Connect with us

Opini

Iran Menang, Propaganda Luar Terbongkar Nyata

Published

on

Demonstrasi pro-rezim di Iran, menunjukkan solidaritas nasional dan ketahanan sosial

Di tengah gelapnya malam informasi, kita sering tersesat dalam bayangan kabar yang tampak meyakinkan, padahal sesungguhnya adalah ilusi yang dirangkai rapi. Kita membaca media Israel yang menegaskan bahwa Iran sedang rapuh, bahwa rezimnya sedang diguncang, bahwa rakyatnya marah, dan kekuasaan mereka labil. Kita tergoda percaya, karena narasi semacam itu nyaman bagi kita—memberi kesan dramatis, memberi rasa superior atas konflik orang lain. Tapi Amos Yadlin, mantan kepala Intelijen Militer Israel, muncul sebagai pemecah ilusi itu. Ia mengatakan dengan lugas: tidak, Iran tidak rapuh. Tidak ada penurunan kekuatan seperti yang dibualkan media. Sungguh ironis: kita semua disuguhi dramatisasi konspiratif sementara realitas di lapangan berjalan dengan ritme sendiri, lebih kompleks, lebih kuat.

Membaca laporan ini membuat saya merasa seperti menonton sandiwara yang dibayar mahal, lengkap dengan skrip yang terlalu pas untuk kepentingan politik tertentu. Yadlin menekankan, “Otoritas di Iran tetap kuat dan telah mengambil ke jalan-jalan.” Bayangkan itu. Di saat sebagian orang menafsirkan unjuk rasa sebagai tanda kehancuran internal, rezim justru menegaskan keberadaannya, menunjukkan kapasitasnya menahan guncangan dan menjaga kohesi di tengah ketegangan. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan: dunia luar menilai sebuah negara dari potongan berita singkat dan opini populer, sementara Iran bergerak diam, namun tegas, seperti perahu besar yang menabrak gelombang tanpa tergoyahkan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Tentu, kerusuhan itu terjadi. Tapi mari kita cermati lebih dalam. Pihak berwenang Iran menegaskan bahwa aksi kekerasan itu bukanlah ekspresi murni ketidakpuasan ekonomi, melainkan sabotase yang disusupi kelompok bersenjata, yang dituding berafiliasi dengan Mossad dan dukungan Amerika Serikat. Ada kata “teroris” dan “separatis” di dalam narasi resmi, lengkap dengan jumlah korban dan penangkapan. IRGC, misalnya, mengklaim berhasil menangkap 31 orang yang bekerja sama dengan jaringan asing, membubarkan tim perusak di sembilan provinsi, dan memanfaatkan sekitar 400 ribu laporan publik untuk menindak aktor-aktor tersebut. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah simbol kapasitas intelijen dan kemampuan kontrol yang sering diabaikan oleh narasi luar. Kita, sebagai pembaca yang ingin berpikir kritis, harus menahan diri dari kesederhanaan: tidak semua protes adalah revolusi, dan tidak semua kekacauan adalah tanda kelemahan.

Saya rasa di sini kita menemukan absurditas nyata. Media Barat dan komentar populer sering memisahkan realitas menjadi hitam dan putih, kuat dan lemah, benar dan salah. Padahal, di Tehran, di jalanan yang sama yang kita saksikan lewat layar kaca, jutaan warga turun ke jalan bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk menegaskan solidaritas. Funeral processions untuk sekitar 300 warga—termasuk aparat keamanan—menjadi panggung persatuan, simbol bahwa rakyat mampu menolak kekerasan dan tetap mendukung negara. Bayangkan, di saat dunia luar berdebat tentang keruntuhan rezim, rakyat Iran mengekspresikan ketahanan sosial mereka dalam unjuk rasa yang masif dan damai. Ada sesuatu yang menohok di sini: keteguhan bangsa, yang jarang diterjemahkan media sebagai kekuatan nyata, sering dianggap sebagai kebutaan politik.

Kita juga perlu mencatat konteks strategis. Tuduhan campur tangan Mossad dan AS adalah bukan hanya narasi defensif; ini adalah pesan geopolitik yang jelas: Iran bukan medan lemah bagi aktor eksternal, Iran tetap memiliki kemampuan untuk mendeteksi, menindak, dan memitigasi ancaman. Ada semacam ironi halus di sini. Sementara beberapa analis asing sibuk menebak-nebak jatuhnya rezim, Iran menegaskan kontrol internal, memperlihatkan struktur keamanan yang solid, dan menegakkan aturan main di tengah situasi yang kompleks. Ini bukan sekadar permainan angka; ini adalah penegasan kekuasaan dan kapasitas bertahan, sekaligus sindiran bagi mereka yang menilai dari jauh tanpa memahami mekanisme internal.

Saya rasa kita juga bisa mengambil pelajaran reflektif dari peristiwa ini. Kita cenderung terpesona pada dramatisasi konflik asing karena memberikan sensasi cepat dan mudah dimengerti. Padahal, ketika kita mendekat dengan data dan pengamatan kritis, realitas sering kali berlapis: protes itu ada, korban berjatuhan, sabotase terjadi, tapi kekuatan rezim tetap nyata, solidaritas rakyat tetap hidup, dan negara tetap eksis. Ada sesuatu yang puitis sekaligus tragis: persepsi sering lebih berpengaruh daripada kenyataan, sementara kenyataan yang kuat sering diabaikan oleh narasi populer.

Mari kita gunakan analogi sehari-hari: seperti melihat rumah dari jendela tetangga. Dari luar, rumah itu tampak rapuh, temboknya retak, catnya mengelupas, tapi ketika kita masuk, kita melihat struktur yang kokoh, penghuni yang terorganisir, dan fondasi yang tak tergoyahkan. Begitu juga Iran: apa yang kita baca di media luar tidak selalu mencerminkan fondasi sosial, politik, dan keamanan yang nyata. Ironi ini tajam, kadang getir, tapi memberi pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya skeptisisme dan refleksi kritis.

Saya tidak menulis ini untuk menegasikan fakta kekerasan atau kerusuhan. Tidak. Justru di sanalah letak ironi terbesar: dunia menunggu rezim jatuh karena aksi kekerasan, padahal negara yang tampak “tertekan” itu menegaskan ketahanan sosialnya melalui ritual publik, solidaritas rakyat, dan penguatan struktur keamanan. Ada humor pahit dalam paradoks ini: kita menunggu runtuhnya yang tampak rapuh, sementara yang tampak kuat diabaikan. Dan Yadlin, dengan segala pengalaman intelijennya, seperti memberi tepukan ringan pada pundak kita: “Eh, jangan terlalu percaya sensasi.”

Dalam perspektif geopolitik, semua ini jelas. Iran bukan hanya aktor regional; ia adalah medan perang narasi global, di mana media, opini publik, dan agen intelijen asing bersaing membentuk persepsi. Dan kita? Kita sering menjadi penonton, terjebak dalam drama informasi yang berlebihan. Tapi fakta di lapangan—jumlah demonstran pro-rezim, jumlah operasi kontra-intelijen, solidaritas nasional—mengungkapkan hal lain: stabilitas, ketahanan, dan kekuatan nyata tidak selalu terlihat dari headline dramatis.

Jadi, apa yang harus kita pelajari? Bahwa realitas jarang sederhana, narasi media bisa menipu, dan kekuatan sebuah negara sering tersembunyi dalam detail yang jarang diulas. Iran, dengan semua kompleksitasnya, mengajarkan kita satu hal: jangan mudah percaya apa yang dikatakan orang lain dari jauh, dan jangan meremehkan kemampuan internal sebuah negara hanya karena narasi global ingin kita percaya sebaliknya. Di tengah gemuruh kabar, ada kenyataan yang menolak diruntuhkan. Dan itu—saya rasa—adalah pelajaran paling berharga dari laporan ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer