Connect with us

Opini

Dari Ancaman ke Pelukan: Suriah Berubah Arah

Published

on

Pertemuan diplomatik Suriah dan Israel di Paris di bawah mediasi Amerika Serikat, mencerminkan perubahan arah hubungan Suriah dan Israel pasca-Assad.

Paris, kota yang gemerlap oleh cahaya diplomasi dan aroma sejarah, kembali menjadi panggung ironi. Di sebuah ruangan tertutup, jauh dari reruntuhan Aleppo dan suara duka Gaza, perwakilan Suriah dan Israel duduk berhadap-hadapan. Tenang. Formal. Hampir banal. Pertemuan yang dilaporkan The Cradle itu tidak meledak oleh slogan perlawanan, tidak pula diguncang ancaman. Ia berjalan seperti rapat teknokratis biasa. Dan justru di situlah kegelisahan bermula. Sebab yang kita saksikan bukan sekadar pertemuan, melainkan simbol perubahan arah yang begitu telanjang, begitu sulit disangkal.

Saya rasa kita semua tahu, hubungan Suriah dan Israel bukan kisah yang netral. Ia dibangun di atas darah, pendudukan, dan retorika perlawanan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari identitas politik Damaskus. Di era Bashar al-Assad, penolakan terhadap Israel adalah dogma resmi negara, berlapis ideologi, geopolitik, dan simbolisme Palestina. Kini, di bawah Ahmad al-Sharaa, dogma itu mencair. Bukan karena keadilan tiba-tiba ditegakkan, tetapi karena kepentingan bergeser. Pertemuan Suriah dan Israel di Paris menjadi bukti bahwa yang dulu disebut tabu kini berubah menjadi prosedur.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Laporan The Cradle menegaskan bahwa ini bukan pertemuan pertama. Itu poin krusial. Sekali mungkin bisa disebut kecelakaan sejarah. Dua kali bisa dibungkus sebagai kebutuhan mendesak. Tapi ketika pertemuan Suriah dan Israel berlangsung berulang, dengan mediasi Amerika Serikat, pola mulai terbaca. Ini bukan sekadar komunikasi darurat. Ini proses. Dan dalam geopolitik, proses selalu lebih jujur daripada pidato.

Di sinilah ironi itu terasa getir. Ahmad al-Sharaa, sebelum duduk di kursi kekuasaan, tumbuh dan dibesarkan oleh bahasa perlawanan. Kata-kata tentang Israel sebagai musuh eksistensial, tentang Palestina sebagai luka yang tak boleh ditawar, berulang kali dilontarkan. Bahkan, ada masa ketika Israel disebut sebagai target berikutnya, seolah sejarah hanya menunggu aba-aba. Kini, setelah satu tahun berkuasa, bahasa itu menguap. Ditiup angin realitas kekuasaan. Yang tersisa adalah kalimat-kalimat diplomatik yang dingin dan kalkulatif.

Sebagian pendukungnya berdalih: ini bukan normalisasi, hanya urusan keamanan. Dalih yang terdengar rapi, tapi rapuh. Dalam sejarah Timur Tengah, hampir semua normalisasi Arab–Israel dimulai dengan frasa serupa. Keamanan dulu, kata mereka. Stabilitas dulu. Politik nanti. Namun “nanti” sering kali tidak pernah tiba. Pertemuan Suriah dan Israel hari ini persis seperti fondasi rumah yang dibangun diam-diam, sementara publik hanya disuguhi cerita bahwa ini sekadar pagar sementara.

Kata kunci utama di sini adalah hubungan Suriah dan Israel. Hubungan itu kini bergerak dari permusuhan ideologis menuju pragmatisme telanjang. Dari garis keras menjadi garis abu-abu. Dari “tidak pernah” menjadi “untuk sementara”. Dan perubahan ini tidak terjadi di ruang hampa. Suriah pascaperang adalah negara yang lelah, miskin, dan terisolasi. Sanksi mencekik, legitimasi rapuh, dan kebutuhan akan pengakuan internasional mendesak seperti utang jatuh tempo. Dalam kondisi seperti itu, Israel bukan lagi musuh simbolik, melainkan variabel yang harus dikelola.

Masalahnya, pengelolaan itu dibungkus seolah tidak mengubah apa pun. Palestina tetap disebut dalam pidato resmi, tapi lebih sebagai hiasan retoris. Dalam praktik, hubungan Suriah dan Israel justru menurunkan tekanan terhadap Tel Aviv. Front Suriah menjadi tenang. Tidak ada eskalasi. Tidak ada ancaman serius. Israel, dalam posisi ini, mendapatkan keuntungan strategis tanpa harus memberi konsesi berarti. Ini bukan dugaan emosional, melainkan kesimpulan logis dari arah kebijakan yang terlihat.

Saya sering berpikir, ini seperti seorang politisi lokal yang dulu berteriak menolak tambang demi rakyat, lalu setelah terpilih justru duduk minum kopi dengan pemilik konsesi. Alasannya selalu sama: demi stabilitas, demi investasi, demi masa depan. Kata-kata itu terdengar akrab, bukan? Dan di situlah sindiran sejarah bekerja. Kita pernah mendengarnya berkali-kali. Selalu ada jarak antara janji dan kebijakan. Namun jarang jarak itu terasa sedemikian lebar seperti dalam perubahan hubungan Suriah dan Israel hari ini.

Laporan The Cradle juga menyingkap peran Amerika Serikat sebagai mediator. Ini detail penting, sekaligus ironis. AS adalah sekutu utama Israel, dan bagi banyak warga Suriah, simbol intervensi dan tekanan. Ketika Damaskus menerima mediasi Washington untuk bertemu Israel, pesan yang dikirimkan ke publik regional sangat jelas: prioritas telah bergeser. Dari poros perlawanan ke poros pengelolaan konflik. Dari keberanian simbolik ke kehati-hatian struktural.

Apakah ini otomatis salah? Dalam logika realisme politik, tidak. Negara memang bertindak berdasarkan kepentingan. Namun kritik muncul bukan dari logika itu, melainkan dari jurang antara narasi lama dan praktik baru. Al-Sharaa tidak datang ke kekuasaan dengan manifesto pragmatis. Ia datang dengan bahasa moral. Dan ketika bahasa moral itu ditanggalkan begitu cepat, kekecewaan menjadi tak terhindarkan.

Hubungan Suriah dan Israel hari ini juga mencerminkan perubahan lebih luas di Timur Tengah. Normalisasi bukan lagi kata tabu. Ia menjadi tren, meski sering disangkal. Dari Uni Emirat Arab hingga Maroko, dari Bahrain hingga Sudan, pola itu berulang. Suriah mungkin belum menandatangani perjanjian resmi, tapi langkah-langkah kecil yang diambil al-Sharaa bergerak di jalur yang sama. Ini bukan lompatan, melainkan geseran perlahan. Dan geseran itulah yang sering kali paling menentukan.

Ada yang berkata, “Tunggu saja, ini semua taktis.” Mungkin. Tapi sejarah mengajarkan, taktik yang diulang akan berubah menjadi strategi. Pertemuan Suriah dan Israel yang terus berlangsung menciptakan normalitas baru. Publik akan terbiasa. Kritik akan melelah. Dan suatu hari nanti, ketika langkah berikutnya diambil, ia akan terasa wajar. Begitulah cara politik bekerja. Sunyi, bertahap, dan sering kali tanpa pengumuman dramatis.

Saya rasa kegelisahan terbesar bukan pada fakta pertemuan itu sendiri, melainkan pada kejujuran politik. Jika al-Sharaa sejak awal mengatakan bahwa perlawanan akan diganti dengan pragmatisme, mungkin ceritanya berbeda. Namun yang terjadi adalah pergeseran diam-diam, dibungkus bahasa aman, seolah publik tidak perlu tahu ke mana arah kompas negara bergerak. Dalam konteks ini, hubungan Suriah dan Israel bukan hanya isu luar negeri, tetapi cermin krisis kepercayaan.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan seruan emosional untuk perang, juga bukan nostalgia romantik terhadap retorika lama. Ini ajakan untuk bersikap jujur membaca realitas. Ahmad al-Sharaa boleh berkata apa saja, tetapi kebijakannya sudah berbicara. Pertemuan di Paris hanyalah satu adegan dalam cerita yang lebih besar. Cerita tentang bagaimana kekuasaan mengubah bahasa, bagaimana janji diuji oleh kenyataan, dan bagaimana publik dipaksa menelan ironi.

Kita mungkin akan terus mendengar bahwa ini bukan normalisasi, bahwa ini demi keamanan, bahwa ini sementara. Namun sejarah jarang peduli pada kata “sementara”. Ia mencatat arah. Dan arah hubungan Suriah dan Israel hari ini jelas: menjauh dari konfrontasi, mendekat ke pengelolaan bersama. Apakah itu bijak atau memalukan, tergantung dari sudut pandang. Tapi satu hal pasti: tak ada lagi ruang untuk berpura-pura bahwa tidak ada perubahan besar yang sedang terjadi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer