Connect with us

Opini

25 Negara yang Menjadi Bahan Bakar Tragedi Gaza

Published

on

An illustration of a global oil pipeline ending in a destroyed cityscape, symbolizing how international fuel supplies feed the tragedy in Gaza.

Ada malam-malam tertentu ketika dunia terasa begitu sunyi hingga derit kecil di pojok rumah terdengar seperti pengingat bahwa sesuatu sedang berjalan tidak semestinya. Malam-malam seperti itu membuat saya memikirkan betapa absurditas global dapat berlangsung tanpa hambatan, seolah-olah tragedi di Gaza hanyalah gangguan kecil di ujung layar berita, bukan sebuah luka terbuka yang masih berdarah. Dan di tengah sunyi itu, laporan Oil Change International muncul seperti lampu neon di gudang gelap: menyilaukan, mengguncang, mengungkap siapa saja yang diam-diam menjaga mesin kehancuran tetap menyala. Ada 25 negara di dalamnya. Dua puluh lima. Tidak satu. Tidak lima. Dua puluh lima negara yang—baik sadar maupun pura-pura tidak tahu—menjadi bahan bakar tragedi Gaza, secara harfiah dan metaforis.

Kita sering membicarakan peperangan sebagai soal moral atau politik, namun lupa bahwa peperangan juga punya kebutuhan dasar yang sangat sederhana: energi. Tidak ada tank yang bergerak tanpa solar. Tidak ada jet tempur yang menembus langit tanpa bahan bakar JP-8. Tidak ada drone, tidak ada kapal, tidak ada logistik tanpa aliran minyak. Dan laporan itu menunjukkan betapa besar aliran energi yang menopang operasi militer “Israel” sejak November 2023 hingga Oktober 2025—sebanyak 21,2 juta ton minyak mentah dan produk olahan, masuk lewat 323 pengiriman. Sebagian orang mungkin membaca angka-angka itu seperti statistik biasa. Tapi bagi saya, itu terlihat seperti daftar panjang suplai oksigen untuk sebuah tragedi kemanusiaan yang tak kunjung berhenti. Gaza sekarat, namun di luar sana mesin yang menggerusnya terus diberi napas.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Dan yang memberi napas itu bukan hanya satu negara kekuatan besar. Azerbaijan dan Kazakhstan menjadi pemasok utama minyak mentah—sekitar 70% dari total suplai—menempatkan diri mereka secara tidak langsung di tengah pusaran konflik yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan. Rusia, Yunani, dan Amerika Serikat menyumbang bahan bakar olahan, sementara AS memegang “kehormatan” khusus sebagai satu-satunya pemasok JP-8, bahan bakar jet militer. Dalam kata lain, ketika dunia mempertanyakan bagaimana pesawat-pesawat pembom bisa terus memenuhi langit Gaza, jawabannya tidak hanya berada di Washington atau Tel Aviv. Jawabannya tersebar di pelabuhan-pelabuhan dari Laut Kaspia hingga Laut Aegea.

Ironi global mulai terasa ketika kita melihat bagaimana negara-negara ini berbicara di panggung internasional. Mereka mengekspresikan “keprihatinan”, mengajak “menahan diri”, mengumbar retorika perdamaian yang terdengar seperti paduan suara diplomasi yang sudah kehilangan makna. Namun di balik pidato itu, kapal-kapal tanker mereka tetap berlayar, membawa minyak yang akan menjadi denyut jantung operasi militer. Di satu sisi mereka berseru tentang kemanusiaan; di sisi lain mereka menghidupkan mesin yang meruntuhkan rumah-rumah, masjid, sekolah, dan tubuh-tubuh kecil yang tak sempat tumbuh dewasa. Jika ini bukan ironi, saya tidak tahu apa lagi yang layak menyandang gelar itu.

Dan di antara semua ironi itu, ada satu kebohongan yang paling sering digunakan: pemisahan antara penggunaan sipil dan militer. Para pejabat negara pemasok suka mengklaim bahwa minyak mereka hanya untuk ekonomi, bukan untuk perang. Tetapi Ana Sanchez Mera sudah membongkar ilusi itu dengan satu kalimat sederhana: tidak ada pemisahan yang nyata. Sistem energi “Israel” adalah satu tubuh yang menyatu, tanpa garis batas antara pembangkit listrik, pabrik industri, markas militer, atau mesin jet. Mengalirkan minyak berarti mengalirkan kemampuan bertahan hidup sekaligus kemampuan membunuh. Menghidupkan satu berarti menghidupkan yang lain. Kita semua tahu ini. Mereka tahu ini. Tapi mereka tetap memilih untuk berpura-pura.

Dan saya rasa inilah bagian yang paling menggigit: dunia modern telah menciptakan ruang nyaman bagi kemunafikan kolektif. Negara bisa bilang “kami netral”, padahal kapal tanker mereka sedang membantu memperpanjang penderitaan manusia. Netralitas, dalam konteks Gaza, hanyalah nama lain dari jarak moral. Negara-negara itu mungkin tidak menembakkan misil, tetapi mereka menyalakan mesinnya. Mereka mungkin tidak menekan tombol untuk menjatuhkan bom, tetapi merekalah yang memastikan bom itu bisa terbang. Dua puluh lima negara yang menjadi bahan bakar tragedi Gaza—secara literal, bukan metafora belaka.

Dalam konteks Indonesia, kita mungkin merasa lega berada di luar daftar itu. Namun kelegaan ini tidak boleh membuat kita lupa bahwa sistem energi global bekerja dengan cara berputar—barang yang tidak dikirim langsung bisa saja disalurkan lewat negara ketiga, keempat, atau kelima. Laporan itu menyebut dugaan bahwa minyak Brazil sempat dialihkan melalui Italia. Ini menunjukkan bahwa dunia tidak kekurangan kreativitas ketika ingin mempertahankan keuntungan sambil menjaga citra moral. Dan saya rasa banyak negara di daftar 25 itu tahu persis bagaimana permainan ini berlangsung. Mereka tidak ingin terlihat buruk, tetapi juga tidak ingin kehilangan pendapatan ekspor. Jadi mereka memilih jalur tengah: tetap menyalurkan energi, namun dengan jalur yang lebih berliku.

Tetapi dunia tidak buta. ICJ telah berbicara: ada plausible genocide. Ini bukan istilah sembarangan. Ketika Mahkamah Internasional menggunakan kata itu, seluruh negara diminta untuk menilai ulang hubungan mereka dengan pihak yang dituduh. Termasuk hubungan energi. Termasuk perdagangan. Termasuk setiap liter minyak yang mereka kirim. Irene Pietropaoli mengingatkan bahwa negara yang tetap memasok kebutuhan operasi militer dapat terjerat complicity in genocide. Bahasa hukumnya dingin dan tegas, tetapi inti pesannya sederhana: jika Anda membantu, Anda ikut bertanggung jawab.

Namun entah mengapa, pesan itu seperti embusan angin lewat. Tidak meninggalkan dampak. Tidak membuat para pemimpin negara mengerem. Mereka lebih takut pada guncangan ekonomi domestik daripada risiko moral global. Mereka melihat Gaza sebagai headline, bukan sebagai anak-anak yang kehilangan orang tua, bukan sebagai keluarga yang terperangkap di bawah puing-puing, bukan sebagai manusia yang layak hidup.

Saya rasa tragedi terbesar kita bukan hanya bahwa Gaza dihancurkan oleh senjata, tetapi bahwa dunia membiarkan tragedi itu terus hidup dengan memberi bahan bakarnya. 25 negara itu mungkin tidak pernah bermaksud menjadi bagian dari kejahatan. Tapi niat bukanlah satu-satunya hal yang menentukan. Tindakanlah yang berbicara. Dan tindakan mereka—setiap kapal tanker, setiap ribu ton minyak mentah, setiap liter JP-8—adalah tindakan yang memperpanjang usia tragedi.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya menilai siapa yang menarik pelatuk, tetapi juga siapa yang mengisi magazinnya. Dalam tragedi Gaza, ada dua puluh lima negara yang melakukan hal serupa: tidak menarik pelatuk, tetapi menjaga peluru tetap tersedia. Mereka tidak berada di garis depan, tetapi berada di jantung logistik. Mereka tidak muncul dalam berita, tetapi jejak mereka ada di setiap ledakan yang mengguncang tanah Gaza. Ketika kelak dunia menulis kisah tentang kehancuran itu, nama mereka mungkin tidak disebut. Tapi bayang-bayang mereka akan selalu ada, berdiri di belakang setiap kilatan api, setiap asap hitam yang membubung dari puing-puing. Karena tragedi ini tidak hanya digerakkan oleh kebencian. Ia digerakkan oleh energi. Dan energi itu datang dari mereka.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer