Opini
Dunia Dijual Murah di Meja Donald Trump
Ketika seorang presiden bicara tentang perang seperti membahas harga saham, dunia seolah kehilangan nadinya. Begitulah yang terasa ketika Donald Trump, dalam wawancara terbarunya, berbicara soal Ukraina, Gaza, dan China dengan nada datar tapi penuh kalkulasi dagang. Tidak ada empati, tidak ada beban moral—hanya keseimbangan antara stok senjata dan neraca perdagangan. Dunia sedang terbakar, tapi Trump sibuk menghitung roket seperti pedagang menghitung stok barang menjelang tutup toko.
Ia menolak mengirim lebih banyak senjata ke Ukraina karena “tidak bisa mengorbankan persediaan Amerika.” Kedengarannya masuk akal, tapi di balik kalimat itu terselip logika dingin: bahwa perang hanya layak diperpanjang selama masih menguntungkan. Ia bicara tentang “berharap Rusia dan Ukraina mencapai pemahaman,” padahal ia tahu—dan kita semua tahu—pemahaman semacam itu tidak mungkin lahir dari ketimpangan kekuatan. Kalimat itu terdengar seperti nasihat sopan dari orang yang sudah lama menutup mata terhadap penderitaan orang lain.
Trump juga menegaskan bahwa Tomahawk—rudal kebanggaan Amerika—harus disimpan untuk kepentingan domestik. Seolah dunia di luar perbatasan Amerika tidak layak dilindungi, seolah tragedi di Eropa Timur hanyalah gangguan terhadap kestabilan pasar minyak dan dolar. Tapi yang lebih ironis, ia mengaku telah berdiskusi langsung dengan Putin tentang perang ini. Bayangkan: seorang presiden negara adidaya berbicara dengan agresor utama dan menyebutnya bagian dari “jalur diplomasi.” Diplomasi macam apa yang dilakukan dengan tangan berlumur darah dan kepala penuh kalkulasi bisnis?
Sementara itu, di Gaza, Trump berujar dengan nada santai bahwa Amerika “tidak perlu mengirim pasukan.” Katanya, tak ada alasan untuk menjejakkan “boots on the ground.” Kata-kata itu mungkin terdengar seperti pernyataan damai, tapi sejatinya adalah bentuk pembiaran. Sebab di saat yang sama, serangan Israel terus menghantam Gaza, melanggar gencatan senjata 47 kali hanya dalam seminggu. Puluhan warga sipil tewas, ratusan luka-luka, dan kota-kota seperti Khan Younis berubah jadi reruntuhan. Tapi bagi Trump, itu bukan alasan untuk turun tangan—karena baginya, tragedi tanpa keuntungan ekonomi hanyalah gangguan di layar televisi.
Yang lebih menakutkan adalah kalimat ini: “Israel akan kembali ke jalan-jalan Gaza atas perintah saya.” Ia menolak perang, tapi memberi izin moral untuk membunuh. Ia menolak mengirim pasukan, tapi mengizinkan orang lain melakukan pekerjaan kotornya. Ini bukan anti-intervensi; ini bentuk baru dari kolonialisme politik—menyuruh orang lain menindas atas nama stabilitas regional. Trump memang tidak mengirim tentara, tapi ia mengirim legitimasi, dan itu jauh lebih berbahaya.
Kita semua tahu, Gaza bukan sekadar wilayah konflik. Ia adalah simbol tentang bagaimana dunia memperlakukan penderitaan manusia: diukur, dinegosiasikan, dan akhirnya dijual. Dalam laporan yang sama disebutkan, Gaza kini menanggung 70 juta ton reruntuhan, 20.000 bom yang belum meledak, dan lebih dari 67.000 korban jiwa sejak 2023. Angka-angka itu tidak membuat Trump berhenti berbicara soal strategi. Ia tetap sibuk memainkan kalimat seperti pedagang yang menimbang untung rugi. Dan entah bagaimana, media Barat akan memolesnya jadi “realpolitik”—seolah keengganan membantu adalah bentuk kebijaksanaan, bukan kebutaan moral.
Lalu datanglah China. Trump dengan bangga berkata bahwa ia memberlakukan tarif 100 persen terhadap impor dari Beijing. Ia tahu itu tidak berkelanjutan, tapi tetap melakukannya—“mereka memaksa saya,” katanya. Kalimat itu, kalau kita renungkan, mengandung ironi yang dalam. Amerika, negara paling kuat di dunia, merasa “dipaksa” oleh negara lain. Dalam politik gaya Trump, semua kesalahan harus punya kambing hitam, dan semua keputusan harus bisa dijual ke pemilih sebagai bentuk perlawanan terhadap “musuh asing.” Padahal ini bukan perlawanan—ini pengalihan. Tariff war adalah teater, bukan kebijakan.
Ia memang berencana bertemu Xi Jinping di Korea Selatan, katanya untuk “mencari kesepakatan yang adil.” Tapi pola pikirnya sudah terbaca: gertak dulu, lalu tawarkan deal. Semua hubungan internasional, bagi Trump, hanya persoalan transaksi. Tidak ada sahabat, hanya mitra dagang. Tidak ada musuh, hanya pesaing harga. Dunia ini, dalam versinya, adalah pasar besar tempat negara-negara berlomba menawarkan stabilitas, sumber daya, atau sekadar kepatuhan demi mendapat perlakuan istimewa dari Washington.
Saya rasa, di sinilah absurditasnya: Amerika yang dulu bicara tentang demokrasi kini beroperasi seperti perusahaan besar yang menagih utang moral kepada dunia. Ukraina diminta berterima kasih, Gaza diabaikan, dan China ditekan. Semua atas nama “kepentingan nasional.” Tapi kepentingan macam apa yang menumbuhkan perang, menutup mata dari pembantaian, dan menghancurkan ekonomi dunia demi elektabilitas domestik?
Trump, dengan caranya yang kasar dan terus terang, sebenarnya hanya menyingkap wajah lama Amerika yang selalu disembunyikan di balik jargon “freedom and peace.” Ia tidak menciptakan kebijakan baru—ia hanya membuang topeng lama. Ia berbicara jujur bahwa bagi Amerika, dunia ini hanyalah permainan angka. Dan kejujuran seperti ini, meski kejam, justru memperlihatkan betapa rapuhnya klaim moral Barat selama ini.
Kalimatnya tentang “tidak bisa mengorbankan stok senjata” adalah metafora yang pas untuk seluruh peradaban modern: kita lebih takut kehabisan rudal daripada kehilangan kemanusiaan. Ketika Gaza hancur dan Ukraina berdarah, pemimpin dunia malah bicara tentang logistik. Dan di tengah semua itu, rakyat kecil—di Rafah, di Kharkiv, di mana pun—dibiarkan mencari makna dari kehancuran yang tidak mereka pilih.
Trump memang pandai memanfaatkan kebosanan dunia. Setelah bertahun-tahun perang dan intervensi, masyarakat global mulai lelah. Ia tahu itu, dan ia menjual rasa lelah itu sebagai kebijakan: “enough wars.” Tapi berhenti peduli bukanlah jalan menuju damai. Itu hanya membuat para pelaku kekerasan bekerja tanpa saksi. Gaza tidak butuh pasukan Amerika; ia butuh dunia yang peduli. Tapi dunia kini sibuk menghitung tarif dan stok senjata—dan Trump, dengan senyum puasnya, menyebut itu sebagai kemenangan diplomasi.
Dunia sedang dijual murah di meja Donald Trump. Dengan diskon besar untuk siapa pun yang mau membeli ketenangan semu. Tapi seperti semua barang murah, yang tersisa setelahnya hanyalah rasa sesal dan reruntuhan. Dan sejarah akan mencatat: ketika dunia terbakar, pemimpinnya sibuk menegosiasikan harga api.
