Connect with us

Opini

Dari Jihad ke Diplomasi: Suriah Tertawa Pahit

Published

on

Ilustrasi realistik menampilkan siluet dua pria berjas duduk saling berhadapan di meja perundingan dengan latar jendela besar menghadap kota saat senja.

Di panggung dunia yang penuh sandiwara, Ahmad al-Sharaa, mantan komandan Al-Qaeda, duduk rapi dalam setelan jas, berbual dengan David Petraeus, jenderal AS yang pernah buru orang-orang sepertinya. Ini bukan lelucon murahan, tapi kenyataan di Concordia Summit, New York, 22 September 2025. Mereka bicara soal rekonstruksi Suriah, sanksi ekonomi, dan hubungan regional, seolah masa lalu berdarah bisa dilupain begitu saja. Al-Sharaa, yang dulu kirim bomber bunuh diri, kini minta sanksi Caesar Act dicabut, bilang, “Rakyat Suriah itu pekerja dan pedagang.” Saya rasa, ini seperti menyodorkan permen ke anak yang rumahnya baru dibom—manis, tapi tak sembuhkan luka. Petraeus, dengan muka penuh harap, bilang visi al-Sharaa “kuat dan jelas.” Kita semua tahu, dunia politik itu teater, tapi ini? Ini absurd, bahkan untuk standar geopolitik yang sudah kacau.

Bayangkan, seorang pria yang 2012 dicap teroris oleh AS, yang pernah ditahan di Camp Bucca, kini jadi presiden transisi Suriah. Al-Sharaa bilang, “Kami hadapi kehancuran besar, tapi fokus kami pembangunan ekonomi.” Benar, Suriah hancur: kota-kota jadi puing, jutaan warga miskin, ekonomi ambruk gara-gara sanksi AS sejak 2019. Dia minta sanksi dicabut, seolah duit akan satukan semua—Sunni, Alawit, Kristen, Druze. Tapi, coba pikir: apa iya uang bisa hapus dendam? Alawit takut balas dendam atas dekade kekuasaan Assad. Kristen dan Druze, yang dulu jadi sasaran Nusra Front—kelompok yang al-Sharaa dirikan—masih was-was. Ini seperti tetangga yang pernah bakar rumahmu, sekarang nawarin bantuan bangun ulang. Kamu mau percaya?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ironinya makin pedas. Petraeus, yang memuji al-Sharaa, dulu bagian dari operasi CIA Timber Sycamore. Program itu kucurkan $1 miliar setahun untuk kirim senjata ke Nusra Front via “rat line” Libya-Suriah, demi gulingkan Assad. Hasilnya? Perang makin panjang, Suriah makin porak-poranda, dan al-Sharaa akhirnya kuasai Damaskus Desember lalu. Kini, Petraeus bilang, “Kesuksesanmu adalah kesuksesan kami, Inshallah.” Ini seperti petani yang tanam benih racun, lalu puji hasil panennya. AS dan al-Sharaa punya sejarah kelam, tapi sekarang main teater rekonsiliasi. Petraeus bahkan disebut terus danai Al-Qaeda dan ISIS via KKR, firma ekuitas swasta, setelah mundur dari CIA. Tuduhan ini dari Thierry Meyssan, dan meski tak ada bukti kuat, bikin kita bertanya: ini soal stabilitas, atau cuma babak baru permainan kotor?

Al-Sharaa main cerdas soal Israel. Dia tolak Abraham Accords, bilang kehancuran Gaza bikin normalisasi mustahil. Tapi, diam-diam, dia nego “limited security arrangements”: Israel boleh pegang Mount Hermon, zona no-fly di selatan Suriah, dan jaga zona demiliterisasi. Ini pragmatisme tingkat dewa: tolak normalisasi demi citra di dunia Arab, tapi buka pintu kecil biar Israel tak serang. Bayangkan, ini seperti tetangga yang ribut soal pagar, tapi sepakat bagi kunci gerbang. Israel, yang bombardir Suriah ribuan kali, ingin HTS tak jadi ancaman. Al-Sharaa tahu dia butuh tenang di selatan untuk fokus ekonomi. Tapi, ini juga sinyal buruk buat minoritas: “Kami deal sama Israel, tapi kalian tetap nomor dua.”

Saya gelisah, dan Anda pasti juga. Al-Sharaa janji fokus ekonomi, tapi luka sektarian tak sembuh dengan duit. Dia bilang, “Saya habiskan 25 dari 43 tahun dalam konflik, jadi saya terbiasa kesulitan.” Tapi, apa dia paham kesulitan warga biasa? Ibu Alawit di Tartus yang takut anaknya dianiaya? Pedagang Kristen di Aleppo yang khawatir pasarnya dirampas? Dia bicara soal “keputusan tenang” untuk nasib bangsa, tapi Nusra Front-nya dulu eksekusi warga sipil. Kini, sebagai kepala Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), dia janji dialog nasional dan pemilu. Tapi, kalau cuma stempel karet, minoritas takkan dapat suara. Kurdi, misalnya, sudah lama minta otonomi. Apa HTS akan beri, atau cuma kasih “perlindungan” ala tuan tanah?

Laporan itu bilang al-Sharaa ke Irak 2003, gabung Al-Qaeda, kirim bomber bunuh diri, ditahan AS 2005-2009, lalu dirikan Nusra Front 2011 atas perintah Baghdadi. Pada 2016, dia putus dengan Al-Qaeda, rebranding HTS jadi “lokal.” Tapi, rekam jejaknya berdarah. HTS kendalikan Idlib dengan pajak ketat, monopoli perdagangan—bukan tanda-tanda pemimpin yang adil. Saya ingin percaya dia berubah, dari jihad ke diplomasi. Tapi, ini seperti harap harimau jadi vegetarian. Dia punya peluang: dukungan AS, Turki, dan pencabutan sanksi parsial. Tapi, tanpa keadilan—pengadilan pelaku pembantaian, kompensasi korban—Suriah cuma akan jadi bom waktu.

Kita bukan penonton bisu. Suriah bukan cuma papan catur geopolitik; ini rumah 23 juta jiwa yang lelah berdarah. Al-Sharaa bisa jadi penyelamat, atau aktor baru dengan topeng lama. Ekonomi penting, tapi tanpa keadilan, minoritas akan tetap terpinggirkan. Bayangkan, ini seperti keluarga besar yang ribut bertahun-tahun, lalu disuruh akur cuma karena ada warisan. Takkan berhasil. Dunia, termasuk kita yang tahu luka konflik, harus tekan agar dialog 2025 beneran inklusif. Kalau tidak, Suriah akan jatuh lagi, dan kita cuma bisa tertawa pahit.

Saya tinggalkan Anda dengan renungan: kalau mantan teroris bisa duduk di meja diplomasi, apa batas antara pragmatisme dan pengkhianatan? Al-Sharaa bilang dia ingin bangun Suriah. Tapi, seperti kata kita di kampung, “Janji itu kayak angin—gampang lewat, susah dipegang.” Suriah butuh lebih dari kata manis. Ia butuh hati jujur, tangan bersih, dan dunia yang berani bilang: “Cukup sandiwara, saatnya keadilan.” Inshallah, tapi jangan cuma doa—kita harus tuntut.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer