Connect with us

Opini

Ketika Jalur Kereta Menggilas Nurani Kita

Published

on

Ilustrasi kereta barang melaju di padang gurun sementara asap konflik tampak jauh di horizon, menggambarkan bagaimana mega proyek terus berjalan di tengah krisis Gaza.

Angin panas dari gurun tampaknya tidak pernah membawa kabar baik bagi Gaza. Setiap hari, abu bangunan yang hancur melayang bersama berita tentang anak-anak yang tidak pulang, rumah yang berubah menjadi kuburan, dan angka kematian yang tak lagi sempat dihitung satu per satu. Namun di tengah asap dan jeritan itu, ada sesuatu yang lebih absurd, lebih sunyi, lebih menohok: para elite Timur Tengah dan India justru sibuk merapikan jalur kereta baru yang mereka sebut dengan nama paling ironis—Peace Railway—sebuah proyek raksasa yang terus berjalan tanpa jeda, seakan-akan darah di Gaza hanyalah gangguan visual yang tidak cukup penting untuk menghambat kemajuan ekonomi regional. Saya rasa, pada titik ini, kata “ironis” bahkan terasa terlalu lembut.

Sebab kenyataannya sederhana, telanjang, dan pahit. Pembantaian di Gaza tidak mengubah apa pun. Tidak bagi Abu Dhabi. Tidak bagi Tel Aviv. Tidak bagi New Delhi, Riyadh, ataupun Amman. Mega proyek tetap berjalan, seperti kereta barang yang tidak pernah berhenti, walaupun ada tubuh-tubuh yang tergeletak di rel. Dan ketika laporan muncul bahwa UAE, Israel, India, Saudi, dan Yordania diam-diam melanjutkan proyek jalur kereta strategis itu, saya tidak bisa tidak bertanya: apa artinya kemanusiaan jika ia begitu mudah dikesampingkan? Apa arti tragedi ketika angka kematian hanya menjadi catatan pinggir dalam rapat-rapat tertutup para pejabat tinggi?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Menurut laporan media Israel seperti Channel 15 dan Yedioth Ahronoth, sebagian besar infrastruktur kereta yang menghubungkan India–Teluk–Israel itu sudah dalam tahap “lanjut”. Bahkan Menteri Transportasi Israel, Miri Regev, rela menempuh perjalanan rahasia ke Abu Dhabi, sembari memanfaatkan Dubai Airshow sebagai kedok. Delegasi teknis dikirim, pertemuan dilakukan, diagram koridor diperbarui. Semua berlangsung di saat Gaza terbakar. Dan saya rasa itulah absurditasnya: dunia bergemuruh, tetapi proyek ini berjalan seperti alur film dokumenter pembangunan—dingin, teknis, hampa emosi.

Saat saya membaca bahwa jalur ini akan mengangkut kabel komunikasi, pipa energi, dan barang-barang dari India menuju Eropa melalui Haifa, saya teringat pada peribahasa lama: “Ketika uang berbicara, manusia diam.” Tetapi kini tampaknya lebih tepat bila ditambahkan, “Ketika mega proyek berjalan, nurani ikut digilas.” Bagaimana tidak? Laporan menyebutkan bahwa bahkan ketika Israel menghentikan koordinasi politik selama serangan Gaza, UAE tetap melanjutkan pembicaraan dengan India, Saudi, dan Yordania. Artinya: bahkan tanpa Israel, proyek ini tetap hidup. Betapa menarik bahwa negara yang melancarkan serangan brutal itu justru kini bergegas mengejar proyek yang hampir meninggalkannya.

Dalam konteks geopolitik, proyek jalur kereta ini adalah impian lama Amerika Serikat yang dibungkus ulang melalui IMEC—India–Middle East–Europe Corridor. Koridor ini digadang-gadang sebagai penyeimbang terhadap Belt and Road Initiative milik Cina. Namun ironinya, ketika tujuan besar itu dirayakan, Gaza justru dijadikan halaman pinggir cerita, seperti catatan kaki yang sengaja diperkecil agar tidak merusak estetika narasi pembangunan. Pembaca Indonesia tentu sudah sangat akrab dengan pola ini: pembangunan dijadikan mantra, sementara manusia yang tergusur dianggap statistik tak penting. Kita melihatnya pada proyek tambang, bendungan, hingga rel kereta cepat. Di Timur Tengah, rupanya prinsip itu juga hidup.

Saya juga melihat satu pola lain yang lebih menggelisahkan: normalisasi hubungan Israel–UAE ternyata tidak retak oleh perang Gaza. Justru sebaliknya—ia mengeras menjadi struktur fisik berupa rel, kabel, dan pipa. Infrastruktur adalah bentuk pengikat yang lebih kuat daripada pertemuan diplomatik. Sekali dibangun, ia sulit dibongkar. Seolah-olah para pengambil kebijakan sedang berkata, “Palestina boleh menderita, tetapi masa depan perdagangan harus tetap aman.” Dan saya rasa inilah titik di mana kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya: apakah nilai manusia memang seremeh itu di mata negara-negara besar?

Ketika saya membaca bagian laporan yang menyebut bahwa Prancis dan Turki sedang mengusulkan rute tandingan yang mengalihkan jalur ke Suriah dan Lebanon—mengeluarkan Israel dari peta sama sekali—saya sempat berpikir, mungkin di level tertentu para pemain geopolitik ini tidak pernah benar-benar peduli tentang siapa yang menderita. Mereka hanya peduli pada siapa yang menang, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang mendapatkan akses. Rakyat Palestina? Mereka tidak pernah menjadi variabel utama dalam rumus besar ini. Bahkan mungkin tidak masuk dalam lembar kerja Excel yang menjadi dasar keputusan.

Dan di sinilah absurditas itu memuncak. Rute perdagangan raksasa sedang dipetakan, dihitung jaraknya, ditaksir keuntungannya, dibahas di ruang rapat berpendingin udara. Sementara di Gaza, warga menghitung korban dengan tangan gemetar, menghitung sisa-sisa tubuh yang bisa dikenali, menghitung malam-malam tanpa listrik, tanpa air, tanpa jaminan hidup. Dunia yang satu berbicara tentang efektivitas logistik, dunia yang lain berbicara tentang selamat dari hari ini. Apakah kedua dunia itu benar-benar berada dalam satu planet yang sama?

Kata kunci “mega proyek” yang terus muncul bukan sekadar istilah pembangunan. Ia adalah simbol tentang bagaimana dunia bekerja hari ini. Ia adalah kata kunci yang menentukan siapa yang dianggap penting dan siapa yang dianggap bisa dikorbankan. Dan dalam kasus Gaza, penduduk yang terjepit di antara puing-puing itu tampaknya tidak cukup relevan untuk menghentikan pergerakan mesin politik dan ekonomi. Narasi “genosida di Gaza” muncul berkali-kali di laporan, tetapi justru fakta bahwa koridor ini berkembang selama genosida berlangsung menunjukkan betapa kecilnya bobot moral tragedi itu dalam kalkulasi elite.

Saya rasa inilah kenyataan paling getir yang harus kita hadapi: bahwa pembangunan—yang sering kita bayangkan sebagai simbol harapan—bisa juga menjadi simbol pengabaian. Kita percaya bahwa pembangunan adalah untuk manusia, tetapi kadang pembangunan dilakukan dengan merelakan manusia di bawahnya. Ia menjadi seperti kereta barang panjang yang tak peduli apakah ada seseorang yang terjatuh di rel. Ia hanya melaju, karena itulah yang diperintahkan oleh peta dan grafik keuntungan.

Dan bagi pembaca Indonesia, narasi ini sebetulnya tidak asing. Kita pernah melihat bagaimana konflik kemanusiaan di berbagai daerah ditelan begitu saja oleh narasi pembangunan nasional. Bagaimana suara korban tidak sebanding dengan suara investor. Bagaimana “proyek strategis” menjadi mantra yang mematikan kritik. Jadi ketika melihat apa yang terjadi antara UAE, Israel, India, Saudi, dan Yordania, saya merasa sedang menyaksikan versi global dari pola yang sangat lokal. Hanya saja skala dan dampaknya jauh lebih besar.

Pada akhirnya, saya pikir absurditas terbesar bukan hanya terletak pada jalur kereta yang tetap dibangun saat Gaza terbakar. Absurditas terbesar adalah bahwa dunia tampaknya bisa menerima itu sebagai sesuatu yang normal. Bahwa kerja sama ekonomi dianggap hal lumrah, bahkan ketika ia berdiri di atas tragedi manusia. Bahwa hubungan dagang diperlakukan lebih sakral daripada kehidupan anak-anak yang menjadi korban. Inilah dunia yang kita tinggali: dunia di mana mega proyek mengalahkan nurani, di mana kalkulasi mengalahkan kemanusiaan, dan di mana tragedi yang paling mengerikan pun bisa ditenggelamkan oleh gemuruh mesin pembangunan.

Namun saya berharap, jika ada satu hal yang dapat dibuat oleh tulisan ini, maka itu adalah mengingatkan kita bahwa Gaza bukan statistik dan bukan latar belakang pasif bagi kepentingan negara besar. Gaza adalah peringatan. Peringatan bahwa dunia akan terus bergerak ke arah yang salah jika nurani tidak ikut bergerak. Peringatan bahwa mega proyek yang menggilas manusia bukanlah simbol kemajuan, tetapi simbol kegagalan moral. Dan saya rasa, selama kita masih merasa sakit hati membaca ini, masih marah melihat ironi ini, masih tersentak oleh absurditas ini—maka kita belum sepenuhnya kalah sebagai manusia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer