Connect with us

Opini

Koalisi UEA-AS-Israel Targetkan Ansarullah Yaman

Published

on

Ilustrasi editorial pangkalan militer UEA-AS-Israel di Socotra dengan radar, kapal perang, dan drone, menghadapi bayangan Ansarullah dari Yaman.

Di langit Socotra, pulau eksotis yang dulu hanya dikenal oleh para pelaut, kini berdiri radar canggih buatan Israel. Laut di sekelilingnya, yang dahulu hanya ramai oleh nelayan dan kapal kargo, kini dijejali armada militer UEA dengan bendera sekutu: Amerika Serikat dan Israel. Apa yang digambarkan laporan terakhir bukan sekadar kabar biasa, melainkan potret bagaimana UEA-AS-Israel membangun lingkaran kendali geopolitik yang menyasar bukan hanya kelompok perlawanan Ansarullah, tapi juga jalur energi dunia.

Kita mungkin terbiasa mengingat konflik Yaman sebagai perang darat antara Ansarullah dan koalisi regional, namun laporan terbaru memindahkan fokus: medan pertempuran kini meluas ke laut dan bahkan ke arah Israel — Ansarullah telah menembakkan rudal dan menerbangkan drone yang menarget kapal serta sasaran di luar perbatasan Yaman, termasuk upaya menyerang kepentingan yang berafiliasi dengan Israel. Karena itu, koalisi UEA-AS-Israel bereaksi bukan semata untuk menjaga jalur perdagangan, tetapi juga untuk menghadapi ancaman langsung yang diarahkan ke Israel.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

UEA, dengan kekuatan finansialnya, mengubah pangkalan-pangkalan itu menjadi hub militer. Israel menambahkan teknologi: radar EL/M-2084, sistem Iron Dome, drone Hermes 900. Amerika Serikat melapisi semuanya dengan intelijen, satelit, dan sistem komando. Laporan menyebut ada jaringan berbagi intelijen yang disebut “Crystal Ball” untuk memantau pergerakan di Laut Merah dan Bab al-Mandab. Nama yang terdengar indah, padahal maknanya getir: sebuah bola kaca untuk meramal nasib jalur perdagangan dunia, dikendalikan dari luar kawasan.

Bagi Ansarullah, ini jelas ancaman nyata. Rudal dan drone mereka selama setahun terakhir telah melumpuhkan kapal asing, bahkan mengganggu jalur ke Israel. Serangan-serangan itu mengubah kalkulasi global: 30 persen pasokan minyak yang melewati Bab al-Mandab tak lagi aman. Dunia panik, harga minyak bergejolak, dan tiba-tiba Yaman yang miskin jadi kunci peta energi global. Itulah alasan kenapa UEA dan sekutunya tak bisa tinggal diam. Menarget Ansarullah bukan hanya soal perang melawan milisi, tapi soal menjaga arteri ekonomi dunia tetap berdenyut.

Namun mari jujur: ini bukan sekadar soal “keamanan jalur perdagangan.” Bila benar hanya itu, koalisi cukup dengan patroli internasional atau misi terbatas. Tapi fakta bahwa UEA-AS-Israel membangun basis permanen di Socotra, Mayun, hingga berkoordinasi dengan Somaliland dan Puntland, menunjukkan ada ambisi jangka panjang. Mereka ingin menciptakan “ring of control”—lingkaran kendali dari Teluk Aden, Laut Arab, hingga Laut Merah. Sebuah cincin geopolitik yang bukan hanya melumpuhkan Yaman, tapi juga menguasai Afrika Timur dan jalur energi global.

Ironinya, proyek besar ini diselubungi dengan narasi indah tentang pembangunan dan stabilitas. UEA menjual mimpi bahwa investasi infrastruktur di Afrika Timur adalah bagian dari “visi modernisasi.” Israel menyebut dirinya membawa teknologi canggih untuk melindungi perdagangan. Amerika Serikat menamainya “kemitraan keamanan.” Padahal, laporan menunjukkan pangkalan militer dan instalasi radar itulah inti sebenarnya. Modernisasi hanyalah bungkus, isi sebenarnya adalah hegemoni.

Ansarullah tentu tidak tinggal diam. Bagi mereka, pembangunan pangkalan asing di sekitar Yaman hanyalah perpanjangan dari blokade dan agresi. Itu sebabnya serangan drone dan rudal mereka tak berhenti. Dan justru setiap pangkalan baru yang didirikan koalisi bisa menjadi target berikutnya. Di sinilah letak ironi yang lain: semakin koalisi memperluas jaringan militernya, semakin luas pula daftar target Ansarullah.

Kita perlu mencatat satu hal penting: UEA bukanlah sekadar kaki tangan. Negara kecil ini ingin memainkan peran lebih besar, menjadi proyeksi kekuatan regional yang melampaui ukuran geografisnya. Dengan membangun pangkalan di Socotra atau ikut dalam sistem radar Israel, UEA sedang menegaskan dirinya bukan sekadar pelengkap Arab Saudi. Tetapi dalam ambisi itu, mereka juga sedang mengikat diri pada agenda yang dikendalikan Washington dan Tel Aviv. Apakah itu strategi cerdas atau jebakan? Sejarah biasanya menjawab dengan pahit.

Ke depan, dampak dari koalisi ini bisa sangat luas. Pertama, secara militer, Ansarullah akan menghadapi tekanan besar. Jaringan radar dan drone Israel bisa membatasi efektivitas serangan mereka. Kedua, secara geopolitik, jalur minyak dunia akan semakin dikontrol oleh blok pro-Barat. Artinya, negara-negara lain, termasuk Indonesia, akan tetap berada dalam bayang-bayang fluktuasi harga yang bisa dipicu oleh ketegangan di Bab al-Mandab. Ketiga, secara politik, reputasi UEA di dunia Arab bisa terkikis. Bagaimana mungkin sebuah negara Arab bersekutu erat dengan Israel sambil mengklaim membela kepentingan umat? Kontradiksi ini tidak bisa ditutup dengan menara kaca di Dubai.

Tambahan lagi, ada dimensi sosial yang sering dilupakan. Kehadiran militer asing di Socotra dan pulau-pulau sekitarnya membawa dampak langsung bagi warga lokal: tanah yang dikuasai, akses laut yang dibatasi, hingga sumber daya yang dieksploitasi demi kepentingan luar. Bagi masyarakat kecil, mereka bukan menyaksikan pembangunan, melainkan kehilangan ruang hidup. Narasi stabilitas yang dijual UEA-AS-Israel tidak pernah menyentuh kenyataan getir di lapangan, bahwa ada nelayan yang tak bisa lagi melaut di wilayah leluhurnya.

Dalam jangka panjang, koalisi ini justru bisa menyalakan api perlawanan yang lebih besar. Setiap pangkalan asing adalah simbol penjajahan baru, dan setiap simbol itu berpotensi melahirkan generasi baru yang marah. Kita sudah melihat pola ini di Irak dan Afghanistan: kehadiran militer asing bukannya meredakan, tetapi justru melahirkan siklus perlawanan yang terus berulang. Maka langkah UEA hari ini bisa saja menjadi investasi jangka panjang dalam bentuk yang paling berbahaya: melahirkan lebih banyak musuh daripada sekutu.

Saya rasa, pada akhirnya, ini bukan hanya kisah tentang Yaman. Ini kisah tentang bagaimana sebuah koalisi mencoba menjadikan jalur perdagangan dunia sebagai tebusan, dan bagaimana kelompok kecil seperti Ansarullah dipaksa menjadi musuh global hanya karena berani melawan Israel untuk membela Palestina. Dunia mungkin melihat mereka sebagai pengganggu, tapi di mata banyak orang, mereka simbol bahwa hegemoni bisa ditantang.

Dan kita, di Indonesia, tak bisa berpura-pura buta. Kita tahu jalur energi itu juga menentukan harga BBM yang kita bayar, stabilitas ekonomi yang kita rasakan. Jadi saat UEA-AS-Israel membangun lingkaran kendali di Bab al-Mandab, jangan kira itu jauh dari urusan kita. Di balik jargon investasi dan stabilitas, ada harga yang akhirnya harus ditanggung rakyat kecil—dari Sanaa hingga Jakarta.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Koalisi Arab-Israel Bangun Pangkalan di Zuqar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer