Connect with us

Opini

Ketika AS–Eropa Diuntungkan oleh Perang Gaza–Ukraina

Published

on

Editorial illustration of a Western weapons factory producing missiles and artillery, with executives observing rising profits while war-torn shadows of Gaza and Ukraine linger outside.

Ada momen-momen tertentu dalam sejarah ketika absurditas terasa begitu telanjang hingga kita tak tahu harus tertawa atau marah. Bayangkan dunia yang terbakar di dua titik: Gaza dan Ukraina. Dua wilayah yang menjadi simbol kehancuran paling brutal dekade ini. Dan sementara abu belum selesai jatuh dari langit, laporan SIPRI muncul membawa berita yang terdengar seperti ironi terburuk: pendapatan industri senjata dunia mencapai rekor tertinggi dalam sejarah. Enam ratus tujuh puluh sembilan miliar dolar. Angka yang terasa seperti ejekan ketika dibayangkan berdampingan dengan reruntuhan sekolah di Gaza atau apartemen yang runtuh di Kharkiv. Saya rasa siapa pun yang masih memiliki sensitivitas moral pasti akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin tragedi manusia sedalam ini justru menghasilkan musim panen bagi orang lain.

Kita semua tahu jawaban tidak resminya. Dunia memang bekerja seperti itu. Tetapi mendengar fakta bahwa perusahaan-perusahaan senjata di AS dan Eropa mencatat lonjakan pendapatan terbesar justru ketika perang Gaza dan Ukraina mencapai titik paling kelam, rasanya seperti menatap cermin retak: kita melihat kebenaran, tapi dengan bentuk yang menyakitkan. Perang menciptakan korban, tetapi juga menciptakan pasar. Dan pasar itu, seperti yang kita tahu, adalah ruang nyaman bagi mereka yang berdiri jauh dari garis tembak.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan SIPRI secara gamblang menunjukkan bahwa 30 dari 39 perusahaan senjata AS dalam daftar Top 100 mengalami kenaikan pendapatan. Lockheed Martin, Northrop Grumman, General Dynamics—nama-nama yang seperti mantra bagi para pembuat kebijakan Washington—menikmati tahun yang mungkin tak pernah mereka bayangkan. Permintaan meledak. Produksi dipacu. F-35 yang terus dikirim ke Israel menjadi contoh paling gamblang bagaimana perang yang seharusnya menimbulkan penyesalan malah berubah menjadi ajang pamer portofolio. Ironisnya, pesawat itu tak hanya berfungsi sebagai mesin tempur, tetapi juga sebagai penjelajah laba. Semakin sering digunakan, semakin sering diuji dalam pertempuran, semakin tinggi kepercayaan—dan semakin besar pesanan.

Di Eropa, situasinya tak jauh berbeda. Perusahaan-perusahaan senjata benua itu melihat pendapatan mereka melonjak 13 persen berkat perang Ukraina. Negara-negara Eropa berlomba-lomba membangun pabrik amunisi, mempercepat produksi artileri, bahkan memperluas fasilitas yang bertahun-tahun sebelumnya dianggap tidak mendesak. Semua bergerak seolah dunia dalam keadaan darurat permanen, dan dalam keadaan seperti itulah industri persenjataan merasa paling hidup. Lagi-lagi, absurditas itu tampak jelas: ketika rakyat Ukraina berjuang mempertahankan hidup, perusahaan-perusahaan di Berlin, Paris, dan Stockholm sibuk menghitung peluang ekspansi.

Saya rasa kita perlu jujur pada diri sendiri. Ketika ada dua perang besar yang berlangsung simultan, ada pihak-pihak yang secara struktural memang akan diuntungkan. Dan dalam konteks ini, sangat sulit menghindari kesimpulan bahwa AS dan Eropa adalah pemenang ekonomi paling nyata dari konflik Gaza–Ukraina. Tidak peduli bagaimana narasi yang dipakai—perlindungan demokrasi, membela kedaulatan, mencegah ekstremisme—pada ujungnya ada aliran uang yang mengalir deras ke perusahaan-perusahaan raksasa yang berdiri jauh dari medan perang. Perang di Gaza dan Ukraina menjadi semacam pompa ekonomi yang bekerja tanpa lelah, menyalurkan keuntungan ke sisi dunia yang jauh dari kehancuran.

Namun ada sisi lain yang lebih mengganggu: setiap keuntungan itu membawa bayangan moral yang gelap. Jika perang menjadi sumber pendapatan, maka perdamaian—secara tidak langsung—menjadi ancaman terhadap bisnis. Kita tentu tak boleh menuduh sembarangan bahwa negara-negara Barat sengaja mempertahankan konflik. Tetapi struktur insentifnya? Ya, itu cerita lain. Ketika industri senjata menjadi salah satu sektor ekonomi paling penting, ketika ribuan pekerjaan bergantung pada produksi rudal dan jet tempur, ketika para politisi mendapatkan donasi politik dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi alat pembunuh massal, maka ada godaan diam-diam untuk tidak terlalu terburu-buru menghentikan perang. Secara politis, tidak ada yang mengatakannya. Tetapi secara struktural, kita semua bisa merasakannya.

Kenaikan pendapatan Israel, Turki, dan UEA menunjukkan bahwa ekosistem ini bukan milik Barat saja. Tetapi tidak ada yang mendekati skala AS–Eropa. Dan bagi saya, inilah inti dari persoalan etis yang tengah kita hadapi: bagaimana mungkin kita percaya pada upaya perdamaian yang tulus jika pihak-pihak yang paling berpengaruh di panggung global adalah juga pihak-pihak yang paling diuntungkan dari perang? Ini seperti meminta pedagang bensin untuk memadamkan api, padahal ia tahu setiap bara yang menyala adalah peluang penjualan baru.

Dalam konteks Indonesia, kita mungkin membaca laporan ini sambil menggeleng dan berpikir: dunia memang tak pernah adil. Tapi ada empati yang tumbuh dari jarak. Kita melihat Gaza yang luluh lantak dan mendengar derita Ukraina, sementara perusahaan-perusahaan di belahan lain dunia sedang memperluas pabrik dan menambah shift kerja. Di sini, kita tidak ikut menikmati laba itu, tetapi tetap menjadi bagian dari dunia yang didefinisikan oleh logika perang. Bahkan keputusan kita sebagai bangsa—apakah ingin terlibat dalam misi internasional, apakah ingin membeli sistem persenjataan baru, apakah ingin memperkuat kapasitas pertahanan—semua berkelindan dengan pasar yang diatur oleh mereka yang makmur dari konflik.

Saya tidak meminta kita menjadi naif dan berpikir bahwa dunia bisa hidup tanpa senjata. Tidak. Tetapi kita berhak marah ketika penderitaan dua bangsa—Palestina dan Ukraina—dijadikan angka dalam laporan finansial. Kita berhak kesal ketika genosida di Gaza justru meningkatkan permintaan terhadap sistem senjata Israel. Kita berhak skeptis ketika Eropa memblokir pasokan mineral dari Cina demi mempercepat rearmament, sementara mereka menasihati dunia tentang nilai-nilai moral. Kita berhak bertanya: di mana sisi kemanusiaannya?

Pada akhirnya, tulisan ini bukan ajakan untuk membenci negara tertentu atau memuja yang lain. Ini hanya ajakan agar kita berani melihat kenyataan yang tidak nyaman: perang bukan hanya tragedi, tetapi juga bisnis. Dan selama bisnis itu dikuasai oleh AS dan Eropa, selama laba mereka memuncak ketika dunia tenggelam dalam kekerasan, saya rasa kita tidak bisa sepenuhnya percaya pada narasi bahwa mereka hanya ingin perdamaian. Karena laporan SIPRI menunjukkan sesuatu yang jauh lebih jujur daripada retorika mana pun: ketika dunia berperang, industri mereka berpesta. Ketika Gaza dibombardir dan Ukraina porak-poranda, neraca keuangan mereka membaik. Itulah ironi terbesar dari zaman kita.

Dan mungkin, menyadari ironi itu saja sudah cukup membuat kita lebih waspada. Bahwa terkadang, musuh terbesar kemanusiaan bukan hanya mereka yang menembakkan rudal, tetapi juga mereka yang menjualnya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Rencana AS di Gaza: Rekonstruksi atau Penjajahan Baru?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer