Opini
Koalisi Anti-ISIS yang Mengincar Musuh Lain
Ketika kabar tentang pergerakan kombatan asing dari Idlib menuju Al-Qusayr sampai ke meja saya, ada rasa getir yang muncul lebih dulu sebelum logika bekerja. Sebab apa yang digambarkan laporan itu bukan sekadar pergerakan pasukan menuju perbatasan, melainkan absurditas yang sudah terlalu sering kita telan tanpa sempat memuntahkannya: sebuah “koalisi anti-ISIS” yang terus berbicara tentang terorisme, tetapi tampak lebih sibuk mencari musuh lain yang lebih politis, lebih menguntungkan, lebih dapat dijual di panggung internasional. Saya rasa, kita semua sudah paham pola seperti ini. Ancaman lama dipoles menjadi narasi baru, dan di sela-sela itu, kepentingan besar menari bebas tanpa malu.
Pergerakan para pejuang asing—Uzbek, Chechen, Uyghur—ke sepanjang perbatasan Suriah–Lebanon bukanlah pemandangan rutin. Mereka datang bukan sebagai turis, bukan sebagai pengungsi, tetapi sebagai bagian dari struktur militer rezim baru Suriah yang dibentuk dengan tergesa-gesa setelah runtuhnya tatanan lama. Ironisnya, banyak dari mereka pernah menjadi bagian dari kelompok yang oleh koalisi internasional disebut sebagai ancaman global. Kini mereka berseragam, difoto, dan diumumkan sebagai “pasukan resmi” dalam upaya memerangi ISIS. Ironi yang terlalu besar untuk dibiarkan begitu saja. Bagaimana mungkin perang melawan terorisme dijalankan oleh mereka yang beberapa tahun sebelumnya menjadi bagian dari jaringan teror itu sendiri? Namun, begitulah realitas politik: ia tidak menuntut konsistensi, hanya kemanfaatan.
Dengan latar inilah AS masuk membawa stempel “koalisi anti-ISIS”. Washington akhirnya menyatakan Suriah sebagai mitra resmi dalam operasi antiteror, sebuah langkah yang tampak seperti pergeseran strategis, tetapi sebenarnya hanyalah kelanjutan dari proyek lama—mengidentifikasi terorisme sesuai kebutuhan, dan mengabaikannya ketika tidak lagi berguna. Dan tentu saja, dalam daftar musuh baru versi AS, nama-nama seperti IRGC, Hamas, dan terutama Hizbullah muncul sejajar dengan ISIS. Sejajar. Seakan semua itu satu paket ancaman yang homogen, padahal konteks, latar sejarah, dan relasi regional mereka sangat berbeda. Jika koalisi anti-ISIS kini menyasar lebih banyak kelompok daripada ISIS itu sendiri, maka mungkin sudah waktunya kita bertanya: apakah ini masih perang melawan terorisme, atau perang melawan aktor-aktor yang menghalangi agenda geopolitik?
Laporan itu menunjukkan bagaimana pasukan rezim Suriah yang baru mulai bergerak ke Wadi al-Thalajat, sebuah titik kosong militer di perbatasan Lebanon. Langkah kecil tetapi simbolis. Di Lebanon, wilayah tandus semacam ini selalu menjadi cermin bagi ketegangan yang tidak terucap—tempat di mana negara tidak hadir, tetapi kepentingan banyak pihak saling bertabrakan. Saya melihatnya seperti pinggiran kampung di mana dua keluarga besar bermusuhan; siapa pun yang berdiri terlalu dekat di ambang pintu akan dianggap sebagai ancaman, betapapun damai penampilannya. Dan kita tahu, Hizbullah menatap perbatasan itu dengan kewaspadaan yang tajam. Kehadiran pasukan Suriah, apalagi yang diberkahi restu Washington, bukan hanya manuver militer; ia adalah pesan politik yang diucapkan tanpa kata.
Yang paling menarik—atau paling menggelikan, tergantung sudut pandang—adalah bagaimana kampanye anti-ISIS rezim al-Sharaa diluncurkan persis ketika ia tiba di Washington. Waktu yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Beberapa video yang dirilis tampak begitu rapi, begitu bersih, begitu “media-friendly,” sehingga publik sulit menahan senyum getir. Di era politik yang serba visual, mungkin operasi militer memang tidak lagi bertujuan memukul musuh, tetapi membangun citra. ISIS dijadikan panggung, bukan ancaman. Dan panggung ini, sayangnya, lebih sering menutupi agenda sebenarnya: memperlihatkan kepada Washington bahwa Damaskus kini “berguna”, patuh, dan siap menjadi alat baru dalam arsitektur keamanan AS.
Saya rasa, kita harus jujur menyebutnya sebagai bentuk barter geopolitik. Damaskus menawarkan stabilitas semu, Washington menawarkan legitimasi baru. Harga yang dibayar? Keamanan Lebanon. Keberlanjutan perlawanan regional. Ketegangan yang merayap pelan namun pasti. Inilah yang membuat manuver Suriah di perbatasan terlihat jauh lebih ambisius daripada sekadar operasi anti-ISIS. Ia adalah pesan implisit bahwa Suriah siap memainkan peran baru—bukan sebagai negara yang memerangi ekstremisme, tetapi sebagai pion dalam upaya mengekang aktor-aktor yang selama satu dekade terakhir menjadi duri bagi kebijakan luar negeri AS.
Kita semua tahu bahwa Lebanon sedang rapuh. Ekonominya runtuh, politiknya terbelah, militernya terikat dalam batas-batas kapasitas yang menyedihkan. Ketika laporan menyebut bahwa wilayah Ras al-Maara tidak dijaga oleh LAF, itu bukan sekadar informasi geografis; itu adalah tanda kelemahan negara. Dan dalam politik Timur Tengah, kelemahan seperti itu jarang dibiarkan kosong. Ia akan selalu diisi oleh aktor lain, sering kali aktor yang tidak diminta. Maka masuklah Suriah dengan “pasukan koalisi anti-ISIS” versi barunya, menguji batas, mengukur reaksi, dan pada saat yang sama memberi Washington sinyal bahwa mereka siap menjalankan peran baru: menekan Hizbullah dari sisi timur.
Saya tidak mengatakan Hizbullah malaikat, atau bahwa segala tindakannya bisa dibenarkan. Tetapi menempatkan kelompok itu sejajar dengan ISIS dan Al-Qaeda jelas merupakan pengaburan realitas. Ini bukan analisis keamanan; ini propaganda kebijakan luar negeri. Dan propaganda ini, jika tidak dikritisi, akan menciptakan ruang legitimasi bagi operasi-operasi yang jauh lebih besar—operasi yang tidak hanya menyasar perbatasan tandus, tetapi jantung kehidupan Lebanon itu sendiri.
Ada satu kalimat dalam laporan itu yang menurut saya paling jujur, meskipun muncul tanpa niat untuk jujur: “The Syrian military itself is made up of several extremist factions with links to both Al-Qaeda and ISIS.” Di sinilah absurditas itu mencapai puncak. Sebuah rezim yang sebagian aparatnya berasal dari kelompok ekstremis kini menjadi sekutu resmi dalam perang melawan ekstremisme. Jika ini bukan realitas paling ironis di Timur Tengah, saya tidak tahu apa lagi.
Saya teringat pepatah lama yang sering dikutip di kampung saya: “Kadang orang membawa ember bukan untuk memadamkan api, tapi untuk mengambil air panasnya.” Koalisi anti-ISIS tampaknya melakukan hal yang sama. Narasi “perang melawan terorisme” dibawa ke mana-mana, tetapi fokusnya bukan lagi memadamkan bahaya, melainkan memanfaatkan panasnya untuk membentuk kekuatan politik baru di kawasan. Dan Suriah, setelah lebih dari satu dekade perang, tampaknya rela menjadi ember itu—dengan segala risiko, segala kontradiksi, dan segala kompromi moral yang menyertainya.
Pada akhirnya, yang paling meresahkan bukanlah pergerakan pasukan atau retorika koalisi, tetapi bagaimana dunia perlahan menerima absurditas ini sebagai normal. Mantan ekstremis menjadi tentara. Negara rapuh menjadi sekutu bagi kekuatan besar. Operasi anti-ISIS digunakan untuk menekan Hizbullah. Dan Lebanon, seperti biasa, menjadi panggung tragedi yang tidak pernah ia pilih.
Saya rasa kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: siapa sebenarnya yang sedang diperangi? ISIS, atau musuh-musuh politik AS? Terorisme, atau perlawanan? Jika koalisi anti-ISIS terus dijadikan selimut untuk menutupi agenda lain, maka kita perlu bersiap menghadapi masa depan di mana “perang melawan terorisme” tidak lagi tentang melindungi warga, tetapi mengatur ulang peta politik sesuai selera mereka yang punya kekuatan.
Dan seperti biasa, yang membayar harga bukanlah mereka yang membuat keputusan di gedung-gedung megah, tetapi rakyat kecil yang tinggal di lembah-lembah sunyi di perbatasan—mereka yang tidak pernah peduli siapa sekutu Washington atau siapa musuh Damaskus, tetapi selalu menjadi korban dari setiap narasi besar yang dilahirkan dari ambisi kekuasaan.
