adalah ladang kepentingan, dan Israel adalah traktor utamanya—kadang liar, tapi selalu produktif.

Yang lebih menggelikan adalah cara mereka membungkus semua ini dalam narasi tentang “eksistensi”. Bahwa semua anggaran luar biasa ini dibutuhkan karena Israel menghadapi ancaman eksistensial. Ironi terbesar abad ini: satu-satunya negara di kawasan yang punya nuklir merasa terancam oleh rakyat miskin yang hidup dalam penjara terbuka di Gaza. Negara dengan teknologi intelijen paling canggih di dunia merasa tak aman dari anak-anak yang melempar batu. Lalu, dalam bahasa yang sungguh manis: “kita hanya mempertahankan diri”. Lucunya, pertahanan itu selalu dimulai dengan serangan.

Kalau kamu tinggal di Jakarta, mungkin kamu pernah melihat anggaran absurd semacam ini di DPRD—proyek pengadaan lem aibon miliaran rupiah, misalnya. Tapi itu masih lucu-lucu menyedihkan. Di Palestina, angka miliaran berarti ratusan ribu orang kehilangan rumah, listrik, air bersih, bahkan kesempatan untuk bermimpi. Dan angka itu terus bertambah karena setiap “investasi” perang Israel selalu dibalas dengan bonus dari Amerika.

Tapi jangan salah. Israel bukan sekadar boneka. Ia adalah mitra yang aktif. Ia punya agenda sendiri—Zionisme. Bukan sekadar mempertahankan diri, tapi memperluas wilayah, mencaplok tanah, mendorong eksodus, dan menciptakan fakta di lapangan. Mereka mengklaim Tuhan sebagai makelar tanah, dan sejarah sebagai notaris. Masalahnya, semua itu butuh dana, dan siapa lagi yang lebih murah hati dari sang ayah ideologis: Amerika?

Kita sering bertanya, kenapa dunia Islam tak bersatu melawan ini? Kenapa negara-negara Arab lebih sibuk bersalaman dengan penjajah ketimbang membela sesama? Mungkin jawabannya sederhana: mereka tahu, melawan Israel berarti melawan Amerika. Dan melawan Amerika, dalam sistem dunia saat ini, adalah seperti menantang Google untuk berhenti menampilkan iklan. Kamu bisa marah, tapi mereka tetap punya kendali.

Bahkan ketika Iran membalas serangan Israel dengan ratusan drone dan rudal, dunia tiba-tiba ramai-ramai menyerukan “de-eskalasi”. Dunia Barat, yang bungkam ketika Gaza dibantai, tiba-tiba panik ketika Tel Aviv digetarkan. Dunia yang hipokrit ini hanya tahu dua jenis penderitaan: penderitaan kulit putih dan penderitaan yang bisa dijadikan headline simpati. Sisanya? Statistik.

Kini, dengan ekonomi yang mulai goyah—pertumbuhan hanya 1%, defisit membengkak, dan utang merangkak naik—Israel harus memilih antara meneruskan mimpi buruk kolonialnya atau mulai berbenah. Tapi tampaknya mereka memilih yang pertama, dan Amerika tetap bersedia membayar tagihannya. Di dunia nyata, rumah tangga semacam ini disebut hubungan toksik. Tapi di geopolitik, ini disebut “kerja sama strategis”.

Bagi kita yang tinggal jauh dari pusat ledakan, tapi dekat dengan layar ponsel, kenyataan ini kadang hanya terasa seperti berita yang lewat. Tapi jangan salah: setiap rudal yang dibiayai oleh Amerika, setiap rumah yang dihancurkan Israel, adalah bagian dari proyek kolonial global yang kita biarkan tumbuh karena terlalu sibuk menggulir story Instagram.

Proyek Zionis bukan proyek satu negara. Ia adalah proyek bersama. Ia adalah anak kandung dari sistem dunia yang membiarkan kekerasan selama menguntungkan. Dan selagi dunia Islam terpecah oleh mazhab dan perebutan pengaruh, sang anak terus tumbuh, makin agresif, makin kebal terhadap kritik, dan makin yakin bahwa Tuhan selalu di pihaknya—karena ayahnya di Washington, ibunya di Eropa, dan saudaranya di Wall Street.

Dalam sejarah nanti, mungkin anak-anak kita akan bertanya: “Apa yang kalian lakukan saat satu bangsa dimusnahkan secara sistematis?” Kita mungkin hanya bisa menjawab: kami menulis, kami berteriak, kami berbicara—tapi dunia terlalu sibuk menghitung laba dari perang yang panjang.

Dan di situlah letak ironi terakhir: bahwa dalam dunia yang katanya modern dan beradab, pembunuhan massal bisa berlangsung mulus… selama ada faktur, dan ada yang membayarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer