Connect with us

Opini

Membaca Pujian-Pujian Trump kepada Prabowo

Published

on

Presiden Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump selaku Co-Chair dari KTT Perdamaian Sharm El-Sheikh saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh di International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025).(Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)

Donald Trump bukan tipe politisi yang murah pujian. Dalam sejarah kepemimpinannya, sanjungan dari mulutnya jarang keluar tanpa imbalan, bahkan ketika dibalut senyum atau tepukan di bahu. Maka ketika Trump, yang kini kembali duduk di Gedung Putih, beberapa kali memuji Prabowo Subianto dengan nada hangat dan berulang, seharusnya kita tak buru-buru bangga. Sebaliknya, di situlah alarm seharusnya berbunyi — karena di dunia politik global, pujian dari Washington kerap datang bersama tagihan yang mahal.

Trump memuji Prabowo di hadapan media, di forum internasional, dan bahkan menyebutnya sebagai sosok yang “kuat, berani, dan sangat dihormati.” Sekilas terdengar seperti basa-basi diplomatik, tapi terlalu sering diulang untuk disebut kebetulan. Apalagi, di kesempatan yang sama, Benjamin Netanyahu, sekutu paling loyal Trump di Timur Tengah, juga sempat menyebut Prabowo dengan nada positif. Meski hanya sekali, kemunculan dua pujian itu dalam satu konteks menimbulkan pertanyaan yang tak bisa diabaikan: ada apa di balik semua ini?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, jawaban sederhana seperti “karena diplomasi Indonesia kuat” terlalu manis untuk dipercaya. Indonesia, meski besar dan strategis, bukan pemain utama dalam percaturan Gaza, Ukraina, atau Laut Cina Selatan. Lalu, mengapa Trump sampai begitu terpesona? Jika ini soal kerja sama militer atau perdagangan, banyak negara lain yang jauh lebih penting bagi AS, tapi tidak mendapat pujian setinggi itu. Jadi mungkin kita sedang melihat sesuatu yang lebih halus: manuver politik yang belum sepenuhnya kita sadari.

Trump, sebagaimana kita tahu, menjalankan politik luar negeri yang sangat transaksional. Ia memuji bukan karena kagum, tapi karena butuh. Ia bersalaman bukan untuk menjalin persahabatan, tapi untuk memastikan keuntungan. Jadi ketika ia menyebut nama Prabowo dengan nada hangat, saya teringat bagaimana ia dulu menyanjung Kim Jong-un sebagai “pemimpin hebat” setelah bertemu di Singapura, hanya untuk menekan Tiongkok dari sisi lain. Artinya, pujian adalah bagian dari permainan tekanan. Pertanyaannya: tekanan untuk siapa?

Kita semua tahu isu Gaza masih menyala. Dunia sedang menatap kebrutalan zionis dengan mata lelah, sementara opini publik global semakin berpihak pada rakyat Palestina. Di tengah arus itu, Washington dan Tel Aviv tentu membutuhkan jembatan baru di Asia Tenggara — sosok atau negara yang bisa meredam suara keras pembela Palestina, tapi tetap tampak “netral” di mata publik. Apakah mungkin Trump sedang melihat Prabowo sebagai figur itu? Sebagai pemimpin Muslim dari negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, Prabowo memang punya posisi simbolik yang sangat potensial: bisa bicara soal kemanusiaan tanpa benar-benar menyentuh akar penjajahan.

Dan di situlah ironi mulai terasa. Pujian itu bisa jadi bukan bentuk penghormatan, tapi investasi. Trump mungkin melihat Prabowo sebagai pintu masuk baru ke dunia Muslim yang tak lagi percaya kepada Amerika. Dalam logika geopolitik, tak ada yang lebih berguna daripada sekutu yang tampak netral. Dengan reputasi militer dan citra nasionalis yang kuat, Prabowo bisa menjadi figur yang “menenangkan” bagi Barat — seorang pemimpin yang tidak frontal seperti Mahathir, tapi juga tidak pasif seperti para teknokrat yang mudah ditekan.

Namun, sampai hari ini, tak ada pujian dari Hamas, Hizbullah, atau kelompok perlawanan lain terhadap Indonesia. Diam. Senyap. Padahal jika Indonesia benar-benar memainkan peran penting dalam membantu Gaza atau mendorong gencatan senjata, suara dari blok perlawanan pasti muncul. Ini kontras dengan sorak-sorai dari Washington. Dan kontras itu, jujur saja, terasa ganjil. Karena dalam isu Palestina, ukuran moral bukan diukur dari siapa yang memuji, tapi siapa yang mempercayai.

Mungkin yang dilakukan Prabowo bukan hal besar di mata publik, tapi penting di mata Trump. Bisa jadi ia membuka kanal komunikasi yang mempermudah agenda AS di kawasan. Bisa jadi pula ia memberi sinyal kesediaan Indonesia untuk berdiri di posisi yang “aman” bagi kepentingan geopolitik Barat. Kita belum tahu, tapi pola ini terasa familiar: pemimpin dunia selatan yang dipuji Washington biasanya sedang memainkan peran yang menguntungkan Washington. Dari Mesir, Arab Saudi, hingga Uni Emirat, semuanya pernah mengalami fase “dipuji dulu, diarahkan kemudian.”

Di titik ini, saya tak hendak menuduh, tapi mengajak curiga — karena politik luar negeri Indonesia kerap dikelola dalam ruang gelap yang tak tersentuh publik. Selama ini, isu Palestina dijadikan simbol moral, tapi langkah konkret diplomasi sering kali ambigu. Indonesia menolak hubungan resmi dengan Israel, tapi membuka ruang dagang tidak resmi. Mengecam genosida, tapi tidak pernah mengusulkan sanksi nyata di PBB. Kini ketika Trump kembali berkuasa dan Netanyahu masih berperang, muncul lagi pola lama: pujian manis dari kekuatan yang sedang menindas.

Apakah ini pertanda bahwa Indonesia tengah disiapkan menjadi “pihak penengah” antara Amerika, Israel, dan dunia Islam? Mungkin. Tapi penengah yang seperti apa? Jika yang dimaksud adalah mediator yang menjaga kepentingan AS tetap aman, maka pujian Trump bukan prestasi — melainkan peringatan. Dalam sejarahnya, negara yang terlalu gembira mendapat pujian dari Washington biasanya berakhir kehilangan arah kedaulatannya. Diplomasi yang semula disebut “pragmatis” berubah menjadi ketergantungan yang halus.

Saya jadi teringat pepatah Jawa: yen kebacut menyan, ora rumangsa kobong. Terlalu banyak disanjung, kadang membuat kita lupa siapa yang sedang memainkan dupa itu. Pujian dari Trump memang menggoda, apalagi bagi pemimpin yang haus pengakuan internasional. Tapi setiap kata manis dari Gedung Putih selalu datang dengan konsekuensi: dukungan militer, kerja sama energi, atau posisi politik yang harus sejalan. Dan dalam dunia Trump, tak ada yang gratis — bahkan seulas senyum pun bisa menjadi kontrak.

Jadi mungkin yang perlu kita baca bukan pujiannya, tapi diamnya pihak lain. Hamas tak berkomentar, Iran pun tidak menyebut Indonesia, dan media Arab hampir tak menyinggung peran Prabowo dalam isu Gaza. Ini artinya, sorotan atas pujian Trump adalah sorotan sepihak — satu arah, tanpa pantulan dari dunia yang seharusnya menjadi penerima manfaat. Itulah yang membuat saya curiga: mungkin yang dibangun bukan solidaritas, tapi persepsi.

Karena itu, ketika publik di tanah air mulai merasa bangga karena “Presiden kita dipuji Presiden Amerika,” saya rasa kita perlu menahan diri. Bangsa yang dewasa bukan diukur dari seberapa sering dipuji, tapi seberapa berani menolak ketika kepentingannya diinjak. Dan jika pujian itu datang dari rezim yang masih membela penjajahan di Gaza, maka menerima sanjungan tanpa bertanya adalah bentuk lain dari penyerahan diri — yang dibungkus dengan senyum diplomatik.

Pujian Trump kepada Prabowo adalah pesan yang harus dibaca dengan hati-hati. Ia bisa berarti pengakuan, tapi juga jebakan. Ia bisa tampak seperti penghormatan, tapi sejatinya ujian: apakah Indonesia tetap tegak di jalan kemandirian, atau perlahan tergoda oleh ilusi kedekatan dengan kekuasaan dunia. Karena dalam dunia politik global, pujian adalah bentuk paling halus dari pengendalian. Dan seperti biasa, kita baru sadar ketika semuanya sudah terlambat.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Operasi Normalisasi Senyap Israel terhadap Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer