Connect with us

Opini

Hegemoni Tawar-Menawar di Ujung Senja Amerika

Published

on

An editorial illustration of Uncle Sam standing on policy documents with a calculator, surrounded by declining U.S. industries while China’s factories shine in the distance.

Di sebuah pagi yang lembap, ketika kabut Jakarta terlambat naik dari kali yang malas, saya membaca dokumen strategi keamanan nasional Amerika Serikat terkini—sebuah naskah yang, jujur saja, terasa seperti melihat kekuatan lama menatap cermin retak. Ada semacam absurditas yang menguar dari setiap lembarnya: sebuah negara adidaya yang masih ingin menjadi pusat dunia, tetapi tak lagi sanggup membayar ongkos moral, politik, bahkan ekonominya. Amerika dulu membangun hegemoninya dengan narasi besar—demokrasi, kebebasan, tatanan liberal. Kini, dari dokumen itu, yang tersisa lebih mirip buku panduan negosiasi pedagang grosir, dengan daftar tuntutan, tarif, ancaman, dan kalkulator keuntungan. Dan saya rasa, setiap dari kita bisa merasakan ketegangan itu—ketika kekuatan global mulai bertingkah seperti toko kelontong yang takut bangkrut.

Jika strategi keamanan nasional adalah cerminan jiwa sebuah bangsa, maka strategi terbaru ini menunjukkan jiwa yang gelisah. Amerika berulang kali menyebut dirinya tetap “paling kuat, paling kaya, paling unggul”. Tetapi repetisi semacam itu selalu menyiratkan kecemasan. Layaknya seseorang yang terlalu sering menyebut dirinya bahagia, padahal semua orang tahu ada keretakan di dalamnya. Dalam dokumen ini, AS menegaskan bahwa mereka ingin mempertahankan hegemoni, tetapi hegemoni yang baru: hegemoni tawar-menawar, hegemoni berbasis bargain dan leverage ekonomi. Sebuah hegemoni yang tidak lagi menawarkan nilai, tetapi menawarkan paket diskon, ancaman tarif, dan standar ganda. Dan tentu saja, itu bukan hegemoni yang kokoh—itu hegemoni yang sedang mencari cara untuk tetap relevan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita semua tahu, strategi baru Amerika—yang mengutamakan “fairness”, “reciprocity”, “burden-shifting”—adalah pengakuan terselubung bahwa model lama sudah tak sanggup dipertahankan. Ketika dokumen itu menegur Eropa karena “kehilangan kepercayaan diri peradaban”, atau menuntut sekutu Asia membayar lebih mahal untuk pertahanan, sebenarnya Amerika sedang mengatakan bahwa dunia tidak lagi memandangnya sebagai pusat moral. Dunia bergerak, dan AS terlambat mengejar. Yang menyedihkan, alih-alih membangun tatanan yang lebih dewasa, mereka memilih memperkeras nada, seolah volume bisa menggantikan otoritas. Kita pernah melihat ini dalam politik lokal—ketika seorang pejabat kehilangan dukungan, ia bukan merendah, ia berteriak lebih keras.

Dalam konteks itu, konsep “America First” berubah dari slogan menjadi cara hidup. Strategi ini memerintahkan sekutu untuk berhenti menumpang keamanan gratis, sambil diam-diam lupa bahwa keamanan global selama ini bukan amal, tetapi instrumen kepentingan Washington. Ironi terbesarnya adalah: AS ingin dunia tetap tunduk pada kepemimpinan mereka, tetapi mereka sendiri tak mau menanggung biaya kepemimpinan itu. Ini seperti pemilik angkot yang mengancam akan berhenti beroperasi, tetapi tetap menagih uang setoran pada kernet. Absurd? Ya. Tapi begitulah politik global ketika kekuatan lama mulai cemas.

Kita lihat saja bagaimana strategi ini memperlakukan Eropa. Alih-alih melihat Uni Eropa sebagai mitra yang setara, dokumen itu menuduh Eropa mengalami “krisis peradaban”. Seakan-akan satu-satunya cara agar Eropa selamat adalah kembali mengikuti ritme Washington. Padahal, jika mau jujur, sebagian kegagalan Eropa justru merupakan hasil dari puluhan tahun bergantung pada payung keamanan Amerika. Ketergantungan itu kini dipermalukan oleh AS sendiri. Saya rasa, kalau strategi ini adalah percakapan keluarga, maka AS sedang memainkan peran bapak yang marah karena anak-anaknya tidak lagi mengirim uang belanja, padahal selama ini merekalah yang disuruh bergantung.

Lalu soal Asia. Dokumen ini sangat jelas: Asia adalah medan kompetisi, dan Cina adalah lawan utama. Tapi strategi yang disajikan bukanlah strategi visioner, melainkan strategi defensif. Reindustrialisasi AS? Bagus di atas kertas, tetapi sulit dijalankan. Menggeser rantai pasok dari Cina? Itu seperti mencoba memindahkan pasar Tanah Abang ke lantai 12—secara teori mungkin, tetapi secara praktis menjengkelkan dan tidak efisien. Dokumen itu berbicara tentang membangun kembali industri nasional, seolah manufaktur bisa dipanggil pulang hanya dengan patriotisme. Padahal kita semua tahu: perusahaan-perusahaan AS sendiri yang mengirim industri mereka ke luar negeri demi margin lebih besar. Kini, setelah sadar bahwa mereka terlalu bergantung pada Cina, mereka ingin menyalahkan dunia. Ironi semacam ini terlalu canggih untuk disebut satire; ini tragedi neoliberal yang akhirnya menghantam rumah sendiri.

Dan saya kira inilah fragmen kebenaran yang paling perlu kita renungi: strategi AS ini sebenarnya mengakui kelemahan struktural mereka, tanpa berani menyebutnya sebagai kelemahan. Mereka ingin memblok Cina, tetapi mereka masih bergantung pada impor teknologi, bahan baku, bahkan obat-obatan yang diproduksi atau dirakit di rantai pasok yang berhubungan dengan Cina. Mereka ingin menekan migrasi, tetapi ekonomi mereka masih membutuhkan tenaga kerja murah. Mereka ingin mencegah perang di Asia Timur, tetapi mereka meminta para sekutu menaikkan anggaran militer hingga lima persen dari GDP—sebuah dorongan yang justru mempercepat perlombaan senjata. Ini seperti seseorang yang ingin menghindari kebakaran, tetapi terus menuang bensin sambil berteriak “ini untuk mencegah api!”

Di Timur Tengah, dokumen itu memuji keberhasilan mereka menghentikan perang, tetapi semua orang tahu bahwa konflik di kawasan itu tidak memudar hanya karena satu deklarasi. Mereka menyebut Iran melemah, tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa tekanan militer sering kali hanya memperpanjang napas rezim, bukan mengakhiri konfliknya. Dunia Arab diperlakukan seolah-olah hanya sumber energi dan arena negosiasi geopolitik—padahal masyarakat di sana sedang bergulat dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak bisa diselesaikan oleh “deal-making” versi Washington.

Afrika juga tidak lepas dari pola pikir ini: dari bantuan ke investasi, dari kemitraan ke kompetisi mineral. Tidak ada kesadaran bahwa Afrika bukan sekadar pasar atau ladang ekstraksi baru, melainkan benua yang punya ambisi sendiri. Dalam strategi ini, AS menjanjikan investasi, tetapi dengan syarat-syarat yang membuatnya lebih mirip rentenir yang bersolek menjadi mentor pembangunan.

Saya rasa, strategi AS ini secara keseluruhan menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi: ketakutan. Ketakutan bahwa pusat dunia telah bergeser. Ketakutan bahwa standar mereka tak lagi diikuti. Ketakutan bahwa masa depan tidak lagi menempatkan mereka di posisi puncak. Dan seperti manusia yang ketakutan, AS memilih jalan yang keras, jalan yang transaksional, jalan yang penuh ancaman. Namun semua itu, pada akhirnya, tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dunia bergerak menuju multipolaritas, dan strategi ini justru mempercepat peralihan itu.

Karena hegemon yang hanya mengandalkan tawar-menawar bukan hegemon, melainkan pedagang besar yang tertinggal zaman. Dunia akan membeli selama harganya cocok, tetapi tidak ada lagi loyalitas. Tidak ada lagi aura moral. Tidak ada lagi cerita besar yang bisa menyatukan. Yang tersisa hanya transaksi, tarif, dan ancaman. Dan kita semua tahu: imperium yang berubah menjadi pedagang biasanya sedang berjalan ke senja sejarahnya.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Amerika Serikat Penyebab Konflik Global 2026?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer