Connect with us

Opini

Jerman dan Eropa di Ambang ‘Perang Sunyi’

Published

on

Abstract illustration of Europe with fine cracks and soft light waves emerging from Germany, symbolizing a quiet, invisible tension

Kabut tipis yang menggantung di atas kota-kota Eropa akhir-akhir ini terasa seperti metafora yang terlalu tepat: sesuatu yang samar, dingin, dan menekan, seolah benua itu sedang menahan napas di antara dua dunia—masa lalu yang tak sepenuhnya terkubur dan masa depan yang tak benar-benar menjanjikan. Di tengah suasana yang serba muram itu, Jerman berdiri sebagai negara yang paling terlihat gelisah. Negeri yang selama puluhan tahun memproklamirkan dirinya sebagai kampiun perdamaian kini justru mendorong langkah yang sulit dibayangkan beberapa dekade lalu: membangun kembali struktur yang memungkinkan munculnya gelombang baru rekrutmen militer. Tak berisik. Tak dramatis. Tetapi jelas. Inilah yang saya sebut sebagai ‘perang sunyi’, sebuah fase ketegangan yang tidak ditandai oleh ledakan atau gemuruh tank, melainkan oleh birokrasi, anggaran, kuesioner, dan wacana “jaga-jaga”.

Saya rasa kita semua bisa merasakan ironi itu. Jerman mengumumkan rencana baru yang mewajibkan seluruh laki-laki muda—mereka yang lahir setelah 31 Desember 2007—mengisi kuesioner fisik dan personal sebagai bagian dari sistem rekrutmen sukarela ala Swedia. “Sukarela” adalah kata yang terdengar manis, tetapi getaran maknanya berubah ketika disandingkan dengan kewajiban mengisi data yang suatu hari bisa menjadi dasar pemanggilan ke barak. Perempuan memang boleh ikut secara opsional, tapi esensi sistemnya tetap mengarah pada pembentukan basis mobilisasi nasional. Bukan wajib militer penuh, tapi juga bukan bebas dari kewajiban. Ia berada di wilayah abu-abu yang sangat politis—wilayah yang memberi negara ruang untuk bergerak cepat tanpa perlu memulai perdebatan ideologis yang sudah mengakar sejak Perang Dunia II.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Yang membuat semuanya terasa semakin ganjil adalah waktu pengambilan keputusan ini. Eropa sedang sakit. Ekonominya lesu. Inflasi masih menghantui. Banyak keluarga terpaksa mengurangi konsumsi harian. Namun di momen ketika kantong masyarakat menipis, Jerman justru menggelontorkan anggaran pertahanan yang melonjak dari USD 67 miliar pada 2023 menjadi lebih dari USD 88 miliar pada 2024. Bundeswehr masih terseok-seok dengan jumlah personel yang turun menjadi sekitar 182.000, jauh dari target 203.000 yang sudah dicanangkan. Tapi alih-alih mereformasi birokrasi atau memperbaiki manajemen logistik yang terkenal lamban, Berlin justru memilih memperluas potensi rekrutmen. Seakan masalahnya hanya soal jumlah kepala, bukan soal struktur yang sudah terlalu lama keropos.

Bagi saya, di sinilah inti dari ‘perang sunyi’ itu: bukan perang yang menyalakan meriam, tetapi perang yang dimulai dari kecemasan kolektif. Perang yang muncul dari tekanan geopolitik yang semakin intens, dari rasa takut bahwa Eropa tak lagi bisa mengandalkan payung Amerika Serikat, dan dari kenyataan pahit bahwa konflik di Ukraina telah menghapus anggapan naif bahwa benua ini sudah steril dari ancaman perang terbuka. Pemerintah Eropa, khususnya Jerman, bergerak bukan dari posisi percaya diri, tetapi dari posisi gentar. Dan ketakutan yang dijalankan lewat kebijakan negara sering kali menghasilkan keputusan yang lebih defensif ketimbang visioner.

Tetapi apakah langkah ini sepenuhnya salah? Tidak juga. Di satu sisi, saya memahami betul bahwa keamanan nasional tidak bisa bergantung pada nostalgia. Dunia setelah 2022 telah berubah drastis. Rusia yang agresif, NATO yang terus menuntut kontribusi lebih besar, dan ketegangan global yang memusatkan Eropa sebagai panggung satelit perebutan pengaruh membuat kesiapan militer menjadi kebutuhan nyata. Jerman tidak bisa terus-terusan menjadi “raksasa ekonomi yang bertubuh militer kurus”, karena pada titik tertentu, ekonomi yang kuat pun tidak akan berarti apa-apa tanpa kemampuan mempertahankan diri.

Namun di sisi lain, saya sulit mengabaikan kenyataan bahwa Eropa—terutama generasi mudanya—sedang berada pada titik frustrasi yang tinggi. Harga rumah tak terjangkau. Peluang kerja penuh tekanan. Pendidikan mahal. Lalu negara datang membawa formulir yang mungkin mengarah pada pemanggilan militer? Bayangkan reaksi emosional yang muncul. Sudah banyak beban, kini mereka harus bersiap menghadapi kemungkinan menjadi bagian dari mesin pertahanan negara. Secara politis, ini berisiko. Secara sosial, ini bisa memicu ketidakpuasan baru. Secara psikologis, ini menegaskan bahwa generasi muda sedang dibesarkan dalam dunia yang lebih gelap daripada yang dibayangkan para pendahulu mereka.

‘Perang sunyi’ ini juga beresonansi ke seluruh Eropa. Ada gelombang kebangkitan militer yang terjadi secara simultan: Swedia mengaktifkan kembali sistem rekrutmennya, Latvia kembali ke wajib militer, Denmark memperluas layanan militer perempuan, Prancis meningkatkan anggaran pertahanan secara besar-besaran. Ini bukan hanya kebijakan individual negara; ini pola. Dan pola ini mengirim pesan yang lebih keras dari apa pun: Eropa sedang menggeser dirinya dari benua pasifis menjadi benua yang siap bersenjata. Bukan untuk menyerang. Tapi untuk berjaga. Dan terkadang, kesiapsiagaan yang terlalu intens justru menciptakan atmosfer yang tak kalah menakutkan dari perang itu sendiri.

Jika saya melihatnya dari sudut pandang ekonomi, keputusan ini semakin rumit. Ketika beberapa negara masih berjuang mengendalikan inflasi makanan, memulihkan industri, dan menjaga daya beli warga, keputusan untuk menambah anggaran militer dapat menciptakan tekanan fiskal yang lebih besar. Tentu, para pembuat kebijakan bisa berkilah bahwa keamanan adalah prasyarat pertumbuhan. Benar. Tetapi keamanan yang dibiayai secara tergesa-gesa tanpa reformasi struktural justru berpotensi menjadi beban jangka panjang. Bundeswehr sendiri bukan krisis anggaran; ia krisis tata kelola. Menghadirkan lebih banyak orang tanpa perbaikan dalam sistem hanya akan meningkatkan ketidakefisienan.

Meskipun begitu, saya tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dunia sedang bergerak cepat menuju ketidakpastian. Dalam suasana seperti ini, negara mengambil langkah yang kadang terlihat berlebihan, kadang terlihat defensif, tapi selalu dilandasi rasa takut akan menjadi pihak yang tidak siap. Dan saya tidak bisa menyalahkan rasa takut itu. ‘Perang sunyi’ bukan sekadar retorika—ia adalah realitas psikologis yang mengitari para pengambil keputusan Eropa. Realitas yang mendorong mereka menyiapkan segala kemungkinan tanpa harus mengumumkannya sebagai ancaman nyata.

Pada akhirnya, apakah langkah Jerman tepat? Saya akan menjawab: tepat secara geopolitik, tetapi berisiko secara sosial dan ekonomi. Ini langkah yang muncul dari kewajiban sejarah dan tekanan masa kini, bukan dari visi jangka panjang yang matang. Namun dalam dunia yang kacau, negara sering kali harus memilih langkah yang kurang ideal untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk. Begitulah paradoks kebijakan keamanan: selalu terasa berlebihan saat dirumuskan, tetapi selalu dianggap kurang saat ancaman datang.

Jadi ketika kita menyaksikan Jerman bersiap melalui dokumen, anggaran, dan screening generasi muda, ingatlah bahwa kita tidak sedang melihat negara yang hendak berperang. Kita sedang melihat negara yang mencoba bertahan dalam ‘perang sunyi’—perang yang tak terdengar, tetapi terasa; perang yang tak terlihat, tetapi menekan; perang yang tak diumumkan, tetapi sudah membentuk cara Eropa memandang dirinya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer