Connect with us

Opini

Kemunafikan Global di Balik Wacana Pelucutan Hizbullah

Published

on

Lebanese soldiers guard a southern border outpost as a Lebanese flag waves at twilight.

Angin sore Beirut berhembus membawa debu dari selatan, bercampur dengan aroma kopi pahit yang biasa menenangkan kota lelah itu. Namun hari-hari ini, hawa yang sampai ke jalan-jalan Hamra terasa lain: lebih berat, lebih getir, seperti ada sesuatu yang mendidih di bawah permukaan. Di balik gedung-gedung yang retak akibat krisis panjang, dunia sedang sibuk merancang skenario besar: mempersenjatai Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) agar mereka bisa—katanya—melucuti Hizbullah. Ironi yang begitu terang benderang, tetapi justru dibiarkan seperti kabut yang menutup mata.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sudah lebih dulu memberi restu, berdiri di mimbar Perserikatan Bangsa-Bangsa sambil melafalkan kalimat yang terdengar manis bagi para diplomat Barat: “Lebanon akan bernapas lega ketika Hizbullah dilemahkan.” Konferensi yang dipelopori Saudi konon akan dihadiri para raksasa: dari negara Teluk hingga Eropa, bahkan Amerika Serikat. Tujuannya jelas, meski dibalut kata-kata diplomatis: senjata baru untuk LAF agar kelompok bersenjata yang lahir dari perlawanan terhadap pendudukan Israel itu akhirnya bisa disingkirkan. Saya rasa, tak perlu jadi analis untuk mencium aroma kepentingan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita semua tahu, Hizbullah bukan malaikat. Tapi mari jujur: kelompok ini berdiri justru karena Israel menginjak tanah Lebanon pada awal 1980-an. Mereka menahan gempuran, mereka memaksa mundur pasukan yang jauh lebih besar. Dan di mata banyak orang Lebanon—71,7 persen menurut survei lokal—tentara reguler mereka takkan sanggup berdiri sendirian menghadapi agresi Israel. Fakta ini keras, seperti batu yang dilempar ke kaca tipis retorika Barat-Arab. Namun, bukannya menuntaskan akar masalah berupa pendudukan Israel di selatan, konferensi internasional itu justru sibuk menyiapkan radar dan amunisi untuk menekan pihak yang selama ini menjadi benteng terakhir.

Lucunya, kata “pelucutan” hanya melekat pada Hizbullah. Tak satu pun pejabat yang berani mengucap kalimat serupa untuk Israel—negara yang berkali-kali disorot PBB atas dugaan kejahatan perang dan genosida di Gaza. Dunia bisa memutar lensa sekehendak hati. Seolah yang berstatus “negara” otomatis kebal dari tuntutan pelucutan. Israel boleh memamerkan nuklir tak resmi, menebar bom, dan tetap menyandang predikat sekutu. Sementara Hizbullah, yang senjatanya lahir dari perlawanan, dianggap ancaman yang harus segera dipreteli. Kalau ini bukan kemunafikan, apa lagi namanya?

Prancis pun tampak tak ragu bermain ganda. Pada 2016, Riyadh pernah membatalkan paket bantuan 3 miliar dolar untuk Lebanon karena Beirut menolak mengutuk serangan terhadap kedutaan Saudi di Iran. Kini, setelah hampir satu dekade, Saudi kembali ke meja yang sama—kali ini dengan senyum lebih lebar, disambut Macron dengan sorak diplomatik. Sebuah drama geopolitik yang mengingatkan saya pada transaksi pasar: siapa membawa modal, siapa membawa senjata, siapa membawa legitimasi. Hanya rakyat Lebanon yang jadi panggung tanpa tiket masuk.

Dan jangan lupakan Washington. Baru awal bulan ini, Departemen Pertahanan AS mengumumkan paket senilai 14,2 juta dolar khusus untuk membongkar gudang senjata Hizbullah. Seolah-olah itu hal mendesak di tengah dunia yang terbakar perang lain. Bagi mereka, Hizbullah adalah “proxy Iran”, label yang praktis untuk mengabaikan konteks sejarah sekaligus memompa anggaran militer. Padahal, setiap paket bantuan semacam itu hanya mempertebal kecurigaan bahwa Barat bukan sedang membantu Lebanon, melainkan menyiapkan benteng baru untuk kepentingannya sendiri.

Saya sering membayangkan situasi ini seperti permainan catur raksasa. Bidaknya bukan pion, melainkan manusia nyata. LAF dijadikan kuda: dimajukan agar bisa melompat, tapi tetap terikat gerak yang ditentukan. Hizbullah adalah benteng—kokoh, sulit ditumbangkan, namun terus diserang. Sementara Israel? Ia seperti ratu yang dibiarkan bergerak bebas, tak pernah tersentuh aturan yang sama. Semua ini terjadi di papan yang katanya mewakili “hukum internasional” tapi nyatanya hanya menuruti tangan siapa yang memegang jam.

Di Indonesia, kita kerap mendengar pepatah “pagar makan tanaman.” Beginilah rasanya melihat negara-negara yang mengaku penjaga perdamaian justru merencanakan eskalasi baru. Mereka bicara soal stabilitas, tetapi yang disiapkan adalah senjata, bukan diplomasi yang adil. Kita, yang hidup ribuan kilometer dari Beirut, seharusnya tidak menganggap ini sekadar urusan jauh. Karena hari ini mungkin Hizbullah yang jadi target, besok bisa siapa saja yang menolak tunduk pada peta kekuasaan global.

Kemunafikan ini menuntut perlawanan yang cerdas, bukan kekerasan. Perlawanan dengan data, suara, dan sorotan lampu. Rapor pelanggaran hak asasi manusia Israel ada di tangan banyak lembaga internasional. Data aliran senjata global pun tersedia untuk siapa saja yang mau melihat. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mempublikasikan, mendiskusikan, dan menekan para politisi agar tidak lagi bersembunyi di balik jargon “keamanan.” Inilah bentuk perlawanan yang sebenarnya: membongkar kepura-puraan, menyingkap topeng para pemain besar yang pura-pura netral.

Ada yang berkata, politik selalu tentang kompromi. Tetapi bagaimana kita bisa kompromi dengan kemunafikan yang begitu vulgar? Menyaksikan para pemimpin dunia menyulut api di satu sudut dan berpura-pura jadi pemadam kebakaran di sudut lain sungguh membuat kita, warga dunia, merasa ditampar. Saya rasa kita semua berhak marah—bukan marah yang membabi buta, tapi marah yang jernih. Marah yang memaksa kita mengingatkan: hukum internasional tidak boleh hanya berlaku untuk musuh, sementara sahabat dibiarkan berbuat semaunya.

Pada akhirnya, nasib Lebanon bukan hanya milik Beirut atau LAF atau Hizbullah. Ini cermin yang menampakkan wajah dunia: apakah kita membiarkan hukum jadi alat politik, atau berani menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Ketika kabut sore kembali menyelimuti kota, mungkin rakyat biasa hanya ingin sesuatu yang sederhana: keadilan yang sama untuk semua. Tetapi selama kemunafikan global terus berpesta, harapan itu akan tetap seperti debu yang berputar di udara—terlihat jelas, namun tak pernah bisa digenggam.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: KRISIS LEBANON - ANALISIS GEOPOLITIK SEPTEMBER 2025

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer