Connect with us

Opini

Di Mana Negara-Negara Arab? Bocoran Dokumen yang Menjawabnya

Published

on

Ilustrasi editorial menampilkan para pemimpin Arab duduk bersama pejabat Zionis dan AS menandatangani dokumen rahasia, sementara di belakang mereka Gaza terbakar dan diabaikan.

Pertanyaan ini selalu muncul. Seperti gema yang tak pernah benar-benar padam setiap kali langit Gaza kembali merah: “Di mana negara-negara Arab?”

Di ruang-ruang diskusi, di mimbar-mimbar khutbah, di linimasa media sosial—pertanyaan itu bergulir seperti doa yang tak juga dijawab. Setiap kali bom Israel jatuh, setiap kali anak-anak Palestina digendong dalam kain putih, pertanyaan itu seperti mengetuk pintu kosong. Sunyi. Seolah negara-negara Arab lenyap dari peta. Tapi kini kita tahu: mereka tidak hilang. Mereka hanya berdiri di sisi yang salah.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Bocoran dokumen yang diungkap The Washington Post pada 11 Oktober itu tak sekadar membongkar rahasia militer. Ia membongkar wajah sebenarnya dunia Arab modern—bahwa diamnya mereka bukan karena tak mampu, melainkan karena memang tak berniat melawan. Bukan karena tak tahu harus berbuat apa, tapi karena sudah tahu dengan sangat jelas siapa yang mereka bela. Selama tiga tahun terakhir, pejabat dari enam negara Arab duduk manis bersama pejabat Israel dan Amerika, bukan untuk menyusun peta jalan kemerdekaan Palestina, melainkan untuk merancang perisai bagi Israel dari kemungkinan serangan Iran.

Pertemuan-pertemuan rahasia itu diadakan di Bahrain, Mesir, Yordania, dan Qatar. Semua negara yang selama ini kerap tampil di mimbar internasional sebagai “pembela Palestina.” Mereka bukan sekadar hadir—mereka aktif merancang sistem pertahanan udara regional bersama Zionis. Mereka menghubungkan radar, menyinkronkan data sensor, membuka kanal komunikasi khusus, dan menandatangani koordinasi militer. Semua untuk satu tujuan: menjaga keamanan Israel. Itulah jawaban dari pertanyaan lama itu. Negara-negara Arab tidak sedang tertidur; mereka sedang berjaga. Tapi bukan untuk Gaza.

Ironi ini begitu telanjang. Saat rakyat Palestina menjerit minta tolong, tangan-tangan rezim Arab justru mengoperasikan sistem pertahanan udara untuk menangkis serangan ke Tel Aviv. Saat dunia Islam menanti sikap tegas, mereka malah menjadi tameng bagi Zionis. Bahkan Arab Saudi dan Yordania—dua negara dengan simbol keislaman yang besar—terbukti membantu AS dan Israel menembak jatuh rudal Iran saat operasi True Promise. Ini bukan lagi diam. Ini bersekutu secara aktif.

Dan kita belum bicara tentang Qatar. Negara yang kerap dipuji sebagai mediator, yang menampung tokoh Hamas, yang tampil seolah-olah berada di garis depan diplomasi untuk Gaza. Ternyata juga bagian dari jaringan pertahanan yang melindungi Israel dari Iran. Lebih ironis lagi, setelah Israel menyerang Doha pada 9 September, koordinasi itu tetap jalan. Rupanya, dalam politik Arab, kehormatan bukan sesuatu yang perlu dipertahankan—asal pangkalan militer AS tetap aman.

Mereka semua—dengan gaya berpidato penuh air mata di panggung internasional—mampu menyebut Palestina sebagai “saudara seiman.” Tapi dalam rapat-rapat rahasia, mereka adalah saudara senjata Zionis. Jika sandiwara memiliki definisi, inilah bentuknya yang paling absurd: mengutuk penjajah di depan kamera, lalu melindungi penjajah di belakang layar.

Bahkan jargon “solusi dua negara” yang sering mereka serukan dengan nada diplomatis kini terdengar seperti lelucon basi. Bocoran dokumen itu memperlihatkan bahwa solusi tersebut bukanlah niat tulus untuk keadilan, melainkan strategi penundaan. Dengan mengulang frasa “two-state solution”, mereka sebenarnya memberi Israel lebih banyak waktu—waktu untuk memperluas pemukiman, waktu untuk menghancurkan Gaza, waktu untuk mengukuhkan status quo. Jadi ya, mereka membela Israel dengan cara paling halus: lewat bahasa diplomasi yang terdengar manis tapi beracun.

Dan di balik semua itu, ada tangan Amerika yang memegang benang. CENTCOM—komando militer AS di Timur Tengah—bukan hanya menyatukan sistem radar dan rudal. Mereka juga mengatur information operations untuk melawan narasi Iran sebagai “pelindung Palestina.” Dengan kata lain, mereka tak hanya ingin mengalahkan Iran di langit, tapi juga dalam persepsi publik. Dan siapa yang membantu operasi ini? Negara-negara Arab. Para penguasa Teluk yang katanya berdiri bersama Palestina, ternyata ikut dalam proyek untuk meruntuhkan satu-satunya negara yang secara konsisten mendukung perlawanan.

Latihan militer untuk menghancurkan terowongan—yang dilakukan di Fort Campbell, Kentucky—menjadi bab tambahan dari kisah kelam ini. Negara-negara Arab dilatih untuk menghadapi taktik perlawanan Hamas dan kelompok perjuangan lainnya. Jadi ketika nanti “pasukan stabilisasi internasional” dikirim ke Gaza pasca gencatan senjata, mereka bukan datang sebagai penyelamat, melainkan sebagai alat control bagi Zionis. Nama boleh Arab. Seragam boleh Islami. Tapi peluru mereka, seperti arah politiknya, berpihak ke Tel Aviv.

Banyak orang mungkin masih ingin percaya pada mitos solidaritas Arab. Tapi mitos itu kini terbakar bersama puing-puing Gaza. Negara-negara Arab tak pernah benar-benar membela Palestina; mereka membela kepentingan sendiri, membela kursi mereka, membela kontrak pertahanan, membela relasi dengan Washington, membela Israel dengan cara yang lebih elegan dari Barat sendiri. Dan setiap pidato mereka tentang “keadilan” kini terdengar seperti sandiwara murahan.

Saya rasa, banyak dari kita tumbuh dengan harapan romantik bahwa dunia Arab akan bersatu membela Palestina. Kita membayangkan barisan panjang tentara Arab, solidaritas yang kokoh, dan suara tegas melawan penjajahan. Tapi kenyataannya jauh lebih getir: negara-negara Arab justru menjadi tembok pelindung Zionis, bukan pelindung Palestina. Bukan mereka yang melawan Israel—tapi Iran, Hizbullah, Ansarullah Yaman dan rakyat Palestina sendiri yang berdiri di garis depan.

Jadi, ketika lagi-lagi seseorang bertanya “Di mana negara-negara Arab?” kita tak perlu menengadah ke langit atau menatap peta. Jawabannya sudah ada. Mereka ada di pusat komando radar, di meja koordinasi pertahanan, di secure chat militer yang dikelola AS. Mereka bukan absen dari sejarah—mereka hadir dalam peran yang salah.

Pada akhirnya, bukan hanya Palestina yang dikhianati, tapi juga sejarah panjang perlawanan dunia Islam terhadap kolonialisme. Mereka telah menukar darah rakyat Gaza dengan jaringan pertahanan udara bersama Zionis, menukar solidaritas dengan kontrak senjata, menukar nurani dengan kenyamanan politik. Dan kini semua kebohongan itu meleleh oleh panasnya kebocoran dokumen.

Palestina tidak pernah benar-benar sendirian melawan Israel. Mereka juga melawan sunyi yang diciptakan dunia Arab. Melawan senyum palsu para penguasa yang berdiri di podium sambil bersekongkol di ruang gelap. Melawan para sekutu zionis yang menyamar sebagai saudara. Dan mungkin, pada akhirnya, kebisuan itu lebih menyakitkan dari rudal apa pun.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Negara-Negara Arab Tekan Hamas untuk Disarmament

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer