Opini
Diplomasi dengan Iran: Ilusi atau Fakta Sejarah?
Langit politik internasional selalu penuh dengan kalimat-kalimat besar. Kadang terlalu besar. Seolah satu frasa bisa menggantikan puluhan tahun sejarah. Ketika Marco Rubio menyebut diplomasi dengan Iran sebagai “ilusi”, saya langsung teringat pada kebiasaan lama dunia politik: menyederhanakan kenyataan agar terdengar tegas. Tegas memang terdengar meyakinkan. Tapi apakah ia juga benar? Di situlah kegelisahan itu muncul.
Diplomasi dengan Iran bukanlah percakapan warung kopi yang bisa selesai dalam satu kalimat. Ia adalah proses panjang, penuh tarik-ulur, penuh kegagalan, tapi juga penuh momen yang—meski kecil—mengubah arah kebijakan. Ketika kata “ilusi” dilemparkan, seolah seluruh proses itu hanyalah fatamorgana. Seolah para diplomat, negosiator, dan negara-negara yang terlibat selama bertahun-tahun hanya bermain sandiwara. Jujur saja, itu penyederhanaan yang terlalu rapi.
Saya rasa kita semua tahu, dalam politik, kalimat keras sering kali lebih laku daripada analisis panjang. Menyebut diplomasi dengan Iran sebagai ilusi terdengar seperti kesimpulan final. Ringkas. Keras. Mudah dikutip. Tapi sejarah jarang sesederhana itu. Dan di sinilah persoalannya: apakah klaim tersebut berdiri kokoh ketika diuji oleh fakta yang tercatat?
Jika kita membuka kembali rekam jejak diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, kita akan menemukan dinamika yang tidak hitam-putih. Ada ketegangan. Ada kegagalan. Ada ketidakpercayaan yang akut. Namun ada pula kesepakatan, negosiasi, dan upaya konkret untuk menahan eskalasi konflik. Diplomasi dengan Iran bukan dongeng kosong. Ia pernah menghasilkan kesepakatan nyata, dengan parameter, inspeksi, dan mekanisme pengawasan.
Apakah kesepakatan itu sempurna? Tidak. Apakah ia bertahan selamanya? Juga tidak. Tetapi menyebutnya ilusi berarti menghapus fakta bahwa ia pernah berfungsi. Itu seperti mengatakan jembatan runtuh karena suatu saat ia retak, padahal selama bertahun-tahun ia menghubungkan dua tepi sungai yang sebelumnya terpisah. Kita boleh mengkritik kualitas jembatannya. Tapi mengatakan ia tidak pernah ada? Itu lain cerita.
Dalam konteks diplomasi global, keberhasilan jarang tampil dalam bentuk kembang api. Ia lebih sering hadir dalam bentuk pencegahan krisis. Tidak ada perang. Tidak ada ledakan. Tidak ada eskalasi besar. Justru karena itulah diplomasi sering diremehkan. Ia bekerja dalam senyap. Ia tidak heroik. Ia administratif. Tapi efeknya nyata.
Di Indonesia, kita pun akrab dengan negosiasi yang panjang dan melelahkan. Dari perundingan damai hingga diplomasi perdagangan, hasilnya sering tidak spektakuler. Kadang bahkan terasa setengah matang. Tapi bayangkan jika setiap proses yang tidak sempurna langsung kita cap sebagai ilusi. Apa jadinya? Kita akan hidup dalam logika ekstrem: berhasil total atau gagal total. Padahal kenyataan jauh lebih cair.
Klaim bahwa diplomasi dengan Iran adalah ilusi juga mengabaikan fakta bahwa kebijakan luar negeri bukan hanya soal idealisme, melainkan kalkulasi risiko. Negosiasi sering kali bukan tentang mempercayai lawan sepenuhnya, melainkan tentang mengurangi kemungkinan terburuk. Diplomasi adalah seni membatasi kerusakan. Ia bukan janji surga. Ia sekadar upaya mencegah neraka.
Mengapa klaim seperti itu muncul? Pertanyaan ini penting. Politik domestik sering membutuhkan narasi yang jelas dan tegas. Dalam isu keamanan, ketegasan terdengar lebih aman secara elektoral. Menyatakan bahwa diplomasi dengan Iran gagal total memberi kesan kepastian moral. Tidak ada abu-abu. Tidak ada kompromi. Padahal diplomasi memang hidup di wilayah abu-abu. Dan wilayah abu-abu tidak selalu populer.
Saya melihat ada kecenderungan global untuk menyukai kalimat absolut. “Ilusi.” “Mustahil.” “Gagal total.” Kata-kata seperti itu memuaskan emosi. Tapi ia jarang memuaskan akurasi. Dalam dunia yang kompleks, absolutisme retoris sering menjadi pengganti analisis mendalam. Ini bukan hanya terjadi dalam isu Iran. Kita melihat pola yang sama dalam berbagai konflik internasional.
Kita perlu jujur pada diri sendiri: diplomasi dengan Iran memang tidak menyelesaikan semua masalah. Ketegangan tetap ada. Sanksi tetap dijatuhkan. Ketidakpercayaan tetap membayangi. Namun menyebutnya ilusi berarti menutup mata terhadap periode ketika ketegangan berhasil diredam melalui mekanisme negosiasi. Itu bukan fantasi. Itu tercatat.
Dalam politik global, bahasa membentuk realitas. Ketika seorang tokoh berpengaruh menyebut diplomasi sebagai ilusi, pesan yang dikirim bukan sekadar opini pribadi. Ia membentuk persepsi publik. Ia memengaruhi cara negara lain membaca posisi Amerika. Dan dalam hubungan internasional, persepsi adalah mata uang yang mahal.
Bayangkan jika semua negara mulai menganggap diplomasi hanya sandiwara. Maka ruang negosiasi akan menyempit. Alternatif yang tersisa? Tekanan. Sanksi. Konfrontasi. Bahkan konflik terbuka. Apakah itu yang kita inginkan? Saya rasa tidak ada masyarakat yang benar-benar merindukan eskalasi permanen.
Di sinilah ironi itu terasa. Diplomasi dengan Iran mungkin tidak memuaskan semua pihak. Ia mungkin rapuh. Ia mungkin kontroversial. Tapi ia tetap sebuah instrumen. Dan instrumen yang pernah bekerja, meski tidak sempurna, tidak bisa serta-merta dicap ilusi. Kritik, ya. Evaluasi, tentu. Penghapusan total terhadap fakta sejarah? Itu berlebihan.
Sebagai pembaca sejarah, saya cenderung curiga pada kalimat yang terlalu ringkas untuk menjelaskan realitas yang panjang. Diplomasi dengan Iran bukan dongeng. Ia adalah bab dalam hubungan internasional yang kompleks. Ada keberhasilan parsial. Ada kegagalan. Ada tarik-ulur. Dan justru di situlah maknanya.
Kita boleh tidak setuju dengan pendekatan diplomatik tertentu. Itu sah. Tapi menyebut seluruh proses sebagai ilusi terasa seperti membuang bayi bersama air mandinya. Terlalu drastis. Terlalu mudah. Terlalu enak didengar bagi mereka yang lelah pada kompleksitas.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang Iran atau Amerika. Ia tentang cara kita membaca dunia. Apakah kita memilih melihat sejarah sebagai proses yang berlapis-lapis, atau kita mereduksinya menjadi slogan? Diplomasi dengan Iran mengajarkan satu hal: bahwa negosiasi tidak selalu menghasilkan kemenangan gemilang, tetapi sering kali mencegah kekalahan yang lebih besar.
Dan jika itu bukan ilusi, lalu apa?
