Opini
Infrastruktur Eropa Runtuh Sebelum Perang Dimulai
Eropa sedang membangun koridor militer. Jalan raya diperlebar, jembatan diperkuat, dan terowongan dihitung ulang agar muat dilewati tank Leopard dan kendaraan lapis baja. Tapi di balik gegap-gempita itu, ada kenyataan getir yang tak bisa ditutup dengan slogan integrasi atau foto pertemuan para komisioner di Brussel: benua yang dulu menjadi simbol peradaban industri itu ternyata tak siap untuk perang. Ironis, bukan? Ketika Eropa gencar mengirim senjata ke Ukraina, ternyata ia sendiri tersandung urusan izin lintas negara untuk memindahkan tentaranya.
Menurut laporan Euronews, dibutuhkan lebih dari sepuluh hari bagi Prancis untuk mendapatkan izin menggerakkan pasukan dan perlengkapan militernya ke negara tetangga. Padahal target Uni Eropa hanya lima hari. Sebuah kegagalan administratif yang, dalam konteks perang modern, bisa berarti kekalahan strategis. Bayangkan saja, ketika peluru sudah beterbangan di perbatasan timur, para jenderal di barat masih sibuk menandatangani formulir digital dan menunggu stempel virtual dari otoritas negara tetangga. Ini bukan sekadar lambat; ini memalukan.
Komisi Eropa berencana meluncurkan paket kebijakan military mobility pada November nanti untuk menyederhanakan prosedur itu. Tapi niat mulia itu justru mengungkap hal yang lebih dalam: bahwa Eropa selama ini hidup dalam ilusi keamanan. Ia beranggapan bahwa NATO dan Amerika akan selalu menjadi payung pelindung. Ia membangun jalan untuk perdagangan, bukan untuk tank. Ia memperkuat jembatan untuk logistik sipil, bukan untuk konvoi militer. Lalu ketika bayang-bayang perang datang dari timur, Eropa tersadar — infrastrukturnya rapuh, logistiknya tambal sulam, dan koordinasinya berantakan.
Air Force Brigadier General Fabrice Feola dari Prancis menyebut perlunya otoritas koordinasi tunggal agar “tak ada diskontinuitas” antarnegara. Pernyataan itu terdengar seperti seruan perang di balik kalimat teknokratis. Karena kalau infrastruktur dasar mereka saja terputus-putus, bagaimana mungkin mereka berharap bisa mengoordinasikan perang yang kompleks? Feola berbicara dengan nada realistis, tapi di dalamnya terkandung pengakuan pahit: bahwa bahkan setelah dua tahun konflik di Ukraina, Eropa masih belum tahu bagaimana cara menggerakkan dirinya sendiri.
Kita mungkin pernah berpikir, Eropa sudah terlalu maju untuk kembali ke pola pikir perang dunia. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka sedang menyiapkan koridor militer, bukan hanya untuk mendukung Ukraina, tapi untuk kemungkinan perang di tanah Eropa sendiri. Bayangkan, dua dekade setelah kampanye besar-besaran tentang green mobility, kini mereka beralih ke military mobility. Dari energi hijau ke rel baja. Dari kerjasama lingkungan ke koordinasi logistik militer. Dunia memang berubah cepat — tapi Eropa berubah karena ketakutan, bukan karena visi.
Dalam laporan yang sama disebutkan, setidaknya dibutuhkan €70 miliar untuk memperkuat jalur transportasi agar siap menghadapi pergerakan militer skala besar. Tujuh puluh miliar euro. Jumlah yang setara dengan membangun ribuan sekolah, rumah sakit, atau pusat riset baru. Tapi Eropa memilih untuk menanamkan modalnya pada jembatan yang kuat menahan tank, bukan pada generasi muda yang kuat berpikir kritis. Apakah ini pertanda kemunduran moral, atau hanya refleks dari benua yang kehilangan arah politik?
Yang paling ironis, 90 persen transportasi logistik militer Prancis masih bergantung pada sektor swasta. Dengan kata lain, kalau besok perang besar pecah, pergerakan pasukan Eropa tergantung pada jadwal dan tarif perusahaan sipil. Ini bukan sekadar masalah teknis; ini bukti bahwa Eropa telah menyerahkan otot pertahanannya kepada pasar. Betapa ganjilnya: di satu sisi mereka berbicara tentang kedaulatan strategis, tapi di sisi lain truk-truk militernya harus menunggu kontrak logistik disetujui oleh perusahaan komersial. Perang tidak menunggu tanda tangan.
Saya rasa inilah absurditas terbesar dari proyek pertahanan Eropa hari ini. Mereka ingin membangun benteng, tapi tanpa fondasi. Mereka berbicara tentang kesiapsiagaan, tapi masih bingung siapa yang memegang kendali. Mereka membicarakan “koordinasi tanpa diskontinuitas,” padahal setiap negara masih sibuk dengan kepentingan logistik nasionalnya. Prancis ingin jalur sendiri. Jerman ingin sistemnya diakui. Polandia ingin prioritas. Semua ingin memimpin, tapi tak ada yang siap mengikuti.
Kalau kita tarik lebih jauh, kegagalan ini bukan hanya soal izin lintas negara atau jembatan yang terlalu sempit. Ini soal paradigma. Eropa modern tumbuh dengan keyakinan bahwa perang besar sudah tidak mungkin terjadi di benuanya. Mereka membangun ekonomi berdasarkan asumsi perdamaian permanen. Lalu datanglah invasi Rusia ke Ukraina, dan semua teori itu runtuh dalam semalam. Sejak saat itu, Eropa hidup dalam kepanikan permanen, mencoba menutupi rasa cemasnya dengan proyek teknokratis baru. Military mobility hanyalah cara elegan untuk mengatakan “kami belum siap untuk berperang.”
Ada kemiripan yang menarik dengan pengalaman kita di Indonesia. Ketika bencana datang — entah banjir atau gempa — kita baru sadar bahwa jalan dan jembatan yang megah ternyata rapuh. Begitu juga Eropa: ia membangun jaringan ekonomi yang kompleks, tapi melupakan fondasi ketahanannya. Mereka punya rel cepat, tapi tak punya rel kuat. Mereka punya sistem digital canggih, tapi tak punya sistem komando yang tangkas. Dan seperti kita, mereka baru berlari setelah air mulai naik.
Tapi ada perbedaan penting: Eropa punya sumber daya, tapi kehilangan arah moral. Mereka takut perang, tapi juga takut kedamaian yang membuat mereka tampak lemah. Mereka ingin mandiri dari Amerika, tapi tak bisa hidup tanpa NATO. Itulah paradoks Eropa hari ini — benua yang punya segalanya, kecuali keyakinan pada dirinya sendiri.
Jika perang benar-benar meletus di perbatasan timur, mungkin sejarah akan mencatatnya bukan sebagai pertempuran pertama di tanah Eropa modern, tapi sebagai ujian pertama atas kejujuran Eropa terhadap dirinya sendiri. Seberapa siap mereka menghadapi ancaman yang mereka sendiri ciptakan melalui retorika ketakutan? Karena pada akhirnya, bukan Rusia yang akan membuat mereka goyah, melainkan kebingungan internal dan birokrasi yang menua.
Saya kira Eropa sedang menghadapi cerminnya sendiri. Cermin yang memantulkan sosok tua, lelah, tapi masih berusaha terlihat kuat di depan dunia. Mereka sedang memoles retakan itu dengan istilah teknokratis seperti mobility corridors, seolah-olah perang bisa diatur seperti proyek infrastruktur. Tapi perang, seperti hidup, selalu menemukan celah di antara rencana paling rapi. Dan jika fondasi infrastruktur Eropa saja belum siap, bagaimana mungkin mereka berharap menang dalam pertempuran yang bahkan belum dimulai?
