Opini
Perang Gaza di Tengah Drama Internal Tel Aviv
Kelompok sayap kanan Israel Finance Minister Bezalel Smotrich mungkin sedang merasa seperti orang yang ikut naik kapal perang tapi kaptennya tiba-tiba mengganti arah ke dermaga kafe. Dalam pandangannya, Benjamin Netanyahu telah menurunkan layar sebelum badai reda, memilih “setengah langkah” alih-alih “kemenangan total” di Gaza. Ia menatap peta dengan kemarahan yang tak disembunyikan, menuduh sang perdana menteri memberi Hamas waktu untuk bernapas, memulihkan tenaga, dan kembali bersuara. Padahal, katanya, “ini bukan cara memenangi perang.”
Bagi Smotrich, perang bukan sekadar menaklukkan kota atau merobohkan gedung. Ia ingin melihat Hamas lenyap dari peta politik dan militer, Gaza di bawah kendali permanen, dan—ini yang paling getir—membuka jalan bagi “migrasi sukarela” penduduknya. Kita semua tahu, istilah ini biasanya hanya terdengar manis di bibir, tapi getir di realitas: sebuah eufemisme untuk pengosongan wilayah. Di kepalanya, kemenangan total berarti pendudukan yang tak lagi mengenal tanggal kedaluwarsa.
Namun di meja kabinet keamanan, kenyataan bicara dengan bahasa yang berbeda. Netanyahu, yang konon memegang kendali, mengesahkan operasi terbatas di Gaza City. Alasannya sederhana namun penuh jebakan diplomatik: mengamankan wilayah, menjatuhkan Hamas, lalu menyerahkan pemerintahan kepada “kekuatan Arab” yang belum jelas namanya. Tidak ingin memerintah Gaza, katanya, tapi juga tak mau memberi tempat kepada Otoritas Palestina. Seperti seseorang yang ingin memutus hubungan tapi tetap mengatur hidup mantannya.
Di sisi lain, Kepala Staf Eyal Zamir punya hitung-hitungan sendiri. Pendudukan penuh? Butuh bertahun-tahun, memakan sumber daya besar, dan menambah risiko bagi para prajurit. Apalagi masih ada sekitar 50 sandera di Gaza, dengan 20 di antaranya diyakini masih hidup. Mengambil alih seluruh wilayah sekarang sama saja dengan menambah panjang daftar korban. Tentu, bagi keluarga para sandera yang berunjuk rasa di Tel Aviv, ini bukan sekadar hitungan militer—ini soal nyawa.
Ketegangan pun memuncak ketika Smotrich dan Zamir bentrok di rapat kabinet mini. Smotrich menuduh Zamir munafik, bahkan merindukan kepala staf sebelumnya, Herzi Halevi, yang dulu dikritik habis-habisan. Ironinya jelas—orang yang dulu dianggap penghalang kini dirindukan, hanya karena penggantinya tak memberi jalan bagi mimpi pendudukan penuh. Politik di Tel Aviv memang kerap terasa seperti sinetron: pemainnya sama, alurnya berulang, tapi setiap episode dibungkus drama baru.
Smotrich bukan satu-satunya. Ada Itamar Ben-Gvir, menteri polisi yang berdiri di barisan sama, menolak setengah langkah dan mendesak pendudukan permanen. Mereka berdua menganggap strategi Netanyahu terlalu lembek, terlalu memberi ruang untuk “kesalahan kedua.” Bagi mereka, Gaza bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan kompromi; ini soal menancapkan bendera dan mengatur siapa yang boleh bernafas di wilayah itu.
Namun di balik retorika keras itu, ada dilema yang tak bisa dihindari. Israel sedang berdiri di persimpangan: memuaskan ambisi politik sayap kanan atau mengikuti kalkulasi realistis militer. Pilihan pertama bisa meruntuhkan citra Israel di mata internasional, memicu gelombang sanksi, dan memancing perlawanan yang lebih sengit. Pilihan kedua bisa memecah koalisi pemerintahan, membuat Netanyahu kehilangan kursi, dan membuka jalan bagi figur politik yang lebih ekstrem lagi.
Situasi ini, kalau mau jujur, adalah gambaran klasik dari politik yang dikendarai ego. Netanyahu ingin tampil sebagai pemimpin yang bijak dan pragmatis di mata dunia, sambil tetap memelihara koalisi domestik. Smotrich ingin perang berakhir dengan catatan sejarah yang memahat namanya sebagai penakluk. Militer ingin menghindari perang yang berubah menjadi rawa panjang penuh korban. Dan rakyat—setidaknya sebagian—hanya ingin anak mereka kembali dari garis depan dalam keadaan hidup.
Menariknya, konflik internal seperti ini bukan hal baru di Israel. Sejarahnya penuh dengan perpecahan antara politisi dan militer soal strategi perang. Tapi kali ini, perpecahan itu muncul di tengah sorotan internasional yang begitu terang, saat Gaza menjadi panggung penderitaan yang disiarkan ke seluruh dunia. Perbedaan suara bukan hanya merusak koordinasi, tapi juga memberi sinyal kepada lawan bahwa musuh mereka sedang sibuk bertengkar di meja sendiri.
Bagi pihak perlawanan Palestina, konflik internal di Tel Aviv ini bukan sekadar tontonan politik—ini adalah peluang emas. Setiap retakan di dinding pertahanan lawan bisa menjadi pintu masuk untuk manuver strategis, baik di medan perang maupun di meja diplomasi. Smotrich dan Ben-Gvir yang menginginkan pendudukan penuh, Netanyahu yang berusaha memainkan kartu pragmatis, dan militer yang menolak perang jangka panjang—semua ini menciptakan ruang kosong di mana inisiatif bisa direbut.
Secara militer, kebingungan di level komando mempengaruhi konsistensi operasi. Ketika politisi memaksa strategi ofensif maksimal sementara militer hanya siap untuk operasi terbatas, ritme perang menjadi tak menentu. Serangan bisa dilakukan secara sporadis tanpa kesinambungan, memberi waktu bagi kelompok perlawanan untuk memindahkan aset, memperbaiki jaringan komunikasi, dan memulihkan posisi strategis. Dalam konflik asimetris, waktu adalah senjata.
Secara psikologis, perpecahan ini juga berpengaruh pada moral pasukan Israel sendiri. Prajurit yang berangkat ke garis depan dengan perintah yang berubah-ubah akan merasa tidak pasti, bahkan frustrasi. Mereka tahu pimpinan politik dan militer tak satu suara, dan hal ini secara halus menggerogoti keyakinan mereka pada tujuan misi. Pihak perlawanan bisa memanfaatkan ini melalui propaganda terarah, menonjolkan ketidaksepakatan di Tel Aviv untuk melemahkan semangat tempur lawan.
Di ranah diplomasi, ketidaksepakatan terbuka di antara elite Israel membuat narasi mereka lebih mudah dipatahkan di forum internasional. Palestina dan negara-negara pendukungnya dapat menunjukkan bahwa Israel sendiri tidak punya visi yang jelas untuk Gaza pasca-konflik. Ini bukan hanya mengurangi simpati global terhadap operasi militer Israel, tetapi juga memperkuat posisi Palestina saat menggalang dukungan di PBB, Liga Arab, atau blok-blok regional lainnya.
Ada juga efek domino di wilayah. Negara-negara Arab yang selama ini diam atau menjaga jarak mungkin akan melihat kesempatan untuk menekan Israel secara politik, terutama jika strategi Netanyahu gagal mencapai tujuan yang disepakati. Di sisi lain, negara-negara yang sudah membuka normalisasi bisa saja menghadapi tekanan publik domestik untuk meninjau ulang hubungan mereka. Ketidakstabilan internal Israel dapat memicu gelombang diplomasi baru yang menguntungkan Palestina.
Yang paling menarik, peluang strategis ini bukan hanya soal mengalahkan lawan di medan perang, tetapi juga mengatur tempo perang. Pihak perlawanan dapat memilih kapan dan di mana melakukan serangan untuk memaksimalkan dampak politik di Israel—misalnya, melancarkan serangan besar tepat saat kabinet Tel Aviv terjebak dalam perdebatan sengit. Dengan begitu, setiap aksi militer Palestina tidak hanya berdampak di lapangan, tapi juga mengguncang panggung politik lawan.
Tiga Skenario Arah Perang Gaza
- Pendudukan Penuh ala Smotrich–Ben-Gvir
Jika Netanyahu menyerah pada tekanan sayap kanan, Israel akan mencoba menduduki seluruh Gaza. Ini akan memakan waktu bertahun-tahun, memicu perlawanan lebih sengit, dan membebani ekonomi Israel. Palestina bisa memanfaatkannya dengan memperluas jaringan perlawanan bawah tanah, memperpanjang konflik hingga Israel kelelahan.
- Operasi Terbatas ala Netanyahu–Militer
Strategi ini fokus pada penghancuran infrastruktur Hamas dan penggulingan pemerintahannya tanpa pendudukan permanen. Peluang bagi Palestina: memanfaatkan ruang kekuasaan yang kosong pasca-operasi untuk membangun kembali jaringan politik dan militer, sambil menggalang dukungan internasional.
- Kebuntuan Politik dan Perpecahan Koalisi
Jika perdebatan internal memuncak, koalisi Netanyahu bisa runtuh sebelum strategi final disepakati. Ini menciptakan masa transisi yang membingungkan, memberi perlawanan kesempatan untuk mengatur serangan besar atau memperkuat posisi diplomatik di tengah kekacauan politik Israel.
Pada akhirnya, Gaza tetap menjadi luka terbuka. Perdebatan di Tel Aviv mungkin penting bagi politisi dan jenderal, tetapi bagi mereka yang hidup di bawah blokade, ini hanya soal hari demi hari bertahan hidup. Ironisnya, semakin dalam Israel terjebak dalam drama internalnya, semakin besar kemungkinan luka itu akan terus menganga—dan mungkin, pada akhirnya, menjadi simbol dari kegagalan strategi yang dibungkus retorika kemenangan.

Pingback: Gaza, Cermin Retak Dunia Kita - vichara.id
Pingback: Ketika 83% Korban Gaza Warga Sipil Tewas
Pingback: Gaza: Ketika Kelaparan Jadi Senjata Politik - vichara.id