Connect with us

Opini

Membongkar Peran Gelap Barat di Gaza

Published

on

“Ilustrasi editorial realistis menampilkan pesawat kargo Hercules militer negara-negara Barat membongkar peti-peti senjata berlabel bendera Barat di Tel Aviv, dengan truk militer Israel menunggu untuk mengangkutnya

Ada momen tertentu ketika sebuah berita tidak lagi sekadar informasi, tetapi tamparan yang membuka mata. Bagi saya, momen itu muncul ketika membaca laporan tentang pesawat ke-1.000 yang mendarat di Israel, membawa muatan senjata dari negara-negara Barat. Seribu pesawat. Angka yang begitu besar hingga mustahil dibayangkan tanpa merasa dada mengeras. Seolah-olah langit Timur Tengah telah berubah menjadi jalur ekspedisi perang, bukan ruang udara negara berdaulat. Dan dari situ, pertanyaan yang selama ini beredar lirih di ruang-ruang diskusi rakyat jelata berubah menjadi kesimpulan jelas: perang Gaza tidak pernah menjadi perang satu negara. Ini adalah perang yang diberi oksigen oleh Barat. Perang yang disetir, didanai, dan dipelihara oleh mereka yang mengaku penjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Saya tidak ingin berpura-pura objektif. Objektivitas sering menjadi tameng bagi mereka yang nyaman menyaksikan tragedi dari kejauhan. Apa yang terjadi di Gaza terlalu telanjang untuk dibungkus bahasa basa-basi. Terlalu brutal untuk diredam dengan istilah diplomatik seperti “upaya damai” atau “negosiasi gencatan senjata”. Karena bagaimana mungkin kita menganggap serius seruan perdamaian dari negara-negara yang dalam waktu bersamaan mengirimkan 120.000 ton suplai militer kepada pihak yang sedang menggempur wilayah terkepung? Perdamaian macam apa yang dirayakan dengan karpet kargo bom dan roket?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Paradoksnya begitu kasar hingga memalukan. Barat menyerukan agar pertempuran dihentikan, tetapi tangan yang sama sibuk mengisi ulang gudang senjata Israel. “Ciptakan ruang untuk solusi dua negara,” kata mereka, sambil membuka ruang kargo pesawat Hercules untuk mengangkut artileri tambahan. Ironi ini tidak lagi halus. Ini ironi yang berteriak. Dan lebih buruk, semua ini dilakukan sambil menyalahkan dunia lain karena dianggap tidak cukup peduli pada penderitaan manusia.

Saya rasa, di sinilah letak inti dari peran gelap Barat di Gaza. Mereka mengklaim diri sebagai arsitek perdamaian global, tetapi tangan kanan mereka mencoreng semua klaim itu dengan tinta mesiu. Laporan yang menyebut AS telah mengucurkan sedikitnya US$21,7 miliar bantuan militer sejak perang dimulai semakin memperjelas bahwa perang ini adalah proyek serius, bukan reaksi spontan. Bantuan itu terbagi antara pemerintahan Biden dan Trump, membuktikan bahwa dukungan kepada Israel bukan soal ideologi presiden, melainkan konsensus negara. Ini bukan kebijakan, ini tradisi.

Tentu, narasi resmi yang mereka bangun selalu tampak rapi. Mereka menyebutnya “dukungan untuk sekutu strategis”. Tapi mari jujur: apakah stabilitas benar-benar menjadi tujuan ketika lebih dari 70.000 warga Palestina tewas, mayoritas perempuan dan anak? Apakah keamanan benar-benar yang dikejar ketika 170.000 orang terluka dan ribuan bangunan hancur hingga tak bersisa? Atau mungkin stabilitas yang mereka maksud adalah stabilitas bagi pengaruh geopolitik mereka sendiri, sedangkan kehidupan manusia hanyalah angka samping, collateral yang tidak perlu dibahas panjang?

Saya sering tersenyum pahit ketika melihat bagaimana negara Barat berperilaku layaknya konsultan moral dunia. Mereka menasihati negara lain tentang HAM, demokrasi, dan tata kelola baik. Namun ketika Gaza terbakar, mereka mengirimkan kapal—sekitar 150 kapal, menurut laporan—untuk memastikan bara tidak padam. Sungguh ironi yang pantas untuk buku komedi gelap. Dunia memanggil mereka “penjaga perdamaian”. Gaza memanggil mereka “pemasok perang”.

Hal yang membuat semuanya semakin tragis adalah bagaimana Barat berhasil membalikkan narasi. Mereka tampil sebagai mediator, bukan pelaku; sebagai penyejuk, bukan pengipas api; sebagai guru etika, bukan pedagang senjata. Padahal, tanpa pasokan mereka, perang ini tidak mungkin berlangsung selama hampir dua tahun tanpa surut. Israel bukan negara dengan produksi senjata tak terbatas. Ketahanannya berasal dari mesin logistik internasional yang dirancang, dibiayai, dan dioperasikan oleh kekuatan besar dunia. Atau dalam bahasa yang lebih blak-blakan: Israel menembak, Barat mengisi ulang pelurunya.

Di beberapa negara, memang ada sedikit pergeseran moral. Spanyol memberlakukan embargo penuh. Inggris, Jerman, dan Kanada memasang pembatasan terbatas. Tapi langkah-langkah ini ibarat menutup setengah pintu saat jendela tetap terbuka lebar. Sistem suplai terlalu luas. Rantai distribusi terlalu kokoh. Embargo simbolis tidak akan menghentikan aliran senjata yang menjadi nyawa bagi operasi militer Israel. Yang terjadi justru sebaliknya: embargo kecil itu dipakai Barat untuk membangun citra moral, seolah-olah mereka sudah melakukan sesuatu untuk menghentikan perang. Padahal tidak.

Kita harus bicara terus terang: Israel tidak berdiri sendiri. Ia berdiri di puncak piramida dukungan Barat. Dan Gaza menjadi dasar piramida itu, dipaksa menanggung beban paling berat. Ini bukan metafora. Ini realitas yang kini didukung laporan konkret, bukan lagi sekadar opini publik. Ketika seribu pesawat militer mendarat membawa suplai senjata, itu bukan lagi hubungan sekutu biasa. Itu adalah bukti material bahwa Barat tidak hanya mendukung Israel; mereka berpartisipasi dalam perang itu.

Barat mungkin akan menyangkal. Mereka akan kembali mengisi panggung diplomatik dengan jargon: “kami ingin stabilitas”, “kami ingin penghentian kekerasan”, “kami mengutuk tindakan yang berlebihan”. Tetapi bagaimana kita bisa percaya ucapan seseorang yang satu menit menyerukan penghentian bom, lalu menit berikutnya menandatangani pengiriman bom tambahan? Ini bukan sekadar ironi. Ini penghinaan terhadap logika dasar manusia.

Di Indonesia, banyak orang telah lama mengatakan bahwa Israel hanyalah proksi Barat di Timur Tengah. Pernyataan yang dulu sering dicibir sebagai terlalu emosional atau terlalu konspiratif. Tapi kini, setelah data konkret berserakan di laporan publik, kita disuguhi pembenaran yang tidak bisa dibantah. Ternyata kecurigaan rakyat jelata lebih dekat pada kenyataan daripada analisis para diplomat berjas rapi.

Mungkin, ketika perang ini someday menjadi bab dalam buku sejarah, para penulis akan menulis bahwa Gaza tidak hanya dihancurkan oleh tank dan jet, tetapi oleh paradoks besar yang dibangun dunia: paradoks tentang Barat yang mengaku pembawa damai, namun diam-diam adalah pemasok utama perang.

Dan pada saat itulah, anak cucu kita akan bertanya: bagaimana dunia membiarkan itu terjadi? Jawabannya sederhana, meski pahit: karena kekuatan besar tidak pernah benar-benar peduli pada perdamaian—yang mereka pedulikan adalah kepentingan mereka sendiri. Gaza hanyalah panggung. Israel aktor utama. Dan Barat penulis naskahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer