Connect with us

Opini

Absurdnya Tekanan IAEA pada Iran Hari Ini

Published

on

Ilustrasi editorial tentang tekanan politik terhadap Iran, menampilkan fasilitas nuklir yang rusak disorot dokumen IAEA sementara bayangan negara Barat menekan dari atas.

Saya selalu merasa ada kegelisahan aneh ketika sebuah lembaga internasional berdiri di tengah reruntuhan etika dan tetap pura-pura tak melihat apa pun. Ada semacam absurditas yang menggantung di udara, seperti asap tipis dari dupa yang tak kunjung padam: kita semua mencium baunya, tapi entah kenapa banyak pihak memilih menyangkal keberadaannya. Begitulah suasana yang langsung saya rasakan ketika membaca laporan tentang resolusi anti-Iran terbaru dari IAEA—sebuah dokumen yang katanya teknis, tapi aromanya lebih pekat dengan politik daripada laboratorium nuklir mana pun.

Saya rasa kita semua tahu bahwa konflik semacam ini jarang murni soal uranium, isotop, atau tingkat pengayaan. Biasanya, yang lebih menentukan adalah siapa yang lebih lantang, siapa yang lebih kuat, dan siapa yang punya kepentingan lebih besar untuk mengatur narasi. Dan resolusi IAEA kali ini terasa seperti contoh klasik bagaimana badan internasional dapat terseret arus kuat politik global, lalu harus berpura-pura bahwa semua keputusan mereka lahir dari hitung-hitungan objektif semata. Ironi itu, kalau kita jujur, tak pernah benar-benar hilang dari isu Iran.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Karena kenyataannya begini: IAEA menuntut Iran memberikan akses dan klarifikasi “segera” atas fasilitas yang… baru saja diserang. Diserang oleh negara-negara yang ironisnya tidak disebut satu kata pun dalam dokumen mereka. Bayangkan Anda disuruh membuka pintu rumah yang barusan dijebol maling, lalu diminta menjelaskan kenapa kusen pintunya rusak, sementara polisi yang menanyai Anda bahkan menolak mengakui bahwa pencurian itu terjadi. Aneh? Tentu. Tapi begitulah logika yang dipaksakan dalam resolusi anti-Iran ini.

Laporan tersebut mencatat bahwa Iran, bersama Rusia, China, Belarus, Venezuela, Kuba, Nicaragua, dan Zimbabwe, menuding resolusi itu dibentuk di bawah tekanan Israel. Dan, terus terang, sulit membantahnya ketika Anda melihat fakta bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu—yang secara terang-terangan dilakukan oleh AS dan Israel—tak mendapat satu kalimat pun dalam resolusi itu. Tidak kecaman. Tidak pengakuan. Tidak catatan. Seolah-olah itu semua hanya bayangan—padahal kita tahu serangan itu nyata, karena IAEA sendiri memeriksa fasilitas yang diserang itu sebelumnya.

Dan di titik ini, saya mulai merasa bahwa ketidaknetralan bukan lagi sekadar dugaan; ia lebih seperti ironi publik. Kita semua menyaksikan bagaimana IAEA menuntut kesempurnaan kepatuhan dari Teheran, sementara mereka sendiri tak berdaya—atau mungkin tak mau—menghadapi negara-negara yang menyerang fasilitas yang mereka awasi. Ini bukan perdebatan teknis lagi. Ini soal standar ganda yang bahkan tak berusaha disembunyikan.

Najafi, perwakilan Iran untuk IAEA, menyebut resolusi itu “tidak punya nilai tambah”, dan ungkapan itu justru terasa terlalu sopan. Saya cenderung melihat resolusi ini sebagai lembaran simbolik untuk menunjukkan bahwa Barat harus terlihat “bertindak tegas”, meski tindakan itu pada dasarnya memperumit keadaan. IAEA menuntut Iran kembali membuka akses seluas-luasnya, sementara Iran mengingatkan bahwa keamanan mereka baru saja dilanggar. Dua pihak berbicara, tetapi seperti berdiri di dua dunia paralel yang tak bisa dipertemukan.

Mayoritas resolusi yang hanya 19 negara, dengan 12 abstain dan 3 menolak, adalah sinyal penting. Banyak negara memilih tidak ikut campur—itu cukup menggambarkan keterbelahan komunitas internasional dalam menyikapi isu Iran. Dan ketika dunia makin terbelah menjadi blok Barat dan blok non-Barat, isu nuklir Iran berubah menjadi panggung perebutan legitimasi. Masalahnya, setiap resolusi seperti ini justru memberi amunisi lebih kepada Iran untuk menguatkan narasi bahwa mereka menjadi korban kampanye politisasi. Dan narasi itu, mau tak mau, punya daya tarik kuat di negara-negara yang lelah melihat standar ganda dalam politik internasional.

Saya rasa, dalam konteks ini, “IAEA resolution”—kata kunci yang banyak orang cari—bukan lagi dipahami sebagai mekanisme teknis, melainkan sebagai pernyataan politik terselubung. Dan resolusi anti-Iran kali ini memperlihatkan betapa mudahnya standar mandat teknis diwarnai, bahkan diubah, oleh tekanan geopolitik. Tidak heran jika Iran menolak mentah-mentah tuntutan “kerja sama penuh” dan Additional Protocol yang diminta. Mereka melihat tuntutan itu bukan sebagai kewajiban hukum, tetapi sebagai instrumen tekanan.

Dan, sejujurnya, siapa yang bisa menyalahkan mereka ketika fasilitas yang harus mereka buka kembali itu adalah fasilitas yang diserang oleh negara-negara yang mendesakkan resolusi tersebut?

Di titik tertentu, saya merasa ini lebih mirip adegan teater satir daripada diplomasi. Barat menuduh Iran tidak transparan. Iran menuduh Barat tidak adil. IAEA meminta akses. Israel melakukan serangan. AS mengampanyekan tekanan. Iran mengklaim hak kedaulatan. Semua pihak mengulang peran yang sama, lagi dan lagi. Penonton berganti, panggung tetap. Dan di tengah drama itu, tujuan awal—yaitu memastikan program nuklir benar-benar damai—justru makin kabur.

Kita tentu bisa berpura-pura melihat resolusi ini sebagai langkah menuju stabilitas. Tapi saya rasa kita sama-sama tahu bahwa resolusi semacam ini jarang menciptakan de-eskalasi. Biasanya justru sebaliknya: Iran menganggapnya ancaman, lalu menambah jarak dengan IAEA; Barat merasa Iran semakin tidak kooperatif; lingkaran ketidakpercayaan makin mengeras. Pada titik tertentu, siklus itu menjadi seperti sumur yang makin dalam: semakin digali, semakin gelap.

Dan satu hal yang sangat ingin saya tekankan: jika IAEA ingin mempertahankan legitimasi moralnya, ia tidak bisa hanya menegur yang lemah dan diam terhadap yang kuat. Dunia sekarang terlalu transparan, terlalu terhubung, terlalu kritis. Ketika serangan Israel dan AS ke fasilitas Iran diabaikan, sementara Iran ditekan untuk kepatuhan absolut, pesan yang tersisa hanyalah bahwa hukum internasional bekerja lebih seperti cermin bengkok: memantulkan sebagian kenyataan, tetapi membengkokkan sisanya.

Di Indonesia, kita memahami betul bahwa aturan hanya dihormati ketika ia berlaku adil. Dan ketika ketidakadilan terjadi, resistensi muncul secara alami. Iran sedang berada di titik itu. Mereka melihat “IAEA resolution” sebagai instrumen politik, bukan mekanisme hukum. Dan selama serangan terhadap fasilitas mereka tak dianggap sebagai pelanggaran nyata, selama itu pula mereka akan menganggap resolusi semacam ini tak layak dihormati.

Akhirnya, saya hanya bisa mengatakan bahwa dunia tidak sedang bergerak menuju penyelesaian masalah nuklir Iran; sebaliknya, kita tampak bergerak menuju babak baru ketegangan. Resolusi ini bukan penyejuk. Ia lebih mirip percikan baru yang jatuh di padang rumput kering. Dan jika kita tahu sejarah, kita tahu apa yang biasanya terjadi setelah itu.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Deklarasi Perang Iran: Jawaban atas Perang Senyap

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer